Ruang sidang itu lebih kecil dari bayangan Damar. Ia selalu membayangkan ruangan megah dengan langit-langit tinggi, tapi yang ada hanya ruangan persegi dengan dinding krem, deretan kursi kayu, dan kipas angin yang berputar pelan di sudut. Yang membuatnya luar biasa bukan ruangannya, melainkan orang-orang yang memenuhinya. Wartawan berdesakan di barisan belakang. Beberapa investor korban — Damar mengenali mereka dari raut wajah, raut orang yang kehilangan sesuatu yang tak bisa diganti — duduk berhimpitan, menggenggam tas plastik berisi fotokopi rekening.
Salim masuk dikawal dua petugas. Rambut peraknya tetap rapi, jasnya tetap mahal, tapi ada yang berbeda. Bahunya sedikit turun. Saat ia melewati Damar, ia menoleh — hanya sekejap — dan menatap dengan mata yang tidak lagi memancarkan ancaman dingin seperti di gudang blok C dulu. Hanya perhitungan. Mata orang yang sedang menghitung berapa banyak yang masih bisa diselamatkan.
"Jangan terpancing," bisik Arini di sebelah Damar. Mereka duduk di kursi saksi yang disediakan. "Dia mau kamu marah. Marah bikin kamu kelihatan dendam, bukan benar."
Damar mengangguk. Ia menahan pandangannya tetap lurus ke depan.
Jaksa membacakan dakwaan dengan suara datar yang justru membuat isinya makin berat. Penipuan terhadap publik melalui skema investasi fiktif. Manipulasi laporan keuangan emiten terdaftar. Penggelapan dana investor dalam jumlah yang membuat seisi ruangan terdiam ketika angkanya disebut. Lalu, dakwaan yang membuat udara di ruangan itu seperti membeku: keterlibatan dalam perencanaan menghilangkan nyawa seseorang yang akan memberikan kesaksian.
Nama Gunawan disebut. Auditor internal. Mati dalam kecelakaan yang diragukan kewajarannya.
Damar melihat seorang perempuan paruh baya di barisan kedua menundukkan kepala dan menutup wajahnya dengan saputangan. Ia tidak tahu siapa, tapi sesuatu dalam caranya menahan tangis membuat Damar menduga. Janda Gunawan. Untuk pertama kalinya, kematian yang selama ini hanya berupa kalimat dalam email — sudah saya tangani — menjadi seorang manusia dengan istri yang menangis di ruang sidang.
Pengacara Salim berdiri. Pria muda berjas gelap, bicara cepat, penuh percaya diri. Ia tidak membantah satu pun fakta. Ia menyerang prosedurnya.
"Yang Mulia," katanya, "kami mengajukan keberatan atas keseluruhan berkas perkara. Sebagian besar barang bukti yang menjadi dasar dakwaan ini telah dinyatakan hilang dari penyimpanan resmi kepolisian. Kami mempertanyakan bagaimana sebuah perkara dapat dibangun di atas bukti yang tidak ada wujudnya. Kami meminta dakwaan dibatalkan demi prosedur."
Di barisan wartawan, orang-orang menulis cepat. Damar merasakan ketegangan menjalar. Ini dia. Inilah taruhan dari kotak-kotak bukti yang dicuri itu.
Jaksa berdiri tenang. Ia tidak terburu-buru.
"Yang Mulia," katanya, "benar bahwa sebagian barang bukti fisik hilang dari penyimpanan, dan kami sendiri telah meminta penyidikan internal atas hilangnya bukti itu. Namun kami tidak membangun perkara ini di atas barang yang hilang." Ia mengangkat sebuah map biru. "Kami membangunnya di atas salinan terenkripsi yang dibuat saksi pelapor jauh sebelum perkara ini bergulir, yang keasliannya telah dicatat di hadapan notaris, diverifikasi oleh ahli forensik digital independen, dan telah disimpan di lembaga antikorupsi internasional serta beberapa redaksi lintas negara. Nilai hash setiap berkas tercatat. Tidak satu pun dapat diubah tanpa ketahuan."
Pengacara Salim membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
"Dengan kata lain, Yang Mulia," lanjut jaksa, "pihak yang mencuri bukti fisik dari penyimpanan tidak menghancurkan apa pun. Mereka hanya menambah satu perkara baru — perusakan barang bukti — pada perkara yang sudah ada."
Ruangan riuh. Hakim mengetukkan palu.
Damar menatap Salim. Untuk sepersekian detik, ia melihat sesuatu yang tak pernah ia kira akan ia lihat di wajah pria itu: rasa terkejut. Salim, yang selalu satu langkah di depan, yang selalu punya jalan keluar, kini mendengar bahwa langkah cerdiknya — mencuri bukti — justru menjeratnya lebih dalam.
Hakim menolak permohonan pembatalan. Sidang dilanjutkan. Agenda berikutnya: pemeriksaan saksi.
Saat petugas mengawal Salim keluar, ia berhenti tepat di depan Damar. Cukup dekat hingga Damar bisa mencium aroma jas mahalnya. Salim bicara pelan, hanya untuk Damar.
"Kamu pikir ini sudah selesai," katanya. "Belum. Masih ada orang yang namanya tidak akan pernah sampai ke ruangan ini. Orang yang masih bisa membuat semua ini lenyap dalam satu telepon."
Damar tidak membalas tatapan itu dengan amarah. Ia membalasnya dengan tenang.
"Kalau begitu mereka harus menelepon cepat-cepat," kata Damar. "Sebelum giliran mereka tiba di kursi itu."
Salim menyipitkan mata. Lalu petugas menariknya pergi.
Arini menyentuh lengan Damar. "Tito," katanya pelan. "Dia saksi berikutnya. Dia naik mimbar lusa."
Dan Damar tahu, dari semua orang yang terlibat dalam perkara ini, Tito adalah yang paling rapuh — pria yang sudah lelah ketakutan, yang berkali-kali kabur, yang namanya sudah pernah bocor sekali. Membawanya ke mimbar saksi sama dengan menyalakan suar di tengah malam.