Tito tampak lebih tua dari empat puluh tahun ketika ia melangkah ke mimbar saksi. Wajahnya tirus, kulitnya pucat seperti orang yang terlalu lama tidur siang dan terlalu sering terjaga malam. Tapi ketika ia mengangkat tangan untuk disumpah, tangannya tidak gemetar. Damar memperhatikan itu dari kursinya, dan merasakan sesuatu seperti haru. Pria yang dulu berbisik ketakutan di warung kopi di gang itu kini berdiri di tempat terbuka, di hadapan hakim, jaksa, pengacara, dan barisan wartawan, dan ia memilih untuk tidak gemetar.
"Sebutkan nama dan pekerjaan Saudara," kata jaksa.
"Tito. Dulu saya staf akuntansi di Cakrawala Energi Nusantara. Tiga tahun. Saya dipecat enam bulan sebelum semua ini terbongkar."
"Kenapa Saudara dipecat?"
Tito menelan ludah. "Karena saya bertanya. Saya bertanya kenapa angka penjualan ke pelanggan-pelanggan di Sulawesi terus naik, padahal saya tidak pernah melihat satu pun pembayaran masuk dari mereka. Saya bertanya kenapa uang dari satu anak perusahaan dipindah ke anak perusahaan lain, lalu dicatat sebagai penjualan baru. Saya bertanya terlalu banyak."
Jaksa membimbingnya pelan, pertanyaan demi pertanyaan, dan Tito menjawab. Ia menjelaskan lingkaran setan itu dengan bahasa orang biasa — bukan istilah akuntansi yang rumit, melainkan kalimat yang bisa dipahami ibu rumah tangga di barisan kedua. Uang yang sama, kata Tito, diputar dari saku kiri ke saku kanan, lalu dicatat seolah-olah datang dari pembeli. Tujuh pelanggan industri yang katanya membeli pasokan triliunan rupiah — tiga di antaranya tidak ada, hanya ruko kosong dengan papan nama; empat sisanya perusahaan kecil bermodal lima puluh juta yang tak mungkin membeli sebanyak itu.
"Dari mana uang aslinya, kalau penjualannya fiktif?" tanya jaksa.
"Dari investor baru," jawab Tito. "Setiap kali ada orang baru menanam uang, uang itu dipakai membayar dividen investor lama, supaya semua orang merasa untung dan menanam lebih banyak lagi. Selama orang baru terus masuk, gelembungnya terus membesar. Begitu orang baru berhenti masuk—" Tito berhenti. "—semuanya runtuh."
Pengacara Salim bangkit untuk pemeriksaan silang. Ia tidak menyerang fakta. Ia menyerang Tito.
"Saudara dipecat dengan tidak hormat, betul? Saudara punya alasan untuk membenci perusahaan ini. Mungkin kesaksian Saudara hanya pelampiasan dendam orang yang kehilangan pekerjaan?"
Tito diam sejenak. Damar menahan napas, takut pria itu runtuh.
Tapi Tito menjawab pelan, "Pak, kalau saya cuma mau balas dendam, saya tidak perlu enam bulan bersembunyi sambil ketakutan. Saya tidak perlu memindahkan keluarga saya tiga kali. Saya tidak perlu menyerahkan flashdisk yang bisa membuat saya dibunuh seperti Pak Gunawan. Dendam itu murah, Pak. Yang saya lakukan ini mahal sekali. Saya bayar pakai rasa takut tiap malam."
Ruangan senyap. Bahkan pengacara Salim tidak segera melanjutkan.
Sidang ditutup sore itu dengan kesaksian Tito tercatat lengkap. Damar merasa lega — sebuah kelegaan yang ternyata terlalu dini.
Malam itu, di rumah aman, Maharani datang dengan wajah keruh. Ia tidak duduk.
"Identitas Tito bocor," katanya tanpa basa-basi. "Bukan namanya — itu memang sudah disebut di sidang. Tapi alamat tempat keluarganya dilindungi. Tersebar di sebuah pesan berantai yang dikirim ke beberapa nomor satu jam lalu. Kita tidak tahu dari pintu mana, tapi kita tahu kenapa."
Damar berdiri. "Keluarganya?"
"Tim sudah bergerak. Tapi ada mobil yang sudah lebih dulu sampai. Berhenti di ujung jalan, lampu mati, mesin menyala. Menunggu."
Arini sudah meraih kuncinya. "Kita ke sana."
"Tidak," potong Maharani tegas. "Kalian dua-duanya target prioritas. Kalian ke sana sama saja menyalakan dua suar lagi. Biar tim yang menangani. Tugas kalian sekarang adalah tetap hidup sampai sidang berikutnya."
Damar mengepalkan tangan. Untuk pertama kalinya ia merasakan betapa tak berdayanya menjadi orang yang harus dilindungi, bukan orang yang melindungi. Tito naik mimbar karena dia. Tito menjadi sasaran karena dia. Dan sekarang ia hanya bisa duduk di rumah aman, menunggu kabar, sementara seseorang dengan lampu mati menunggu di ujung jalan tempat keluarga Tito tidur.
Telepon Maharani berdering. Ia mengangkatnya, mendengarkan, lalu memejamkan mata sejenak. Damar tak bisa membaca apa pun dari wajahnya.
"Keluarga Tito aman," kata Maharani akhirnya. "Tim sampai lebih dulu, memindahkan mereka lewat pintu belakang. Mobil yang menunggu kabur saat lampu konvoi muncul. Tidak ada yang terluka."
Damar mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan.
"Tapi," lanjut Maharani, "ini peringatan. Mereka tahu kita punya celah. Mereka akan mencari celah berikutnya. Dan celah berikutnya, kemungkinan besar, adalah kamu sendiri, Damar — di jalan, menuju sidang."