Mereka bertemu di ruang tertutup di kantor lembaga antikorupsi, ruangan tanpa jendela dengan satu meja dan rekaman berjalan. Pejabat itu — namanya Sutardjo, mantan pejabat menengah di lembaga pengawas pasar modal — tampak seperti pria yang sudah tidak tidur berhari-hari. Ia yang dulu tertangkap basah menghapus berkas pengawasan Cakrawala, dan kini, demi keringanan dan perlindungan, ia memilih membuka mulut.
"Kalian pikir ini soal Wirananta," kata Sutardjo, tangannya melingkari cangkir teh yang tak ia sentuh. "Wirananta cuma yang menyalakan apinya. Tapi apinya dijaga banyak tangan. Dan tangan-tangan itu duduk lebih tinggi dari yang kalian kira."
Damar duduk di seberangnya, ditemani Maharani dan seorang jaksa bersih bernama Pak Reza. Arini tidak diizinkan masuk — konflik kepentingan, katanya, sebagai wartawan — tapi ia menunggu di luar, dan Damar tahu setiap kata yang penting akan ia sampaikan nanti.
"Ceritakan pertemuannya," kata Pak Reza.
Sutardjo menarik napas panjang. "Dua tahun lalu. Sebelum saham Cakrawala mulai naik gila-gilaan. Ada pertemuan di sebuah vila di pegunungan. Bukan rapat resmi, tidak ada notula, tidak ada nama di daftar tamu. Yang hadir—" ia berhenti, seakan menimbang sekali lagi apakah ia benar-benar akan melewati garis ini, "—Wirananta, Salim, beberapa orang dari lembaga saya, dan dua orang dari luar lembaga yang membuat semua ini mungkin terjadi."
"Siapa?"
"Seorang anggota dewan. Dan seorang lagi—" Sutardjo menelan ludah, "—yang wajahnya kalian lihat tiap minggu di televisi, bicara soal memberantas korupsi."
Ruangan senyap. Damar merasakan bulu kuduknya berdiri. Daftar pemegang saham pejabat itu — yang ia temukan di flashdisk Tito berbulan-bulan lalu, nama-nama yang membuatnya tak bisa tidur — kini mulai punya wajah.
"Apa yang diputuskan di pertemuan itu?" tanya Pak Reza, suaranya tenang tapi tajam.
"Pembagian." Sutardjo menatap meja. "Saham Cakrawala dibagi sebelum naik. Orang-orang di ruangan itu mendapat jatah saham dengan harga awal, sebelum digelembungkan. Sebagai imbalan, lembaga saya menutup mata pada laporan keuangannya. Anggota dewan menjaga agar tidak ada undang-undang atau pengawasan baru yang menyentuh Cakrawala. Dan tokoh televisi itu—" Sutardjo tersenyum pahit, "—tugasnya yang paling pintar. Tugasnya adalah terus berteriak soal korupsi di tempat lain, supaya tidak ada yang curiga ada korupsi di tempatnya sendiri. Dia jadi tameng. Selama dia ada di layar mengutuk koruptor, siapa yang akan menyangka dia memegang saham skema Ponzi terbesar di negeri ini?"
Damar merasakan sesuatu seperti mual. Bukan karena terkejut — ia sudah lama menduga jaringan ini menjangkau ke atas. Tapi mendengarnya diucapkan, dengan nama dan peran, mengubah dugaan menjadi kenyataan yang berat.
"Kenapa kamu cerita ini sekarang?" tanya Damar pelan. "Kamu bagian dari mereka. Kamu menghapus bukti."
Sutardjo menatapnya, dan untuk pertama kalinya ada kejujuran telanjang di matanya. "Karena aku ada di anak tangga paling bawah dari mereka semua. Aku yang akan jadi tumbal kalau ini meledak. Mereka yang di atas akan selamat — mereka selalu selamat — dan aku yang akan masuk penjara sendirian sambil mereka pura-pura tidak kenal aku." Suaranya bergetar. "Aku capek jadi tameng buat orang yang bahkan tidak ingat namaku. Kalau aku tetap diam, aku tenggelam sendirian. Kalau aku bicara, setidaknya aku menyeret mereka turun bersamaku."
Pak Reza dan Maharani bertukar pandang. Damar memahami betapa berbahayanya kesaksian ini. Ini bukan lagi soal sebuah perusahaan menipu investornya. Ini soal sebagian alat negara yang ikut menjual perlindungan. Kasus ini baru saja naik satu anak tangga — dari korporasi ke kekuasaan.
"Kamu bersedia mengulang ini di pengadilan?" tanya Pak Reza. "Dengan nama-nama itu? Lengkap?"
Sutardjo memejamkan mata sejenak. Lalu ia mengangguk. "Asal keluargaku dilindungi. Dan asal—" ia menatap Damar, "—asal kalian tidak membiarkan mereka membuatku jadi satu-satunya yang dihukum. Aku menghapus bukti, ya. Tapi aku tidak membunuh siapa pun. Yang membunuh Gunawan ada di sel kalian. Yang merancang semuanya bersembunyi di luar negeri. Dan yang membagi sahamnya masih bebas, masih bicara di televisi, masih dipanggil 'pejuang antikorupsi'. Aku mau mereka semua duduk di kursi yang sama denganku."
Damar menatap pria yang putus asa itu — pengkhianat yang mengkhianati pengkhianat — dan merasakan campuran yang aneh antara jijik dan syukur. Sutardjo bukan orang baik. Tapi dalam keputusasaannya, ia memegang kunci ke pintu yang selama ini terkunci rapat. Pintu menuju lapisan atas.
Saat mereka keluar dari ruangan itu, Maharani berbisik pada Damar, "Kamu sadar apa yang baru saja kita pegang?"
"Aku sadar," kata Damar, mengulang kalimat yang sama yang pernah ia ucapkan saat menunjukkan salinan bayangan. Tapi kali ini suaranya lebih berat. "Kita baru saja menaiki anak tangga yang tidak ada jalan kembalinya. Salah satu nama itu adalah orang yang seluruh negeri percaya."
"Tokoh televisi itu."
Damar mengangguk. "Dan begitu kita menyentuhnya, dia tidak akan jatuh diam-diam. Dia akan jatuh sambil membakar segala yang bisa dia bakar."