Namanya, Damar akhirnya tahu, adalah seseorang yang selama bertahun-tahun ia tonton di televisi dengan rasa hormat. Tokoh yang muncul di acara bincang malam, suaranya berapi-api mengutuk koruptor, wajahnya menjadi simbol harapan bagi rakyat yang muak. Orang yang spanduknya pernah ia lihat di jalan: Berani Jujur, Berani Bersih. Mengetahui bahwa orang itu memegang saham terbesar skema Ponzi Cakrawala terasa seperti mengetahui bahwa lampu yang menerangi jalanmu ternyata menyala dari kabel yang dicuri.
Bukti dari kesaksian Sutardjo tidak cukup sendirian — kesaksian satu orang bisa dibantah. Tapi Sutardjo memberi tahu di mana mencari sisanya. Dan ketika konsorsium jurnalis Arini mencocokkan tanggal pembelian saham di vila itu dengan catatan registrasi pemegang saham yang sudah ada di tangan Damar sejak flashdisk Tito, polanya cocok. Sebuah perusahaan cangkang kecil — atas nama keponakan sang tokoh, yang baru lulus kuliah dan tak punya penghasilan — tercatat membeli saham Cakrawala dalam jumlah yang nilainya kini ratusan miliar rupiah. Uang seorang fresh graduate. Tidak masuk akal. Sampai kamu tahu uang itu sebenarnya milik siapa.
Arini menulis liputannya selama tiga malam tanpa tidur. Damar membantunya menyusun bagian keuangan agar tak ada satu pun celah yang bisa dipakai pengacara untuk membantah. Mereka memeriksa setiap angka tiga kali. Setiap dokumen punya sumber. Setiap klaim punya tanggal.
"Ini harus sempurna," kata Arini, matanya merah karena kurang tidur. "Karena begitu kita menerbitkan ini, dia akan menyangkal dengan seluruh kekuatannya. Dia punya panggung. Dia punya pengikut. Dia punya reputasi puluhan tahun. Kita cuma punya kebenaran. Dan kebenaran tanpa bukti yang rapat akan kalah melawan reputasi."
Mereka menerbitkannya pada Senin pagi. Serentak, di belasan media sekaligus, dalam dan luar negeri — pelajaran yang sudah Damar pelajari sejak rilis pertama: kebenaran yang disebar ke banyak tempat tidak bisa dibungkam dari satu tempat.
Judulnya sederhana: Pejuang Antikorupsi Itu Pemegang Saham Terbesar Skema Ponzi Cakrawala.
Reaksinya seperti ledakan.
Selama beberapa jam pertama, sang tokoh menyangkal dengan keras. Ia muncul di televisi — panggung yang selama ini menjadi bentengnya — dengan wajah marah, menyebut tuduhan itu fitnah, konspirasi, upaya menjatuhkan suara-suara yang berani melawan kekuasaan. Ia berbicara dengan retorika yang sama yang selama ini memukau jutaan orang.
Tapi kali ini, retorika tidak cukup.
Karena Arini telah menerbitkan dokumennya. Nomor registrasi saham. Nama perusahaan cangkang. Nama keponakan yang fresh graduate. Tanggal pembelian yang persis sama dengan pertemuan di vila yang disebut Sutardjo. Dan ketika para wartawan mendatangi keponakan itu — pemuda yang ketakutan dan tidak siap berbohong — ia gugup, kontradiktif, dan akhirnya, di depan kamera, mengaku bahwa ia tidak pernah punya uang untuk membeli saham itu, bahwa ia hanya "diminta menandatangani sesuatu" oleh pamannya.
Itulah momen ketika benteng runtuh.
Damar menonton kehancuran itu dari rumah aman, dan ia tidak merasakan kemenangan yang ia kira akan ia rasakan. Ia melihat seorang manusia yang selama bertahun-tahun berdiri di atas kebohongan, kini ditelanjangi di hadapan orang-orang yang dulu memujanya. Komentar-komentar berbalik dalam hitungan jam — dari pujian menjadi murka, dari Berani Jujur menjadi olok-olok yang pedih. Spanduk-spanduk yang dulu memuji namanya kini menjadi bahan tertawaan. Acara televisi yang dulu menjadi panggungnya membatalkan kontraknya sebelum tengah hari.
"Dia jatuh," kata Arini, duduk di samping Damar, suaranya lelah tapi puas. "Bukan karena kita menjatuhkannya. Karena dia tidak pernah benar-benar berdiri di atas apa pun. Dia cuma berdiri di atas kepercayaan orang. Begitu kepercayaan itu pergi, tidak ada lantai di bawahnya."
Damar mengangguk pelan. "Kemunafikan adalah utang," gumamnya. "Cepat atau lambat, ditagih."
Tapi ia tahu juga, dari pengalaman pahit berbulan-bulan ini, bahwa orang yang jatuh dari ketinggian seperti itu jarang jatuh sendirian dan tenang. Dan benar saja — malam itu, telepon Maharani berdering. Sang tokoh, yang kini tidak punya apa-apa lagi untuk dilindungi, menghubungi jaksa. Ia ingin bicara. Ia ingin membuat kesepakatan. Dan dalam keputusasaannya, ia siap menyeret turun semua orang yang dulu duduk bersamanya di vila itu — termasuk anggota dewan yang selama ini merasa paling aman, paling tak tersentuh.
"Satu per satu," kata Maharani, menutup teleponnya. "Mereka mulai saling memakan."
Damar menatap layar televisi yang masih menayangkan kejatuhan sang tokoh, diputar berulang-ulang. Lalu ia teringat sesuatu — bukan pejabat, bukan dewan, bukan tokoh televisi. Ia teringat wajah-wajah di barisan kedua ruang sidang. Perempuan yang menangis menggenggam fotokopi rekening. Para korban. Orang-orang biasa yang uangnya — tabungan seumur hidup, dana pensiun, uang sekolah anak — telah menjadi bahan bakar gelembung yang kini pecah.
Mereka, Damar sadar, belum mendapatkan apa-apa. Para pelaku mulai berjatuhan. Tapi para korban masih berdiri di tempat yang sama, dengan tangan kosong.
"Arini," kata Damar. "Pejabat-pejabat ini, jaringan ini, semua ini—penting. Tapi ada sesuatu yang belum kita kerjakan."
Arini menoleh.
"Para korbannya," kata Damar. "Kita sibuk merobohkan menara. Sampai lupa kenapa kita merobohkannya."