Ide itu datang dari seorang ibu rumah tangga bernama Bu Sumarni.
Damar pertama kali bertemu dengannya di lobi gedung pengadilan, di sela sidang. Perempuan berusia enam puluhan itu mendekatinya dengan map plastik lusuh yang dipeluk erat di dada. Ia tidak marah, tidak menuntut. Ia hanya ingin berterima kasih.
"Saya tahu Mas yang membongkar ini," kata Bu Sumarni, suaranya pelan. "Saya kehilangan tujuh puluh juta. Tabungan dua puluh tahun. Untuk naik haji sama almarhum suami saya — tapi suami saya keburu meninggal, dan saya pikir, biar saya pergi sendiri, mengantar doanya. Uang itu sekarang hilang."
Damar tidak tahu harus berkata apa. Tidak ada kata yang cukup. "Maaf, Bu," akhirnya ia berkata, dan terasa betapa kecilnya kata itu.
"Bukan salah Mas," kata Bu Sumarni. "Mas malah yang membongkarnya. Tapi—" ia menggenggam map plastiknya lebih erat, "—saya cuma mau tanya. Apa uang kami akan kembali? Kami—saya bukan cuma satu, Mas. Ada ratusan, ribuan. Saya kenal banyak. Bu Wati yang jualan kue, kehilangan modal dagangnya. Pak Hartono yang pensiunan guru, kehilangan semua pesangonnya. Anak muda namanya Andre, baru nikah, uang DP rumahnya habis. Kami semua—" ia berhenti, menahan sesuatu. "Para pelakunya nanti dipenjara, ya, syukur. Tapi penjara mereka tidak mengembalikan tabungan kami."
Kalimat itu menempel di benak Damar berhari-hari. Penjara mereka tidak mengembalikan tabungan kami. Selama ini ia berpikir keadilan berarti para pelaku dihukum. Tapi bagi Bu Sumarni dan ribuan orang seperti dia, keadilan punya makna yang lebih sederhana dan lebih mendesak: uangku, kembalikan uangku.
Damar membawa kegelisahan itu ke Maharani dan Pak Reza.
"Kasus pidana menghukum pelaku," kata Pak Reza. "Tapi mengembalikan kerugian korban butuh jalur lain. Gugatan perdata. Kalau dilakukan sendiri-sendiri, korban kecil tidak akan sanggup — biaya pengacara saja lebih besar dari kerugian masing-masing. Tapi kalau mereka bergabung—"
"Gugatan kelompok," sambung Maharani. "Class action. Ribuan korban menggugat bersama-sama sebagai satu kelompok, dengan satu tim hukum, satu tuntutan. Biayanya ditanggung bersama. Dan kekuatannya—" ia menatap Damar, "—kekuatannya bukan cuma hukum. Kekuatannya adalah angka. Bukan angka rupiah. Angka manusia. Ribuan wajah."
Damar menyadari sesuatu. Selama ini, kasus Cakrawala adalah pertarungan antara segelintir orang — dirinya, Arini, beberapa jaksa bersih — melawan jaringan kekuasaan. Tapi class action mengubah peta itu sepenuhnya. Ia mengubah kasus ini dari urusan beberapa orang menjadi gerakan ribuan orang. Dan ribuan orang yang menuntut bersama tidak bisa diabaikan oleh hakim mana pun, tidak bisa ditakut-takuti oleh ancaman mana pun, tidak bisa dibungkam oleh kekuasaan mana pun.
"Bagaimana kita memulainya?" tanya Damar.
"Kita butuh perwakilan kelompok," kata Pak Reza. "Beberapa korban yang bersedia menjadi penggugat mewakili semua. Kita butuh data kerugian yang terverifikasi. Dan kita butuh—" ia melirik Arini yang sejak tadi mendengarkan, "—kita butuh suara. Orang harus tahu gugatan ini ada, supaya korban-korban yang lain ikut bergabung."
Arini sudah mengeluarkan buku catatannya. "Aku punya idenya."
Pekan-pekan berikutnya berubah menjadi pekerjaan yang berbeda dari segalanya yang pernah Damar lakukan. Ia tidak lagi hanya membongkar angka di balik pintu tertutup. Ia keluar — dengan pengawalan, tapi keluar — bertemu para korban. Di balai pertemuan kelurahan, di teras masjid, di ruang serbaguna gereja, kelompok demi kelompok berkumpul. Damar menjelaskan, dengan bahasa Tito — bahasa orang biasa — apa yang sebenarnya terjadi pada uang mereka. Ia menjelaskan apa itu skema Ponzi tanpa sekalipun memakai istilah yang membingungkan. Ia menjelaskan ke mana uang mereka pergi, dan kenapa, dan apa yang sedang diperjuangkan untuk mengembalikannya.
"Bukan untuk menumbuhkan harapan palsu," ia selalu menutup dengan kalimat itu. "Saya tidak janji semuanya kembali. Tapi sekarang aset pelaku sudah disita, rekeningnya di luar negeri sudah dibekukan. Ada uangnya. Dan kalau kita menuntut bersama, ada peluang sebagian dari uang itu kembali ke tangan kalian, bukan ke tangan pengacara mereka."
Bu Sumarni menjadi salah satu perwakilan kelompok. Begitu juga Pak Hartono, pensiunan guru. Dan Andre, anak muda yang kehilangan uang muka rumahnya. Mereka bukan tokoh, bukan pejabat, bukan ahli hukum. Mereka orang-orang biasa yang kehilangan sesuatu yang nyata. Dan justru karena itu — karena mereka begitu biasa, begitu nyata — gugatan mereka punya kekuatan yang tidak dimiliki seluruh dokumen forensik di dunia.
Ketika gugatan kelompok itu didaftarkan resmi ke pengadilan, jumlah penggugat yang bergabung sudah melampaui empat ribu orang. Empat ribu nama. Empat ribu kerugian. Empat ribu alasan kenapa kasus ini tidak boleh diselesaikan diam-diam.
Damar berdiri di lobi pengadilan, menatap antrean panjang orang-orang yang datang menandatangani surat kuasa. Ia melihat ibu-ibu, kakek-kakek, anak muda, pedagang. Wajah-wajah yang dulu hanya angka dalam laporan keuangan Cakrawala — "investor ritel" — kini berdiri di hadapannya sebagai manusia.
Salim, dulu, di gudang blok C, pernah menyebut mereka dengan nada merendahkan. Ibu-ibu rumah tangga dan pensiunan yang terlalu serakah. Damar tidak akan pernah melupakan nada itu.
Sekarang, menatap antrean panjang itu, Damar bergumam pelan, untuk dirinya sendiri:
"Mereka bukan angka, Salim. Mereka tidak pernah jadi angka."