Hujan turun tipis ketika Damar tiba di gedung kejaksaan pagi itu, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia datang bukan sebagai orang yang dikejar, melainkan sebagai orang yang dinanti.
Arini menunggunya di lobi, mantelnya basah di bagian bahu, ponselnya menyala terus-menerus. "Kamu sudah dengar?" Ia menariknya ke sudut, menjauh dari sekelompok wartawan yang mengerubungi pintu masuk. "Sutrisno menyerah. Tadi subuh. Datang sendiri ke sini, ditemani pengacara, minta perlindungan."
Damar berhenti melangkah. Sutrisno. Nama itu sudah berbulan-bulan menghantui dokumen yang ia kumpulkan—direktur keuangan Cakrawala, pengirim email instruksi "menyesuaikan angka tiap kuartal", tangan yang menulis "sudah disetujui Pak W" di bawah tabel angka riil dan angka publikasi. Selama ini ia hanya tanda tangan di bawah lembar bukti. Sekarang ia jadi manusia yang bernapas di ruang sebelah.
"Kenapa sekarang?" tanya Damar.
"Karena dia takut." Arini menurunkan suara. "Rekening cangkangnya dibekukan bank internasional minggu lalu. Wirananta kabur ke negara yang nggak bisa disentuh. Dan dua orang yang tahu sebanyak dia sudah mati—Gunawan, lalu sumber keduaku. Sutrisno hitung sendiri: kalau dia diam, dia mati di tangan jaringannya sendiri. Kalau dia bicara, paling tidak dia masih punya kesempatan."
Mereka membawa Damar ke ruang penyidikan kecil di lantai tiga, di mana jaksa Wibowo—salah satu dari kubu bersih yang sudah berbulan-bulan Damar percayai—sudah menunggu dengan map tebal di meja. Wibowo lelaki kurus berkacamata, bicaranya hati-hati seperti orang yang sudah terlalu sering dikecewakan.
"Saya minta kamu di sini bukan untuk menginterogasi," kata Wibowo. "Tapi kamu yang paling paham peta uangnya. Saya butuh kamu konfirmasi: kalau dia berbohong, kamu yang akan tahu duluan."
Sutrisno didatangkan masuk. Damar hampir tidak percaya orang ini pernah jadi salah satu eksekutif paling ditakuti di lantai keuangan Cakrawala. Wajahnya tirus, kantung matanya hitam, jas mahalnya menggantung longgar seperti dipinjam dari tubuh yang lebih besar. Ia duduk, melihat Damar, dan untuk sesaat sesuatu seperti rasa malu melintas di wajahnya.
"Jadi Anda," katanya pelan. "Analis yang bikin semuanya runtuh."
"Bukan saya yang bikin runtuh," kata Damar. "Anda dan Wirananta yang membangunnya di atas kebohongan. Saya cuma menunjuk retaknya."
Sutrisno mengangguk lambat, seolah menerima hukuman dalam kalimat itu. Lalu ia mulai bicara. Dan begitu mulai, ia tidak berhenti.
Ia menjelaskan mekanisme lingkaran setan dari dalam—bagaimana uang investor baru dialirkan lewat CNI Logistik dan Bahari Mandiri, dicatat sebagai pendapatan penjualan ke tujuh pelanggan fiktif di Sulawesi, lalu sebagian kecil dikembalikan sebagai "dividen" untuk menjaga kepercayaan, sementara sisanya yang besar mengalir ke atas. Ke rekening pribadi. Ke perusahaan cangkang di tiga yurisdiksi. Ke nama-nama di daftar pejabat itu.
"Setiap kuartal," kata Sutrisno, suaranya gemetar, "Pak W telepon saya satu kali. Cuma satu kalimat. 'Buat angkanya bagus, Sutrisno.' Lalu saya yang atur. Saya tahu itu bohong. Saya tahu sejak awal. Tapi setiap tahun bonus saya naik, dan saya bilang ke diri sendiri, satu kuartal lagi, satu kuartal lagi, nanti kita perbaiki." Ia menatap tangannya sendiri. "Tidak ada 'nanti'. Yang ada cuma angka berikutnya yang harus dirias."
Damar mendengarkan, dan di dalam dadanya ada sesuatu yang dingin. Ini bukan iblis di seberang meja. Ini orang biasa yang menyerah satu inci setiap kali, sampai ia tidak punya tempat berdiri lagi.
Wibowo mencatat. "Anda bersedia jadi saksi mahkota? Mengaku di pengadilan, melawan Wirananta, dengan imbalan keringanan hukuman?"
Sutrisno diam lama. Lalu, "Ya. Tapi ada satu hal yang harus Anda lindungi dulu." Ia menelan ludah. "Bukan istri saya. Bukan anak saya." Matanya beralih ke Damar, tajam tiba-tiba. "Diri saya. Karena begitu Wirananta tahu saya bicara, dia akan kirim seseorang. Dan orang yang biasa dia kirim untuk urusan seperti ini—" suaranya hampir tak terdengar, "—Anda sudah kenal. Dia ada di tahanan sekarang. Tapi percayalah, Mas Damar, jeruji tidak pernah benar-benar mengurung Salim."
Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin. Damar menatap Wibowo, dan Wibowo menatapnya balik, keduanya memikirkan hal yang sama. Sutrisno baru saja membuka pintu—dan di balik pintu itu, menunggu, ada rantai berikutnya yang harus mereka tarik. Rantai bernama Salim.