Rumah janda Gunawan berdiri di sebuah perumahan tua yang teduh, pagar besinya berkarat di ujung, halaman kecil ditumbuhi bunga-bunga yang dirawat dengan telaten oleh tangan yang sedang mencari sesuatu untuk dilakukan agar tidak memikirkan kekosongan.
Bu Sari—begitu ia memperkenalkan diri—menerima mereka dengan tenang yang membuat Damar justru merasa pilu. Itu ketenangan orang yang sudah menangis sampai habis, lalu belajar hidup dengan luka yang tidak menutup.
"Saya tahu suami saya tidak mati karena kecelakaan," kata Bu Sari, menuangkan teh dengan tangan yang sangat stabil. "Saya tahu sejak hari pertama. Tapi tidak ada yang mau dengar. Polisi bilang rem blong. Perusahaan kirim karangan bunga dan amplop, lalu menutup pintu. Saya perempuan yang baru jadi janda, tanpa bukti, melawan perusahaan yang fotonya ada di majalah. Siapa yang akan percaya?"
"Saya percaya, Bu," kata Damar pelan. "Dan sekarang, ada cukup banyak orang yang percaya untuk bisa berbuat sesuatu."
Bu Sari menatapnya lama. Lalu, untuk pertama kalinya, ketenangannya bergetar. "Mas yang analis itu, kan? Yang membongkar semuanya. Saya lihat di berita." Matanya berkaca-kaca. "Suami saya selalu bilang, di pekerjaan seperti dia, yang paling berbahaya bukan angka yang salah. Tapi orang yang tahu angka itu salah dan tetap diam. Dia tidak mau jadi orang seperti itu. Dan itu yang membunuhnya."
Arini meletakkan tangannya di lengan Bu Sari. "Bu, kami datang bukan cuma untuk mendengar. Kami dengar Pak Gunawan mungkin meninggalkan sesuatu."
Bu Sari diam lama sekali. Lalu ia bangkit, masuk ke kamar, dan kembali dengan sebuah kotak biskuit kaleng yang sudah penyok di sudutnya. Ia meletakkannya di meja dengan kedua tangan, seolah menyerahkan sesuatu yang jauh lebih berat daripada tampaknya.
"Tiga hari sebelum dia pergi," kata Bu Sari, "dia pulang malam, gelisah. Dia kasih saya kaleng ini. Bilang, 'Simpan, jangan dibuka, jangan kasih siapa-siapa. Kalau terjadi sesuatu sama Bapak, jangan ke polisi langsung. Tunggu sampai ada orang yang benar-benar bisa kamu percaya.'" Suaranya pecah di kalimat terakhir. "Saya tunggu, Mas. Bertahun-tahun saya tunggu. Saya hampir putus asa kalau orang itu akan datang."
Damar membuka kaleng itu dengan jari yang gemetar. Di dalamnya: sebuah flashdisk, beberapa lembar fotokopi, dan sebuah amplop bersampul cokelat yang sudah lusuh.
Di dalam amplop itu ada selembar surat tulisan tangan rapi seorang auditor—bukan catatan kerjanya, melainkan pesan terakhir yang ia titipkan untuk istrinya. Tertanggal tiga hari sebelum kematiannya, Gunawan menulis satu paragraf yang membuat seluruh ruangan terasa berhenti bernapas:
"Hari ini Pak W memanggil. Dia minta saya 'pertimbangkan ulang' laporan. Saya menolak. Salim ada di ruangan, tidak bicara, hanya tersenyum. Saya kenal senyum itu. Itu senyum orang yang sudah memutuskan sesuatu tentang saya. Jika ada yang membaca ini, ketahuilah: laporan saya benar. Saya tidak bunuh diri. Saya tidak ceroboh menyetir. Apa pun yang mereka katakan terjadi pada saya, mereka yang melakukannya."
Damar melipat surat itu perlahan. Di seberang meja, Bu Sari menangis tanpa suara, dan Arini memeluknya. Di tangan Damar, dalam kaleng biskuit penyok yang disimpan seorang janda selama bertahun-tahun, tergenggam kepingan yang selama ini hilang: bukan lagi buku catatan Gunawan—itu sudah ada di tangan mereka lewat Tito—melainkan flashdisk dengan bukti yang bahkan belum pernah mereka lihat, dilengkapi surat dari mulut korban sendiri, ditulis sebelum ia mati, menunjuk lurus ke dua nama. Wirananta. Dan Salim.
Flashdisk di dalam kaleng menyimpan lebih banyak lagi—salinan email internal, tabel angka riil yang Gunawan kumpulkan diam-diam, foto-foto dokumen yang ia potret sebelum sempat dilenyapkan. Beberapa di antaranya bahkan tidak ada di flashdisk Tito. Gunawan, ternyata, sudah jauh lebih dalam menyusun kasusnya daripada yang siapa pun duga. Ia mati persis di ambang melapor, dengan bukti lengkap di tangan.
"Kenapa Ibu memilih percaya sekarang?" tanya Damar lembut, sebelum mereka pamit. "Kenapa kepada saya?"
Bu Sari mengusap matanya. "Karena Mas datang bukan untuk mengambil. Polisi dulu datang untuk menutup kasus. Perusahaan datang untuk membeli diam saya. Mas datang—" ia menatap Damar lama, "—untuk membuka apa yang sudah lama ditutup. Suami saya pasti tahu. Orang yang dia maksud 'benar-benar bisa dipercaya'. Saya rasa itu Mas."
Damar tidak bisa menjawab. Ia hanya menggenggam kaleng itu lebih erat, merasakan beratnya bukan sebagai bukti, melainkan sebagai amanat.
Pembunuhan terencana itu kini lengkap. Dan Damar tahu, begitu bukti ini sampai ke meja jaksa, posisi tawar Salim akan runtuh seperti gelembung yang sudah terlalu lama menahan tekanan.