Mereka memberi tahu Salim di ruang besuk khusus rumah tahanan, dinding beton kosong, satu meja logam yang dibaut ke lantai, satu jendela kecil berjeruji tinggi di luar jangkauan tangan.
Damar tidak seharusnya ada di sana. Tetapi Wibowo memintanya datang—"Kamu yang dia kenal. Kadang orang lebih jujur di depan musuh lamanya daripada di depan jaksa."
Salim sudah berbeda. Rambut peraknya tetap rapi, tapi jas abu-abu mahal itu sudah lama hilang, diganti seragam tahanan yang membuatnya tampak seperti versi pucat dari dirinya yang dulu. Hanya matanya yang sama—menghitung, menimbang, mencari harga lawan bicara. Ketika ia melihat Damar masuk, sudut bibirnya naik tipis.
"Mas Damar." Suaranya masih tenang, masih teratur. "Saya kira saya tidak akan melihat Anda lagi. Datang menonton saya membusuk?"
"Datang memberi tahu Anda," kata Damar, duduk di seberang. "Kasus Gunawan dibuka ulang. Kami menemukan bengkelnya. Montirnya bicara. Dan kami menemukan surat terakhir Gunawan—ditulis sendiri, tiga hari sebelum dia mati. Dia menyebut Anda. Namanya. Senyum Anda di ruang rapat itu."
Untuk sepersekian detik, sesuatu retak di wajah Salim. Sangat tipis, hampir tak terlihat. Tetapi Damar sudah berbulan-bulan belajar membaca wajah orang yang berbohong dengan senyum lebar, dan ia melihatnya.
"Sutrisno juga sudah bicara," lanjut Damar. "Dia dengar Wirananta menyerahkan Gunawan ke tangan Anda. Dia dengar Anda menerimanya. 'Bereskan urusan angka, biar urusan orang saya yang atur.' Itu kalimat Anda, kan, Pak Salim?"
Salim diam lama. Lalu ia bersandar, menyilangkan tangan, dan tersenyum lagi—tapi senyum itu sudah tidak sampai ke matanya, sama seperti di ruang rapat lantai atas bertahun-tahun lalu. "Anda sungguh tekun. Saya akui itu. Sejak awal Anda yang paling merepotkan."
"Anda menanggung semuanya sendiri sekarang," kata Damar. Ia mencondongkan tubuh sedikit. "Pikirkan, Pak. Wirananta aman di seberang lautan, di negara yang tidak bisa menyentuhnya. Sutrisno dapat keringanan karena membelot. Direksi yang lain entah ke mana. Dan Anda—Anda satu-satunya yang dua tangannya menyentuh setiap mayat. Gunawan. Sumber kedua Arini. Setiap orang yang menjadi bahaya, Anda yang 'mengatur'. Wirananta cuma menyebut. Anda yang melakukan." Damar menahan tatapannya. "Di pengadilan nanti, siapa yang akan duduk di kursi terberat menurut Anda? Otak yang sembunyi di luar negeri, atau tangan yang masih di sini?"
Otot di rahang Salim bergerak. Ia memandang jendela kecil berjeruji itu, lalu kembali ke Damar.
"Anda pikir Anda pintar," katanya akhirnya, suaranya lebih rendah. "Anda pikir Anda bisa pakai saya untuk menjatuhkan dia."
"Saya pikir," kata Damar, "Anda sudah menghabiskan seluruh hidup melayani orang yang sekarang membiarkan Anda menanggung segalanya. Saya cuma bertanya, sampai kapan Anda mau jadi tangan yang membersihkan, untuk orang yang tidak akan pernah membersihkan Anda?"
Salim menatapnya, dan untuk sesaat sesuatu di matanya yang dingin itu seperti membeku lebih dalam. "Anda tahu, Mas Damar," katanya pelan, "dulu saya mengira Anda akan mati di gudang itu. Saya sudah mengarahkan pistolnya. Saya sudah menarik pelatuk." Ia memiringkan kepala sedikit, mengamati Damar seperti mengamati teka-teki yang belum selesai. "Tapi Anda di sini. Hidup. Dan saya di sini, di balik beton ini. Pernahkah terpikir oleh Anda, kalau pagi itu sirene datang sepuluh detik lebih lambat, dunia akan sangat berbeda?"
"Sering," kata Damar jujur. Ia tidak berkedip. "Tapi sirene itu tidak terlambat. Karena saya tidak mengandalkan keberuntungan, Pak. Saya mengandalkan data yang sudah saya kirim ke mana-mana sebelum saya masuk gudang. Itu bedanya kita. Anda percaya pada pistol. Saya percaya pada hal yang tidak bisa ditembak."
Salim tidak menjawab. Tetapi ia tidak menyangkal. Dan dalam diamnya yang panjang itu, Damar melihat untuk pertama kalinya, bukan ketakutan—Salim tidak takut mati—melainkan sesuatu yang lebih berbahaya bagi Wirananta. Perhitungan. Salim sedang menghitung. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, angka yang ia hitung bukan harga Damar, melainkan harga kesetiaannya sendiri.
Ketika Damar berdiri untuk pergi, Salim memanggilnya. "Mas Damar." Suaranya pelan. "Katakan pada jaksa Anda. Mungkin, mungkin saja, saya punya sesuatu untuk ditawarkan. Tapi saya hanya bicara dengan jaminan." Senyum tipis itu kembali, lelah kali ini. "Anda tahu lebih baik dari siapa pun. Orang yang tahu sebanyak saya, biasanya tidak hidup cukup lama untuk bersaksi."