Wirananta ditahan di rumah tahanan dengan pengamanan ketat, dipisahkan dari blok Salim agar dua mata rantai itu tak mungkin saling sentuh. Untuk pertama kalinya, kedua otak operasi—yang menyetujui dan yang melaksanakan—berada di bawah satu atap hukum yang sama. Di luar, negeri merayakannya seperti kemenangan. Berita memuji penangkapan itu. Para korban class action mengirim karangan bunga ke kantor Arini. Untuk satu hari, terasa seperti perjuangan ini hampir usai.
Damar tahu lebih baik.
Ia duduk di ruang rapat kejaksaan tiga hari kemudian, ketika kalimat Wirananta di bandara terbukti bukan gertakan kosong.
"Pengacaranya menyampaikan ini pagi tadi," kata Wibowo, meletakkan selembar surat di meja. Wajahnya muram. "Bukan ke pengadilan. Ke kami. Secara pribadi."
Damar membaca. Bahasanya halus, penuh istilah hukum, tetapi maknanya telanjang. Wirananta bersedia menjalani proses—asalkan penyidikan dibatasi hanya pada dirinya, Salim, dan direksi Cakrawala. Asalkan daftar pemegang saham pejabat itu—pejabat lembaga pengawas pasar modal, anggota dewan, tokoh anti-korupsi di televisi—tidak diusut lebih jauh. Jika tuntutan diperluas ke nama-nama itu, Wirananta akan "membuka seluruh dokumentasi pertemuan dan pembagian saham" di muka publik. Bukan untuk membela diri. Untuk menyeret semua orang jatuh bersamanya.
"Dia mengancam membongkar mereka," kata Damar pelan. "Bukan supaya bebas. Supaya kasus ini terlalu besar untuk dibiarkan jalan terus. Supaya pejabat-pejabat yang masih bebas itu punya alasan menyabotase persidangannya sendiri—demi menyelamatkan nama mereka."
"Itu asuransinya," kata Bu Marlina, suaranya berat. "Dia tahu kalau dia jatuh sendirian, dia kalah. Tapi kalau dia bisa membuat banyak orang berkuasa ikut terancam jatuh bersamanya, mereka akan berjuang—diam-diam, dari dalam—untuk memetieskan seluruh kasus ini. Termasuk kasus dirinya."
Ruangan itu sunyi. Damar merasakan beratnya kembali, beban yang sama yang ia rasakan pertama kali di apartemen studionya saat menyadari berapa banyak nama besar yang diuntungkan gelembung ini—semua punya alasan menjaganya, kini semua punya alasan menguburnya.
"Jadi kita berhenti?" tanya penyidik muda. "Kita ambil Wirananta dan Salim, biarkan yang di atas selamat, demi mengamankan vonis?"
Semua mata berpaling ke Damar. Entah sejak kapan, dalam ruangan penuh jaksa dan penyidik senior, pendapat analis muda inilah yang paling dinanti.
Damar berdiri. Ia berjalan ke peta dinding—garis-garis yang menghubungkan Cakrawala ke anak-anak perusahaan, ke rekening cangkang, ke nama-nama pejabat yang selama ini hanya berani mereka tulis dengan inisial. Ia menatapnya lama.
"Tiga tahun lalu saya anak kos yang baca laporan keuangan sambil makan mi instan," katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Saya temukan satu pertanyaan kecil: dari mana uangnya, kalau penjualannya cuma di atas kertas. Pertanyaan itu menyeret saya ke sini. Dan setiap kali saya mengira sudah sampai ke dasar, ternyata masih ada lantai lain di bawahnya."
Ia berbalik menghadap mereka.
"Kalau kita ambil tawarannya, kita menang kecil dan kalah besar. Wirananta masuk penjara, ya—tapi gelembungnya tidak pernah benar-benar pecah. Lingkaran setan yang sebenarnya, lingkaran nama-nama berkuasa yang membiarkan ini terjadi, tetap utuh. Dan suatu hari, akan ada Cakrawala berikutnya, dibangun oleh orang-orang yang sama yang kita lindungi hari ini." Ia menggeleng. "Saya tidak menghabiskan bertahun-tahun, saya tidak mengubur Gunawan dua kali, saya tidak meminta janda Gunawan menyerahkan kaleng biskuit yang dia simpan bertahun-tahun—untuk berhenti di lantai kedua dari bawah."
"Asuransinya berbahaya," Wibowo memperingatkan, tetapi sesuatu di matanya sudah menyala. "Kalau dia benar-benar membongkar mereka, mereka akan menyerang balik sekuat tenaga. Sidang ini akan jadi medan perang."
"Biarkan dia membongkar mereka," kata Damar. Suaranya tenang, mantap, suara seseorang yang sudah berdiri di ujung pistol dan tidak lagi bisa ditakuti dengan kata-kata. "Itu justru yang kita mau. Dia kira ancaman membongkar daftar itu adalah perisainya. Kita ubah jadi pedang kita. Kalau dia membuka pintu itu, kita semua masuk—dan kita tarik mereka semua keluar ke cahaya." Ia menatap peta sekali lagi, ke nama-nama berinisial itu. "Asuransi terakhirnya bukan tameng, Pak. Itu daftar target berikutnya."
Hening sejenak. Lalu Wibowo, perlahan, tersenyum—senyum pertama yang Damar lihat di wajah lelah itu sejak berbulan-bulan. Bu Marlina mengangguk pelan, beban di wajahnya berganti tekad.
Di luar jendela, malam turun ke atas kota, dan di suatu tempat di seberang lautan, rekening-rekening yang dulu menampung triliunan rupiah kini beku, kosong, mati. Tetapi di dalam ruangan itu, sesuatu yang lain baru saja menyala. Perang belum usai. Sebaliknya—dengan Wirananta pulang berborgol dan asuransinya kini berbalik jadi peta jalan, perang yang sesungguhnya, perang melawan lingkaran nama-nama di puncak, baru benar-benar dimulai.
Damar memungut map berisi surat ancaman Wirananta, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bukan dirinya yang sedang dikejar. Kali ini, dialah yang memburu.