Damar membaca berita itu di layar ponselnya pada pukul tujuh pagi, dan kopinya jadi dingin sebelum sempat diminum. "Majelis Hakim Kasus Cakrawala Diganti Sepekan Menjelang Sidang Pokok." Tidak ada penjelasan resmi. Hanya satu kalimat: "demi penyegaran dan efisiensi peradilan."
Ia tahu apa artinya. Tiga minggu setelah Wirananta dipulangkan dengan borgol, sang otak utama ternyata tidak benar-benar tersudut. Dari dalam tahanan, lewat pengacaranya yang berjas mahal, Wirananta menebar satu kalimat yang lebih ampuh dari peluru mana pun: "Saya tidak akan jatuh sendirian."
"Dia punya daftar," kata Arini di telepon. Suaranya serak, baru bangun. "Bukan cuma daftar pemegang saham yang sudah kita rilis. Dia punya catatan setoran. Siapa terima berapa, kapan, lewat siapa. Pejabat yang masih bebas tahu nama mereka ada di situ."
"Jadi mereka bergerak duluan," Damar menutup laptop. "Ganti hakim yang bersih dengan hakim yang bisa diatur."
"Itu baru pembuka."
Damar berjalan ke jendela rumah aman. Di bawah, dua petugas pengamanan dari lembaga antikorupsi internasional berjaga di mobil. Tiga bulan lalu ia masih analis biasa yang takut pulang ke apartemennya. Sekarang ia dijaga seperti saksi mahkota dalam perang yang merembet sampai ke gedung dewan. Tapi perasaan takut yang sama belum hilang. Hanya berubah bentuk.
Siang itu mereka bertemu Jaksa Penuntut, perempuan bernama Bu Rahmi, di ruang aman lantai dasar gedung kejaksaan — satu dari sedikit ruang yang tidak disusupi. Bu Rahmi meletakkan map di meja.
"Hakim ketua yang lama, Pak Sanjaya, dipindah ke pengadilan di luar pulau," katanya. "Mendadak. Surat keputusan keluar Sabtu sore, di luar jam kerja. Pengganti namanya Hakim Wijoyo. Catatan kariernya bersih di atas kertas." Ia berhenti. "Tapi di atas kertas, semua orang bersih."
"Bisa kita lawan?" tanya Damar.
"Penggantian hakim itu wewenang internal pengadilan. Secara prosedur, sah." Bu Rahmi menatapnya. "Yang tidak sah adalah motifnya. Dan motif tidak bisa dibuktikan dengan dokumen administratif. Hanya bisa dibuktikan dengan apa yang dilakukan hakim baru itu nanti."
Arini bersandar. "Jadi kita tunggu sampai dia korup, baru kita tangkap?"
"Atau," kata Damar pelan, "kita pastikan dia tahu sejak hari pertama bahwa seluruh negeri sedang menonton mejanya. Wirananta main lewat bayang-bayang. Kita matikan bayangnya."
Bu Rahmi mengangguk perlahan, seperti mencerna. "Liputan."
"Bukan tuduhan," Arini menyambung, sudah paham arah pikiran Damar. "Tuduhan tanpa bukti malah jadi senjata pengacara mereka. Kita hanya beritakan fakta: hakim diganti mendadak, di luar jam kerja, sepekan sebelum sidang triliunan rupiah dengan ribuan korban. Biarkan publik yang menarik kesimpulan. Tekanan publik tidak bisa disuap."
Malamnya, Damar tidak bisa tidur. Ia membuka berkas lama di hard disk — file yang sama yang dulu ia salin diam-diam di komputer kantor, yang nyaris membuatnya mati di gudang blok C. Diagram aliran uang. Enam anak perusahaan yang memutar uang fiktif dalam lingkaran tertutup. CNI Logistik. Bahari Mandiri. Empat lainnya. Pendapatan yang melonjak dari delapan puluh miliar ke satu koma dua triliun dalam satu kuartal, seperti sulap yang hanya butuh angka dan keberanian berbohong.
Wirananta mengira kasus ini soal dirinya. Soal apakah ia bisa menyeret cukup banyak orang penting ke dalam lubang yang sama hingga tidak ada yang berani menutup lubang itu. Tetapi Damar tahu sesuatu yang tidak diketahui Wirananta dari balik jerujinya: kasus ini sudah bukan milik mereka berdua lagi.
Ada sebelas ribu nama korban dalam daftar gugatan kelompok. Pensiunan yang menjual rumah. Ibu rumah tangga yang menaruh uang arisan. Guru yang menabung dua puluh tahun. Mereka tidak punya jet pribadi untuk kabur dan tidak punya daftar pejabat untuk ditebar sebagai ancaman. Yang mereka punya hanya kemarahan, dan kemarahan sebelas ribu orang jauh lebih sulit dipindahkan ke luar pulau ketimbang seorang hakim.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Arini, satu baris: "Aku sudah kirim ke tiga belas redaksi. Serentak besok pagi. Asuransi dia melawan asuransi kita."
Damar menatap layar. Lalu ia mengetik balasan: "Asuransi kita namanya cahaya. Wirananta cuma bisa hidup di gelap."
Ia mematikan laptop. Di luar jendela, lampu kota berkedip seperti deretan angka yang menunggu dibaca. Besok pagi, gelap itu akan kehilangan satu lapis lagi.