Hakim Wijoyo membuka amplop itu di rumahnya, malam Selasa, dua hari setelah namanya muncul di koran sebagai pengganti.
Di dalamnya bukan uang. Itu yang membuatnya lebih takut. Uang bisa ditolak, dikembalikan, dilaporkan. Di dalam amplop hanya ada foto: putrinya, sembilan tahun, sedang keluar dari gerbang sekolah, diambil dari jarak dekat. Tidak ada tulisan. Tidak perlu. Foto itu sendiri sudah kalimat lengkap.
Wijoyo menaruh foto itu menghadap ke bawah di atas meja, dan duduk lama dalam gelap.
Hal-hal seperti ini tidak diajarkan di fakultas hukum. Mereka mengajari soal alat bukti, asas praduga tak bersalah, beban pembuktian. Mereka tidak mengajari apa yang harus dilakukan seorang hakim ketika ia tahu, dengan pasti, bahwa keputusan yang benar bisa menyeret anaknya ke dalam kabar duka yang dibungkus jadi "kecelakaan".
Ia tahu kasus Gunawan. Semua orang di lingkaran hukum tahu kasus Gunawan: auditor yang mobilnya masuk jurang dengan rem blong, padahal baru servis dua minggu sebelumnya. Itu bukan dongeng menakut-nakuti. Itu preseden.
Pagi berikutnya, sebelum Wijoyo memutuskan apa pun, keputusan itu seakan diambil alih oleh dunia di luar rumahnya.
Berita liputan Arini sudah menyebar ke seluruh negeri. Bukan tuduhan, hanya fakta telanjang: hakim diganti mendadak, di luar jam kerja, sepekan sebelum sidang. Tagar tentang kasus Cakrawala kembali memuncak. Stasiun televisi membahasnya di acara pagi. Seorang pakar hukum berkata di layar, "Mata seluruh bangsa kini ada di meja Hakim Wijoyo. Beliau akan diuji bukan oleh hukum, tapi oleh keberaniannya sendiri."
Wijoyo menonton itu sambil sarapan yang tidak ia sentuh.
Di kantor pengadilan siang itu, seorang pengacara Grup Wirananta — pria muda berjas necis bernama Pengacara Bhirawa — datang "menyampaikan hormat". Ia bicara halus, soal "pentingnya menjaga objektivitas di tengah tekanan media yang berlebihan", soal "betapa banyak dokumen dalam perkara ini yang keasliannya masih diperdebatkan". Ia tidak menyebut foto. Ia tidak perlu. Ia hanya tersenyum dan berkata, "Keluarga Bapak pasti bangga punya ayah seorang hakim. Anak-anak butuh teladan yang... aman."
Kata "aman" itu menggantung di udara seperti ancaman yang sudah dibayar lunas.
Malam itu Wijoyo melakukan sesuatu yang tidak diduga siapa pun. Ia menelepon Bu Rahmi, jaksa penuntut. Bukan lewat sekretaris, bukan lewat jalur resmi. Ia menelepon dari telepon umum di seberang masjid dekat rumahnya, seperti orang yang takut teleponnya disadap — dan ia memang takut.
"Saya butuh perlindungan untuk keluarga saya," katanya tanpa basa-basi. "Dan saya butuh seseorang merekam apa yang akan saya katakan, supaya kalau saya mati, ini tidak ikut mati."
Bu Rahmi menahan napas. "Pak Wijoyo, Anda—"
"Mereka kirim foto anak saya," potongnya. "Saya bisa mundur. Saya bisa pura-pura sakit. Tapi kalau saya mundur, mereka taruh hakim berikutnya yang tidak akan menelepon Anda malam-malam begini. Saya hakim. Tugas saya menjatuhkan putusan, bukan menyelamatkan diri."
Damar dan Arini ada di ruangan ketika Bu Rahmi memutar rekaman percakapan itu keesokan paginya. Tidak ada yang berbicara untuk beberapa saat.
"Kalau dia bersaksi soal ancaman ini," Damar akhirnya berkata, "itu jadi bukti baru. Upaya menghalangi peradilan. Itu pidana sendiri, terlepas dari kasus pokoknya."
"Dan itu mengunci jaringan Wirananta sebagai pihak yang takut pada persidangan yang jujur," sambung Arini, sudah membuka laptopnya. "Orang yang yakin tidak bersalah tidak perlu mengancam hakim."
Bu Rahmi mengangguk lelah. "Saya pindahkan keluarga Wijoyo ke rumah aman malam ini. Liputannya—"
"Hati-hati," potong Damar. "Jangan beberkan namanya sebagai target. Beberkan polanya: foto anak, kunjungan pengacara, kata 'aman'. Lindungi orangnya, ungkap perbuatannya."
Seminggu kemudian, sidang pokok kasus Cakrawala dibuka. Hakim Wijoyo masuk ke ruang sidang dengan langkah tenang, mengetuk palu satu kali, dan suaranya tidak bergetar saat ia berkata bahwa persidangan ini akan berjalan terbuka, disiarkan, dan tidak akan tunduk pada tekanan dari pihak mana pun.
Di kursi pengunjung, Damar melihat Pengacara Bhirawa menulis sesuatu di catatannya, lalu berhenti. Untuk pertama kali, senyum necisnya hilang. Asuransi Wirananta baru saja menemukan hakim yang lebih takut pada cermin ketimbang pada foto.