Ruang sidang penuh sejak pagi. Wartawan berdiri di lorong. Di barisan belakang duduk puluhan korban — pensiunan dengan map berisi bukti transfer, ibu-ibu yang datang berombongan dari satu RT yang sama, semua kehilangan uang ke perusahaan yang mereka kira tambang emas.
Di mimbar saksi ahli berdiri seorang auditor forensik dari lembaga keuangan internasional, perempuan setengah baya bernama Ms. Karundeng, bicara dalam Bahasa Indonesia yang rapi dengan aksen tipis. Di belakangnya, layar besar menyala — diagram yang Damar susun berbulan-bulan lalu, kini diperhalus tim forensik, dipakai sebagai alat bukti resmi.
"Yang Mulia," ujarnya, "izinkan saya menjelaskan ini seperti menjelaskan kepada orang yang tidak pernah berurusan dengan pasar saham. Karena justru orang-orang seperti itulah yang menjadi korban."
Ia menunjuk lingkaran di tengah layar.
"Ini PT Cakrawala Energi Nusantara. Di atas kertas, perusahaan energi. Pendapatannya, menurut laporan resmi, melonjak dari delapan puluh miliar rupiah menjadi satu koma dua triliun rupiah hanya dalam satu kuartal. Tiga bulan. Lima belas kali lipat."
Gumaman menyebar di ruang.
"Pertanyaan pertama setiap auditor yang waras: dari mana uang sebanyak itu datang? Cakrawala bilang dari tujuh pelanggan industri besar di Sulawesi." Ms. Karundeng mengeklik. Tujuh kotak muncul. Tiga berwarna merah, empat kuning. "Tiga dari tujuh pelanggan ini tidak ada. Alamatnya ruko kosong. Empat sisanya nyata, tetapi modal terdaftar masing-masing hanya lima puluh juta rupiah. Mustahil membeli energi senilai ratusan miliar dengan modal lima puluh juta."
Pengacara Bhirawa berdiri. "Keberatan. Saksi berasumsi—"
"Ditolak," kata Hakim Wijoyo, datar. "Saksi sedang menjelaskan dokumen yang sudah diverifikasi. Lanjutkan."
Ms. Karundeng melanjutkan, dan inilah bagian yang membuat seluruh ruangan diam.
"Lalu, ke mana uang yang nyata? Karena ada uang nyata yang masuk — uang dari para investor di bursa, dari pensiunan dan ibu rumah tangga yang membeli saham Cakrawala karena harganya naik tiga ratus persen dalam empat bulan." Ia mengeklik. Garis-garis muncul, menghubungkan lingkaran besar ke enam lingkaran kecil. "Enam anak perusahaan. CNI Logistik. Bahari Mandiri. Dan empat lainnya. Uang masuk dari investor baru, lalu diputar di antara keenam perusahaan ini — perusahaan A menjual ke B, B ke C, C kembali ke A — penjualan yang sama dicatat berulang kali sebagai pendapatan. Uang berputar di lingkaran tertutup. Tidak pernah keluar untuk membeli pembangkit, kabel, turbin. Tidak ada energi yang dihasilkan."
Ia berhenti, lalu mengucapkan kata yang sudah ditunggu seluruh negeri.
"Ini namanya skema Ponzi. Uang investor baru dipakai membayar dividen investor lama, supaya semua orang yakin perusahaan ini menguntungkan, supaya makin banyak investor baru masuk. Selama uang baru terus mengalir, gelembung membesar. Begitu aliran berhenti—" ia mengeklik terakhir, dan seluruh diagram runtuh jadi nol, "—tidak ada apa-apa di dalamnya. Kapitalisasi pasar Cakrawala dua belas triliun rupiah. Isinya kosong. Saham kosong."
Damar, di kursi pengunjung, merasakan sesuatu yang aneh. Ia mengenali setiap garis di layar itu. Ia menemukan semuanya sendirian, malam-malam di apartemen studio, ketika belum ada siapa pun yang percaya padanya, ketika atasannya menyuruhnya lepas tangan dan file-nya dipindahkan diam-diam oleh "administrator". Sekarang seluruh negeri melihat apa yang dulu hanya ia lihat. Ada kelegaan, dan ada juga sesuatu yang lebih berat — kesadaran bahwa ia membayar mahal untuk membuat orang melihat.
Di barisan korban, seorang lelaki tua mulai menangis tanpa suara. Bukan karena ia baru mengerti ia ditipu — ia sudah lama tahu uangnya hilang. Ia menangis karena untuk pertama kali, di ruang resmi negara, dengan palu dan toga dan sumpah, ada yang berkata terang-terangan bahwa ia tidak bodoh. Bahwa ia dirampok oleh sesuatu yang dirancang untuk membohongi bahkan orang pintar sekalipun.
Sidang ditunda. Saat keluar, Arini mendekati Damar. "Kamu lihat wajah juri publik tadi?"
"Tidak ada juri di sistem kita," Damar menjawab.
"Ada," kata Arini, menunjuk ke arah kerumunan wartawan dan korban yang mengalir keluar gedung. "Sebelas ribu korban. Jutaan penonton. Itu juri yang tidak bisa diancam dengan foto anak sekolah. Dan mereka baru saja memahami kasusnya."
Damar menatap kerumunan itu. Untuk pertama kali sejak gudang blok C, ia membiarkan dirinya percaya bahwa angka-angka, akhirnya, menang melawan orang-orang yang menyembunyikannya.