Mereka memanggil namanya pada hari ketiga persidangan. "Saksi Damar Pradipta."
Ia berjalan ke mimbar dengan kaki yang ia paksa mantap. Enam bulan lalu ia analis termuda di Sekuritas Bumi Sentosa, anak yang dijuluki "si bocah dengan mata laser" karena bisa membaca kejanggalan di balik deretan angka. Sekarang ia berdiri di depan seluruh negeri, mengangkat tangan, mengucapkan sumpah.
Di kursi terdakwa, Salim duduk dengan rambut peraknya yang kini kusut, jas penjara menggantikan jas abu-abu mahalnya. Ia menatap Damar tanpa ekspresi. Di kursi terdakwa lain, terpisah, duduk Wirananta untuk pertama kalinya di ruang yang sama dengan Damar — lelaki yang dulu hanya nama di majalah ekonomi, kini lelaki tua dengan wajah yang berusaha tenang tapi gagal menyembunyikan sesuatu di matanya.
Bu Rahmi memulai. "Saudara Damar, ceritakan kepada majelis, kapan dan bagaimana Anda pertama kali menemukan kejanggalan PT Cakrawala?"
Damar menarik napas. Ia memutuskan untuk tidak memakai istilah teknis. Ia akan bicara seperti Ms. Karundeng — untuk orang yang tidak pernah berurusan dengan saham.
"Pagi itu pekerjaan saya cuma satu, Bu," ia mulai. "Membaca laporan keuangan perusahaan, lalu memberi rekomendasi: layak dibeli atau tidak. Saya buka laporan Cakrawala. Pendapatannya naik dari delapan puluh miliar ke satu koma dua triliun dalam tiga bulan." Ia berhenti. "Di dunia saya, kalau angka terlihat terlalu cantik, biasanya bukan karena perusahaannya hebat. Biasanya karena ada yang berbohong. Angka yang jujur itu jelek-jelek saja, naik turun wajar. Angka yang terlalu mulus itu seperti wajah yang terlalu rata — pasti ada yang di-make up."
Beberapa pengunjung tertawa kecil. Bahkan Hakim Wijoyo menyembunyikan senyum tipis.
"Saya telusuri pelanggannya. Tiga tidak ada — saya cek alamatnya, cuma ruko kosong. Empat lainnya modalnya cuma lima puluh juta, mustahil beli energi ratusan miliar. Lalu saya lihat piutangnya membengkak hampir sebesar pendapatannya — artinya, uang yang katanya didapat itu tidak pernah benar-benar masuk ke kas. Cuma dicatat. Cuma di kertas."
"Apa yang Anda lakukan setelah itu?"
"Saya minta rekan saya, Mbak Lestari, menahan rekomendasi dua minggu. Lalu saya dipanggil ke ruang rapat lantai atas." Damar menatap Salim sekilas. "Di situ saya bertemu terdakwa Salim. Beliau menawari saya pekerjaan dengan gaji tiga kali lipat, bonus, mobil. Saya tidak melamar apa pun. Tawaran itu datang sehari setelah saya menemukan kejanggalan Cakrawala."
"Apa kesimpulan Anda atas tawaran itu?"
"Keberatan," Bhirawa berdiri. "Saksi diminta menyimpulkan, bukan menyatakan fakta."
"Saya tanyakan ulang," kata Bu Rahmi tenang. "Apakah tawaran itu disertai syarat?"
"Ya," kata Damar. "Atasan saya, Pak Hendra, memerintahkan saya lepas tangan dari Cakrawala. Sore harinya file saya di komputer kantor 'dipindahkan administrator'. Pekerjaan tiga kali lipat itu bukan untuk pekerjaan saya. Itu untuk diam saya."
Ruangan hening. Bu Rahmi membiarkan keheningan itu bekerja, lalu bertanya pelan, "Apakah Anda tahu apa yang terjadi pada orang sebelum Anda yang juga menemukan kebenaran ini?"
Damar menatap lurus ke depan. "Ya, Bu. Pak Gunawan. Auditor internal Cakrawala. Beliau menyusun laporan untuk otoritas bursa. Seminggu sebelum melapor, mobilnya masuk jurang di tol luar kota. Rem blong. Padahal mobilnya baru servis dua minggu sebelumnya." Suaranya tetap rata, tapi ada sesuatu yang mengeras di dalamnya. "Saya tidak pernah bertemu Pak Gunawan. Tapi saya membaca laporan yang ingin beliau sampaikan. Beliau menemukan persis apa yang saya temukan. Bedanya, beliau lebih dulu, dan beliau mati."
Di kursi terdakwa, Salim tidak bergerak. Tapi Wirananta mengalihkan pandang ke lantai.
Bhirawa berdiri lagi, kali ini lebih keras. "Yang Mulia, saksi menghubungkan kematian seseorang dengan klien saya tanpa dasar. Ini pencemaran—"
"Saksi menyatakan urutan peristiwa," potong Wijoyo. "Apakah ada keberatan terhadap kebenaran urutan itu? Apakah Saudara membantah bahwa Gunawan mati dengan rem blong setelah mobilnya diservis?"
Bhirawa membuka mulut, lalu menutupnya. Ia tidak bisa membantah fakta. Ia hanya bisa membantah kesimpulan. Dan kesimpulan, di ruang yang penuh ini, sudah ditarik oleh setiap orang sendiri-sendiri.
Ketika Damar turun dari mimbar, ia melewati barisan korban. Seorang ibu tua meraih tangannya sebentar, tidak berkata apa-apa, hanya menggenggam. Damar berhenti, mengangguk padanya. Ia ingat satu hal yang ia tulis berbulan lalu, ketika menyusun ringkasan untuk awam di penginapan murah: kebenaran tidak ada gunanya kalau tidak ada yang memahaminya.
Hari ini, mereka memahaminya. Dan pemahaman itu, ia tahu, sekarang lebih tajam dari pisau apa pun di tangan jaringan Wirananta.