Vonis akan dibacakan besok pagi. Wirananta dan Salim, setelah berbulan-bulan, setelah segala yang sudah terjadi, akan mendengar kata yang menentukan sisa hidup mereka.
Damar tidak bisa tidur. Ia duduk di teras rumah aman, secangkir teh yang sudah dingin di tangannya, menatap lampu-lampu kota yang berkedip jauh di bawah. Dari jarak ini kota terlihat damai, seperti tidak ada apa-apa di dalamnya selain orang-orang yang pulang kerja, makan malam, dan tidur. Tidak terlihat dari sini bahwa di salah satu gedung itu, besok, sebuah gelembung yang sudah lama pecah akan akhirnya disapu bersih.
Arini keluar, membawa selimut dan menaruhnya di bahu Damar tanpa berkata apa-apa, lalu duduk di sebelahnya. Lukanya dari malam di ruang arsip masih segar, tapi ia menolak diam di rumah.
"Kamu menghitung," kata Arini setelah beberapa saat. Bukan pertanyaan.
"Apa?"
"Harganya. Kamu selalu menghitung. Itu pekerjaanmu — membaca angka, menemukan yang tidak seimbang. Sekarang kamu sedang menghitung apakah semua ini sepadan."
Damar diam lama. Lalu, "Pak Gunawan tidak akan melihat vonis besok."
Nama itu menggantung di udara malam. Auditor yang tidak pernah Damar temui. Lelaki yang menemukan persis apa yang Damar temukan, beberapa bulan lebih awal, dan menolak uang Salim karena tidak mau anaknya tumbuh dengan ayah pencuri. Lelaki yang mobilnya masuk jurang dengan rem blong, dua minggu setelah diservis.
"Kalau dia tidak mati," kata Damar pelan, "mungkin kasusnya selesai bertahun-tahun lalu. Mungkin tidak ada ribuan korban berikutnya. Tabungan pensiunan, uang arisan ibu-ibu, rumah yang dijual — semua itu hilang setelah Gunawan mati, karena tidak ada lagi yang berani buka mulut sampai—" ia berhenti.
"Sampai kamu," kata Arini.
"Sampai saya kebetulan membuka laporan yang salah di pagi yang salah," Damar mengoreksi. "Itu bukan keberanian, Arini. Itu kebetulan. Saya cuma analis yang tidak bisa diam melihat angka yang terlalu cantik. Gunawan tahu persis apa yang dia pertaruhkan, dan dia tetap melakukannya. Sumber kedua tahu, dan dia tetap setuju bicara terbuka, dan mereka membunuhnya juga." Ia menatap cangkir dinginnya. "Saya hidup. Mereka tidak. Dan satu-satunya bedanya bukan keberanian. Bedanya saya menanam rilis otomatis sebelum masuk gudang, dan mereka tidak punya tombol untuk ditekan."
Mereka diam sebentar. Di kejauhan, sirene ambulans melintas, lalu hilang.
"Saya pikir tentang janda Gunawan," kata Arini. "Dia datang setiap hari sidang. Duduk di barisan yang sama. Dia mendengar Salim menceritakan persis bagaimana suaminya mati, dari mulut orang yang membayar bengkel itu. Saya tidak tahu bagaimana seseorang bisa duduk diam mendengar itu."
"Karena dia menunggu," kata Damar. "Bertahun-tahun semua orang bilang itu kecelakaan. Rem blong. Nasib buruk. Dia tahu itu bukan kecelakaan, tapi tidak ada yang percaya. Sekarang, di ruang resmi negara, dengan toga dan palu, ada yang mengaku membunuh suaminya. Itu yang dia tunggu. Bukan vonisnya. Pengakuannya. Bahwa dia tidak gila selama ini."
Arini mengangguk pelan. Lalu ia bertanya, hati-hati, "Dan kamu? Kalau besok vonisnya berat — kalau Wirananta dan Salim dihukum, aset disita, korban mulai dapat ganti rugi — apakah itu cukup buat kamu?"
Damar memikirkannya dengan jujur, seperti ia memikirkan segalanya.
"Tidak," akhirnya ia berkata. "Tidak akan pernah cukup, kalau 'cukup' berarti semuanya kembali seperti semula. Gunawan tidak akan hidup lagi. Sumber kedua tidak akan hidup lagi. Pensiunan yang menjual rumah tidak akan dapat rumahnya kembali utuh, cuma sebagian uangnya." Ia menarik napas. "Tapi keadilan bukan menghidupkan yang mati atau mengembalikan yang hilang seperti tidak terjadi apa-apa. Keadilan cuma satu hal: memastikan kebohongan itu disebut kebohongan, di tempat semua orang bisa dengar, dan yang membuatnya membayar. Itu yang bisa kita kasih. Itu yang Gunawan mau kasih, dan dia mati untuk itu. Besok, dia akhirnya berhasil — lewat orang yang tidak pernah dia temui."
Arini meletakkan kepalanya di bahu Damar. Selimut bergeser, menutupi mereka berdua. Untuk sesaat, tidak ada jaringan, tidak ada ancaman, tidak ada daftar pejabat — hanya dua orang lelah di teras, menatap kota yang besok akan sedikit lebih jujur dari hari ini.
"Besok pagi," bisik Arini, "gelembungnya benar-benar pecah."
Damar menatap lampu-lampu kota yang berkedip seperti deretan angka menunggu dibaca. Untuk pertama kali sejak pagi ketika ia membuka laporan yang terlalu cantik itu, angka-angka di kepalanya berhenti berlari.
"Sudah pecah dari dulu," katanya. "Besok kita cuma menyapu pecahannya, supaya tidak ada yang menginjaknya lagi."
Mereka duduk di sana sampai langit di timur mulai berubah warna, menunggu pagi yang sudah ditunggu sebelas ribu orang, dan satu janda yang duduk diam di barisan yang sama setiap hari.