Ruang mediasi di lantai tiga gedung pengadilan tidak punya jendela. Hanya meja oval panjang, kursi-kursi berlapis kulit murahan, dan pendingin udara yang berdengung terlalu kencang. Damar duduk di ujung, menyilangkan tangan di atas map, memandang pengacara Grup Wirananta yang masuk dengan dua koper dokumen dan senyum yang terlatih bertahun-tahun.
"Selamat pagi, semuanya." Pengacara itu, pria berjas biru tua bernama Pranata, meletakkan kopernya pelan-pelan, seolah isinya barang pecah belah. "Kita semua tahu sidang vonis tinggal beberapa hari. Klien saya, dalam itikad baik, ingin menawarkan jalan yang lebih cepat. Lebih manusiawi. Untuk para korban."
Di seberang meja, perwakilan korban duduk berderet. Bu Sumarni, ibu rumah tangga yang kehilangan tabungan dua puluh tahun untuk naik haji. Pak Hartono, pensiunan guru yang menjual rumahnya untuk membeli saham Cakrawala. Dan seorang perempuan muda, Wati, yang ayahnya membeli saham itu lalu kena stroke saat harga ambruk. Arini duduk di belakang mereka, buku catatan terbuka, pena tak bergerak.
"Klien saya menawarkan ganti rugi langsung," lanjut Pranata. Ia membuka map, mendorong selembar kertas ke tengah meja. "Tunai. Dua kali lipat dari nilai investasi yang hilang, untuk setiap korban yang menandatangani pencabutan tuntutan. Tanpa menunggu putusan. Tanpa menunggu pencairan aset yang bisa makan tahunan. Uang masuk rekening dalam dua minggu."
Hening. Pendingin udara berdengung. Damar melirik angka di kertas itu. Untuk Bu Sumarni, jumlahnya hampir seratus lima puluh juta. Lebih banyak dari yang pernah ia pegang seumur hidupnya.
"Bayangkan," Pranata melanjutkan, suaranya melembut, "berapa lama proses pengadilan ini akan berjalan. Banding. Kasasi. Bertahun-tahun. Sementara aset disita, dibekukan, diperebutkan negara dan kreditor. Berapa banyak dari Bapak-Ibu yang masih akan hidup ketika uang itu cair? Klien saya menawarkan kepastian. Hari ini."
Damar menunggu. Ia sudah belajar, dalam delapan bulan terakhir, bahwa diam kadang lebih kuat dari teriakan.
Bu Sumarni yang pertama bicara. Suaranya pelan, tapi tidak gemetar. "Pak Pengacara, uang ini dari mana?"
Pranata mengerjap. "Dari klien saya, tentu."
"Klien Bapak itu Wirananta. Yang ambil uang kami. Yang bikin suami orang ini," ia menunjuk Wati dengan dagunya, "jatuh sakit. Jadi Bapak mau saya tanda tangan, terima uang dari dia, lalu bilang ke pengadilan tidak apa-apa, lupakan saja?" Bu Sumarni menggeleng pelan. "Uang itu uang kami sendiri yang dia kembalikan sedikit, supaya dia bebas. Saya tujuh bulan jadi guru ngaji nggak digaji karena malu keluar rumah. Bukan uangnya yang saya cari."
"Bu, dengan segala hormat—"
"Berapa orang yang sudah mati nunggu ini?" Pak Hartono menyela, tangannya yang keriput mengepal di atas meja. "Pak Gunawan. Saksi yang katanya bunuh diri itu. Ayahnya dia," ia menunjuk Wati lagi, "memang belum mati, tapi setengah badannya sudah lumpuh. Bapak suruh kami cabut tuntutan? Lalu siapa yang bayar untuk mereka?"
Pranata menarik napas, masih sabar, masih tersenyum. "Saya mengerti emosi Bapak. Tapi emosi tidak mengembalikan tabungan. Angka ini nyata. Putusan pengadilan belum tentu. Hakim bisa saja memutus aset dikembalikan ke negara dulu, lalu Bapak antre di belakang ratusan kreditor lain dan dapat sepuluh persen. Pikirkan keluarga Bapak."
Damar akhirnya bersuara. "Boleh saya tanya satu hal, Pak Pranata?"
Semua mata berpaling padanya.
"Kalau klien Bapak yakin tidak bersalah, kenapa dia mau bayar dua kali lipat? Orang tidak bersalah tidak membayar untuk diam." Damar mendorong kertas tawaran itu kembali ke tengah meja, tidak menyentuh angkanya. "Ini bukan ganti rugi. Ini pembelian. Dia mau beli pencabutan tuntutan supaya jaksa kehilangan korban di persidangan, supaya kasus pidananya melemah. Korban yang sudah dibayar dianggap sudah berdamai. Itu strateginya."
Pranata diam sejenak. Senyumnya tidak hilang, tapi sesuatu di matanya mengeras. "Anda bukan pengacara, Mas Damar. Anda analis. Jangan menafsirkan hukum."
"Saya memang bukan pengacara." Damar menatapnya lurus. "Tapi saya analis. Pekerjaan saya membaca angka yang dirias supaya kelihatan cantik. Dan tawaran ini, Pak, dirias. Seperti laporan keuangan Cakrawala dulu."
Arini menutup bukunya. Bu Sumarni berdiri perlahan, mendorong kursinya ke belakang, lalu meraih kertas tawaran itu. Sejenak Pranata mengira ia akan menandatangani. Bu Sumarni melipat kertas itu dua kali, rapi, lalu meletakkannya kembali di depan pengacara.
"Bilang ke majikan Bapak," kata Bu Sumarni, "kami tunggu di pengadilan. Bukan di rekening bank."
Satu per satu korban berdiri. Pranata tetap duduk, menumpuk dokumennya kembali ke dalam koper dengan gerakan yang sedikit terlalu cepat. Sebelum keluar, ia menoleh pada Damar.
"Anda tahu, kalau ini gagal hari ini, klien saya tidak akan menawarkan apa pun lagi. Setelah ini, yang tersisa cuma keras lawan keras."
"Itu yang sejak awal kami minta," kata Damar. "Keadilan, bukan tawar-menawar."
Pengacara itu pergi. Di koridor, Arini berjalan di sebelah Damar, suaranya rendah. "Dia tidak menyerah, Mar. Tawaran damai gagal artinya mereka akan main di tempat lain. Hakim. Saksi. Atau kita."
Damar memandang deretan korban yang menuruni tangga, punggung-punggung yang membungkuk tapi tidak tunduk. "Aku tahu," katanya. "Tiga hari lagi vonis. Dan orang yang sudah kehabisan cara biasanya melakukan hal paling nekat di menit terakhir."