Tidak semua yang hilang bisa dikembalikan. Damar belajar itu di sebuah pemakaman umum di pinggiran kota, di pagi yang berembun, berdiri di depan nisan bertuliskan nama yang selama berbulan-bulan ia kejar tapi tak pernah ia temui dalam keadaan hidup.
GUNAWAN. Lahir. Wafat. Jarak di antara dua tanggal itu hanya empat puluh sembilan tahun.
Di sebelahnya berdiri Bu Sari, janda Gunawan. Perempuan itu mengenakan kerudung gelap, tangannya memegang seikat kembang yang sudah mulai layu di ujung. Ia tidak menangis. Air mata, Damar menduga, sudah lama habis selama tahun-tahun ia menyimpan rahasia suaminya sendirian, takut bicara, takut bernasib sama.
"Suami saya orangnya begini," kata Bu Sari, suaranya tenang. "Kalau dia lihat angka yang salah, dia nggak bisa tidur. Saya sering marah dulu. 'Pak, itu bukan urusan kita,' saya bilang. 'Kita ini cuma orang kecil.'" Ia tersenyum tipis, sedih. "Tapi dia bilang, 'Kalau orang yang tahu memilih diam, lalu siapa yang ngomong?'"
Damar menelan ludah. Kalimat itu — ia pernah mendengar versinya dari Tito, di warung kopi di gang sempit, berbulan-bulan lalu. Karena saya capek takut. Orang-orang ini, pikir Damar, mati atau hampir mati karena hal yang sama: mereka tidak bisa berdamai dengan kebohongan.
"Bu," kata Damar, "saya minta maaf saya baru datang sekarang. Saya... saya pikir saya nggak pantas datang lebih awal. Selama ini saya seperti hidup dari pengorbanan suami Ibu. Laporan yang dia susun, bukti yang dia kumpulkan sebelum dia—" Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Sebelum mereka membunuhnya," Bu Sari menyelesaikannya, tanpa gemetar. "Sebut saja apa adanya, Mas. Saya sudah lama berhenti menyebutnya kecelakaan." Ia memandang nisan suaminya. "Dokumen yang saya simpan, yang saya serahkan ke pengadilan, itu yang dia titipkan ke saya malam sebelum dia berangkat untuk lapor. Dia bilang, 'Kalau ada apa-apa sama Bapak, jangan kasih ini ke polisi dulu. Tunggu sampai ada orang yang berani.'" Ia menoleh ke Damar. "Saya tunggu tiga tahun, Mas. Saya hampir putus asa. Lalu saya lihat nama Anda di berita."
Damar tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa beban yang aneh — bukan rasa bangga, tapi semacam utang yang tak akan pernah bisa ia lunasi. Vonis seumur hidup untuk Salim, vonis dua puluh tahun untuk Wirananta, tujuh setengah triliun yang kembali kepada korban — semua itu nyata, semua itu penting. Tapi tak satu pun dari angka itu bisa mengembalikan empat puluh sembilan tahun di nisan ini menjadi delapan puluh.
"Mereka dihukum, Bu," kata Damar akhirnya. "Yang menyuruh dan yang melakukan. Keduanya. Saya tahu itu nggak mengembalikan apa-apa. Tapi saya mau Ibu tahu, suami Ibu nggak mati sia-sia. Tanpa yang dia mulai, ribuan keluarga akan kehilangan segalanya tanpa pernah tahu kenapa. Dia yang pertama menyalakan lilin di tempat yang sangat gelap."
Bu Sari menunduk. Untuk pertama kalinya, satu titik air mata jatuh ke tanah merah di atas makam.
"Dia akan suka mendengar itu," katanya pelan. "Dia selalu bilang, hal-hal kecil itu penting. Satu angka yang benar. Satu orang yang jujur." Ia membungkuk, meletakkan kembang di atas pusara, merapikannya. "Saya senang akhirnya angka-angka itu jadi penting buat orang banyak."
Mereka berdiri diam beberapa lama, dua orang asing yang dipersatukan oleh seorang mati. Burung-burung berkicau di pohon kamboja di sudut pemakaman. Embun mulai menguap dimakan matahari pagi.
Sebelum pulang, Damar berjongkok di depan nisan itu. Ia bukan orang yang terbiasa bicara dengan orang yang sudah tiada. Tapi pagi itu ia merasa harus.
"Pak Gunawan," bisiknya, hampir tak terdengar. "Saya nggak pernah ketemu Bapak. Tapi saya menyusun ulang setiap langkah yang Bapak ambil. Lingkaran anak perusahaan. Pelanggan fiktif. Setoran investor. Semua yang Bapak temukan, saya temukan lagi, dan saya bawa sampai habis. Yang nggak sempat Bapak selesaikan, sudah selesai." Ia berhenti, menenangkan suaranya yang mulai goyah. "Istirahat yang tenang, Pak. Sekarang giliran kami yang jaga."
Ia berdiri, mengangguk pada Bu Sari, dan berjalan keluar pemakaman. Di gerbang, ia menoleh sekali ke arah nisan kecil yang kini tampak begitu biasa di antara ratusan nisan lain. Begitu biasa, padahal di bawahnya berbaring orang yang memulai segalanya.
Beberapa harga, Damar tahu kini, memang tidak bisa dibayar. Keadilan bukan mengembalikan yang hilang. Keadilan hanya memastikan kehilangan itu berarti sesuatu.