Warung kopi itu berbeda dari yang dulu. Bukan di gang sempit yang gelap di pinggir kota, bukan tempat di mana seseorang memilih sudut paling gelap dan matanya terus bergerak ke arah pintu. Ini warung kopi biasa di sebuah kota kecil yang jauh — terang, ramai oleh suara ibu-ibu berbelanja di pasar sebelah, dengan jendela besar yang menghadap ke jalan. Damar duduk menghadap jendela itu, dan untuk pertama kalinya dalam ingatannya bertemu Tito, ia tidak perlu memeriksa apakah ada yang mengikuti.
Tito datang lima menit kemudian. Dan Damar nyaris tidak mengenalinya.
Pria yang dulu wajahnya lelah, matanya cekung, tangannya gemetar saat menyeruput kopi, kini tampak lebih berisi, lebih tenang. Ia mengenakan kemeja batik sederhana. Di belakangnya, seorang perempuan dan dua anak kecil melambai dari arah pasar, lalu masuk ke toko di seberang.
"Itu istri saya," kata Tito, duduk di hadapan Damar, mengikuti arah pandangnya. "Sama dua anak saya. Mereka aman sekarang. Itu yang paling penting."
"Anda kelihatan beda, Pak Tito," kata Damar, tersenyum.
"Beda gimana?"
"Anda nggak lihat ke pintu."
Tito tertawa. Tawa yang sungguhan, sesuatu yang tidak pernah Damar dengar darinya dulu. "Anda tahu, Mas, selama bertahun-tahun saya nggak pernah duduk membelakangi pintu. Di mana pun. Restoran, rumah, masjid. Selalu cari kursi yang bisa lihat siapa yang masuk." Ia menyeruput kopinya — tangannya tidak gemetar. "Tadi pagi saya sadar saya lupa lakukan itu. Saya duduk di teras rumah, membelakangi jalan, minum kopi. Lima belas menit. Baru pas saya sadar, saya nangis. Lima belas menit nggak takut. Itu mewah banget buat saya."
Damar menatapnya. Ia ingat kalimat Tito di pertemuan pertama mereka, kalimat yang menggerakkan seluruh kisah ini. Karena saya capek takut, Mas.
"Sudah nggak capek takut lagi, Pak?"
Tito diam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Sudah. Mereka yang saya takuti sekarang di penjara. Salim seumur hidup. Wirananta dua puluh tahun. Kurir-kurirnya, orang-orang yang dulu sering muncul di depan rumah saya pura-pura jualan — sudah ditangkap semua, kata petugas perlindungan." Ia menatap cangkirnya. "Bertahun-tahun saya pikir saya bakal mati sebelum semua ini selesai. Pikir saya bakal seperti Pak Gunawan. Tiba-tiba rem mobil saya blong di jalan sepi."
Mereka diam sebentar. Nama Gunawan selalu mengubah udara di sekitar mereka.
"Anda yang memberi saya flashdisk itu, Pak," kata Damar. "Tanpa itu, saya nggak punya bukti dari dalam. Cuma analisis angka. Mereka bisa bilang saya cuma menebak. Flashdisk itu yang bikin semuanya jadi nyata di mata hukum."
Tito menggeleng. "Dan Anda yang berani bawa flashdisk itu sampai habis. Saya kasih ke Anda karena saya pengecut, Mas. Saya bilang sendiri waktu itu — saya bukan siapa-siapa, mantan staf yang dipecat, nggak ada yang percaya. Itu separuh benar. Separuhnya lagi, saya cuma takut." Ia menatap Damar lurus. "Anda yang nggak takut."
"Saya takut, kok," kata Damar jujur. "Saya takut hampir setiap hari selama berbulan-bulan. Saya cuma nggak berhenti."
Tito tersenyum. "Mungkin itu yang membedakan. Bukan nggak takut. Tapi nggak berhenti."
Mereka memesan kopi lagi. Tito bercerita tentang hidup barunya — di bawah program perlindungan saksi, dengan identitas yang disesuaikan, di kota kecil ini ia membuka usaha kecil, toko bahan bangunan. Anak-anaknya sekolah di sekolah biasa. Tetangga mengenalnya sebagai pendatang yang ramah, tidak ada yang tahu masa lalunya.
"Kadang saya kangen jadi diri saya yang dulu," katanya. "Nama saya yang asli. Tapi terus saya lihat anak-anak saya tidur nyenyak, dan saya pikir, ah, nama cuma nama. Yang penting mereka aman."
Saat hendak berpisah, di depan warung, Tito tiba-tiba memeluk Damar — canggung, singkat, tapi tulus. Sesuatu yang tidak pernah Damar bayangkan akan terjadi dari pria yang dulu tidak berani menatap mata orang terlalu lama.
"Terima kasih, Mas Damar," katanya. "Bukan cuma buat saya. Buat Pak Gunawan juga. Dia teman saya. Saya nggak bisa lapor untuk dia waktu itu. Saya terlalu takut. Anda yang akhirnya menyelesaikan apa yang dia mulai. Saya rasa, di mana pun dia sekarang, dia tenang."
Damar tidak bisa menjawab. Ia hanya menepuk pundak Tito, mengangguk, dan melepasnya pergi menyeberang jalan ke arah keluarganya. Ia menyaksikan Tito menggandeng tangan anaknya, menengok ke arah istrinya, tertawa pada sesuatu yang dikatakan si kecil. Punggung yang dulu selalu membungkuk waspada kini tegak, ringan.
Lingkaran yang dimulai di warung kopi gelap di gang sempit — "saya capek takut" — akhirnya tertutup di warung kopi terang menghadap jalan. Damar berdiri di trotoar lama setelah Tito menghilang di keramaian pasar, lalu ia tersenyum kecil dan berbalik. Satu orang lagi, pikirnya, sudah keluar dari bayang-bayang. Tapi ada satu nama yang masih mengganjal di benaknya, satu orang yang dulu ia suruh menjauh demi keselamatan dan belum pernah benar-benar ia ajak kembali.
Lestari.