Lantai dua belas Gedung Mahanusa nyaris tidak berubah. Suara papan ketik yang sama, dengung pendingin udara yang sama, deretan monitor menyala biru yang sama. Tapi ketika Damar melangkah keluar dari lift pagi itu, ia merasa seperti orang asing yang kembali ke rumah lama dan mendapati setiap furniturnya digeser beberapa sentimeter.
Banyak yang berubah di Sekuritas Bumi Sentosa, meski mejanya tetap. Pak Hendra sudah tidak ada — kariernya tamat setelah ia menerima konsekuensi keterlibatannya, hukuman ringan yang sepadan dengan perannya sebagai orang yang ketakutan, bukan otak. Manajemen lama yang dulu menerima fee miliaran dari Grup Wirananta sudah dibersihkan. Sekuritas itu nyaris kehilangan izinnya, lalu diselamatkan dengan pergantian kepemimpinan total dan komitmen reformasi internal.
Dan di meja di sudut, dekat jendela, Lestari sedang menatap layar dengan kerutan di dahinya yang Damar kenal betul.
"Masih suka nggak rekomendasikan saham yang angkanya terlalu cantik?" Damar berkata dari belakangnya.
Lestari berputar di kursinya. Untuk sesaat ia hanya menatap, lalu wajahnya pecah jadi senyum dan ia berdiri, hampir menjatuhkan gelas kopinya. "Damar! Astaga. Kamu—" Ia berhenti, menatap dari atas ke bawah. "Kamu kelihatan kayak nggak tidur tiga tahun."
"Delapan bulan, sebenarnya. Tapi terasa kayak tiga tahun."
Mereka duduk di pojok pantry, tempat yang dulu mereka pakai mengobrol di sela kerja, dengan dua gelas kopi instan yang sama buruknya seperti dulu. Damar memandang Lestari — perempuan yang dulu ia suruh menjauh, pura-pura tidak pernah mendengar nama Cakrawala darinya, demi keselamatannya sendiri.
"Aku minta maaf, Tar," kata Damar. "Waktu itu. Aku menyuruhmu menjauh, dan kamu malah kena getahnya. Aku dengar HRD ngejar-ngejar kamu. Manajemen menekan kamu."
Lestari memutar gelas kopinya. "Mereka ngancem aku, Mar. Bilang kalau aku nggak kasih tahu di mana kamu, apa yang kamu simpan, kariermu — karierku, maksudnya — habis. Mereka pindahin aku ke divisi yang nggak ada kerjaannya. Setahun aku duduk di pojok ngerjain laporan yang nggak pernah dibaca siapa-siapa." Ia mengangkat wajahnya, dan di sana tidak ada dendam, hanya kelelahan yang sudah berlalu. "Tapi aku nggak pernah kasih tahu mereka apa-apa. Karena aku tahu kamu nggak akan minta aku menahan rekomendasi Cakrawala dua minggu kalau kamu nggak yakin betul."
"Kamu percaya aku sejauh itu?"
"Aku kenal kamu sejak kamu masih makan mi instan sambil baca laporan keuangan." Lestari tersenyum miring. "Si bocah dengan mata laser. Aku tahu kapan kamu main-main dan kapan nggak. Waktu itu kamu nggak main-main."
Damar tertawa kecil, lalu diam. "Dokumen internal yang kamu kasih waktu kamu diteror dulu — soal fee yang masuk ke kantor, korespondensi manajemen sama Grup Wirananta — itu bukti penting di sidang Hendra dan manajemen lama, Tar. Kamu sadar nggak, kamu ikut menjatuhkan mereka yang nekan kamu?"
Lestari mengerjap. "Aku cuma kirim ke kamu karena marah waktu itu."
"Marah yang berguna." Damar mendorong sesuatu ke arahnya — sebuah surat dari manajemen baru, yang ia bantu uruskan diam-diam. "Namamu sudah dipulihkan. Catatan yang bilang kamu 'tidak kooperatif' dihapus. Kamu dikembalikan ke divisi riset. Dengan posisi yang lebih tinggi dari sebelum semua ini."
Lestari membaca surat itu, dan untuk sesaat matanya berkaca-kaca. Ia mengusapnya cepat, malu. "Kamu ngurusin ini? Di tengah semua yang kamu hadapi?"
"Kamu yang menahan rekomendasi Cakrawala waktu bisa bikin kamu dipecat, Tar. Itu langkah pertama yang bikin semua ini mungkin. Aku cuma menemukan angkanya. Kamu yang pertama percaya." Damar mengangkat gelas kopinya yang murah. "Anggap saja ini balasan yang sangat terlambat."
Mereka berbenturan gelas kertas pelan. Di luar jendela pantry, kota membentang seperti dulu, gedung-gedung pencakar langit yang tampak seperti tumpukan koin tertata rapi. Tapi pagi ini, di antara keduanya, tidak ada lagi bayang-bayang. Tidak ada mobil hitam yang mengikuti, tidak ada satpam yang menatap terlalu lama, tidak ada kursor yang bergerak sendiri di komputer.
"Jadi," kata Lestari, menyeruput kopinya dan meringis pada rasanya, "kamu balik kerja di sini? Mereka pasti nawarin kamu posisi gila-gilaan. Kepala riset. Direktur. Apa pun yang kamu mau."
Damar memandang ke arah lantai riset, ke meja-meja, ke monitor-monitor yang menyala biru. Tawaran-tawaran itu memang datang — bukan cuma dari Bumi Sentosa, tapi dari sekuritas besar, dari perusahaan investasi, satu bahkan dari lembaga internasional. Posisi tinggi, gaji yang membuat tawaran Salim dulu terdengar seperti uang receh.
"Belum tahu," kata Damar pelan. "Ada yang menarik aku ke arah lain, Tar. Sesuatu yang lebih kecil, tapi rasanya lebih penting."
Lestari memiringkan kepala. "Apa?"
Damar tidak langsung menjawab. Ia memikirkan Bu Sumarni yang melipat kertas tawaran damai dengan rapi. Pak Gunawan di bawah nisan dengan jarak empat puluh sembilan tahun. Tito yang akhirnya bisa duduk membelakangi pintu. Ribuan korban yang baru akan mulai menerima dana pertama mereka minggu depan. Aturan baru yang sedang disusun dengan namanya disebut-sebut.
"Aku belum tahu persisnya," katanya akhirnya, "tapi aku tahu satu hal. Aku nggak mau cuma jadi orang yang menemukan kebohongan setelah ribuan orang terlanjur kehilangan. Aku mau ada di tempat di mana aku bisa mencegahnya sebelum terjadi."
Lestari menatapnya lama, lalu mengangguk pelan, seperti ia mengerti — seperti ia selalu mengerti, sejak dulu. "Apa pun yang kamu pilih," katanya, "kali ini kamu nggak harus melakukannya sendirian."
Damar tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, gagasan itu — tidak sendirian — terasa nyata. Di luar, matahari pagi memantul di kaca gedung-gedung, dan layar di meja Lestari menampilkan deretan angka yang bergerak naik dan turun, hidup dan mati. Tapi sekarang ada dua orang di lantai dua belas Gedung Mahanusa yang tahu cara membaca mana yang jujur dan mana yang dirias.
Dan keduanya, kali ini, tidak akan diam.