Ruang sidang etik di lantai tiga gedung Otoritas Jasa Keuangan itu jauh lebih kecil daripada ruang sidang pidana yang sudah Damar datangi berbulan-bulan terakhir. Tidak ada kamera televisi, tidak ada kerumunan wartawan berdesakan di koridor. Hanya meja panjang berlapis kain hijau, beberapa orang berjas, dan seorang pria gemuk berkacamata yang duduk di kursi terdakwa dengan punggung membungkuk.
Pak Hendra terlihat lebih tua dari yang Damar ingat. Rambutnya menipis, pipinya turun, dan kacamatanya yang dulu selalu mengilap kini buram oleh bekas keringat. Ia tidak mengangkat wajahnya ketika Damar masuk dan duduk di bangku belakang.
Damar datang bukan untuk bersaksi. Kesaksiannya sudah ia berikan secara tertulis. Ia datang karena Arini menyuruhnya.
"Kamu perlu lihat ini sampai selesai," kata Arini tadi pagi, sambil menyodorkan kopi. "Bukan untuk puas. Untuk tahu rasanya keadilan yang tidak seru. Yang tidak ada tepuk tangannya."
Ketua majelis etik membacakan temuan dengan suara datar. Pak Hendra, kepala divisi riset Sekuritas Bumi Sentosa, terbukti menutupi laporan analisis yang menyimpulkan kejanggalan pada PT Cakrawala Energi Nusantara. Ia memerintahkan bawahannya menarik diri dari pemeriksaan saham itu. Ia menerima imbalan tidak langsung melalui skema fee perusahaan yang dialirkan Grup Wirananta. Ia tahu, dan ia memilih diam.
"Yang bersangkutan tidak terbukti terlibat langsung dalam penyusunan skema penipuan," lanjut ketua majelis. "Tidak ada bukti ia mengetahui adanya tindak pembunuhan. Perannya adalah membiarkan. Karena itu, sanksi yang dijatuhkan bersifat administratif dan profesional."
Hendra dilarang menjabat di industri pasar modal seumur hidup. Izinnya sebagai analis dan manajer riset dicabut. Namanya dimasukkan ke daftar hitam yang dibagikan ke seluruh sekuritas. Ia juga harus mengembalikan sejumlah dana yang diterima sebagai keuntungan dari posisi itu.
Tidak ada penjara. Tidak ada borgol.
Damar mengamati wajah pria itu saat vonis dibacakan. Ia menunggu sesuatu di dalam dirinya — kemarahan, mungkin, atau rasa puas. Lagi pula, Hendra adalah orang yang menyuruhnya lepas tangan dari Cakrawala, yang membentaknya di ruang rapat lantai atas, yang lebih takut kehilangan fee miliaran daripada peduli ribuan investor kecil yang akan kehilangan tabungan.
Tapi yang muncul justru rasa kosong yang aneh.
Selesai sidang, Damar berdiri di koridor. Ia tidak berniat menyapa. Tapi Hendra lewat di depannya, berhenti sejenak, lalu menoleh.
"Damar."
"Pak."
Mereka berdiri canggung. Hendra membuka mulut, menutupnya lagi, lalu akhirnya bicara dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Aku bukan orang jahat, Damar. Aku cuma penakut." Ia menelan ludah. "Waktu kamu datang dengan angka-angka itu, aku tahu kamu benar. Aku tahu dari awal. Tapi aku punya cicilan rumah. Anak dua, yang sulung mau masuk kuliah. Aku pikir... aku pikir kalau aku diam, semua akan baik-baik saja. Kalau bukan aku yang membongkar, bukan tanggung jawabku."
"Orang mati karena diamnya banyak orang, Pak," kata Damar pelan. Tidak membentak. Hanya menyatakan. "Pak Gunawan mati. Ribuan keluarga kehilangan tabungan. Semua itu bisa berhenti lebih awal kalau cukup banyak orang yang berani."
Hendra menunduk. Bahunya bergetar. "Aku tahu. Sekarang aku tahu." Ia mengusap matanya dengan punggung tangan. "Karierku habis. Tigapuluh tahun, habis. Mungkin itu pantas. Mungkin kurang."
Damar tidak menjawab. Ia tidak datang untuk menghibur, dan tidak datang untuk menghukum lebih jauh. Hukuman sudah ada yang mengatur, dan ukurannya sudah pas: tidak ada darah dibalas darah, tidak ada penjara untuk dosa yang tidak setara penjara, tapi juga tidak ada pengampunan murahan. Hendra menanggung tepat seberat yang ia perbuat. Tidak lebih, tidak kurang.
"Pak," kata Damar akhirnya, "saya tidak benci sama Bapak."
Hendra mengangkat wajah, kaget.
"Saya cuma berharap kalau ada anak muda lain di kantor mana pun, yang besok menemukan angka yang terlalu cantik, dia tidak ketemu atasan seperti Bapak yang dulu." Damar mengangguk pelan. "Itu saja."
Ia berbalik dan berjalan menuju lift. Di belakangnya, Hendra masih berdiri di koridor yang sepi, sendirian, menatap pintu ruang sidang yang menutup babak panjang hidupnya.
Di dalam lift, Damar bertemu pantulan wajahnya sendiri di pintu logam. Ia tampak lelah, tapi ada sesuatu yang berbeda dari Damar setahun lalu — yang dulu mengira keadilan adalah ledakan besar, sirene, dan kemenangan yang gegap gempita. Sekarang ia tahu, sebagian besar keadilan justru sunyi seperti ini: seorang pria gemuk kehilangan kariernya di ruang kecil tanpa kamera, menanggung akibat dari kepengecutannya, lalu pulang dengan tangan kosong.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Arini.
"Gimana? Kamu lihat sampai selesai?"
Damar mengetik balasan saat pintu lift terbuka di lantai dasar. "Lihat. Kamu benar. Nggak ada tepuk tangannya."
Lalu ia menambahkan satu baris lagi, dan untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibirnya naik.
"Tapi rasanya benar."