Arini sudah duduk di ruang sidang itu sejak pagi-pagi sekali, jauh sebelum kursi-kursi terisi. Ia memilih tempat di barisan paling depan, persis di seberang meja terdakwa, supaya ia bisa melihat wajah orang itu dengan jelas ketika namanya disebut.
Yusman. Editor senior. Orang yang dulu menandatangani artikel-artikel pertamanya, yang mengajarinya cara melindungi sumber, yang berkali-kali berkata di ruang redaksi bahwa "jurnalis yang menjual sumbernya lebih hina dari pencuri."
Orang itulah yang membocorkan rencana rilis Damar ke Salim. Orang itu yang membuat Arini ditangkap dan disandera di gudang blok C. Orang itu yang, selama bertahun-tahun, makan gaji dari media independen sambil diam-diam menerima amplop dari Grup Wirananta.
Damar duduk di sampingnya. "Kamu yakin mau di depan? Bisa lihat dari belakang."
"Aku mau dia tahu aku ada di sini," kata Arini. Suaranya tenang, tapi jari-jarinya mencengkeram pena terlalu erat. "Aku mau ini jadi yang terakhir aku takut sama wajahnya."
Jaksa membuka dakwaan. Bukan dakwaan pidana ringan. Yusman didakwa membantu menghalangi penegakan hukum, membocorkan informasi yang membahayakan nyawa, dan menerima gratifikasi untuk memengaruhi pemberitaan. Bukti-bukti dipaparkan satu per satu: catatan transfer dari rekening cangkang ke rekening keluarga Yusman, rekaman percakapan yang diserahkan Salim sebagai bagian dari pengakuannya melawan jaringan, dan jejak digital yang menunjukkan ia mengirim rencana rilis Damar beberapa jam sebelum Arini ditangkap.
Yusman duduk dengan wajah membatu. Ia tidak membantah. Pengacaranya hanya mencoba meringankan, menyebut tekanan ekonomi, masa pengabdian panjang, dan penyesalan.
Lalu tiba giliran Arini bersaksi.
Ia berdiri di mimbar, menatap lurus ke arah mantan editornya. Selama beberapa detik ia tidak bicara. Ruangan sunyi.
"Saya kenal terdakwa empat belas tahun," kata Arini akhirnya. "Dia mengajari saya hampir semua yang saya tahu tentang profesi ini. Dia yang bilang ke saya, kepercayaan sumber itu seperti nyawa — sekali kamu khianati, kamu tidak bisa kembalikan."
Ia menelan ludah. Suaranya bergetar sedikit, lalu menguat.
"Saya berdiri di sini bukan karena saya benci. Saya berdiri di sini karena saya ingin tahu satu hal." Ia menoleh ke majelis hakim, lalu kembali ke Yusman. "Pak Yusman, waktu Anda mengirim rencana itu, Anda tahu saya akan ada di ujungnya. Anda tahu mereka akan datang menjemput saya. Saya cuma mau tanya — pas Anda tekan kirim, apa Anda berhenti sebentar? Atau Anda langsung lanjut bikin kopi seperti biasa?"
Yusman tidak menjawab. Tapi matanya berkaca-kaca, dan untuk pertama kalinya ia menundukkan kepala.
Arini tidak menunggu jawaban. Ia tidak butuh. Pertanyaan itu sendiri adalah jawabannya.
Vonis dibacakan dua minggu kemudian. Yusman dijatuhi hukuman penjara, lebih ringan dari Salim, lebih berat dari Hendra, sebanding dengan perbuatannya: bukan pembunuh, tapi orang yang membuka pintu bagi para pembunuh. Hakim secara khusus menyebut bahwa pengkhianatan terhadap profesi yang seharusnya menjaga kebenaran publik adalah faktor yang memberatkan.
Selesai sidang, Arini berdiri lama di pelataran gedung pengadilan. Damar berdiri di sampingnya, tidak bicara, membiarkannya bernapas.
"Aku selalu mikir," kata Arini akhirnya, "musuh terbesar kita itu Wirananta. Salim. Orang-orang di daftar. Orang-orang yang jelas-jelas di seberang." Ia menatap langit sore yang mulai jingga. "Ternyata yang paling perih bukan mereka. Yang paling perih adalah orang yang duduk semeja sama aku tiap hari. Yang aku panggil 'Pak'. Yang aku percaya."
"Tapi kamu nggak salah percaya, Rin," kata Damar. "Yang salah dia."
Arini menoleh, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, senyumnya terlihat ringan. Bukan senyum kemenangan. Senyum lega.
"Redaksi sudah aman sekarang," katanya. "Bersih. Aku bisa kerja tanpa harus curiga sama meja sebelah." Ia menghela napas panjang. "Kamu tahu, Damar, untuk membongkar kebohongan triliunan, ternyata aku harus dulu membongkar satu kebohongan kecil di kantorku sendiri. Yang paling dekat. Yang paling sakit."
Mereka berjalan keluar dari pelataran pengadilan bersama-sama, dua orang yang lukanya sudah mulai menutup, melangkah ke jalan yang mulai dipenuhi lampu kota yang menyala satu per satu.