Aula sederhana di gedung lembaga perlindungan investor itu penuh sesak. Kursi-kursi plastik berderet, dan di setiap kursi duduk orang yang wajahnya menyimpan cerita yang sama: tabungan yang ludes, rumah yang dijual, masa depan yang nyaris hilang dalam semalam ketika gelembung Cakrawala pecah.
Hari itu adalah hari pencairan dana pertama. Setelah berbulan-bulan proses hukum, setelah aset Wirananta yang dibekukan di luar negeri akhirnya berhasil ditarik pulang, setelah perhitungan rumit tentang siapa berhak menerima berapa — hari ini, untuk pertama kalinya, sebagian uang itu kembali ke pemiliknya yang sah.
Damar dan Arini duduk di barisan belakang. Mereka tidak diundang sebagai pejabat atau pembicara. Mereka datang sebagai dua orang yang ingin melihat ujung dari sesuatu yang mereka mulai.
Seorang ibu paruh baya naik ke panggung untuk menerima dokumen pencairannya. Tangannya gemetar memegang map. Ketika petugas menyerahkan surat itu, ia menempelkannya ke dada, dan air matanya jatuh.
"Ini uang sekolah anak saya," katanya pada mikrofon, suaranya tersendat. "Waktu sahamnya jatuh, saya kira sudah hilang selamanya. Saya sudah ikhlas. Tapi sekarang..." Ia tidak bisa melanjutkan.
Arini menunduk, menyembunyikan matanya yang juga basah. Damar menatap lurus ke panggung, dadanya sesak oleh sesuatu yang sulit ia namai.
Ia ingat suara Salim, dulu, di ruang rapat lantai atas, yang menyebut para korban ini dengan nada sombong: ibu-ibu rumah tangga, pensiunan, anak muda yang baru belajar investasi, mereka percaya pada kami. Kalimat itu dulu diucapkan sebagai senjata, sebagai pembenaran, sebagai bukti betapa banyak orang yang bisa mereka peras. Sekarang, orang-orang yang sama itu duduk di aula ini bukan sebagai korban yang dipermalukan, melainkan sebagai orang yang akhirnya mendapatkan kembali sebagian dari apa yang dicuri dari mereka.
Seorang kakek tua dengan tongkat menghampiri tempat Damar dan Arini duduk. Petugas tadi rupanya menunjuk mereka berdua ke beberapa korban.
"Maaf," kata kakek itu, "kalian yang membongkar Cakrawala itu, ya? Yang di berita?"
Damar bangkit, agak canggung. "Kami cuma sebagian dari banyak orang, Pak."
"Pensiun saya seluruhnya masuk Cakrawala," kata kakek itu, tangannya yang keriput menggenggam tangan Damar erat-erat. "Tiga puluh dua tahun saya kerja jadi guru. Semua tabungan pensiun saya, masuk ke situ, karena tetangga bilang naik terus. Waktu jatuh, istri saya sampai sakit. Saya pikir kami akan mati miskin." Matanya berkaca. "Hari ini saya dapat kembali sebagian. Tidak semua. Tapi cukup buat berobat istri saya, cukup buat nggak jadi beban anak."
Ia menggenggam tangan Damar lebih erat. "Terima kasih, Nak. Kalau bukan karena kalian, mereka akan kabur dengan uang kami, dan tidak ada yang peduli sama orang-orang kecil seperti saya."
Damar membuka mulut untuk menjawab, tapi tenggorokannya tercekat. Selama setahun ini ia menghadapi pistol, ancaman, sandera, pengkhianatan, sidang panjang yang melelahkan. Ia mengira ia tahan banting. Tapi genggaman tangan tua yang gemetar ini, dan kalimat sederhana itu — terima kasih, Nak — membuat pertahanannya runtuh dalam sekejap.
"Sama-sama, Pak," katanya akhirnya, suaranya serak. "Ini yang seharusnya terjadi. Uang Bapak memang hak Bapak."
Setelah acara, Arini dan Damar berjalan keluar dalam diam. Sore itu hangat, langit bersih.
"Kamu tahu," kata Arini akhirnya, "aku sudah meliput puluhan kasus. Korupsi, penipuan, segala macam. Aku menulis ribuan artikel. Tapi baru hari ini aku ngerti, semua angka di laporanku itu — triliunan rupiah, ratusan saksi, sekian tahun penjara — semua itu sebenarnya cuma cara kita mengukur ini." Ia menunjuk ke arah aula, ke arah para korban yang masih memeluk map mereka. "Wajah-wajah itu. Itu yang sebenarnya kita bela."
Damar mengangguk. Ia teringat kalimat yang dulu ia tulis di pojok laporan keuangan Cakrawala, dilingkari dengan tinta merah, di hari pertama semuanya bermula: dari mana uang masuknya, kalau penjualannya cuma di atas kertas?
Sekarang ia tahu jawabannya, dan jawaban itu punya wajah. Uang masuknya dari kakek guru yang menabung tiga puluh dua tahun. Dari ibu yang menyimpan biaya sekolah anaknya. Dari ribuan orang yang percaya bahwa pasar adalah tempat yang adil.
Dan hari ini, sebagian dari kepercayaan itu, akhirnya, dipulihkan.
"Arini," kata Damar pelan, "aku rasa aku sudah tahu apa yang mau aku kerjakan setelah semua ini."
Arini menoleh. "Apa?"
Damar menggeleng, tersenyum tipis. "Nanti aku ceritakan. Aku masih perlu memastikannya dalam kepalaku dulu."