Tawaran itu datang dalam amplop tebal dengan logo emas yang ditempa rapi — sebuah perusahaan manajemen investasi internasional, salah satu yang terbesar di kawasan. Mereka menawari Damar posisi kepala riset, gaji yang angkanya membuatnya harus membaca dua kali, kantor di gedung dengan pemandangan teluk, dan tim analis muda yang akan ia pimpin.
Damar membaca surat itu di apartemen studionya yang sama — sepuluh kali enam meter, satu jendela menghadap tembok gedung sebelah, komputer dan kasur tipis. Setahun penuh penuh badai, dan tempat ini tidak berubah sedikit pun. Ia hampir merasa lucu memikirkan kontras antara surat bergengsi di tangannya dan ruangan sempit di sekelilingnya.
Ia teringat Salim, dulu, di ruang rapat lantai atas, yang menawarinya gaji tiga kali lipat, bonus, dan mobil. Orang seperti Anda terlalu berharga untuk hanya jadi analis di lantai dua belas. Tawaran ini jauh lebih besar, jauh lebih jujur, dan dari pihak yang bersih. Tapi entah kenapa, perutnya terasa dingin yang sama.
Bukan karena ada yang salah dengan tawaran itu. Tapi karena ia tahu, kalau ia menerima, ia akan kembali menjadi orang yang sama seperti dulu — duduk di belakang empat monitor biru, mengejar angka yang lebih besar, mencari saham yang akan naik, melayani orang-orang yang sudah cukup kaya untuk berinvestasi.
Dan di luar gedung berkaca itu, akan selalu ada kakek guru yang menabung tiga puluh dua tahun, yang tidak tahu cara membaca laporan keuangan, yang akan percaya pada tetangga yang bilang "naik terus", dan yang akan menjadi korban Cakrawala berikutnya.
Damar meletakkan surat itu di meja.
Beberapa hari kemudian, ia bertemu Lestari untuk makan siang. Rekan setimnya yang dulu — yang diinterogasi HRD, diteror, dijauhkan demi keselamatan, dan kini sudah pulih nama baiknya serta kembali bekerja — memandangnya dengan mata melebar saat Damar menceritakan tawaran itu.
"Kamu gila?" kata Lestari. "Itu pekerjaan impian, Damar. Orang ngantre seumur hidup buat tawaran kayak gitu. Kamu mau tolak?"
"Aku belum bilang aku mau tolak."
"Tapi aku kenal kamu. Dari nada suaramu, kamu udah mau tolak." Lestari menggeleng, antara kagum dan jengkel. "Terus kamu mau ngapain? Setelah semua ini, kamu nggak mau ambil tempat yang aman dan nyaman?"
Damar memutar gelas tehnya pelan. Di luar jendela restoran, kota bergerak seperti biasa: orang-orang terburu-buru, kendaraan merayap, papan reklame menjanjikan kekayaan instan.
"Tar, kamu tahu kenapa Cakrawala bisa sebesar itu sebelum ada yang menyadari?" tanya Damar. "Bukan karena Wirananta jenius. Bukan karena Salim sakti. Tapi karena ribuan orang membeli sesuatu yang mereka tidak mengerti. Mereka melihat grafik naik, mereka dengar tetangga untung, dan mereka masuk. Tidak ada yang mengajari mereka cara membaca apa yang mereka beli."
Lestari diam.
"Aku menghabiskan setahun membongkar satu gelembung," lanjut Damar. "Tapi selama orang tidak tahu cara melihat gelembung, akan selalu ada gelembung berikutnya. Akan selalu ada Wirananta berikutnya yang merias angka jadi terlalu cantik, dan ribuan orang yang tidak bisa membedakan rias dari wajah asli."
Ia menatap Lestari. "Ada lembaga baru yang sedang dibentuk setelah kasus Cakrawala. Edukasi investor dan pengawasan pasar. Tugasnya bukan mencari saham yang naik. Tugasnya melindungi orang-orang kecil dari yang berikutnya. Gajinya... ya, sepersepuluh dari tawaran yang tadi. Mungkin kurang."
"Dan kamu mau ke situ," kata Lestari pelan. Bukan pertanyaan.
"Aku mau ke situ."
Lestari menatapnya lama. Lalu ia tersenyum, senyum yang bercampur haru. "Si bocah dengan mata laser, mau pakai mata lasernya buat ngajarin orang lain melihat."
Damar tertawa kecil. "Mata lasernya sudah agak lelah, Tar. Tapi masih bisa lihat."
"Kenapa?" tanya Lestari. "Kenapa nggak ambil yang nyaman aja? Kamu sudah berkorban cukup banyak."
Damar terdiam sejenak. Ia memikirkan Gunawan, auditor yang mobilnya masuk jurang sebelum sempat melapor. Ia memikirkan sumber kedua Arini, yang ditemukan tewas dengan label "bunuh diri". Dua orang yang membayar dengan nyawa supaya kebenaran ini bisa keluar.
"Karena ada orang yang nggak bisa lagi memilih, Tar," kata Damar akhirnya. "Pak Gunawan nggak bisa. Sumbernya Arini nggak bisa. Mereka mati supaya angkanya bisa jujur." Ia menatap teh yang sudah dingin di tangannya. "Aku masih hidup. Aku masih bisa memilih. Rasanya nggak adil kalau aku pakai pilihan itu cuma buat cari aman."
Lestari tidak menjawab. Ia hanya menggeser tangannya di meja, menggenggam tangan Damar sebentar — bukan tangan yang gemetar ketakutan seperti dulu di telepon malam itu, tapi tangan yang mantap, tangan kawan yang sudah melewati badai dan selamat.
"Kalau gitu," kata Lestari, "kapan-kapan ajari aku juga. Aku juga mau lihat lebih jelas."