"Renjana, bisakah kamu mengajari saya memanah?" Tanya Ali saat ia berkesempatan membereskan peralatan bermainnya dengan anak anak di sekitaran distrik Muara. Ali dan Johan bersepakat memberikan pengajaran pada anak anak disekitaran distrik Muara sebagai salah satu dari program pengabdian masyarakat yang mereka lakukan. Dan Renjana banyak membantu Ali mengumpulkan anak anak tersebut untuk belajar menyanyi, menari, berhitung, menggambar dan menulis.
"Bang Ali tertarik belajar memanah?" Tanya Renjana. Ali tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Di desa kami, memanah bukan hanya sekedar bagian dari olah raga saja tapi sudah merupakan bagian dan wujud dari pelestarian budaya leluhur."
"Saya tertarik ingin belajar, tapi Jana yang ajari Abang, gimana?" pinta Ali. Renjana tersenyum. "Kenapa Abang minta Jana yang ajari? Bang Lindan lebih jago dari Jana, " Ucap Renjana. Ali diam sebentar, tujuannya memang adalah untuk mendekati Renjana untuk mengorek informasi penting berkaitan dengan kelompok Mawar Hitam. Selepas Johan dan Ali melihat Lindan dan Renjana ada dalam barisan bersama orang orang yang datang di camp militer semalam, Mereka berdua membulatkan tekad untuk masuk lebih dalam dan mengambil hati anggota anggota kelompok bersenjata itu.
"Baiklah. Jana ajari," ucap Renjana.
Seusai membereskan barang barang, Renjana mengajak Ali untuk mengambil peralatan panahnya.
"Karena ini adalah pelajaran untuk pemula, Jana tidak akan ajak Bang Ali ke lapangan khusus. kita bisa berlatih disini dengan pohon itu sebagai sasarannya. Sekarang abang pegang busurnya seperti ini, sejajar dengan hidung dan pundak. harus lurus dan presisi agar tepat mengenai sasaran, " ujar Renjana seraya memberikan pengarahan pada Ali.
"Pasang anak panah pada tempatnya lalu tarik busur kuat kuat, sejajar dengan pundak. lurus! Fokuskan tatapan pada apel yang ada di pohon itu. Tarik nafas panjang, tahan, lesatkan!" Ujar Renjana.
Ali melakukan setiap tahapan yang disampaikan Renjana tadi. Namun Ali meleset jauh. Pemuda gagah itu sebenarnya tidak terlalu asing dengan memanah. Ia juga sempat belajar dulu namun lebih sering belajar menembak daripada memanah.
Anak panah itu melesat. kali ini untuk kedua kalinya, Ali sengaja masih membuat anak panahnya melenceng. Percobaan ketiga, Ali mencoba untuk mengatur fokusnya agar tampak terlihat nyata. Anak panah kembali melesat dan kali ini tepat sasaran, tidak meleset satu incipun. Renjana bertepuk tangan, gsdis manis itu melonjak kegirangan sembari tanpa sadar memeluk lengan kekar Ali.
Ali menatap Renjana lekat namun Renjana justru mengerjapkan kedua manik matanya saat wajah Ali dan Renjana begitu dekat. Sedetik kemudian kecanggungan pun tercipta diantara keduanya. Renjana memalinkan wajahnya sementara Ali berdehem untuk menetralkan deru jantungnya yang entah bagaimana berdegup begitu kencang.
seharusnya ini hanya sandiwara tapi mengapa jantung ini selalu saja tidak dapat dikompromikan? berdetak lebih kencang bila sedang bersama Jana. Tidak mungkin kan, aku jatuh cinta pada gadis ini?
"Maaf, Bang Ali, Jana tidak sengaja, " Ucap Renjana kemudian. Ali menatap Renjana dan kembali berdehem sebelum akhinya ia tersenyum canggung.
"Tidak masalah. " Untung saja keadaan sepi, kalau Lindan tahu bisa jadi sasaran panahannya aku.
"Kalau begitu, lebih baik belajar panahnya kita lanjutkan besok. Jana pamit. " Ucap Renjana sebelum akhirnya berlari kecil tanpa berani menatap Ali. Pemuda itu menatap punggung Renjana yang semakin lama semakin menjauh sebelum akhirnya hilang tidak berbekas.
Jana, kamu kenapa? Ingat tugasmu untuk mengawasi Ali bukan justru .. Ahh! Jantung ini kenapa berdetak begitu cepat? Jodohku sudah ditentukan..jodohku adalah Lindan bukan Ali. Arrgh!
Renjana berteriak seraya menutup telinga dan sesekali mengacak kepalanya frustasi.
"Kamu kenapa?" Suara datar itu menggema di gendang telinga Renjana membuat Renjana terkesiap saat melihat Lindan tengah berdiri di belakangnya dengan tangan bersedekap.
"Tidak ada!" Jawab Renjana singkat.
Lindan menatap Renjana dengan seksama sebelum akhirnya berjalan mendekati calon istrinya itu.
"Ingat tugasmu, selidiki orang bernama Ali dan Johan itu dan kemudian laporkan pada Kolonel!" ucap Lindan tegas. Renjana menundukkan kepalanya sebelum akhirnya mengangguk paham.
"Dan ingat, apapun yang kamu lakukan dengan Ali, semua dalam pengawasanku, Jana. Satu hal yang harus kamu pahami, Aku adalah calon suamimu! Buang jauh jauh perasaanmu pada Ali! Saya bukan manusia bodoh yang tidak dapat melihat sorot ketertarikan dari matamu itu!" ucap Lindan pelan namun penuh penekanan. Renjana terdiam. Dia tidak terlalu ambil pusing mengenai gertakan yang diberikan oleh Lindan, melainkan Renjana justru lebih tertarik melihat kembali perasaannya pada Ali. Rasa yang selama ini tidak pernah ia rasakan pada lawan jenis, bahkan Lindan merasakan hal itu saja tidak.
Hubungan Ali dengan Renjana pun semakin terjalin akrab lantaran gadis itu sering membantu Ali memberikan pelajaran tambahan ditambah lagi latihan memanah itu semakin rutin dilakukan oleh Ali dan juga Renjana. Mereka saling bertukar cerita sathu dengan yang lainnya, beristirahat bersama ditepian sungai di selatan sungai muara.
"Tempat ini sangat indah, Jana, " Ujar Ali saat ia dan Renjana memutuskan duduk tepat dibawah air terjun yang diberinama Air terjun Seribu muara.
"Memang indah, tapi tidak seindah mitos yang ada didalamnya, " sahut Renjana dengan netra menerawang jauh kedepan.
"Mitos? Mitos tentang apa itu?" Tanya Ali antusias. Renjana diam ditempat selama beberapa saat sebelum akhirnya tersenyuk miris.
"Mitosnya setiap pasangan yang datang ke tempat ini kisah cintanya tidak akan berakhir baik, " ucap Renjana lemah. Ali diam sejenak.
"Menurut cerita yang beredar, dahulu kala ada seorang putri raja yang sangat cantik, ia menjadi rebutan dari banyak pria yang datang hendak melamarnya, namun lamaran itu selalu ditolak mentah mentah. Lalu satu, suatu saat seorang prajurit dari negara seberang datang dan tinggal di kerajaan sang putri karena tersesat. Tidak disangka, Sang pria adalah utusan kerajaan lain yang merupakan musuh dari kerajaan si tuan putri. Suatu saat tuan putri jatuh hati pada prajurit itu, mereka menjalin hubungan namun sayang penyamaran prajurit itupun terbuka. Raja nyaris menghukum mati si pria namun tuan putri terus membelanya dan pada akhirnya mereka berpisah di air terjun ini, " ucap Renjana. Ali mendengarkan cerita Renjana dengan seksama.
"Apa maksudmu berpisah disini?" tanya Ali kemudian.
"Tuan putri membawa lari si pria dari kejaran prajurit kerajaan.. Putri itu melindungi si pria dengan nyawanya hingga tiba saatnya satu panah melesat mengenai tepat di d**a si pria. pria itu jatuh ke dalam sungai ini, karena sedih akhirnya Tuan putri menyusul pria itu dengan melompat ke sungai. Katanya kedua jasad mereka tidak pernah ditemukan. mulai saat itu timbul mitos jika pasangan kekasih tidak boleh berduaan ditempat ini karena kisah cintanya akan berakhir tragis seperti kisah tuan putri dan prajurit itu, " ucap Renjana. Ali terkekeh geli ditempatnya.
"Kamu tidak perlu khawatir, Jana. kita bukan sepasang kekasih, " Ucap Ali yang membuat Renjana terdiam ditempatnya.
"Apa Bang Ali sudah punya kekasih?" tanya Renjana. Ali mengerjapkan manik matanya sejenak. Kaget dengan pertanyaan Renjana itu.
"Belum." jawab Ali singkat.
"Oh ya? Mustahil."
Ali mengernyitkan dahinya menatap Renjana heran. "Mengapa mustahil?"
"Bang Ali itu tampan, cerdas dan menyenangkan, mustahil jika belum punya kekasih, " Ujar Renjana. Mendengar itu, Ali terkekeh geli ditempatnya.
"Saya masih belum ingin punya kekasih. Entahlah. Rasanya belum tepat saja. Ingin sukses dan bahagiakan Ibu dulu, baru berpikir soal kekasih, " Ujar Ali. Renjana menatap Ali sebelum akhirnya menganggukkan paham. Tiba-tiba netra Renjana membulat saat sekelompok orang dengan membawa senjata berjalan ke arah Renjana dan Ali.
"Jangan bergerak! cepat ikut!" Titah salah seorang dari mereka seraya menodongkan senjatanya. Ali menatap tajam kearah masing masing orang tersebut. Dapat dipastikan jika orang orang ini adalah utusan kelompok mawar hitam. Satu yang membuat Ali merasa heran adalah Renjana pun menjadi korban penodongan. Salah seorang dari mereka menyeret paksa Renjana, karena merasa tidak nyaman, akhirnya Ali mengeluarkan jurus beladirinya.
Ali merebut tangan Renjana dari tangan dan menariknya hingga gadis itu berdiri tepat dibelakang Ali. Dengan mudah Ali melayangkan tendangan, tinjuan, tangkisan ke arah orang orang yang mengancamnya tadi.
Satu per satu musuh dapat dijatuhkan dan Ali mampu menguasai situasi tanpa halangan berarti. Ia lalu membawa pergi Renjana menjauh dari tempat mereka beristirahat. Ali masih setia menggenggam jemari Renjana dan gadis itu pun mengekor dibelakang Ali, hingga tanpa diduga Renjana terjatuh. kakinya terkilir. Gadis itu menggeram tertahan saat Ali menyentuh pergelangan kakinya yang mulai membengkak. Tanpa pikir panjang, Ali meminta Renjana untuk naik di punggung pemuda itu. Ali kembali berlari sembari menggendong Renjana. Ali berlari sekuat tenaga untuk menghindari kejaran para penjahat tadi.
"Ada apa?" tanya Johan panik saat melihat aali tergopoh gopoh membawa Renjana di belakang tubuhnya. Begitu pula dengam sebagian besar masyarakat desa Muara. Ali membaringkan tubuh Renjana di lantai teras rumah kepala desa.
"Kami diserang, Renjana terkilir tadi saat kami melarikan diri, " ujar Ali dengan nafas terengah. Renjana segera mendapatkan perawatan sementara Ali menatap Johan penuh arti.
"Benar kalian diserang?" Tanya Johan setengah berbisik. Ali menganggukkan kepalanya.
"Untuk apa mereka menyerang gadis itu juga? Bukankah mereka sekutu?" Lanjut Johan. ali diam ditempatnya, menatap Renjana dari kejauhan dan juga Lindan yang barusaja datang bersama beberapa pemuda desa lainnya.
"Sepertinya mereka juga sedang menyelidiki kita, Bang. Sepertinya mereka ingin benar benar memastikan jika kita aman. "