Pagi pun menjelang, semalaman, Ali dan Johan bergantian untuk memejamkan mata, salah satu dari mereka bergantian berjaga dan kini Ali telah bersiap dengan pakaian olah raga, celana pendek dan sepatu ketsnya. Ia sengaja membawa serta kamera digitalnya saat berlari pagi itu.
“Ingat, kamu harus bisa mendekat ke tempat kelompok Mawar Hitam, jangan sampai ketahuan,” ucap Johan sebelum Ali melangkah pergi.
Keadaan desa masih sangat sepi pagi itu, udara begitu sejuk dengan kabut yang masih nampak sedikit tebal. Udara begitu dingin, namun Ali memaksakan diri untuk berlari pagidemi kebugaran tubuhnya dan demi tugas yang ia emban. Ali berdiri tepat di lereng bukit, dimana dari tempat itu ia dapat melihat dengan jelas camp militer Mawar Hitam yang ada di seberang Sungai Muara. Ali menghembuskan nafas panjang dan kembali menghirup nafas dalam-dalam, merasakan udara yang masih sangat bersih masuk dan berputar cepat dalam tubuhnya.
“Udara pegunungan memang beda,” ucap Ali seraya tersenyum.
“Bang Ali?”
Ali menoleh saat ia mendengar suara wanita memanggil namanya, dan diluar dugaan, ia bertemu dengan Renjana pagi itu.
“Jana? Pagi sekali sudah bangun?” tanya Ali sambil tersenyum.
“Jana mau mencuci di sungai, Bang,” ucap Renjana.
“Boleh Abang temani?” tanya Ali yang segera disambut anggukan dari Renjana. Kedua orang itu kini berjalan bersama menuju sungai.
“Kenapa tidak mencuci di sisi sebelah sana? Bukannya jauh lebih dekat letaknya?” tanya Ali, ia juga ingin mendapatkan kesempatan melihat camp militer Mawar Hitam itu dari dekat, namun ternyata Renjana memilih mencuci di tepi sungai dekat dengan air terjun.
“Ingat pembicaraan Jana kemarin, Bang, tempat itu berbahaya dan terlarang. Kami warga tidak boleh ada disana,” ucap Renjana. Ali mengangguk paham, ia juga tak lupa mengambil foto di sekitaran sungai, namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat beberapa oarng wanita disana sedang mencuci pakaian sekaligus untuk mandi.
“Ada apa, Bang?” tanya Renjana dengan senyum jahilnya.
“Sepertinya abang kembali pulang saja, banyak yang sedang mandi rupanya,” ucap Ali seraya menundukkan kepalanya. Renjana terkekeh geli ditempatnya.
“Di kota tidak pernahkah abang mencuci baju di sungai macam begini? Kami kalau mencuci baju memang sekalian mandi, Bang,” ucap Renjana. Ali menggaruk tengkuknya yang tak gatal kemudian memilih untuk meninggalkan tempat itu. Renjana berjalan dengan membawa setumpuk pakaian dalam sebuah ember dan mulai bergabung dengan para wanita di tepian sungai itu.
“Dekat rupanya kau dengan orang kota itu?” tanya salah seorang ibu-ibu yang terkenal senang bergosip itu saat melihat Renjana datang. Renjana hanya mengulum senyumnya, enggan menimpali dan menanggapi omongan orang itu.
“Ingatlah kau, Jana. Lindan itu calon suami kau, jangan kau khianati dia hanya karena cinta sesaatmu dengan orang kota itu. Belum pernah kena tipu orang kota, kemakan rayuan orang kota, kena tipu baru tahu,” lanjutnya lagi. Renjana hanya diam, gadis itu lebih memilih melanjutkan acara mencucinya agar cepat selesai dan segera pergi dari tempat itu.
“Ali!” Sapa Lindan.
Ali tersenyum seraya berjalan menghampiri Lindan yang sedang duduk bersama dengan beberapa laki-laki lainnya. Rupanya mereka sedang bekerja sama membuat anak panah.
“Sedang buat apa, Bang?” tanya Ali ramah.
“Buat anak panah, kau tidak tahu kan jika anak kampong Muara pandai memanah?Mari lihatlah kami,” ajak Lindan. Ali berjalan menuju sebuah tanah lapang yang sangat luas, disana sudah tertata beberapa sasaran dari anak panah itu dan sebuah lintasan.
“Kuda itu untuk apa?” tanya Ali saat ia menyadari ada beberapa ekor kuda yang terikat di bawah pohon sedang menyantap makanannya tepat di pinggir lapangan besar itu. Lindan tersenyum dan merangkul Ali.
“Kami akan latihan memanah, dengan menaiki kuda itu,” ucap Lindan. Pemuda itu kemudian berjalan kearah kuda yang sedang diikat itu, memilih salah satu kuda yang nampak gagah dan paling tinggi.
“Lihatlah, Ali,” teriak Lindan.
Pemuda itu mempersiapkan anak panah dan busur di tangan kanannya. Seperti seorang ahli, Lindan mengendarai kuda tersebut masuk kedalam perlintasan dan mulai melesatkan anak panah dari busur yang ia bawa. Ali tertegun, ternyata Lindan lebih hebat dari yang ia duga. Anak panahnya mampu melesat dan mengenai inti dari sasaran tembaknya, yang lebih hebat lagi, kuda tersebut sama sekali tidak berhenti berlari.
“Tidak saya sangka, kau hebat juga rupanya, Bang,” ucap Ali seraya tersenyum saat melihat Lindan berjalan kearahnya usai memperlihatkan aksinya.
“Biasa saja, banyak dari kami yang dapat melakukan hal tersebut lebih baik dari saya. Kau belum tahu saja Renjana jika sudah unjuk diri. Dia sangat hebat,” ucap Lindan seraya menepuk lengan Ali sebelum akhirnyapemuda itu memberikan arahan dan penjelasan pada beberapa pemuda yang sepertinya baru pertama kali akan melakukan aksi memanah dengan kuda tersebut.
Ali kembali mengambil gambar disetiap tempat di sekitar lapangan itu. Netranya kemudian terkunci pada sosok laki-laki setengah baya yang nampak begitu berbeda dengan penduduk lainnya. Dia nampak sangat gagah dan mengenakan pakaian serba hitam, mirip seperti pakaian dinas lapangan ala tentara dengan baret hitam dan kaca mata hitam. Ali kemudian membidikkan kameranya kearah orang berpakaian hitam itu sebelum akhirnya kembali mengarahkan kamera menuju lapangan lagi.
Ia kembali tersenyum saat melihat Renjana sudah nampak rapi dan terlihat cantic dengan balutan busana sederhana, celana kain berwarna hitam dan kemeja lengan pendek kotak-kotak. Gadis itu rupanya tidak terlalu senang mengenakan alas kaki. Renjana kini telah bersiap diatas kuda yang tadi sempat ditunggangi oleh Lindan.
“Ini akan jadi pertunjukan yang menarik, siapkanlah kameramu, “ ucap Lindan yang kembali mendekati Ali. Ali kembali membidikkan kamera digitalnya kearah Renjana yang sedang menampilkan aksinya. Dia mengendari kuda terlebih dahulu dengan berputar putar, seolah memberikan kecepatan yang tepat pada kuda yang ia tunggangi agar sesuai dengan jalurnya. Tak lama Renjana mengeluarkan anak panah dari belakang dan memasang pada busur panahnya, dengan satu tarikan nafas, Renjana melesatkan anak panah itu, bukan hanya mengenai inti dari sasarannya, anak panah yang dilesatkan oleh Renjana juga berhasil membelah anak panah yang menamcap pada sasaran.
Aksi kedua, kali ini REnjana mengambil tiga anak panah sekaligus, ia masih berputar putar dengan kudanya, sedikit berdiri ditempatnya dan melesatkan anak panahnya. Ali tersenyum kagum saat ketiga anak panah itu mengenai tiga sasaran yang berbeda sekaligus.
Kali ini REnjana telah menghentikan kudanya dan turun untuk mengambil anak panah yang telah disiram dengan minyak dan dinyalakan sehingga api di ujung anak panah itu berkobar besar. Renjana melakukan salto sembari melesatkan anak panah tersebut dan berhasil membakar orang-orangan sawah yang ada di ujung lintasan.
“Dia memang tidak pernah mengecewakan,” ucap Lindan dengan senyum lebarnya. Ali menoleh dan kembali menatap Renjana.
Gadis itu nampak lugu, tapi dibalik keluguannya ternyata dia sangat berbahaya. Batin Ali. Kali ini, Ali memilih untuk beranjak dari tempatnya dan memutuskan untuk pulang ke rumah, memberikan laporan tentang hasil temuannya kali ini pada Johan. Namun langkahnya kembali terhenti saat ia melihat orang berseragam serba hitam tadi nampak sedang berbincang dengan Priyanto. Ali bersembunyi di balik rumah warga dan mengawasi pertemuan itu dari kejauhan. Ali kembali membidikkan kameranya terlebih saat salah satu anak buah dari orang berseragam serba hitam itu memukul Priyanto tepat di perutnya dan membuat pria setengah baya itu meringkuk dan jatuh tersungkur diatas tanah. Manik mata Ali memicing saat orang berpakaian serba hitam itu pergi dengan menggunakan jeep beroda besar dan dengan cepat memecah hutan. Melihat Priyanto masih tersungkur, Ali segera berlari dan menghampiri pria setengah baya itu.
“Pak, apa bapak baik-baik saja?” tanya Ali seraya membantu Priyanto berdiri. Melihat kehadiran Ali, Priyanto terperanjat, netranya membulat tidak percaya jika pemuda itu kini sudah berada dihadapannya.
“Kamu? Ada apa disini? Ini bukan jalan umum, Ali,” ujar Priyanto dengan suara tercekat.
“Maaf , Pak, jujur tadi saya lihat Bapak diseret oleh orang itu dan dipukul, saya tidak tahu apa masalah Bapak tapi yang jelas saya hanya ingin memastikan jika bapak baik-baik saja,” ujar Ali seraya tersenyum.
“Saya baik, Nak. Tidak masalah,” ucap priyanto seraya melangkah perlahan hendak meninggalkan Ali.
“Saya antar pulang, Pak?” tawar Ali namun Priyanto menolak dengan hanya menggelengkan kepalanya, tidak menjawab atau bahkan mengatakan sepatah katapun. Ali memperhatikan pria setengah baya itu hingga hilang di balik tikungan jalan sebelum akhirnya Ali kembali pulang.
“Makanlah, abang masak mie instan,” ucap Johan seraya memperlihatkan hasil karyanya mie rebus instan lengkap dengan telur dan cabe serta nasi putih.
“Kenapa joggingnya lama sekali?” lanjut Johan saat melihat Ali duduk di sampingnya hendak mengambil jatah sarapannya.
“Banyak hal yang sayang untuk dilewatkan, bang,” ucap Ali seraya menyodorkan kamera dan hasil bidikannya pada Johan. Tanpa pikir panjang Johan melihat setiap foto yang ada pada kamera tersebut.
“Ali ini kan—“ Johan terdiam sejenak saat ia sampai pada sebuah foto laki-laki setengah baya dengan pakaian serba hitam.
“Abang kenal?” tanya Ali dengan dahi yang mengernyit.
“Kolonel Guntur. Sasaran utama kita.” Bisik Johan. Ali terdiam ditempatnya, membulatkan manik matanya dan menatap Johan tak percaya. Ali segera merebut kamera tersebut dan memperlihatkan foto saat Priyanto diseret dan dipukul oleh anak buah orang yang disebut sebagai Kolonel Guntur itu.
“Sepertinya kita harus mendekati Pak Priyanto,” gumam Johan.
“Ngomong-ngomong, saya tidak pernah diberi tahu siapa sasaran utama kita, kenapa Abang bisa tahu?” tanya Ali heran. Johan mengembuskan nafas kasar seraya menyecap kopi yang ia buat.
“Atasan memandang, abang sebagai komandan operasi dilapangan, semua informasi yang dimiliki pihak kita tentang musuh hanya mereka sampaikan pada abang. Tidak perlu semua orang tahu, tugas abang yang nantinya akan memberi tahu kamu. Sepertinya kita perlu menyusup lebih dalam lagi, Ali,” ucap Johan. Ali kembali mengernyitkan dahinya.
“Maksud abang apa?”
“Kita harus masuk menjadi anggota mawar hitam.”