“Apa maksud anda, Bang?” tanya Renjana seraya mengernyitkan dahinya, menatap Ali tidak suka. Ali terdiam sejenak seraya menatap Renjana dan tersenyum kecil.
“Maaf, bukan maksud saya—“ Ali menggantungkan ucapannya setelah mendapat pelototan tajam dari Renjana dan sorot tidak suka dari netranya. Tanpa pikir panjang gadis itupun bergegas pergi meninggalkan Ali.
“Untuk apa membuatnya kesal?” bisik Johan sedikit heran. Karena menurutnya, Ali telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekati Renjana diam-diam. Ali menoleh dan menggedikkan bahunya acuh. “Sepertinya kata-kata tadi meluncur saja dari mulut saya, Bang. Saya sudah berhasil membuat dia kesal, sekarang giliran saya mendekati dia dengan perasaan bersalah dan permintaan maaf, percayalah, Bang. Walaupun saya belum banyak berpengalaman berbicara dengan perempuan, tapi saya yakin cara ini tidak akan meleset,” ujar Ali, Johan mentap Ali sejenak sebelum akhirnya menghembuskan nafas berat.
“Aku percayakan semua padamu. Kau urus gadis itu dan aku urus Lindan,” ucap Johan seraya menepuk bahu Ali beberapa kali.
Hari berganti hari, keadaan pun berangsur pulih, selama hampir satu minggu, kegiatan di markas berhenti. Mayor RIngga memutuskan untuk tidak menerima pengobatan dan pelayanan dalam bentuk apapun di markasnya kecuali situasi telah dinyatakan membaik. Dan inilah dia, suasana dan situasi di Markas Komando telah berangsur membaik, Ali dan Johan menyempatkan diri untuk berpamitan dengan Mayor Ringga beserta jajarannya dan seluruh anggota relawan.
“Memangnya kalian tidak kembali lagi kemarkas ini setelah penelitian usai?” tanya Kayana seraya menatap Ali penuh arti. Ali tersenyum tipis. “Saya juga tidak tahu, karena kami tidak tahu bagaimana kondisi dan situasi di Distrik Maura. Jika semua dapat berjalan dengan baik, mungkin kami punya kesempatan kembali ke markas. Jika penelitiannya ternyata berlangsung lebih lama dari pada masa pengabdian sebagai relawan, bisa jadi ini adalah pertemuan terakhir kita, Kay. Tidak ada salahnya untuk berpamitan, bukan?” ucap Ali. Kayana mengangguk dan menjulurkan tangannya menjabat tangan kekar Ali sebelum akhirnya Ali dan Johan turut berjalan mengikuti langkah kaki Lindan dan seluruh warga Distrik Muara.
“Sepertinya kalian sudah mahir jalan jauh. Biasa naik gunung kah?” tanya Lindan seraya menoleh ke belakang menatap Johan dan Ali bergantian.
“Kami memang teman naik gunung bersama, Bang. Melintas hutan seperti ini sudah biasa,” jawab Johan. Renjana berjalan tepat dibelakang Ali dan selama perjalanan itupun REnjana hanya diam, tidak mengeluarkan sepatah katapun kecuali Lindan atau warga Distrik Muara itu bertanya sesuatu padanya.
“Anda masih marah dengan saya?” tanya Ali setengah berbisik sembari menoleh pelan ke belakang, mencoba mengajak Renjana berbincang. Gadis itu mendongak menatap Ali sejenak namun tak lama kembali mengalihkan pandangannya ke sekelilingnya. Ali menghembuskan nafas panjang, namun Ali tidak menyerah, pemuda itu sekali lagi mencoba mengajak Renjana berbincang.
“Saya minta maaf untuk perkataan saya kemarin. Saya tahu itu tidak pantas,” bisik Ali. Renjana kembali menatap tajam kearah Ali sebelum akhirnya memutar kedua bola matanya malas dan kembali menatap kearah lain. Sesekali Ali menatap kearah belakang, REenjana nampak berjalan dengan begitu percaya diri dengan beberapa anak panah di belakang tubuhnya dan busur panah yang senantiasa ia pegang ditangan kanannya.
Sreg!
Terdengar sebuah suara mencurigakan yang membuat rombongan itu berhenti seketika dan menundukkan kepalanya.
“Waspada. Tundukkan kepala,” titah Lindan. Ali dan Johan saling melirikkan manik matanya, kedua pemuda itu saling menahan emosi dan keinginannya untuk beraksi seperti layaknya para prajurit. Ali mendongak menatap Renjana yang perlahan mengambil anak panah di belakang punggungnya dan perlahan memasang anak panah itu pada busur panah itu.
“Jana!” tegur Lindan saat REnjana kini tengah bersiap menembakkan anak panahnya. Lindan nampak memberikan kode pada REnjana agar tidak melakukan pergerakan mencurigakan. Lindan menggunakan gerakan tangan seperti seorang sedang melambaikan tangan lalu tangan tersebut terkepal. REnjana melirikkan manik matanya pada Lindan, merasa paham dengan kode yang disampaikan Lindan, Renjana pun kembali pada persembunyiannya. Johan menatap dengan seksama setiap gerakan dan gesture yang di lakukan oleh Lindan dan itu benar-benar menarik bagi Johan.
Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih empat jam, akhirnya rombongan itupu sampai di Distrik Muara. Ali dan Johan dibawa untuk menghadap pada Priyanto untuk memberikan laporan kedatangan dan juga niat mereka datang di Distrik Muara tersebut.
“Rumah saya tidak terlalu besar untuk menampung kalian berdua, lebih baik kalian tidur di rumah Renjana, biar anak itu tidur disini bersama kami,” ujar Priyanto, Johan dan Ali saling menatap sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju. Renjana menunjukkan rumah kediamannya yang tidak terlalu besar itu. Ia sedikit membereskan tempat tidurnya sebelum akhirnya mempersilahkan kedua pemuda itu untuk masuk.
“Kamar mandi ada di belakang rumah. Di rumah ini hanya ada satu kamar, maaf, rumah saya tidak terlalu besar,” ucap Renjana usai mempersilahkan Johan dan Ali. Johan mengangguk sebelum memutuskan untuk masuk kedalam rumah sementara Ali memilih berdiri dihadapan Renjana yang kini sedang sibuk mengisi persediaan air bersih pada kendi di depan rumah sederhana itu.
“Renjana,” sapa Ali.
“Saya sudah tidak mempermasalahkan lagi, Bang.” Ucap REnjana sambil lalu.
“Tapi sepertinya kamu masih marah pada saya, Jana,” ujar Ali. Renjana menoleh dan kembali menatap tajam. Gadis itu nampak menghembuskan nafas kasar sebelum akhirnya menatap Ali yang kini sedang menjulurkan tangannya, meminta maaf.
“Maafkan saya, maukah kamu berteman dengan saya, Jana?” tanya Ali dengan senyum tulusnya. Renjana menatap tangan itu sebelum akhirya mengangguk dan tersenyum lalu membalas jabat tangan Ali.
“TEman?”
“Teman.”
Ali dan Renjana saling menatap sejenak satu dengan yang lainnya sebelum tiba-tiba kecanggungan menyergap mereka tiba-tiba. Ali mencoba untuk berdeham dan melepaskan jabat tangannya.
“Jadi, Abang ini masih sekolah?” tanya Renjana kemudian, menetralkan rasa canggungnya. Ali tersenyum dan mengangguk. “Saya mahasiswa, Jana, sudah tingkat akhir jadi mendapat tugas pengabdian masyarakat dari dosen kami. Oya, apa kamu mau mengajak saya berkeliling desa, Jana? Terakhir kali kemari, saya masih belum bisa berkeliling jauh ditempat ini,” pinta Ali. Renjana tersenyum lalu mengangguk antusias.
Seolah tidak memiliki rasa lelah, Ali berlari menuju ke dalam kamar dan mengambil kamera digital miliknya.
“Mau kemana?” tanya Johan sedikit terkejut saat melihat Ali melintas dengan cepat.
“Berkeliling, Bang.”
“Sama siapa?”
“Renjana.”
Johan membulatkan manik matanya terlebih saat Ali memberikan cengiran kudanya, seolah dia telah berhasil memperoleh apa yang ia inginkan. Johan tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
“Lakukan tugas dengan baik. Jangan lupa fotonya,” ucap Johan. Ali mengangguk sebelum akhirnya berpamitan dengan Johan.
“Apa kamu lelah, Jana?” tanya Ali saat Renjana nampak berjalan pelan dan sedikit memberi jarak antara dirinya dan gadis manis itu. Renjana mendongak dan tersenyum.
“Tidak, Bang. Hanya sedikit aneh rasanya saya jalan berdua begini dengan seorang pria asing,” jawab REnjana sembari menundukkan kepalanya. Mendengar ucapan itu Ali tersenyum sembari membidikkan kameranya kearan Renjana.
“Kita kan teman, tidak masalah jika jalan berdua. Saya juga tidak akan macam-macam,” jawab Ali seraya membidikkan kameranya. Ali memotret hampir setiap sudut desa itu termasuk beberapa penduduk yang sedang berkumpul duduk untuk mencari kutu, anak-anak yang sedang bermain dengan riang dan beberapa orang pria yang sedang membenarkan rumah mereka. Semua tidak luput dari bidikan kamera Ali.
“Jana, sana itu tempat apa?” tanya Ali saat mereka berada di ujung jalan kampong yang berbatasan langsung dengan hutan. Namun dari pengamatan Ali, hutan dibawah sana bukanlah sembarang hutan, terdapat air terjun dan juga aliran sungai. Ali membidikkan kamerannya kearah tujuan yang membuatnya sedikit curiga. Ali memperbesar zoom pada kameranya dan kembali mengambil foto.
“Itu Sungai Muara. Daerah terlarang,” jawab Renjana. Ali mengernyitkan dahinya, mendengar kata terlarang dari mulut Renjana.
“Terlarang?”
Renjana menganggukkan kepalanya.
“Kabarnya tempat itu tempat terlarang, kami sejak kecil tidak boleh bermain hingga ke Sungai Muara atau kami akan hilang,” jawab Renjana. Ali terdiam sejenak lalu tak lama kemudian ia mengangguk. Ali mengambil gambar sekali lagi sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang kerumah tempatnya beristirahat.
“Terimakasih sudah menemani saya berkeliling sore ini, Jana,” ucap Ali. Renjana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Jika Abang ingin berkeliling lagi, jangan sungkan untuk menyampaikan pada Jana, dengan senang hati akan Jana temani,” ucap Renjana. Ali mengangguk dan menatap Renjana yang kini tengah menjauh.
“Bagaimana?” tanya Lindan saat menemui Renjana ditengah jalan sepulang Renjana menemani Ali berkeliling tadi.
“Tidak ada yang mencurigakan, Bang. Mereka hanya dua orang yang masih sekolah yang mendapat tugas pengabdian di daerah sini. Memang apa yang abang curigai?” tanya REnjana bingung, karena menurutnya Ali dan Johan bukanlah orang yang patut dicurigai. Mereka hanya dua orang pemuda kota yang sedang belajar hidup sederhana di kota. Lindan terdiam sejenak.
“Laporkan saja pada Kolonel. Kita sudah ditunggu dimarkas,” ujar Lindan.
***
“Menurut Abang, tempat apa ini?” tanya Ali seraya menunjukkan hasil foto yang membuatnya sedikit curiga itu. Johan menatap kamera itu dengan seksama lalu menghembuskan nafas panjang.
“Tidak terlalu jelas. Sepertinya kita perlu melepaskan drone, Al,” ucap Johan. Ali mengangguk setuju, pemuda itu segera mengambil peralatan drone nya dan menerbangkannya. Drone tersebut berukuran sangat kecil, hanya serupa burung pipit jadi tidak terlalu membuat orang orang sekitarnya merasa curiga dan menaruh perhatian lebih pada alat tersebut.
“Perhatikan jalan dengan seksama, lebih baik terbang diatas pohon, Al,” ujar Johan. Ali mengangguk setuju dan kemudian menerbangkan drone tersebut lebih tinggi lagi.
“Penerangannya tidak terlalu baik, tapi untung vision night drone ini bagus,” ujar Ali. Tak lama kemudian mereka dapat melihat hasil visual dari tampilan drone yang barusaja diterbangkan beberapa saat itu.
“Ini dia, camp militer Mawar Hitam!” pekik Johan. Ali kemudian mengaktifkan mode rekam pada drone tersebut dengan maksud memberikan laporan pada atasan mereka nantinya.
“Sepertinya ada pergerakan, Bang,” ujar Ali kemudian. Johan kembali memicingkan manik matanya kearah monitor kecil yang ada di genggaman tangan Ali. “Zoom in!” perintah Johan. Seketika Johan dan Ali membulatkan manik matanya saat melihat Lindan dan Renjana bersama dengan beberapa orang lain berjalan menuju salah satu pondok semi permanen yang ada di daerah camp militer tersebut.
“Apa mereka benar-benar anggota Mawar Hitam, Bang?” tanya Ali.
Johan terdiam sejenak. Sepertinya penyusupan kali ini bukanlah penyusupan biasa.
“Mereka sepertinya melakukan penyusupan juga, Al menjadi warga biasa dan menyusup ke markas kita. Bisa jadi mereka datang ke camp tersebut untuk melaporkan temuan mereka saat mereka berada di markas komando kemarin,” ucap Johan.
“Bang, bisa jadi p*********n itu juga—“
Kedua pemuda itu saling menatap dan berhenti bicara sejenak.
“p*********n itu bisa jadi bagian dari rencana mereka, mulai saat ini kita tidak boleh mempercayai siapapun kecuali kita sendiri. Kita tidak tahu siapa lawan dan siapa kawan terutama penduduk disini. Sudah barang tentu kita juga akan diawasi jadi lebih baik kita lebih berhati-hati. Tarik mundur drone,” ucap Johan sedikit berbisik saat ia mendengar suara langkah kaki di sekitar rumah yang mereka tinggali itu.
“Ali, bereskan barang barang berharga kita, simpan ditempat yang benar,”pinta Johan. Ali mengangguk paham, dengan cekatan pemuda itu merapikan seluruh barang bawaannya dan menarik pulang drone kecil yang tadi mereka terbangkan.
“Ada lima orang berjaga disekitar rumah ini, Bang,” ucap Ali saat ia melihat keadaan diluar rumah dari visual drone tersebut.
“Tunggu dulu, kita lihat apa yang ingin mereka lakukan,” bisik Johan. Pemuda bertubuh kekar itu beranjak dari tempatnya dan dengan langkah jingkat berjalan menuju ke belakang rumah. Johan sudah berjaga jaga membawa benda berupa penumbuk padi yang ada di dapur rumah itu, sementara Ali memberikan kode jika orang orang tersebut akhirnya telah pergi dari rumah mereka.
“Mereka itu siapa kira-kira?” tanya Ali.
“Pilihannya hanya dua, perampok atau anggota Mawar Hitam,” ucap Johan. Setelah merasa lingkungan sekitar rumah tersebut aman, Johan memberanikan diri keluar rumah, memeriksa dengan seksama apa yang dilakukan oleh orang-orang tadi di depan rumah tempat tinggalnya. Ia mengernyit heran saat melihat sebuah tanda silang di salah satu pintu masuk rumah.
“Rumah kita sudah ditandai,” ucap Johan. Ali mengernyitkan dahinya heran. “Tapi untuk apa, Bang?” Johan terdiam sejenak, kembali memeriksa sekeliling sebelum akhirnya kembali masuk kedalam rumah.
“Mereka bukan orang sembarangan, rumah kita ditandai, kemungkinannya ada dua hal, kita merupakan target mereka selanjutnya atau mereka hanya ingin melihat kesigapan kita. Jika kita sigap dan berlagak seperti sangat waspada, mereka akan curiga jika kita adalah aparat. Dan saya sudah melakukannya, saya hanya berharap jika mereka tidak mencurigai kita terlalu cepat sebelum kita mendapatkan titik terang.”