“Sepertinya lebih baik warga dari distrik Muara itu, biarkan saja tetap disini. Keadaan tidak memungkinkan bagi mereka untuk kembali ke distriknya. Terlalu berbahaya,” ujar Mayor Ringga pada Lettu Hans saat pria gagah itu memberikan arahan pada beberapa anak buahnya. Hans mengangguk setuju.
“Sepertinya kita harus memperketat penjagaan di setiap sudut markas ini. Mereka sudah berani menyerang markas kita secara terang-terangan, terlebih ada beberapa warga sipil yang memang berlindung didalam area markas ini. Bagaimana pun juga kita harus dapat melindungi warga sekitar semaksimal mungkin. Lettu Hans, sepertinya kita perlu membagi prajurit untuk melaksanakan patroli rutin di sekitaran markas, dengan radius lima kilometer keluar, latihan menembak dan kemampuan individu masing-masing prajurit harus lebih sering dilakukan. Saya sudah melaporkan kejadian p*********n semalam pada kantor pusat, kemungkinan besar, pusat komando akan memberikan personel tambahan untuk membantu kita disini,” lanjut Mayor Ringga. Ali memperhatikan setiap arahan Mayor Ringga dengan berpura-pura menyapu di sekitaran tenda tempat para tentara itu sedang melaksanakan apel dan juga rapat koordinasi. Ali terdiam dan mendongak saat melihat salah seorang anggota tentara itu memberikan surat pada Johan.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Ali segera berlari menghampiri Johan yang berjalan masuk ke dalam barak.
“Surat dari siapa, Bang?” tanya Ali setengah berbisik. Johan mendongak sejenak sebelum akhirnya kembali membuka surat yang barusaja ia terima itu.
“Dosen kita. Kita diberi tugas akhir untuk membuat karya tulis berkaitan dengan pengabdian masyarakat ini dan Pak Dosen juga meminta kita memberikan data nyata dilapangan,”jawab Johan. Ali mengangguk paham, ia tahu ucapan Johan itu hanyalah kamuflase. Johan membaca sejenak surat tersebut sebelum akhirnya memilih untuk membakar surat itu. Ali menatap Johan penuh arti sebelum akhirnya Johan tersenyum. “Kalau begitu kita lebih baik ke daerah mana, Bang?” tanya Ali. Johan terdiam sejenak sebelum akhirnya keduanya menoleh saat melihat Lindan berdiri di ambang pintu barak relawan laki-laki itu.
“Ada apa? Sepertinya kalian berdua serius sekali,” tanya Lindan seraya masuk dan duduk di bangku tepat dihadapan Johan dan Ali berdiri.
“Bang Johan, dapat surat dari dosen kami di Jakarta, katanya kami harus melakukan pengabdian di daerah dan memberikan data nyata di lapangan. Sepertinya kami harus mengeksplorasi daerah Pulau We dan masyarakatnya, Bang,” ucap Ali.
“Bagaimana kalau kami melakukan penelitian di Distrik Muara?” tanya Johan cepat. Lindan menatap Johan sebelum akhirnya pria itu tersenyum tipis.
“Silahkan saja.Kami siap menerima kehadiran orang baru. Dari ketiga distrik yang ada di daerah Pulau We, Distrik Muara adalah wilayah yang paling luas dengan jumlah penduduk paling banyak. Sepertinya akan cocok jika menjadi sasaran pengumpulan data,” ucap Lindan. Ali dan Johan saling melirikkan manik mata mereka sebelum akhirnya mengangguk setuju.
“Lindan,” sapa Lettu Hans saat melihat Lindan sedang berada di barak relawan. Lindan mengangguk seraya berjalan kearah Lettu Hans.
“Ada kabar terbaru, sepertinya kamu dan juga rombongan warga Distrik Muara tidak dapat kembali ke Distrik kalian dalam waktu dekat karena kejadian semalam. Tidak ada seorang pun yang diperkenankan melewati portal jalan itu menuju hutan. Jadi, saya harap kamu dan rombongan warga dari Distrik Muara dapat mengerti situasi ini,” ucap Hans. Lindan mengangguk paham. Ia lalu menatap sekelilingnya, mencari keberadaan Renjana yang ternyata sedang asyik bernyanyi dan menari dengan beberapa anak yang ada di markas tersebut.
“Dia memang calon ibu yang baik,” gumam Lindan yang masih dapat didengar oleh Ali dan juga Johan. Ali menatap Renjana, merasa memang ucapan Lindan barusan tidaklah salah. Renjana memang memiliki segala hal yang membuat lawan jenis tertarik, tidak terkecuali Ali. “Renjana itu calon istri Lindan, Bang,” tutur Ali saat melihat alis Johan bertaut menanyakan kebingungan dalam pikirannya. Johan mengangguk paham lalu menatap Lindan yang lebih memilih menghampiri istrinya itu.
Ali dan Johan memutuskan untuk membersihkan sekelilling barak, mereka menyapu dan menyiram tanaman sebelum akhirnya mengambil jatah makan siang mereka berupa nasi bungkus dan memilih menyantap makanan itu di bukit belakang barak. Bukit tersebut rupanya menjadi tempat singgah favorit bagi Ali dan Johan untuk bertemu disela sela kesibukan mereka masing-masing, tempat yang tepat untuk membahas rencana penyusupan kedepan.
“Komandan meminta kita menyelidiki secara menyeluruh distrik muara hingga pemimpin dan camp militer yang mereka miliki. Kita harus bekerja ekstra keras untuk melaporkan situasi, prajurit yang tergabung dengan kelompok itu dan topografi wilayah,” ujar johan sebelum memasukkan suapan nasi pertamanya kedalam mulutnya.
“Bagaimana jika kita bergabung saja dengan mawar hitam, Bang? Sepertinya cara itu leih efektif untuk melakukan penyusupan karena kita bisa memberikan sabotase lebih leluasa pada musuh,” bisik Ali.
“Kabarnya pemimpin tertinggi mereka adalah mantan pasukan elit tentara kita. TEntu saja dia memiliki cara pandang tersendiri pada anggotanya dan orang asing yang tiba-tiba ingin bergabung. Ditakutkan jika kita memaksa bergabung, justru akan memperkeruh masalaha karena pemimpin mereka akan segera mengetahui jika kita bukanlah warga sipil biasa,” ucap Johan. “..Aku pikir, dengan adanya Renjana, bisa menjadi sasaran empuk bagi kita untuk mengorek informasi lebih banyak, tapi ternyata dia calon istri orang,” lanjut Johan. Ali mengernyitkan dahinya menatap kearah Johan penuh curiga.
“Memang kenapa kalau Renjana itu jodoh orang, Bang?” tanya Ali dengan mata sedikit menyipit.
“Percintaan adalah cara yang tepat untuk menyusup. Saya kira bisa memanfaatkan wajah tampanmu itu untuk memikat Renjana dan mengorek informasi dari gadis polos itu tapi ternyata dia sudah ada jodohnya,” ucap Johan seraya terkekeh. Ali terdiam sejenak, ia menatap kertas bungkus makanannya yang telah kosong sebelum akhirnya meremas kertas bungkus itu dengan tangan kanannya.
“Renjana itu walaupun masih terkesan polos, tapi menurut saya dia bukanlah tipe wanita yang gampang terbuka dengan orang baru. Saya akan mencoba mendekati Renjana melalui cara yang lain, sementar Abang pantau orang bernama Lindan itu. Kalau melihat dari gelagat dan sorot matanya, dia tidak sebaik yang kita kira,” ucap Ali. Johan mengangguk setuju. “Sepertinya memang demikian. Lindan terlalu misterius, bisa bisanya dia datang dan ada di dekat kita saat kita membahas hal paling penting. Dari cara dia menembak semalam saja, saya sudah dapat menyimpulkan jika pemuda itu bukanlah orang sembarangan,” ucap Johan.
Ali terkesiap saat mendengar suara gaduh dari arah barak, banyak orang berlari dan berkumpul di lapangan markas tersebut. Johan dan Ali pun tak kalah penasaran, setelah selesai membersihkan tangannya kedua pemuda gagah itu segera berlari dan brkumpul dengan beberapa prajurit dan warga lainnya.
“Siapa itu?” gumam Ali saat melihat ada dua sosok mayat dengan luka tembak di tubuhnya digeletakkan begitu saja diatas tanah lapangan markas tersebut.
“Sepertinya mereka penyerang kita kemarin,” ucap Johan. Mayor Ringga memutuskan untuk memakamkan kedua orang tersebut secara layak setelah dimandikan.
“Kenapa tidak dibakar saja, Ndan?” celetuk salah seorang anggota. Mayor Ringga tersenyum.
“Bagaimanapun mereka ini sama dengan kita, mereka sama sama manusia, punya budi pekerti dan punya kasta paling tinggi diantara makhluk hidup. Sudah barang tentu kita harus memperlakukan mereka walau sudah menjadi mayat dengan baik dan layak,” jawab Mayor Ringga. Pria gagah itu berjalan menghampiri Lettu Hans yang sejak tadi sudah diminta mengamankan beberapa barang berharga yang sekiranya dapa menjadi bukti serta petunjuk dari p*********n semalam.
“Apa yang kalian dapatkan?” tanya Mayor Ringga pada Lettu Hans.
“Siap, ijin memberikan laporan, jika menurut tim medis yang bertugas mengotopsi dan memeriksa keadaan fisik luar dari korban, terdapat tato mawar hitam di d**a kanan mereka, Ndan. Selebihnya untuk senjata yang digunakan, mereka hanya menggunakan senjata rakitan dan panah yang sepertinya sudah di bubuhi racun,” ujar Hans memberikan laporannya. Mayor Ringga menatap kea rah beberapa barang bukti yang berhasil diamankan oleh petugas.
“Bang, sepertinya dua orang yang tewas itu adalah pelaku penembakan semalam,” ucap Ali setengah berbisik. Johan menganggukkan kepalanya tipis, namun sepasang netra tajam Johan tidak tertarik menatap mayat yang barusaja dimandikan itu. Ia justru tertari saat melihat raut wajah dari Renjana. Gadis itu nampak sekali menahan tangisnya susah payah, ditambah lagi gadis itu tidak ingin menatap kedua korban yang tewas itu. Pandangan Johan lalu beralih pada Lindan yang sejak tadi menatap tajam kearah orang yang tewas itu. Lindan menatap nanar kearah salah satu korban tewas itu sebelum akhirnya peuda jangkung itu lebih memilh untuk meninggalkan lapangan markas tersebut.
“Bang..”desis Renjana saat mendapati Lindan berdiam diri dan meringkuk sendirian di dalam gudang logistic.
“Ada apa?” tanya Lindan seraya beranjak dari tempatnya. Renjana diam, ia masih terus menatap kearah Lindan dengan sepasang matanya yang menyorot begitu sendu. Lindan menghembuskan nafas kasar sebelum akhirnya memutuskan untuk melangkah pergi, namun tangan lembut Renjana berhasil menghalangi Lindan.
“Tidak Cuma Abang yang merasa sakit dan kehilangan, akupun merasakan hal yang sama,” ujar Renjana setengah berbisik. Mendengar ungkapan simpati Renjana, Lindan mendengus tertawa kemudian, Ia menatap Renjana dengan sorot meremehkan.
“Jangan kau samakan aku dengan kamu, Jana. Tidak ada yang merasa sakit atau kehilangan, semua ini hanyalah bagian dari perintah,” ujar Lindan sebelum akhirnya menghempaskan tangannya dari genggaman Renjana dan berlalu pergi. Ali terus mengawasi kedua sejoli itu dari kejauhan, setelah merasa Renjana hanya berdiri sendirian, Ali pun mendekat.
“Ada apa?” tanya Ali saat melihat REnjana meneteskan air matanya. Gadis itu buru-buru menghapus air mata yang mengalir itu dan menatap Ali seraya menggelengkan kepalanya.
“Apa kau mengenal orang yang tewas tertembak tadi?” tanya Ali langsung pada pokok masalahnya. REnjana mengernyitkan dahinya, ia nampak diam beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.
“Dulu orang itu tinggal di Distrik Muara, tapi sejak dua tahun terakhir tidak nampak lagi. Kabarnya mereka bergabung dengan kelompok bersenjata yang sering membuat onar itu. Saya tidak terlalu paham karena orang itu adalah teman kecil saya dan kami sudah lama tidak bertemu,” jawab Renjana. Ali mengangguk paham. Ali menatap Renjana dengan seksama, tatapan mata gadis itu berbeda. Renjana menyembunyikan sesuatu.
“Apa anda bersedih, Nona?” tanya Ali kemudian. REnjana menoleh, menatap Ali sebelum akhirnya tersenyum. “Tidak, Bang. Saya tidak bersedih, Jika anda tadi melihat saya menangis itu karena saya sedang terlibat perbedaan pendapat dengan Bang Lindan. Biasa pasangan memang selalu demikian,” ucap REnjana seraya tersenyum kecil. Ali membalas senyum itu dan sesekali menatap Renjana lekat.
“Apa kau mencintai Lindan?”