“Renjana?” gumam Ali saat ia melihat sekelompok orang yang datang kemarkas tersebut untuk memeriksakan diri, salah satu dari orang tersebut adalah Renjana, gadis yang ia temui kemarin di Distrik Muara. Ali segera berjalan menghampiri Renjana dan beberapa orang yang bersama dengan gadis itu.
“Renjana? Ada apa?” tanya Ali yang membuat Renjana menoleh dan tersenyum begitu manis.
“Maaf, Bang, saya bersama dengan beberapa warga di Distrik Muara sengaja datang karena kemarin mereka belum mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan tambahan,” ucap Renjana. Ali menatap Renjana sekejap sebelum memperhatikan lima orang yang berada di belakang Renjana yang semuanya adalah perempuan dengan rentan usia yang sudah tidak dapat dikatakan muda lagi.
“Kamu datang kemari sendiri? Hanya dengan mereka?” tanya Ali seraya mengernyitkan dahinya. Renjana tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin kami datang kemari hanya sendiri, Bang. Saya kemari dengan pengawalan beberapa orang termasuk Bang Lindan. Itu, mereka sedang mengobrol dengan beberapa anggota tentara disana,” ucap Renja aseraya menunjuk kearah Lindan dengan tiga orang rekannya sedang asyik mengobrol dengan Andi dan beberapa anggota lainnya. Ali mengangguk paham lalu mempersilahkan warga Muara yang dibawa serta oleh Renjana untuk antri.
“Dia bukannya gadis Muara yang kemarin?” bisik Aji saat melihat Renjana sedang mempersilahkan beberapa warga Muara untuk duduk di bawah tenda yang diperuntukkan untuk mengantre. Ali menatap Aji sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.
“Kenapa?” tanyanya.
“Tidak. Kenapa tidak membiarkan kita tinggal lebih lama di Distrik Muara saja? Kan kasihan kalau mereka berjalan jauh melewati hutan macam begitu,” lanjut Aji.
“Orang yang tinggal disekitaran hutan ini sudah terbiasa jika hanya melintasi hutan pulang dan pergi. Tidak seperti kamu yang berjalan jauh sedikit sudah mengeluh satu minggu!” ledek Revan yang membuat Ali terkekeh geli ditempatnya.
“Ya ela, Bang yang gempor nggak Cuma saya aja kali. Tu Kayana lebih parah lagi, baru bangun!” celetuk Aji seraya menggedikkan dagunya kearah Kayana yang nampak barusaja bangun dari tidur panjangnya. Revan menatap jam tangan yang tersemat di pergelangan tangan kirinya. “Jam sebelas? Gadis mana yang bangun tidur sesiang ini?!” pekik Revan seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali saat melihat Kayana dengan tergopoh-gopoh berlari kearahnya.
“Kamu baru bangun, Kay?!” tanya Revan tak percaya.Kayana menundukkan kepalanya seraya menatap sekelilingnya saat menyadari suara Revan yang terlampau mengundang perhatian hingga hampir semua orang menoleh dan memperhatikan Kayana .
“Psstt.. abang ih, tega banget!” keluh Kayana dengan raut wajah manjanya.
“Kamu sih, yang lain sudah mulai pemeriksaan, ee kamu masih asyik molor! Kamu nglewatin apel pagi juga kan tadi?!” ucap Revan dengan tangan bersedekap dan kepala sedikit mendongak. Kayana menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya lebih menundukkan kepalanyam menatap sepatu snekersnya yang belum terikat sempurna.
“Maaf, Bang,” cicit Kayana.
Revan terdiam ditempatnya. Ia lalu menghembuskan nafas kasar.
“Ya sudah, benahi pakaian dan sepatu kamu, kita banyak pekerjaan hari ini jadi kamu lebih baik bantuin Ali bagi makanan tambahan dan sembako!” titah Revan. Kayana tersenyum seraya memberikan hormat ala militer pada Revan sebelum akhirnya berlari kearah Ali yang sedang membagikan makanan tambahan pada para warga yang barusaja selesai memeriksakan diri mereka.
“Bang Al,” sapa Kayana seraya menampilkan cengiran lebarnya.
“Sudah, duduk, dan bagikan ini. Kecapekan ya?” tanya Ali lembut. Kayana menoleh dan mengangguk dengan sedikit menunduk malu. Tidak dapat dipungkiri, rasanya Kayana ingin menghilang saja dari muka bumi ini karena malu.
“Wajar, perjalanan kita kemarin memang bukan perjalanan biasa. Tapi kamu sehat kan?” tanya Ali. Kayana terdiam sejenak menatap Ali yang sambil lalu menanyakan pertanyaannya barusan.Entah mengapa mendengar pertanyaan Ali yang begitu sederhana justru membuat hati Kayana menghangat, membuat wajahnya tiba-tiba memanas dan memerah.
“Sehat kok, Bang. Abang gimana?” tanya Kayana lirih. Ali menoleh dan sebelum itu ia kembali tersenyum. “Saya sudah biasa naik gunung. Berjalan ditengah hutan seperti kemarin bukan masalah besar,” ucap Ali seraya tersenyum. Kayana menatap Ali yang dengan cepat beralih dari hadapannya, Kayana menoleh saat ia melihat Renjana sedang berbincang dengan Ali sebelum akhirnya gadis gunung itu duduk tepat disamping Kayana.
“Lho, kamu disini?” tanya Kayana sedikit heran saat melihat REnjana disana.
“Iya, Kak,saya mengantarkan ibu-ibu itu untuk memeriksakan diri,” jawab REnjana seraya menundukkan kepalanya. Kini Renjana diminta oleh Ali untuk membagikan makanan tambahan dan sembako bersama dengan Kayana.
“Kamu tinggal bagi saja setelah mereka selesai memeriksakan diri,” ucap Ali seraya tersenyum. Renjana mengangguk paham dan mulai melakukan pekerjaannya.
“Bang Al mau kemana?” tanya Kayana cepat saat melihat Ali beranjak dari tempatnya.
“Mengambil makanan tambahan di barak,” jawab Ali seraya berjalan kembali ke barak logistik. Netra Ali mengamati sekelilingnya sebelum akhirnya menatap Johan yang juga sedang sibuk dengan pekerjaannya. Merasa jika dirinya sedang ditatap, akhirnya Johan mendongak dan mendongak melihat kearah Ali. Ali nampak menganggukkan kepala sejenak pada Johan dan berjalan masuk ke barak logistic. Johan yang paham dengan kode tersebut segera beranjak dari tempatnya sejenak untuk mengikuti arah langkah kaki Ali.
“Ada apa?” bisik Johan sembari menyiapkan beberapa makanan tambahan yang akan dibawanya.
“Lindan sepertinya mendekati Danyon,” jawab Ali yang juga sembari menyibukkan diri mengambil beberapa logistic. Johan menghembuskan nafas panjang.
“Saya belum dapat titik terang dan petunjuk selanjutnya dari pusat komando. Jadi lebih baik kita awasi saja orang yang bernama Linda itu,” ujar Johan sebelum akhirnya keluar barak dengan membawa lima bungkus sembako dan makanan tambahan. Ali keluar dari barak logistic dan terkesiap saat ia melihat Lindan berdiri tepat didepan barak tersebut.
“Hai,” sapa Ali seraya tersenyum tipis dan mengangguk.
“Mari saya bantu, Bang,” ucap Lindan seraya mengambil beberapa bungkus sembako dari tangan Ali. Kedua pemuda tersebut segera berjalan menuju tempat nya membagikan tambahan makanan itu.
“Kita bertemu lagi,” ucap Ali. Lindan tertawa ditempatnya.
“Saya melakukan pengawalan terhadap warga yang kemarin belum sempat ikut pengobatan gratis karena sedang berada di kebun,” ucap Lindan. Ali memperhatikan secara seksama, Lindan nampak biasa saja membawa senjata rakitan di tubuhnya. Menyadari jika Ali terus mengamatinya Lindan pun berhenti ditempatnya dan menatap Ali.
“Ini namanya senjata rakitan, Bang. Kami merakitnya sendiri, untuk berjaga-jaga. Kmai melintasi hutan dengan perjalanan yang tidak sebentar. Berjaga-jaga jika ada binatang buas atau kelompok pembuat onar itu,” ucap Lindan. Ali menatap Lindan sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. Sesekali Ali memperhatikan Lindan, mengingat foto yang sempat ia ambil di dekat rumah kepala desa kemarin malam.
“Mereka menginap?” tanya Revan pada Ali sesaat setelah usai memberikan bingkisan pada para warga yang datang. Ali mendongak dan menatap Revan lalu menoleh kearah Lindan dan Renjana yang nampak sedang berdiskusi dengan beberapa warga yang mereka antarkan tadi.
“Sepertinya begitu, Bang, hari juga sudah sore, sepertinya tidak mungkin mereka kembali ke Distrik Muara,” jawab Ali yang segera diangguki oleh Revan. Ali membereskan peralatan dan juga barang-barang yang tadi digunakan untuk memberikan bingkisan pada warga sebelum akhirnya pemuda itu masuk ke dalam barak relawan laki-laki untuk beristirahat sejenak. Ali melihat Johan yang sudah nampak membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Ali memilih untuk duduk di bangku yang ada di samping ranjang Johan.
“Apa?” tanya Johan seraya membuka sedikit manik matanya dan melirik kearah Ali.
“Tidak.” Jawab Ali singkat. Johan menghembuskan nafas panjang dan menatap sekeliling barak yang nampak ramai dengan beberapa relawan lain yang juga memutuskan untuk beristirahat.
“Ali, jatah makan siangmu,” ujar Aji seraya memberikan satu bungkus nasi kotak yang tadi belum sempat dimakan oleh Ali karena pemuda itu terlalu sibuk. Ali menganggukkan kepalanya seraya menerima sebungkus nasi tersebut.
“Saya makan dulu, Bang,” ucap Ali seraya beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju bukit yang berada di belakang barak.
Ali duduk tepat diatas rerumputan, ia menghirup dalam dalam udara sekitar yang nampak begitu menyegarkan itu, pemandangan sekitar yang begitu indah, ditambah terpaan semilir angin menerpa wajah dan tubuh pemuda itu, ia pun tersenyum.
“Sendiri?”
Suara lembut itu tiba-tiba saja hinggap di telinga Ali. Pemuda itu mendongak dan menatap kearah gadis yang barusaja datang itu. Ali tersenyum. “Silahkan duduk. Sudah makan?” tanya Ali kemudian. Renjana duduk tepat disamping Ali sembari tersenyum dan mendongakkan kepalanya menatap langit luas menjelang sore hari itu.
“Ada apa?” tanya Ali bingung.
REnjana tesenyum sembari menggelengkan kepalanya.
“Saya hanya menikmati matahari dan angina menjeleng senja. Ini menyenangkan. Senja itu indah tapi sayang keindahannya justru membawanya tiada,” ucap Renjana yang segera membuat Ali menoleh dan menatap heran kearah Renjana.
“Maksud kamu?”
Renjana mendengus tertawa dan kembali menengadahkan kepalanya, menatap langit yang kini mulai menunjukkan semburat warna jingga.
“Senja itu indah, tapi dia hanya menyapa kita tidak lama, keindahannya perlahan hilang saat hari sudah berganti gelap, tidak lagi berwarna jingga seperti sekarang,” lanjut Renjana. Ali menatap REnjana sebelum akhirnya mengangguk setuju.
“Senja adalah akhir dan akan menjadi awal dari kehidupan baru, walaupun hilang, dia akan tetap selalu kembali jika waktunya datang telah tiba,” ucap Ali. REnjana menoleh, menatap Ali dengan senyum tipis dibibirnya. Ali pun terpaksa mengunci pandangannya pada sepasang mata indah berwarna hitam milik Renjana.
“Boleh saya bertanya sesuatu padamu, Renjana?” tanya Ali tiba-tiba.
“Silahkan, Tuan.”
“Soal Lindan. Kenapa dia membawa senjata rakitan seperti itu?” tanya Ali. REnjana terkesiap mendengar pertanyaan Ali barusan, namun tak lama gadis itu mampu menguasai suasana hatinya.
“Lindan adalah orang yang dipercaya oleh kepala desa untuk melindungi kami yang ada di Dsitrik Muara.Senjata itu sengaja ia rakit dan rancang untuk membela diri dari hal yang tidak kita inginkan,” ucap Renjana. Ali terdiam sejenak lalu tak lama ia menganggukkan kepalanya.
Malam pun menjelang, beberapa orang bersama dengan beberapa prajurit yang mendapat jatah berjaga malam kini sedang asyik menikmati secangkir kopi panas dengan pisang goreng. Ali memberikan sebuah pesan pada Johan lewat sebuah surat kecil. Ali kembali meminta Johan untuk mengikuti langahnya menuju bukit belakang barak.
“Ada apa?” tanya Johan segera setelah ia sampai dan berada tepat dihadapan Ali.
“Saya masih belum menemukan titik terang tentang Lindan, Bang,” ujar Ali. Johan nampak menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya kembali tersenyum.
“Nikmati saja alurnya, kita memang tidak bisa terburu-buru untuk mengambil kesimpulan tentang Lindan. Awasi saja diam-diam,” ucap Johan. “..Bagaimana dengan REnjana?” lanjutnya. Ali menoleh dan menatap Johan. “Renjana sepertinya aman,” jawab Ali.
Johan terkekeh ditempatnya lalu menatap Ali penuh curiga.
“Nggak usah mulai, Bang!” kesal Ali saat ia melihat wajah Johan sudah berubah ekspresi menjadi lebih usil dan tengil.
“REnjana itu cantic, Ali. Sudah saatnya kamu cari jodoh, cari calon mantu untuk Bunda,” ucap Johan. Ali terkekeh ditempatnya lalu menatap Johan penuh arti. “Belum saatnya, Bang, tunggu jadi kapten dulu,” ujar Ali asal. Mendengar itu, Johan tertawa geli ditempatnya sebelum akhirnya mereka merunduk karena mendengar suara letusan senjata.
“Siapa itu yang berani menembak?” tanya Ali pada Johan saat kedua pemuda itu saling pandang dengan netra tajam mereka.
“Tetap dibelakang Saya, jangan coba-coba melakukan perlawanan, ingat, kita berstatus sebagai warga sipil!” ucap Johan. Ali mengangguk paham sebelum akhirnya mereka berdua berjalan merunduk menuju kearah barak.
Johan yang berjalan lebih dahulu melihat ke balik barak dimana Lindan nampak sedang membalas beberapa tembakan bersama dengan beberapa prajurit lainnya.
“Sepertinya kita diserang, Bang,” bisik Ali. Johan mengangguk paham namun tetap menahan Ali untuk tetap ada di tempatnya. Ali kembali menatap di balik pilar, ia melihat Renjana nampak berdiri dari bali meja tempatnya bersembunyi, namun gadis itu segera bangkit dari tempatnya, membuat Ali ingin berlari menghampiri REnjana, namun Johan berhasil menahan pemuda itu.
“Saya bilang jangan macam-macam!” ucap Johan penuh penekanan.
“REnjana dalam bahaya, Bang!” pekik Ali.
“TEnang, kita sembunyi saja atau semuanya runyam!” ucap Johan seraya mempererat cengkramannya di tangan Ali. Serentetan senjata masih terus terdengar, Ali sedikit terkejut saat melihat Renjana nampak mengeluarkan anak panahnya dan melesatkannya. Tak lama berselang, akhirnya suara deru tembakan itu pun berangsur- angsur menghilang. Setelah merasa yakin jika kondisi aman, akhirnya Johan dan Ali keluar dari persembunyiannya, bergabung dengan rekan-rekan relawan lainnya. Kepanikan tercetak jelas di wajah masing masing orang yang ada di lapangan batalyon tersebut.
“Sepertinya barusaja kita mendapat serangan dari kelompok bersenjata yang menyebut diri mereka sebagai Mawar Hitam. Anak buah saya sudah memeriksa keadaan di depan. Kalian tetap tenang dan bersembunyi didalam barak ruang makan. Beruntung ada warga Distrik Muara yang membantu kita dalam mengatasi serangan mendadak tadi. Tidak menyangka jika saudara Lindan mempunyai kemampuan menembak yang sangat baik,” ucap Mayor Ringga selaku komandan batalyon di markas Pulau We tersebut.
Setelah merasa jika sudah tidak ada lagi ancaman, maka semua orang diharapkan untuk kembali ke barak masing-masing.
“Apa tidak terlalu berlebihan mengorbankan sekutu sendiri?” bisik Renjana saat ia berkesempatan berada sangat dekat dengan Lindan. Pemuda itu menoleh dan menatap tajam kearah Renjana.
“Harus saya bilang berapa kali, buang jauh-jauh perasaanmu itu!” ketus Lindan sebelum akhirnya pemuda itu meninggalkan Renjana di tempatnya. Renjana kembali ke ruang makan yang telah diatur sedemikian rupa agar dapat digunakan untuk beristirahat. Gadis itu merebahkan diri diatas tikar dan mencoba memejamkan manik matanya. Bukannya terlelap, REnjana justru teringat akan ucapan Kolonel Guntur yang memberikan perintah pada dirinya dan juga Linda beserta beberapa orang lain untuk menjadi mata-mata di markas ini.
“Mereka tidak akan mencurigai kalian jika kalian berada dekat dengan musuh. Tunjukkan kesungguhan kalian. Saya akan meminta beberapa anak buah untuk memberikan serangan kejutan saat kalian berada di markas musuh. Tembak dan perlakukan mereka seperti kalian menghadapi musuh. Kita harus mengorbankan orang-orang terbaik kita untuk mencapai tujuan kita.” Ucap Kolonel Guntur. Renjana terdiam ditempatnya, menatap Lindan yang nampa tegar dengan tatapan tajam memperhatikan arahan dari Kolonel Guntur. Setelah pengarahan itu, REnjana kembali mendekati Lindan yang nampak sedang mempersiapkan senjata rakitannya untuk dibawa serta.“Apa ini harus, Bang?” tanya Renjana setengah berbisik.“Ini perintah.” Jawab Lindan singkat tanpa menatap kearah REnjana.“Tapi disana adan Andi, abang nggak akan bunuh orang yang udah abang anggap sebagai adik sendiri kan?” tanya Renjana dengan netra berkaca-kaca, Mendengar ucapan itu, Lindan menatap Renjana tajam dan mendekatkan wajahnya tepat dihadapan gadis itu.“Andi juga pasti akan paham jika semua ini perintah!” ucap Lindan. “Tapi..”Lindan menatap Renjana dengan netra tajamnya sembari mengeratkan rahang kokohnya. Sementara itu, Renjana sudah menahan tangisnya. “Ini perintah.”
REnjana menatap langit-langit barak tempat ia membaringkan tubuhnya sebelum akhirnya dengan susah payah gadis itu mengusap kasar wajahnya karena linangan air mata. Ia kemudian bangkit dari tempatnya dan memilih untuk keluar barak dan menghirup udara segar. Ia menatap kearah depan, nampak Lindan sedang duduk bersandar dibawah tiang bendera, membiarkan tubuhnya terkena guyuran hujan malam itu.
“Aku tahu perintah ini begitu menyiksamu, Bang..seperti katamu, kita tidak bisa mundur.”