“Sebaiknya kalian menginap disini malam ini, Letnan. Cuaca sedang tidak bersahabat,” ucap Priyanto saat menghampiri Hans yang berdiri di pinggir pagar teras rumah kediaman Priyanto. Hans menoleh dan menganggukkan kepalanya. “Sepertinya begitu, Pak. Bagi kami para prajurit, cuaca seperti ini sudah menjadi sahabat kami terlebih saat kami berada di dalam hutan, tapi tidak demikian dengan anak-anak muda itu. Terlihat sekali jika mereka sangat kelelahan,” ucap Priyanto seraya menatap kearah para relawan yang sedang duduk bersandar di dinding rumah Priyanto. Adapula sebagian dari mereka yang merebahkan tubuh mereka diatas tikar. Netra Hans memicing seketika saat ia menyadari jika dirinya tidak mendapati Ali ada dalam kelompok tersebut.
“Andi, kau lihat Ali tidak?” tanya Hans pada salah seorang anak buahnya. Andi mendongak dan menegakkan posisi duduknya. “Siap, tidak, Let. Usai makan siang dan beres beres tadi sepertinya dia ada di kamar mandi, Let,” jawab Andi. Hans menghembuskan nafas panjang, sepertinya orang bernama Ali ini sedikit sulit diatur dan menerima perintah. Hans berpikir sejenak sebelum akhirnya meminta Andi dan salah satu rekannya mencoba mencari Ali disekitaran rumah Priyanto.
Sementara ditempat lain, Ali justru berjalan berkeliling desa bersama Renjana dan Lindan. Ali mencoba menyelidiki apa saja yang ada di Distrik Muara itu, namun sejauh mata memandang, menurut Ali tidak ada hal yang mencurigakan.
“Apa yang kamu cari? Tidak ada hal yang menarik didesa ini selain terpencil dan tertinggal,” ucap Lindan dalam perjalanan mereka. Ali menoleh dan tersenyum. “Saya justru rindu berada di desa seperti ini. Jauh lebih tenang disini,” jawab Ali.
“Kita belum berkenalan, siapa namamu?” tanya Lindan seraya menatap Ali dengan seksama. Ali menerima uluran tangan Lindan dan memberikan jabat tangan erat pada pemuda itu.
“Ali.”
“Lindan. Dan ini calon istriku, Renjana,” ucap Lindan seraya memperkenalkan Renjana pada Ali. Ali sedikit terkejut saat mendengar penuturan Lindan mengenai status REnjana yag menjadi calon istrinya.
“Tapi kalian masih sangat muda,” ucap Ali. Linda tertawa miring.
“Di desa kami, jika anak muda seusia kami belum menikah akan dianggap tidak laku. Makanya, rencanyanya setelah usia Renjana menginjak delapan belas tahun, saya akan segera menikahinya,” ucap Linda menerangkan. Ali menatap heran kearah Renjana yang memang masih nampak belia itu. “Berapa memang usianya?” tanya Ali.
“Tujuh belas tahun.” Jawab Lindan.
Ketiga orang itu kembali melanjutkan perjalanan, Ali terus menatap dan mengambil gambar setiap sudut di Distrik Muara itu dengan kamera digitalnya. Tidak lupa juga Ali mengambil foto dua sejoli dihadapannya itu yang sempat membuat Renjana terkesiap sementara Linda memandang Ali tidak suka. “Maaf, saya rasa jika kalian menikah nanti, saya sudah tidak berada ditempat ini karena harus kembali ke kota saya, hanya untuk kenang-kenangan jika disini saya memiliki teman baru, sama seperti anak anak yang tadi bersekolah bersama saya,” ujar Ali seraya tersenyum.
“Ali!!”
Teriakan itu membuat Ali menoleh dan terkesiap saat melihat dua orang berseragam loreng berlari kearah mereka dengan tergopoh-gopoh.
“Ada apa, Mas?” tanya Ali saat Andi dan seorang temannya mendekat kearahnya.
“Kamu ini, bisa tidak kalau tidak menyusahkan saya? Lettu Hans mencarimu tu! Lagi pula kamu kan dilarang keluar dari kediaman Bapak Priyanto, kenapa justru ada disini?” kesal Andi. Ali tersenyum memberikan cengiran kudanya lalu menepuk bahu Andi. “Maaf, Mas, kebiasaan saya selalu berkeliling ditempat baru. Mari kita kita ke rumah Kepala Desa.
Didepan halaman rumah kepala desa itu, Hans sudah berkacak pinggang dan menatap tajam kearah Ali. Ia meminta Ali berdiri tegap dengan posisi siap dihadapan Hans.
“Darimana kamu?” tanya Hans dengan nada tinggi.
“Maaf, Let, saya berkeliling daerah sekitar rumah kepala desa bersama dengan warga sekitar, Renjana dan Lindan,” jawab Ali. Ia sengaja menghindari kata siap saat berkomunikasi dengan Hans, agar tidak menarik rasa curiga terhadap orang-orang disekelilingnya.
“Saya sudah mengatakan jika kamu dan juga rekan rekan relawan lainnya tidak boleh keluar dari rumah kepala desa! Apa kurang jelas perintah saya?!” ucap Hans dengan nada tinggi. Ali menatap Lindan sebelum akhirnya menegakkan tubuhnya dan meantap lurus kedepan.
“Maaf, Let!” ujar Ali singkat.
“Push up dua seri!” titah Hans yang segera disahuti ‘siap’ oleh Ali. Pemuda itu segera memposisikan diri untuk melakukan push up. Baru lima kali hitungan, hans meletakkan tiga buah batako di atas punggung Ali. “Jangan sampai batu ini jatuh atau kamu akan mendapat hukuman tambahan!” ucap Hans. Ali berujar siap dan terus melakukan push up nya dengan tumpukan batako yang terus bertambah di atas punggungnya.
“Lima puluh!” ucap Ali. Hans mengangguk tegas dan meminta Andi untuk menyingkirkan batako dari atas punggung Ali.
“Jangan kau ulangi lagi, kau bisa saja membahayakan dirimu dan juga warga sekitar. Paham?” ucap Hans setengah berbisik. Ali melirikkan manik matanya sebelum akhirnya mengangguk tegas.
Malam harinya, keluaraga Priyanto menyediakan tempat di sekitar ruang tamunya untuk para relawan dan beberapa anggota tentara untuk beristirahat. Malam semakin larut, suasa disekitar Distrik Muara juga semakin bertambah sepi. Tidak ada penerangan disekitaran Distrik tersebut membuat suasana semakin mencekam, ditambah hujan yang kembali mengguyur daerah tersebut. Malam itu, Ali tidak terlalu tidur nyenyak, ia masih terjaga karena rasa waspadanya yang teramat tinggi. Telinganya masih sangat awas meskipun manik matanya terpejam, hingga Ali mendengar sebuah suara derap langkah kaki beberapa orang diluar rumah kepala desa. Ali bangkit dari tidurnya dan perlahan mengendap-endap menuju ke jendela rumah kepala desa. Ia memicingkan manik matanya dan melihat di sela-sela lubang jendela itu. Ali melihat ada beberapa orang membawa senjata berupa panah dan parang ada juga yang membawa senjata api rakitan sedang berkumpul di samping rumah kediaman kepala desa. Ali menggeram kesal dan sedikit mengumpat, kali ini dia tidak dapat bertindak gegabah. Ali berinisiatif untuk mengambil kamera digitalnya dan memotret orang-orang tersebut tanpa menggunakan blits. Merasa tidak mendapatkan gambar yang memuaskan, Ali memutuskan untuk berjalan menuju kearah dapur yang berbatasan langsung dengan pagar tempat dimana orang-orang tersebut berkumpul. Ali membidikkan kameranya mengambil beberapa gambar sebelum akhirnya ia bersembunyi. Ali menggeram kembali dan mengumpat pelan saat tidak dapat melihat dengan jelas siapa orang-orang itu melalui kamera yang barusaja ia bidikkan tadi.
Ali masih bersembuyi di balik pilar di dekat dapur rumah kepala desa, ia sesekali menahan nafasnya dan berharap jika dirinya tidak memancing kecurigaan dari orang yang berkumpul diluar tersebut, hingga Ali memastikan orang-orang tersebut pergi dari tempat itu barulah pemuda itu kembali masuk kedalam rumah, hendak kembali tidur.
“Darimana?”
Ali berjengit kaget saat barusaja ia merebahkan diri dan mendengar Hans menanyainya demikian. Ali menoleh kearah Hans dan menatap Hans yang nampak bersedekap dengan mata terpejam itu.
“Kamar mandi, Let,” jawab Ali. Hans berdehem sebagai jawaban sebelum akhirnya Ali mencoba kembali memejamkan manik matanya lagi.
Keesokan harinya, subuh hari, Ali dan rombongannya kembali ke pusat komando dengan berjalan menyusuri dan menyeberangi hutan. Tidak ada kendala yang berarti selama dirinya menjalankan tugas lapangan ke Distrik Muara tersebut, justru dapat dikatakan perjalanannya sangatlah lancar, hanya terkendala cuaca yang tidak begitu bersahabat. Tim Muara datang ke markas dan memancing perhatian dari rekan relawan lainnya termasuk Johan yang segera mencari keberadaan Ali. Ali menatap Johan dan menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya dia berkumpul untuk memberikan laporan. Setelah apel kedatangan tersebut Tim Muara segera menuju barak masing masing untuk membersihkan diri dan beristirahat.
“Bagaimana?” tanya Johan saat mengajak Ali untuk kembali menemuinya di bukit belakang barak.
“Tidak ada yang mencurigakan, Bang,” ucap Ali. Ia lalu membuka kamera digitalnya dan menunjukkan hasil foto yang ia ambil malam hari itu. “Hanya satu hal yang mencurigakan, ada orang berkumpul disamping rumah kepala desa dan mereka membawa senjata, namun sayang, wajah mereka tidak terlalu jelas karena suasana gelap, Bang,” ucap Ali seraya menyodorkan kamera digital miliknya pada Johan. Johan mengambil kamera tersebut dan memainkan kontras kamera hingga gambar tersebut terlihat sedikit lebih terang daripada sebelumnya.
“Ini gambar maksimal yang bisa saya ambil setelah mengubah kontrasnya,” ujar Johan seraya menunjukkan hasil kerjanya pada Ali. Ali menatap tajam kearah kamera tersebut dan terkejut saat melihat sesosok wajah yang nampak tidak terlalu asing bagi Ali.
“Ada apa?” tanya Johan bingung melihat ekspresi Ali.
“Ini—Lindan?” gumam Ali dengan alis berkerut. Ia kembali memicingkan manik matanya dan melihat lebih dalam kedalam gambar pada kamera tersebut.
“Siapa itu Lindan?” tanya Johan.
“Dia adalah salah seorang pemuda yang kemarin sempat mengantar saya berkeliling sejenak disekitaran rumah kepala desa, Bang. Apa mungkin dia—anggota Mawar Hitam, Bang?” gumam Ali seraya menatap lurus kearah Johan. Johan terdiam sejenak, ia berpikir dan mencoba mencari jawaban melalui foto yang berhasil diabadikan oleh Ali tadi.
“Dari foto ini kita tidak bisa membuktikan apapun. Warga sekitaran Distrik Muara memang selalu melakukan patroli malam dengan senjata rakitan mereka karena memang lokasi tersebut adalah lokasi empuk dimana anggota Mawar Hitam sering sekali menebarkan terror. Tapi kita juga tidak dapat menarik kesimpulan dari satu sudut pandang saja, Ali. Simpan saja bukti ini, coba kita selidiki lebih jauh lagi. Ini masih temuan awal. Kita juga tidak dapat memastikan siapa lawan dan siapa kawan dari foto yang kamu ambil itu,” ucap Johan. Ali mengangguk setuju dan kembali menatap Johan.
“Sepertinya kita perlu berada di Distrik muara lebih lama, Bang agar semuanya jauh lebih jelas. Jujur saja, kemarin selama saya dirumah kepala desa, saya tidak dapat mengeskplor lebih jauh daerah tersebut karena terbentur perintah dari komandan operasi Lettu Hans. Jika Abang bisa meminta pusat komando memberikan kita surat untuk tinggal beberapa hari di Distrik Muara sepertinya semuanya akan jauh lebih jelas, Bang,” ucap Ali. Johan terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju. “Saya akan teruskan temuan ini ke pusat, semoga pusat dapat mengambil langkah tepat sebelum terlambat.”