Ali nampak sedang mempersiapkan barang-barang kebutuhan yang nantinya akan dibagikan pada masyarakat di sekitaran Distrik Muara. Seluruh Tim Muara telah bersiap dan Kayana merupakan satu-satunya perempuan didalam tim tersebut. Lettu Hans sudah mempersiapkan anak buahnya yang akan berjaga dan mengawal tim Muara ke Distrik Muara.
“Selamat pagi, terimakasih karena teman teman relawan telah menepati waktu yang kita sepakati. Kita akan berangkat sebentar lagi dan sebelum berangkat, marilah kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa, saya persilakan,” ucap Lettu Hans. Seluruh anggota tim muara dan tim pendamping segera menundukkan kepala masing-masing memulai berdoa.
“Selesai. Seperti yang telah saya sampaikan semalam, medan yang akan kita lalui tidaklah mudah. Saya harap, kelompok ini jangan sampai berpisah. Tantangan kita ada tiga hal, yang pertama medan yang tidak mudah, kedua binatang buas, dan yang ketiga adalah kelompok bersenjata yang mengancam keamanan sekitar Pulau We. Kita akan berjalan dalam satu barisan dengan tiga anggota didepan, keempat relawan ditengah dan tiga prajurit lain di belakang. Saya akan berjaga paling belakang. Jika tidak ada pertanyaan, kita berangkat sekarang,” ujar Lettu Hans.
Semua orang berbaris rapi dengan barang bawaan yang tidak sedikit di punggung mereka masing-masing. Selain membawa perbekalan pribadi, mereka juga membawa makanan tambahan dan juga buku bagi para anak anak usia sekolah. Ali sengaja berjalan tepat di belakang Kayana dan persis di depan prajurit yang bertugas menjaganya. Netra Ali terus berjaga jaga, menatap lurus ke segala arah, memperhatikan segala kemungkinan yang mungkin akan terjadi.
“Kalau lelah, kamu bisa bilang sama Lettu Hans untuk beristirahat,” bisik Ali pada Kayana yang nampak melambat. Kayana menoleh dan dengan nafas terangah engah ia menggelengkan kepalanya.
“Masih satu jam berjalan, yang lain saya tidak menyerah, kenapa aku harus menyerah?” ucap Kayana. Ali menghembuskan nafas panjang, menurutnya gadis dihadapannya ini cukup tangguh. Dia tidak mengeluh sama sekali, hanya sesekali mengambil botol minum di samping tas ranselnya dan meneguknya. Ali terperanjat saat ia mendengar sebuah ranting yang patah, refleks Ali berhenti ditempat dan menatap sekelilingnya.
“Ada apa?” tanya Lettu Hans saat menyadari jika Ali berhenti ditempatnya. Ali diam lalu menatap kebelakang. “Saya mendengar seperti ada sesuatu yang lewat, Pak.” Ujarnya. Lettu Hans memberikan komando pada keenam anggotanya untuk berhenti sejenak dan meminta seluruh anggotanya untuk waspada. Hans menatap tajam kearah Ali.
Sreg!
Kembali terdengar suara ranting pohon yang patah membuat Lettu Hans meminta anggotanya dan para relawan untuk merunduk sejenak dan bersembunyi dibalik ilalang.
“Waspada,” ujar Lettu Hans memberikan aba-aba pada anggotanya. Tangan kekar Ali merengkuh ransel Kayana dan menekan punggung gadis itu agar lebih merunduk lagi.
“Jangan bergerak,” bisik Ali. Kayana terdiam dan menoleh ke belakang.
“Emang itu apaan?” tanya Kayana lirih.
“Saya juga tidak tahu, semoga saja binatang, bukan kelompok bersenjata itu,” ujar Ali. Ia menatap Lettu Hans dan beberapa anggotanya menyebar dan membentuk parameter untuk melindungi para relawan.
“Kamu periksa lokasi,” ucap Lettu Hans memberikan perintah pada salah seorang anggotanya yang dengan segera berujar siap. Ali menatap sekelilingnya, netra tajamnya memicing saat melihat sebuah panah melesat kearahnya.
“Tiarap!” ucap Ali.Lettu Hans menoleh dan terkesiap saat melihat sebuah anak panah melesat ke arah mereka.
“Bentuk Parameter, arah jam tiga! Saya ulangi, musuh arah jam tiga!” ujar Lettu Hans. Ali nampak menatap kearah yang disebutkan oleh Lettu Hans tadi, netra Ali memicing, berusaha melihat dari kejauhan musuh yang barusaja melesatkan anak panah kearah Ali dan tim Muara.
“Jangan tembak!” ucap Ali yang segera mendapat pelototan tajam dari Lettu Hans.
“Jangan banyak bicara! Keselamatan kamu dan tim mu ada ditangan saya!” tegas Lettu Hans. Ali terdiam sejenak dan kembali menatap lurus kearah seseorang misterius yang melesatkan anak panah tadi. Ali memberanikan diri meminta Lettu Hans untuk tidak menembak sekali lagi dengan menyentuh lengan pria itu.
“Jika anda menembak, justru akan mengundang musuh lebih banyak lagi, Pak,” ucap Ali. Lettu Hans kembali menatap Ali dengan netra tajamnya. Ia memicingkan manik matanya pada tele yang menempel di senjatanya, menatap lebih jauh kemana musuhnya itu berlari.
Hans mengumpat dan memukul tanah keras, ia kehilangan orang yang menembakkan anak panah tadi. Lettu Hans nampak mengeratkan rahang kokohnya sembari menarik krag jaket hoddie yang dikenakan Ali.
“Dengar ya, saya sudah tahu apa yang harus saya perbuat! Saya komandan disini dan tim ini berada dalam komando saya, kamu atau siapapun itu seharusnya mematuhi perintah yang saya buat! Kamu dan juga tim ini adalah bagian dari tanggungjawab saya! Jika satu saja diantara kalian terluka karena musuh, bukan mereka mereka ini yang menanggung akibatnya, tapi saya!” ucap Lettu Hans menahan kesal. Pria itu kemudian menghempaskan tubuh Ali hingga pemuda itu jatuh tersungkur ditanah.
“Bentuk parameter dan periksa sekeliling dan bersiap melanjutkan perjalanan!” perintah Lettu Hans pada anak buahnya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya salah seorang anak buah Lettu Hans yang diperintahkan untuk memantau situasi sekitar itupun kembali dan memberikan laporan pada Lettu Hans jika kondisi aman. “Mohon ijin memberikan laporan, dalam radius lima ratus meter kedepan, tidak ada tanda-tanda musuh mendekat, Ndan, mohon petunjuk,” ujar salah seorang anak buah Lettu Hans dengan nama Andi yang tersemat di d**a kanannya. Lettu Hans mengangguk paham dan meminta anggotanya untuk kembali ke dalam barisan.
“Kita beruntung, sepertinya hanya seorang pemburu yang sedang berusaha menembak buruannya. Kita akan melanjutkan perjalanan lagi. Tapi sebelum itu, saya ingin menyampaikan satu hal yang penting! Tim ini ada dalam kendali dan komando saya! Saya berharap kejadian seperti tadi tidak terulang lagi! Setiap keputusan yang saya ambil sudah pasti saya pikirkan dengan baik dan matang! Kalian—hanya tinggal menuruti perintah! Paham?!” ucap Lettu Hans dengan nada penuh penekanan. Netra tajamnya sekali lagi menatap Ali dengan sorot tidak suka, membuat Ali memalinkan pandangannya kearah lain sebelum akhirnya mereka kembali berjalan menyusuri jalan setapak ditengah hutan.
“Gue harap lo nggak usah sok tahu! Urusan keamanan itu bukan urusan lo! Tapi urusan bapak-bapak tentara ini! Untung tadi Cuma pemburu, kalau ternyata itu anggota kelompok bersenjata, kamu mau apa?!” kesal Revan. Pemuda itu berbicara tanpa menatap ke arah orang yang diajaknya berbincang, namun seluruh tim tahu jika inti dari ucapan Revan adalah memperigati Ali. Ali diam. Ia menunduk dan merutuki dirinya sendiri. Sekelebat ia kembali teringat ucapan Johan semalam sebelum mereka pergi tidur. Ali kemudian menghembuskan nafas panjang dan kembali berjalan. Menjadi orang sipil dan berpura pura tidak mengetahui banyak hal itu ternyata jauh lebih berat dibanding pendidikan di Kawah Chandradimuka,batin Ali.
Setelah melanjutkan perjalanan dan beristirahat selama lima belas menit, akhirnya mereka pun sampai di ibukota Distrik Muara yang nampak sangat sepi. Kayana menatap sekelilingnya, desa di Distrik Muara ini justru lebih tepat jika disebut sebagai desa mati. Hanya ada beberapa keluarga yang menghuni beberapa rumah. Tim Muara kembali menyusuri jalanan dan menyapa masyarakat yang nampak keluar rumah karena merasa kedatangan orang asing.
Seorang laki-laki setengah baya mengenakan kemeja dan juga sarung berjalan kearah Tim Muara dan memberikan salam pada mereka semua.
“Perkenalkan, nama saya Priyanto, saya adalah kepala desa di Distrik Muara,” ujar orang bernama Priyanto itu. Lettu Hans memberikan hormatnya, demikian pula dengan anggota tim yang lain termasuk Tim Muara yang segera menganggukkan kepalanya.
“Mari, pelayanan kesehatan akan dilaksanakan di pelataran rumah saya,” lanjut Priyanto seraya mempersilahkan rombongan tamu tersebut untuk bertandan ke rumah kediamannya yang ternyata sudah dipenuhi oleh sejumlah warga.
“Warga merasa senang sekali karena pihak anda mengadakan kunjugan lapangan seperti ini,” ucap Priyanto seraya tersenyum.
“Ini adalah program tetap dari tim kami, Pak, jadi kemungkinan besar kan dilakukan secara berkala kedepan,” ucap Revan. Ali menatap sekelilingnya, mencoba untuk tetap waspada. Seperti yang disampaikan Johan, jika dirinya harus dapat membedakan dengan benar dan tepat siapa lawan dan siapa kawan. Ali menggeram kesal karena di desa yang katanya adalah tempat Mawar Hitam berada justru nampak baik-baik saja.
Setelah beristirahat dan mempersiapkan segala keperluan untuk melakukan pelayanan kesehatan dan pembagian makanan tambahan, disinilah mereka, disibukkan dengan masyrakat yang begitu antusias untuk datang dan memeriksakan diri.
Ali kini membantu Kayana memberikan makanan tambahan bagi masyarakat yang telah melakukan pemeriksaan dan pengisian data, namun netranya menajam kembali saat merasa ada salah seorang masyarakat yang sejak tadi memperhatikan dirinya. Perhatian Ali tertuju pada seorang gadis dengan penampilan apa adanya dan tanpa alas kaki sedang mengantri dalam barisan untuk mengambil makanan tambahan. Gadis itu terus memperhatikan Ali dan sesekali terang-terangan menatap Ali.
“Nama?” tanya Ali saat gadis itu mendekat dan beridir tepat dihadapannya. Gadis itu diam dan membuat Ali mendongak menatapnya.
“Saya bertanya, siapa nama anda, Nona?” tanya Ali sekali lagi. Kali ini gadis itu tersenyum begitu manis.
“Renjana, “ jawabnya. Ali menatap sejenak gadis bernama Renjana itu lalu tak lama menuliskan namanya didalam buku data yang ada diatas meja, sebelum akhirnya Ali memberikan bungkusan berupa makanan tambahan dan sembako serta s**u pada gadis itu. Ali kembali menatap saat Renjana melangkah pergi dan nampak mengobrol begitu akrab dengan keluarga Priyanto.
“Manis ya, Al?” goda Aji sembari menepuk lengan Ali. Ali menoleh sejenak sebelum akhirnya mendengus tertawa. Ali akhirnya meregangkan otot-otot tubuhnya saat semua masyarakat telah mendapatkan pelayanan dan juga makanan tambahan.
“Mari silahkan makan siang, sudah kami siapkan,” ujar Priyanto yang segera diangguki oleh seluruh tim Muara. Ali kembali menatap Renjana yang sedang membantu istri Priyanto menyiapkan makan siang di ruang makan. Renjana mendongak dan terkejut saat melihat Ali kini berada di belakangnya. Pemuda itu hendak menuju kamar mandi di luar rumah untuk membersihkan dirinya.
“Mau kemana?” tanya Renjana. Ali tersenyum tipis lalu menjawab, “ kamar mandi, sebelah mana, Nona?” tanya Ali sopan. Renjana memberikan arahan pada Ali sebelum akhirnya membiarkan Ali berjalan terus kearah kamar mandi yang dimaksudkan oleh Renjana tadi.
“Kenapa memperhatikan dia seperti itu?” tanya Lindan yang seketika mengagetkan Renjana hingga gadis itu terlonjak.
“Kamu ngangetin saja.” Pekik Renjana.
“Siapa dia?”tanya Lindan kemudian. Renjana menatap Lindan lalu menghembuskan nafas panjang.
“Dia orang yang jadi sasaran tembakku beberapa waktu lalu,” ucap Renjana. Lindan nampak memperhatikan Renjana lalu mendengus tertawa.
“Jadi rupanya tembakanmu meleset bukan karena kau tidak pandai membidik melainkan karena targetmu—tampan?” sindir Lindan. Renjana menatap tajam kearah Lindan sebelum akhirnya memilih melangkah pergi.
“Ingat, orang yang masih menangis tidak akan punya hati menghabisi musuhnya. Lakukan tugas kita dengan baik! Mereka akan sulit mengenali kita jika kita berbaur dengan baik disini, paham?” bisik Lindan. Renjana terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
“Sepertinya mereka akan menginap, besok aku akan minta anak buah untuk melakukan pengawalan, memastikan mereka aman. Ini kunjungan pertama mereka, jangan sampai mereka curiga. Hampir saja mereka curiga gara-gara anak panah konyolmu itu!”