“Ali, arah jam dua,” bisik Johan sesaat setelah Ali dan Johan melakukan makan bersama dengan seluruh relawan dan juga penghuni markas dan asrama tempat mereka bertugas. Ali menoleh, menatap kearah yang dituju oleh Johan tadi. Seorang gadis dengan perawakan mungil, berkuncir kuda, berparas manis, barusaja nampak mencuri pandang kearah Ali dan kembali membuang muka kearah lain.
“Biarkan
saja, dia punya mata,” jawab Ali acuh. Johan menepuk keras bahu adik asuhnya
itu. “Nggak ada salahnya mengajak gadis berkenalan. Aku perhatikan dia sudah
sejak tadi memperhatikanmu,” ucap Johan penuh penekanan. Ali kembali menatap
gadis yang beberapa kali mencuri pandang kearahnya itu.
“Manis,
Al,” bisik Johan. Ali berdecih dan mendengus tertawa.
“Kalau
sedang dalam tugas itu kita harus fokus, Bang. Hubungan yag terjalin saat
sedang bertugas rata-rata tidak berjalan dengan baik,” ucap Ali kemudian. Johan
mengernyitkan dahinya menatap Ali heran.
“Teori
dari mana itu?” tanyanya.
“Bang
Rizal.”jawab Ali singkat. Mendengar nama yang barusaja disampaikan oleh Ali
barusan kembali membuat Johan terbahak ditempatnya. Ia kenal betul siapa orag
yang berusaja disampaikan oleh Ali tadi. Rizal adalah rekan satu lettingnya
yang terkenal sebagai raja bucin (b***k cinta).
“Kamu
percaya dengan ucapan Rizal?” tanya Johan seraya menaikkan alis kirinya.
“Senior
yang bicara, tentu saja saya percaya, Bang,” ujar Ali. Johan kembali menepuk
lengan Ali keras hingga pemuda itu mengaduh karena lengannya tiba-tiba terasa
panas dan kebas. “Abang kasih tahu ya, kalau mau percaya perkataan senior itu
seharusnya kamu lihat-lihat dulu siapa senior yang bicara. Kalau modelan Rizal,
jelas harus kamu cari tahu dulu kebenarannya terutama soal wanita. Rizal itu
termasuk orang ganteng yang tidak terlalu beruntung saat sedang bersama dengan
wanita. Ibarat kata, entah bagaimana, jika Rizal dekat dengan gadis selalu saja
kena tikung. Entah gebetannya atau pacar selalu saja ditikung orang,” ucap
Johan sebelum akhirnya tertawa. “Saya juga pernah nikung gebetan Rizal. Dia
yang dekati, saya sekali tembak langsung takhluk,” lanjutnya sebelum akhirnya
kembali terbahak. Ali pun ikut tertawa menatap Johan. Ia tidak habis pikir,
Johan yang selalu ia hormati sebagai seorang kakak asuh yang terkenal tegas,
galak, dan juga kejam itu rupanya bisa juga menikung gebetan orang.
Perhatian
kedua pemuda itu kemudian teralihkan saat Aryo, coordinator relawan memberikan
pengumuman agar seluruh relawan berkumpul di barak makan. Ali dan Johan segera
beranjak dari tempat duduknya sembari membawa sebuah buku dan alat tulis,
mereka segera berjalan menuju ruang makan dan duduk di kursi yang telah
disediakan.
“Maaf
karena malam-malam begini saya memutuskan untuk mengumpulkan teman-teman disini
karena sejak tadi saya perhatikan, diantara kita belum ada yang berniat untuk
beristirahat, jadi saya berinisiatif untuk mengumpulkan teman teman semua dan
memberikan sedikit pengarahan terkait dengan pekerjaan kita yang akan dimulai
esok pagi.” Aryo menjeda kalimatnya sejenak. Pemuda berkaca mata dan berkumis
tipis itu menatap setiap anggota relawan yang berada dibawah komandonya.
“Saya
sudah berkoordinasi dengan Komandan Batalyon dan juga Komandan Operasi disini,
berkonsultasi juga dengan relawan senior yang masih berada disini jika setiap
hari kita akan memberikan pelayanan social berupa pengobatan dan sekolah
gratis.Namun, saya akan menambahkan program kerja baru untuk kita. Berdasarkan
laporan dari Komandan Batalyon dan juga relawan senior beberapa saat lalu, jika
tidak semua masyarakat yang berasal dari setiap distrik datang kemari untuk
berobat atau sekedar mengambil bantuan sembako dan makanan tambahan yang kita
sediakan. Oleh sebab itu, saya dengan ijin dari Komandan batalyon dan juga
relawan senior, saya akan mengadakan program jemput bola. Artinya, kita kan
menunjukkan eksistensi kita dengan memberikan sembako dan makanan tambahan
serta pelayanan kesehatan langsung. Dengan kata lain, saya akan membagi kita
kedalam tiga kelompok besar yang akan saya beri nama sesuai dengan nama distrik
yang ada di tempat ini. Tim Hulu, Tim Hilir, dan Tim Muara. “
“Masing-masing
anggota tim yang terlibat sudah saya tentukan termasuk aparat yang nantinya
akan bertugas untuk mengawal pelayanan jemput bola kita dilapangan. Nama-nama
dari setiap tim sudah saya tulis dan saya tempelkan di papan pengumuman di
depan ruang makan ini. Saya harap setelah ini teman teman akan membaca dan
mulai bergabung dalam tim masing-masing untuk membahas program kerja. Karena
dalam pelayanan social masyarakat nantinya saya akan memberikan jadwal tersendiri
berdasarkan tim yang betugas. Semua jadwal untuk betugas di pelayanan social
markas maupun lapangan juga sudah saya sertakan di papan pengumuman. Saya harap
setelah ini, tim yang besok bertugas di markas segera dapat mempersiapkan diri
dan mempersiapkan segala keperluan. Tim yang bertugas di lapangan juga wajib
mempersiapkan segala keperluan baik pribadi maupun barang-barang logistic yang
nantinya akan dibagikan pada masyarakat,” ucap Aryo.
“Sampai
sini apa ada yang ingin bertanya?” lanjutnya seraya kembali menatap
masing-masing anggota rapat. Setelah dirasa cukup, akhirnya ARyo membubarkan
anggota rapat. Setiap orang kemudian secara tratur dan bergantian melihat papan
pengumuman yang ditempelkan di depan ruang makan tersebut.
Usai
melihat nama dan tim yang akan diikuti, akhirnya Ali memutuskan untuk bergabung
dengan timnya yang kini sedang berkumpul di sisi luar dari ruang makan
tersebut. Ali terkesiap saat ia melihat gadis yang sudah sejak tadi
memperhatikannya itu ternyata berada dalam satu tim dengan dirinya. Ali
menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya bersalaman dengan anggota timnya.
“Kita
tergabung dalam tim Muara yang besok akan bertugas untuk memberikan pelayanan
jemput bola pada masyarakat di Distrik Muara. Perkenalkan nama saya Revan, dari
tim kesehatan, ini rekan saya Kayana, dia juga dokter, ini Aji, dia perawat,”
ucap Revan memperkenalkan rekan-rekannya. Ali mengangguk dan memperkenalkan
dirinya, “Perkenalkan nama saya Ali Topan, saya relawan mahasiswa. Kebetulan
disini mewakili relawan dari pendidikan,” ucap Ali memperkenalkan diri.
“Perkenalkan,
nama saya Lettu Hans, saya adalah komandan peleton yang akan memberikan
pengawalan pada tim Muara. Besok kita akan melakukan perjalanan yang lumayan
jauh, sepertinya masing-masing dari kita harus mempersiapkan fisik yang prima
untuk perjalanan besok. Perjalanannya tidak mudah karena kita harus menyusuri
hutan untuk sampai ke Distrik Muara. Kita akan melakukan perjalanan darat
selama kurang lebih empat jam perjalanan di tengah hutan, jadi saya berharap
kalian semua dapat mempersiapkan perbekalan dan juga logistic pribadi kalian
masing-masing, jangan lupa mengenakan sepatu olah raga, jaket, dan juga jangan
lupa untuk membawa jas hujan, Curah hujan didaerah ini termasuk tinggi jadi
silahkan mempersiapkan diri. Saya juga berharap teman teman membawa pakaian
ganti karena jika tidak memungkinkan melakukan perjalan pulang langsung, kita
akan menginap di Distrik Muara. Besok kita akan mulai berangkat subuh hari, jam
empat, jadi saya berharap setelah ini teman teman beristirahat dengan baik agar
stamina esok dapat prima dan tugas dapat diselesaikan dengan baik,” ujar
Lettu Hans.
Setelah
memberi tahu secara detail rute yang akan dilewati oleh para relawan dan barang-barang
apa saja yang akan dibagikan pada masyarakat sekitar, akhirnya masing-masing
dari tim memutuskan untuk kembali ke barak masing-masing untuk beristirahat.
Ali kembali berjalan dan tanpa sadar ia berjalan beriringan dengan Kayana.
"Halo,
perkenalkan nama saya Kayana," ucap gadis itu seraya mengulurkan
tangannya. Ali berjengit kaget namun tidak lama ia pun mengulurkan tangannya
membalas jabat tangan Kayana. "Nama saya Ali." jawab Ali singkat.
"Jadi
kamu masih mahasiswa?" tanya Kayana. Ali mengangguk tegas.
"Saya
mahasiswa tingkat akhir, Sedang skripsi tapi sepertinya tertunda karena lebih
banyak malas daripada berusaha menyelesaikannya," ucap Ali seraya
terkekeh. Kayana pun ikut tertawa ditempatnya. Mereka kini saling berhadapan,
berdiri tepat di tengah lapangan markas.
"Kalau
begitu, sampai jumpa besok, Ali," ucap Kayana sebelum akhirnya gadis itu
berjalan masuk kedalam barak wanita. Ali kembali berjalan menuju barak
laki-laki tempatnya beristirahat, namun ia berhenti melangkah saat melihat Johan
berdiri tepat di depan pintu barak. Johan menggedikkan dagunya kearah Ali,
memberikan kode pada Ali untuk mengikuti langkah kakinya. Setelah Johan
mengentahui jika dirinya tidak berada dalam tim yang sama dengan Ali, pikiran
dan hatinya menjadi gusar. Bagaimanapun juga tugas ini adalah tugas pertama
bagi Ali, Johan juga mempunyai tanggung jawab besar terlebih karena Ali adalah
adik asuhnya yang sudah ia anggap seperti saudara laki-lakinya sendiri. Johan
lebih merasa khawatir jika ia melepaskan Ali sendirian jauh dari pengawasannya.
“Ada
apa, Bang?” tanya Ali saat melihat Johan berhenti dan mulai melihat kekanan dan
kekiri, memastikan jika lokasi tempatnya berdiri sekarang ini aman. Johan dan
Ali kini berdiri tepat dibawah pohon besar yang tumbuh diatas bukit tepat di
belakang barak relawan.
“Kamu
dan saya sudah jelas berbeda tim. Kamu masuk tim Muara dan saya masuk tim Hulu.
Saya harap kamu bisa menempatkan diri dengan baik, Al. Sekecil apapun informasi
yang kamu dapatkan besok, jangan lupa untuk memberitahukan pada saya. Satu hal
yang harus kamu ingat, Al, kita tidak pernah tahu siapa itu lawan dan siapa itu
kawan jadi saya harap kamu waspada, tidak lengah, paham?” ucap Johan sedikit
berbisik namun penuh penekanan. Ali mengangguk paham.
“Yang
saya takutkan adalah jika saya tidak bisa mengawasi kamu, dan itu benar-benar
terjadi sekarang. Kita berbeda tim, tapi saya yakin kamu bisa menjaga diri,”
lanjut Johan. Ali tersenyum kemudian mengangguk tipis.
“Abang
tenang saja, saya akan jaga diri baik-baik,” ucap Ali.
“Kamu
jangan cengengesan begitu! Saya serius, Ali! Dalam tugas ini yang paling saya
khawatirkan adalah kamu!”ucap Johan dengan tatapan datar namun mematikan dan
membuat Ali kembali terdiam menatap Johan dengan raut yang serius.
“Saya
sudah berjanji pada Bunda kamu dan Asyila untuk menjaga keselamatanmu terlebih
jika saya ditugaskan bersama dengan kamu. Sekarang kesempatan itu datang, saya
akan membawa janji saya, jadi saya harap sama kamu jangan lengah,” lanjut Johan
lagi. Ali mengangguk paham.
“Kelompok
Mawar Hitam ini bukan kelompok sembarangan, Al. Mereka bisa saja dengan mudah
berbaur dengan masyarakat, ada yang mengatakan jika mereka serupa dengan ninja,
datang dan pergi seperti hantu. Berdasarkan laporan yang ada, beberapa waktu
lalu, ada seorang remaja laki-laki dari Distrik hilir yang tewas terkena bacok,
tewasnya remaja itu memicu perang antara desa, Hilir dan Hulu. Mereka licik,
jangan sampai kita kalah licik, Paham? Daerah Distrik Muara bukan tempat aman,
Al. Laporan intelejen kita yang terakhir mengatakan jika kebanyakan anggota
Mawar Hitam berada di distrik Muara ini.” Ucap Johan. Ali mengangguk paham. Ia
begitu memahami bagaimana khawatirnya Johan dalam tugas ini. Ini adalah tugas
penyamaran dan penyusupan pertama Ali setelah menjadi intelejen.
“Abang
tenang saja, saya janji akan jaga diri baik-baik.” Ucap Ali berusaha memberikan
keyakinan pada Johan. Johan menatap Ali tajam sebelum akhirnya menganggukkan
kepalanya. Pemuda gagah dan berbadan kekar itu lalu menepuk bahu Ali.
“Saya percaya padamu. Lakukan tugas dengan baik. Besok adalah ajang untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya. JIka memungkinkan, kamu bisa saja menginap di Distrik Muara. Pesan Abang, maksimalkan waktu yang ada untuk mempelajari sekitar, mempelajari siapa itu lawan dan siapa kawan, karena yang dapat masuk ke Distrik Muara hanya kamu, Ali,” ucap Johan. Ali mengangguk paham. “Jika terjadi p*********n, jangan berpikir untuk mengangkat senjata, ingat posisi kita sebagai orang sipil, tidak bisa menembak, dan tidak terbiasa mendapatkan tekanan saat konfrontasi. Petugas disini tidak ada yang tahu siapa kita, jadi saya harap kamu memahami posisimu sebagai Ali bukan Satria, paham?”