Fajar menyingsing pelan di kaki Gunung Penanggungan. Kabut putih tipis menyelimuti lereng-lereng yang menyimpan ribuan jejak leluhur. Pohon-pohon tua berdiri bagai penjaga abadi, menatap bisu pada para peziarah dan pencari kebenaran yang datang silih berganti, berharap mendapatkan pencerahan atau—seperti Letnan Arya Wicaksana—mengungkap rahasia yang tertimbun waktu.
Mobil jip tua milik Intan terhenti di sebuah jalan setapak, tak bisa lanjut karena medan yang terlalu curam. Mereka berdua turun, membawa ransel berisi logistik dan satu benda yang selalu dibungkus rapat oleh Arya: keris pusaka Majapahit.
Udara di sekitar mereka terasa berbeda. Bukan hanya karena tipisnya oksigen di ketinggian, tetapi ada sesuatu yang tak kasat mata—suatu getaran halus yang menyelinap dalam nadi dan menekan d**a.
“Gunung ini,” ujar Intan sambil menoleh ke Arya, “bukan gunung biasa. Di zaman Majapahit, tempat ini dianggap suci. Ada lebih dari 80 candi kecil tersebar di lerengnya. Para raja dan bangsawan membangun petirtaan dan tempat semedi di sini...”
Arya menatap puncak yang tertutup awan. “Seolah mereka semua sedang menunggu sesuatu.”
“Bukan menunggu,” kata Intan. “Tapi menyembunyikan sesuatu.”
---
Mereka menapaki jalur batu, melewati petirtaan Jolotundo yang airnya masih mengalir dari mata air pegunungan. Di dekat pancuran, seorang pria tua duduk bersila dengan mata tertutup. Pakaiannya putih, rambutnya panjang diikat ke belakang. Ketika Arya dan Intan lewat, pria itu membuka mata—mata yang seakan menyala sebentar—lalu berkata:
> “Kau sudah datang kembali, Panglima. Tapi ingat, tak semua yang hidup di masa lalu ingin bangkit lagi.”
Arya berhenti, menoleh cepat. “Apa maksud Anda?”
Namun lelaki tua itu hanya tersenyum, lalu kembali menutup matanya dan bersila seperti semula, seolah tak pernah berkata apa pun.
Arya melanjutkan langkahnya, tapi dalam hatinya, suara itu terngiang tajam. Sesuatu sedang bangkit. Sesuatu yang tak ingin terlambat dicegah.
---
Setelah dua jam mendaki, mereka tiba di sebuah dataran kecil di lereng utara gunung. Di tengahnya, reruntuhan candi kecil berdiri—dindingnya tergores waktu, namun simbol-simbol ukiran naga dan matahari masih tampak jelas. Intan mengeluarkan peta kuno dari ranselnya dan mencocokkan lokasi.
“Ini dia. Candi Sira Geni. Dalam naskah kuno disebut sebagai tempat ‘perjanjian rahasia antara darah raja dan pengawal setianya’. Tapi tak pernah ditemukan secara resmi… sampai sekarang.”
Arya mendekati dinding batu yang sebagian runtuh. Tangannya menyentuh ukiran—dan seketika, getaran halus menjalar ke seluruh tubuhnya. Matanya memanas. Dalam sekejap, ia kembali...
---
…ke masa Majapahit.
Ia berdiri di pelataran candi yang sama, namun kini utuh dan megah. Pelataran dipenuhi obor menyala. Di depannya, Dyah Sekar Wulan mengenakan selendang emas, wajahnya pucat dan mata sembab.
“Rakai Arya,” ujarnya dengan suara bergetar, “pusaka kerajaan telah diambil. Ayahandaku dicemari oleh fitnah. Dan Satrio, saudaramu seayah lain ibu… telah menghilang.”
Panglima Arya mengatupkan rahang. “Satrio… dia tak akan berhenti sebelum dia menguasai segalanya. Dia benci garis keturunanku. Benci kedekatanku denganmu.”
Di sampingnya, seorang pendeta tua menyerahkan sebilah keris bercahaya merah. “Ini adalah Keris Jagat Wening. Pusaka kerajaan Majapahit. Jangan biarkan jatuh ke tangan pengkhianat.”
Arya menggenggam keris itu. Tapi saat ia menatap ke mata Dyah Sekar Wulan, ia tahu: ini bukan hanya tentang tahta atau pusaka. Ini tentang jiwa yang hendak direnggut.
“Jika aku tak kembali,” katanya, “jaga nama Majapahit. Dan jaga hati kita.”
Wulan menggenggam tangannya erat. “Kita akan bertemu lagi. Di waktu yang berbeda... tapi dengan jiwa yang sama.”
---
Arya tersentak kembali ke masa kini. Intan memegang pundaknya. “Kau hilang selama dua menit. Kau semacam… menatap ke udara dan tidak bergerak.”
Arya berdiri perlahan, lalu berkata dengan yakin. “Keris Jagat Wening… Satrio memilikinya sekarang.”
Intan tertegun. “Apa kau yakin?”
“Aku yakin karena aku pernah memegangnya. Di masa lalu. Dan... aku tahu dia akan menggunakannya lagi.”
---
Di tempat lain, di sebuah ruang bawah tanah yang tersembunyi di sisi lain Gunung Penanggungan, Satrio Mahardika berdiri di tengah ritual. Di sekelilingnya, empat orang pria dan wanita berselubung kain hitam duduk bersila, membaca mantra dari naskah kuno.
Di tengah ruangan, di atas altar batu, diletakkan dua keris:
Keris Jagat Wening – bersinar merah darah.
Keris Leluhur Arya – bersinar putih pucat, yang entah bagaimana, telah dicuri dari Arya malam sebelumnya saat ia tidur.
Satrio mencelupkan tangannya ke dalam mangkuk berisi darah kambing hitam. Ia menorehkan darah itu ke kedua keris, lalu berkata:
> “Waktu telah kembali menyatukan kita. Dulu aku gagal. Tapi sekarang, dengan dua keris bersatu, aku akan membuka Gerbang Waktu… dan membalaskan semua yang tertunda.”
Salah satu pengikutnya bertanya, “Apa yang akan kau lakukan jika Rakai Arya datang?”
Satrio tersenyum. “Dia akan datang. Karena dia tak bisa menghindari takdir. Dan saat ia datang… aku akan mengurungnya selamanya dalam waktu yang tak pernah selesai.”
---
Arya dan Intan melanjutkan pencarian ke sisi barat gunung, berdasarkan jejak tanah dan sinyal dari alat pelacak kecil yang Intan tanamkan di keris pusaka Arya sebelumnya.
“Ada pergerakan,” ujar Intan sambil memeriksa alat pelacak. “Kerismu… bergerak ke arah selatan. Cepat.”
Arya terdiam sejenak. “Dia mencurinya. Dan dia ingin aku mengejarnya.”
“Perangkap?” tanya Intan.
Arya mengangguk. “Mungkin. Tapi ini juga kesempatan. Aku akan hadapi dia.”
Intan meletakkan tangannya di lengan Arya. “Aku ikut.”
“Tidak. Ini urusanku.”
“Aku bukan sekadar pengamat sejarah. Aku bagian dari cerita ini sekarang.”
Arya menatap matanya. Dan untuk pertama kali, ia merasa bahwa dalam peperangan ini, ia tidak sendirian.
---
Saat senja menuruni lereng gunung, Arya dan Intan tiba di mulut gua tua yang tertutup akar-akar besar. Di dindingnya, ukiran zaman Majapahit masih terlihat samar: dua sosok prajurit saling menodongkan keris, dan seekor naga melingkar di antara mereka.
“Tempat ini… adalah Gerbang Waktu,” bisik Arya.
Tiba-tiba, cahaya merah keluar dari dalam gua.
Dan suara langkah mendekat.
Satrio Mahardika muncul dari kegelapan, mengenakan jubah hitam dan kalung logam berbentuk matahari.
“Selamat datang, Panglima yang tersesat dalam waktu,” katanya.
Arya menatapnya tajam. “Aku tidak tersesat. Aku kembali.”
Satrio tertawa. “Tapi kau kembali untuk dikurung. Lagi.”
Ia mengangkat kedua tangannya. Dari balik gua, dua pengikutnya membawa Keris Jagat Wening dan keris Arya.
“Dengan darah ini,” ucap Satrio, “aku akan menutup siklus. Menyegel jiwamu agar tak pernah kembali ke tubuh mana pun.”
Arya maju. “Kalau begitu, mari kita akhiri ini... seperti yang seharusnya sejak dahulu kala.”
Intan mundur, mempersiapkan alat pemancar sinyal untuk mengirimkan koordinat lokasi kepada tentara terdekat—karena meski ini peperangan antara dua jiwa tua, dunia modern tidak bisa tinggal diam.
Satrio dan Arya berdiri berhadapan di bawah gerbang batu. Dua pusaka, dua jiwa, dua takdir. Sejarah akan memutuskan… siapa yang pantas mengakhiri masa lalu.
---