Matahari Trowulan perlahan naik, menyinari candi tua yang mulai menggeliat dari tidur panjangnya. Kabut sudah terangkat, namun suasana masih sepi. Di tempat yang pernah menjadi pusat peradaban, hanya bisikan angin yang terdengar, seolah roh-roh masa silam masih menyampaikan rahasia yang belum tersampaikan.
Letnan Arya Wicaksana duduk di pelataran candi, memandangi keris pusaka yang kini terbungkus kain hitam. Ia belum berani menyimpannya jauh dari tubuhnya. Rasanya seperti memisahkan bagian dari dirinya sendiri—jiwa yang terikat dalam waktu, masa lalu, dan dendam yang belum selesai.
Dr. Intan Sarasvati datang membawa dua cangkir teh panas dari warung kecil tak jauh dari lokasi. Ia menyodorkannya kepada Arya dan duduk di sampingnya. Tak satu pun dari mereka langsung bicara. Mereka masih mencerna apa yang terjadi semalam.
“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Intan lembut.
Arya mengangkat bahu. “Aneh. Setiap kali aku bangun dari pengalaman itu, aku merasa... kosong, tapi sekaligus penuh. Seolah dua kehidupan mencoba berbagi ruang dalam satu tubuh.”
Ia menatap langit, lalu beralih pada Intan. “Aku tahu sekarang. Aku bukan hanya melihat masa lalu. Aku ada di sana. Aku hidup sebagai Panglima Rakai Arya. Dan orang-orang di sekelilingku bukan sekadar bayangan. Mereka... nyata.”
Intan menatap Arya serius. “Mungkin bukan hanya jiwamu yang kembali. Tapi sesuatu yang jauh lebih besar. Kita hidup di dunia yang dibangun dari lapisan-lapisan sejarah. Dan ketika satu lapisan terbuka… yang lain bisa ikut terungkap.”
---
Tak jauh dari sana, di sebuah rumah tua dengan arsitektur campuran kolonial dan Jawa kuno, seorang pria paruh baya berdiri di depan dinding penuh foto dan dokumen. Namanya Satrio Mahardika. Ia adalah pensiunan intelijen militer, namun kini memimpin yayasan budaya yang dianggap netral dan akademis. Tapi di balik itu semua, Satrio menyimpan obsesi lama: mencari keberadaan keturunan panglima Majapahit yang hilang dalam sejarah.
Di depannya, terpampang peta leluhur Majapahit dan garis silsilah yang disusun berdasarkan manuskrip langka yang diperoleh secara ilegal dari Belanda. Di tengah peta itu, satu garis silsilah ditandai merah tebal.
> “Rakai Arya Wiratma — Menghilang 1361 Masehi”
Satrio mendesah panjang. Tangan kirinya gemetar, namun bukan karena usia. Tapi karena kegembiraan bercampur ketakutan.
“Dia kembali…” gumamnya. “Akhirnya.”
Di mejanya, sebuah foto buram hasil tangkapan drone militer yang diam-diam ia akses secara ilegal memperlihatkan Arya dan Dr. Intan di candi Bajang Ratu semalam. Mata Satrio menatap wajah Arya tajam.
“Keturunan terakhir Sang Panglima... atau jiwanya sendiri? Tak masalah. Yang penting—ritual itu harus diselesaikan. Sebelum semuanya hancur lagi.”
---
Kembali ke Trowulan, Arya dan Intan berjalan ke bagian belakang kompleks candi, tempat di mana reruntuhan kecil menunjukkan sisa-sisa kolam suci. Intan berlutut dan mulai menyikat pelan batu-batu yang sudah hampir terkubur lumpur dan akar.
“Di manuskrip yang aku baca,” kata Intan, “ada ritual kuno yang dilakukan di tempat ini oleh para panglima sebelum perang besar. Mereka menyebutnya ‘Pembersihan Bayangan’. Bukan hanya untuk raga, tapi juga jiwa.”
Arya menatap kolam yang sudah kering itu. Seketika, kilatan kembali hadir di kepalanya.
— Ia berdiri di tepian kolam, bertelanjang d**a, dengan ukiran keris raksasa di tengah air yang mengalir jernih. Di sekelilingnya, para pendeta Majapahit melantunkan mantra.
— Di seberangnya, Dyah Sekar Wulan menunduk dalam doa. Ada air mata di matanya. “Kau akan pergi ke medan perang tanpa jiwamu penuh. Aku takut kehilanganmu.”
Arya masa lalu menggenggam tangan Sekar. “Jika takdir membelah kita, aku akan kembali melintasi waktu. Demi janji kita.”
Kembali ke masa kini, Arya mundur satu langkah. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya.
Intan melihatnya. “Kau melihat sesuatu lagi?”
Arya mengangguk. “Aku... membuat janji pada seseorang. Pada Dyah Sekar Wulan.”
“Apa yang dijanjikan?”
Arya menghela napas. “Bahwa aku akan kembali. Meski waktu memisahkan kami.”
Intan menatapnya dalam diam. Kata-kata Arya mengandung emosi yang terlalu dalam untuk sekadar ilusi. Ia bisa merasakan getarannya. Dan ia mulai sadar, ini bukan semata soal sejarah. Tapi soal cinta… dendam… dan karma yang belum tuntas.
---
Malam itu, mereka beristirahat di penginapan sederhana dekat kawasan situs. Arya tak bisa tidur. Ia duduk di depan cermin kamar, memandangi wajahnya sendiri. Tapi malam itu, refleksi di cermin perlahan berubah—menjadi wajah seseorang lain.
Rambut panjang terikat kain hitam. Kulit lebih gelap. Tatapan tajam namun lelah. Tapi ia tahu… itu dirinya.
> “Waktu kita hampir habis,” kata sosok itu dari balik cermin. “Pengkhianat masih hidup dalam darah keturunannya. Dan pusaka itu… akan digunakan lagi.”
Arya mencoba bertanya, tapi suaranya tak keluar.
> “Kau harus ke Gunung Penanggungan. Di sanalah perjanjian terakhir dibuat. Dan di sanalah darah pertama ditumpahkan.”
Seketika, cermin pecah sendiri. Arya tersentak, lalu sadar: ia masih sendirian di kamar.
Di meja, keris pusaka kembali bergetar.
---
Keesokan paginya, Intan masuk ke kamar Arya. Ia nyaris menjerit ketika melihat cermin kamar pecah, tapi Arya menenangkannya.
“Kita harus ke Gunung Penanggungan,” katanya mantap. “Di sanalah semuanya bermula. Dan mungkin... berakhir.”
Intan terkejut. “Dari mana kau tahu itu?”
Arya menatapnya. “Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi hatiku tahu jalan ke sana.”
Intan mengangguk. Ia sudah terlalu jauh untuk mundur. “Baik. Tapi kita harus hati-hati. Banyak kelompok spiritual dan paramiliter yang mengklaim situs di sana suci. Termasuk... kelompok Satrio Mahardika.”
Arya memicingkan mata. Nama itu membuat sesuatu dalam dirinya bergetar.
“Satrio?” Arya mencoba mengingat. Nama itu pernah disebut di mimpi. Seorang pangeran muda yang mencemburui Rakai Arya karena kedekatannya dengan Dyah Sekar Wulan. Sosok yang licik, berpengaruh, dan... hilang setelah keris pusaka Majapahit lenyap dari keraton.
“Dia masih hidup?” tanya Arya pelan.
“Dia bukan Satrio yang sama,” ujar Intan. “Tapi... aku yakin darahnya sama. Dan kalau kau benar—jiwa pengkhianat itu mungkin masih mengalir dalam dirinya.”
Arya berdiri. “Maka aku akan mengakhirinya. Untuk Majapahit. Untuk masa depan. Dan untuk... cinta yang tertinggal di balik waktu.”
---
Di kejauhan, di markas kelompok spiritual elite yang tersembunyi di balik lereng Gunung Penanggungan, Satrio Mahardika berdiri di depan altar besar. Di tengah altar, tergeletak benda logam yang dibungkus kain emas.
Ia membuka kain itu perlahan.
Tampak sebuah keris lain—lebih panjang, dengan motif naga yang lebih liar, dan aura merah darah yang menyeruak dari bilahnya.
> “Keris Jagat Wening,” bisik Satrio. “Pusaka yang dulu digunakan untuk memecah kerajaan. Dan sekarang… akan kupakai untuk menyatukan kekuatan.”
Ia tersenyum tipis.
“Selamat datang kembali, Panglima Rakai Arya. Mari kita selesaikan takdir yang tertunda…”
---