Hujan baru saja reda ketika mobil jip militer tua berderit berhenti di depan sebuah gapura bata merah yang menjulang di tengah persawahan luas. Udara di Trowulan pagi itu terasa lebih berat dari biasanya. Kabut tipis menyelimuti tanah yang pernah menjadi pusat kemegahan kerajaan terbesar di nusantara—Majapahit.
Letnan Arya Wicaksana berdiri menatap reruntuhan candi yang setengah terkubur waktu. Ia merasa seperti telah kembali ke rumah… meski secara logika, ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di sini. Tapi setiap batu, setiap ukiran, terasa akrab. Terlalu akrab.
Di sampingnya, Dr. Intan Sarasvati membawa koper kecil berisi alat dokumentasi dan manuskrip salinan dari perpustakaan kampusnya. Di tangannya, ada fotokopi lembaran naskah kuno bertuliskan huruf Kawi yang belum diterjemahkan sepenuhnya.
“Ini Candi Bajang Ratu,” ujar Intan. “Diduga dibangun untuk mengenang wafatnya Jayanegara. Tapi di bawah fondasinya… ada struktur yang tak pernah tercatat dalam arkeologi resmi. Beberapa teks menyebutnya sebagai Gerbang Bayangan.”
Arya mengerutkan kening. “Gerbang Bayangan?”
Intan menatapnya serius. “Dalam naskah kuno, tertulis bahwa di suatu tempat dalam pusat Majapahit, terdapat pintu tak kasatmata—bukan ke dunia lain, tapi ke lapisan waktu lain. Bukan mitos, tapi seperti... resonansi jiwa yang tak tuntas.”
Arya terdiam. Hatinya berdebar kencang. Keris tua yang ia sembunyikan dalam tas militernya bergetar pelan, seolah merespon kalimat itu.
---
Mereka berjalan memasuki bagian belakang reruntuhan candi. Di sana, di balik semak yang nyaris menutupi jalur masuk, Intan membuka sebuah palka logam tua yang tersembunyi di tanah. “Dulu ini tempat penelitian bawah tanah, dibangun di zaman kolonial. Tapi tak pernah dirampungkan. Sekarang… kita lanjutkan sendiri.”
Tangga tua menurun ke ruang yang gelap, lembab, dan pengap. Dindingnya terbuat dari batu bata merah tua, sebagian sudah rapuh. Tapi di ujung lorong, mereka menemukan sesuatu yang tidak biasa—sebuah batu bulat besar dengan ukiran aksara kuno dan simbol naga melingkar, sama persis dengan simbol di keris Arya.
Dan saat Arya menyentuh batu itu… waktu seolah berhenti.
Gemetar menjalar dari ujung jari ke dadanya. Ruang gelap di sekelilingnya mendadak menyala samar dengan cahaya kemerahan, seperti nyala obor dari zaman dahulu. Dalam sekejap, ia tak lagi berada di lorong bawah tanah. Ia berdiri di balairung kerajaan. Lagi.
Tapi kali ini bukan sekadar mimpi.
---
“Panglima Rakai Arya!”
Suara itu menggelegar. Ia menoleh dan melihat Dyah Sekar Wulan—wanita yang berkali-kali muncul dalam kilasan mimpi—berdiri dengan mata berlinang. Tapi kini ia bisa mencium aroma melati dari rambutnya, bisa merasakan genggaman tangannya.
“Aku mencarimu,” ucap wanita itu. “Kau dituduh membawa kutukan. Tapi aku tahu siapa kau sebenarnya. Kau… pelindung Majapahit.”
Arya—dalam tubuh panglima masa lalu—menggenggam tangannya. Tapi sebelum sempat berkata-kata, suara derap kaki pasukan bergema dari luar. Seorang prajurit masuk tergesa.
“Paduka! Keraton diserbu! Ada pengkhianatan! Pusaka keraton… hilang!”
Arya menoleh. Dan saat itu, ia merasakan tubuhnya ditarik oleh dua kekuatan berbeda—masa lalu dan masa kini. Ia berteriak dalam diam. Dunia seolah berputar.
---
“Arya! Bangun!”
Ia terjatuh di lantai ruang bawah tanah. Nafasnya terengah-engah. Dr. Intan menatapnya ketakutan. “Tadi kau… tubuhmu menyala! Dan keris itu—” Ia menunjuk keris yang kini berada di tangan Arya, yang seolah muncul sendiri dari dalam tas.
Keris itu kini bersinar samar.
“Dyah Sekar Wulan,” Arya bergumam. “Dia masih ada. Jiwanya… terperangkap. Dan seseorang dari masa lalu… membawa pengkhianatan itu sampai sekarang.”
Intan mencengkeram lengan Arya. “Kalau benar ini bukan sekadar penglihatan, maka siapa pun yang berkhianat di masa lalu, mungkin… keturunannya masih hidup. Mungkin mereka masih menyimpan sesuatu. Dan kau, Arya… bisa jadi satu-satunya yang bisa membuka kebenaran.”
Arya berdiri perlahan. Pandangannya tak lagi gemetar. Ia merasa seperti seseorang yang akhirnya tahu dari mana ia berasal.
“Aku tidak akan lari dari ini,” ucapnya pelan. “Jika waktu memberiku kesempatan kedua… maka aku akan mengungkap kebenaran. Dan menyelesaikan perang yang belum selesai.”
Tapi jauh di reruntuhan candi tua, sosok lain berdiri diam. Seorang pria berpakaian batik hitam dan topi safari, memperhatikan mereka dari kejauhan.
Ia tersenyum samar, lalu berbisik pada bayangannya sendiri, “Akhirnya kau bangkit juga, Rakai Arya. Tapi kau datang terlambat…”
---