Langkah kaki Dr. Intan Sarasvati menggema lembut di lantai beton markas TNI. Pagi itu, suasana barak batalyon masih diselimuti kabut pagi dan sisa ketegangan operasi semalam. Tapi bagi Intan, bukan operasi militer yang membuatnya tidak bisa tidur. Melainkan—keris itu.
Ia berdiri di depan meja Letnan Arya, yang kini tengah membersihkan bilah logam kuno itu dengan hati-hati, seolah ia tahu betul cara memperlakukannya.
“Aneh sekali,” ujar Intan. “Keris ini… bukan hanya tua. Tapi bilahnya menunjukkan pola pamor langka, jenis Pamor Wengkon, dan ada simbol naga emas yang mengindikasikan pemiliknya adalah bangsawan tinggi, bahkan mungkin panglima perang.”
Arya mengangguk, matanya masih terpaku pada bilah keris. “Aku tahu.”
Intan menatapnya, penasaran. “Dari mana kau tahu semua itu?”
Letnan muda itu tidak menjawab. Ia hanya meletakkan keris perlahan, lalu berdiri. “Karena aku... pernah memegangnya sebelumnya. Dalam mimpi. Tapi mimpi itu... nyata. Terlalu nyata.”
Ia melangkah ke jendela, memandangi matahari yang mulai menembus pepohonan. Dalam hatinya, perasaan ganjil itu kembali bergolak. Sesuatu di dalam dirinya mulai berubah—ia merasakannya setiap kali ia menyentuh keris itu.
“Dalam mimpi itu,” lanjut Arya, “aku bukan Arya Wicaksana. Tapi seseorang bernama Rakai Arya Wiratma. Seorang panglima di Majapahit. Aku memimpin pasukan, berperang, dan... jatuh cinta.”
Intan menahan napas. Cerita itu… terlalu spesifik untuk sebuah halusinasi biasa. Ia mengambil buku catatannya.
“Rakai Arya Wiratma?” gumamnya. “Tunggu... aku pernah membaca nama itu di Prasasti Ngandat. Tapi tak banyak informasi tentang dia. Seolah catatan tentangnya sengaja dihapus.”
“Dihapus?” Arya menoleh cepat.
Intan mengangguk serius. “Ya. Nama itu muncul satu kali dalam transkrip kerajaan tahun 1359. Tapi tak ada silsilah, tak ada detail lain. Dan itu sangat tidak biasa untuk tokoh militer di masa Majapahit.”
Arya menyentuh pelipisnya. Kilasan ingatan dari malam sebelumnya kembali muncul—teriakan pasukan, benturan tombak, tatapan mata seorang perempuan berpakaian kerajaan yang wajahnya tak asing, meski ia belum pernah bertemu.
“Kalau begitu,” kata Arya pelan, “mungkin memang ada yang disembunyikan.”
---
Malam harinya, Arya kembali bermimpi.
Ia berada di balairung besar dengan tiang kayu jati merah menyala. Di sekelilingnya, bangsawan Majapahit berdiri berjejer. Suasana tegang. Di hadapannya, Raja Hayam Wuruk duduk di takhta emas, memandangnya dengan mata tajam.
“Rakai Arya Wiratma,” ujar sang raja, “kemenanganmu atas Blambangan menggetarkan kerajaan. Tapi ada yang perlu engkau jelaskan... tentang hilangnya pusaka keraton.”
Arya—dalam tubuh sang panglima—berlutut. “Ampun, Baginda. Saya... tidak tahu bagaimana keris pusaka bisa menghilang. Tapi saya bersumpah, tidak mengkhianati kerajaan.”
Tiba-tiba, seorang menteri tua maju ke depan. Ia mengenakan jubah abu-abu dan membawa tongkat berbentuk ular. Sorot matanya menusuk.
“Paduka Raja,” ucapnya. “Saya percaya ada kekuatan hitam yang bekerja... dan Rakai Arya membawa kutukan dari leluhurnya.”
Sorakan kebingungan bergema di balairung. Panglima Arya terdiam. Namun dalam benaknya—entah kenapa—ia merasa kebenaran memang belum sepenuhnya ia ketahui. Bahkan dirinya sendiri… seperti tak tahu siapa ia sebenarnya.
---
Arya terbangun dengan tubuh basah oleh keringat. Tapi anehnya, tanah di bawah ranjangnya kotor. Seperti bekas jejak kaki... berlumpur dan kuno.
Ia bangkit dan memeriksa. Tidak ada siapa pun di barak, semua prajurit sedang di luar. Tapi di bawah ranjangnya, tergeletak sesuatu:
Sebilah sabuk logam perunggu tua, dengan ukiran aksara Kawi yang belum pernah ia lihat.
Arya menggenggamnya, dan untuk sejenak, matanya kembali menatap dunia lain. Dunia dengan gerbang batu raksasa, dengan relief pertempuran dan langit merah menyala. Suara seorang wanita bergema dalam pikirannya:
> “Kau belum mengingat semuanya, Rakai. Tapi waktu akan membawamu kembali… ke medan terakhir.”
---
Keesokan harinya, Arya menemui Dr. Intan di ruang laboratorium kecilnya di lokasi kamp.
“Aku butuh bantuanmu,” kata Arya, meletakkan sabuk perunggu itu. “Aku harus tahu... siapa sebenarnya Rakai Arya. Dan kenapa... aku merasa dia masih hidup dalam diriku.”
Intan menatapnya dalam-dalam. “Kalau kau benar… ini bukan hanya soal sejarah. Ini bisa mengubah cara kita melihat waktu, jiwa, dan bahkan… takdir.”
Arya mengangguk. “Mungkin takdir memang sedang menuntunku. Tapi ke mana, aku belum tahu.”
Intan menyentuh keris yang ada di meja. “Kita harus ke Trowulan. Ke pusat kerajaan Majapahit. Aku punya kenalan yang menjaga manuskrip yang belum dipublikasikan. Mungkin kita akan menemukan jawaban di sana.”
Arya menghela napas panjang.
> Untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai tentara… ia akan memasuki medan perang yang tidak bisa dilawan dengan s*****a, tapi dengan jiwa dan sejarah.
---