Di Panti Asuhan Beringin Bhakti milik Ibu Emon inilah anak-anak dididik dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Tak ada beda. Tanpa sekat.
Manusia dilahirkan dengan keadaannya yang berlainan. Kaya, miskin, sempurna, berkebutuhan khusus, serta kelebihan dan kekurangan lainnya di sana-sini yang pada akhirnya membuat sebagian orang beranggapan tak sama. Takdir. Hanya bisa berpasrah sembari terus berikhtiar.
Hal itulah yang memotivasi Ibu Emon untuk tetap bersemangat menjalani aktifitasnya bersama anak-anak di panti, meski usianya telah mencapai sembilan puluh tahun. Rasa nasionalis yang telah tumbuh sejak jaman kemerdekaan masih tertanam kuat hingga kini dalam diri Ibu Emon.
“Dulu berjuang untuk Bangsa Indonesia. Sekarang berjuang juga untuk Bangsa Indonesia, untuk anak-anak Indonesia agar mereka tumbuh menjadi pribadi mandiri, tangguh, dan bertanggung jawab, serta kelak mampu menjadi para pemimpin yang tetap mencintai Indonesia. Anak-anak yang tinggal di sini harus sekolah. Kami berharap setelah lulus nanti mereka mampu berdiri di atas kaki sendiri. Berjuang untuk dirinya, hidupnya, keluarga, agama, dan negerinya,” begitulah ucapan Ibu Emon di tengah wawancara yang dilakukan oleh seorang wartawan dari salah satu surat kabar.
Di luar sana, nampak anak-anak ke luar dari gerbang panti. Ada yang berseragam putih merah, putih biru, dan putih abu, saling bertegur sapa. Mereka hendak berangkat ke sekolah. Di antara mereka terlihat Karin memakai seragam SMA tengah berdiri menunggu di depan gerbang.
Dari kejauhan becak Pak Leman menuju ke arahnya. Becak berhenti. Karin mencium tangan Pak Leman, kemudian naik dan duduk di samping Salya. Pak Leman kembali mengemudikan becaknya, melanjutkan perjalanan.
“Jadi yang dulu ikut berperang melawan penjajah disebutnya veteran?” Salya meneruskan percakapan.
“Veteran itu apa kek?” Karin ikut mengobrol.
“Bekas pejuang ya kek?”
“Kok bekas sih, kayak barang rongsokan saja.”
Pak Leman tertawa kecil, “Mereka yang telah menyumbangkan tenaganya secara aktif atas dasar sukarela memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Veteran adalah golongan masyarakat yang berjiwa Pancasila. Pernah berjuang dalam kesatuan bersenjata resmi atau kelaskaran yang diakui oleh pemerintah termasuk di dalamnya satuan yang bertugas di bidang palang merah Indonesia, seperti ibu Emon contohnya.”
“Berarti veteran itu pahlawan?”
“Masa pahlawan ada yang jadi pemulung. Kakek Asman jadi pengamen. Kakek Leman jadi tukang becak. Apa kakek pejuang yang mempertahankan becak?” Salya bertanya polos. Mereka tertawa gembira.
***
Beberapa meter lagi becak Pak Leman sampai di sekolah Salya. Di kanan-kiri, anak-anak berjalan dengan rupa-rupa gaya. Ada yang biasa saja, ada yang sambil bercanda dengan sesama teman seperti Oni dan Ucup, berlarian, dan di seberang sana seorang anak berseragam sekolah digendong ibunya sambil menangis. Becak Pak Leman melintas di antara mereka. Karin menunjuk kepada anak yang digendong ibunya itu sambil berbisik ke Salya. Salya menutup mulutnya menahan tawa, kemudian menyapa Oni dan Ucup yang merupakan sahabatnya.
Becak Pak Leman berhenti. “Oni, Ucup, ayo naik,” ajak Salya.
“Eh, yang gendut jangan duduk di bawah. Terguling nanti becaknya,” sindir Ucup kepada Oni.
“Ya sudah, aku dipangku Mba Karin saja.”
“Enak saja. Berat!”
Mereka tertawa. Salya mempersilakan Oni duduk di samping Karin, sedangkan ia dan Ucup duduk di bawah. Mereka bercanda berdesak-desakan.
Sesampainya di depan sekolah, Salya, Oni, dan Ucup menyalami Karin, kemudian turun secara bergantian, lalu menyalami Pak Leman.
“Sekolah yang pintar. Berjuanglah untuk masa depan dan negara.”
“Baik kek,” Salya tersenyum, lalu melangkah ke gerbang sekolah bersama Oni dan Ucup.
Di seberang jalan tampak Citro ke luar dari dalam mobil jeep yang dikendarai kakeknya, Pak Mitro. Pak Mitro ialah teman sesama veteran yang memiliki sifat angkuh dan sombong. Hidupnya berkecukupan. Sangat kontras dibandingkan Pak Leman.
Kedatangan Citro disambut Udi dan Asep, teman-teman dekatnya, kemudian mereka masuk ke sekolah.
Pak Leman yang tersenyum menyapa Pak Mitro, diacuhkan. Malah sesegera mungkin Pak Mitro tancap gas pergi dari situ. Karin yang juga mengenal betul bahwa Pak Mitro ialah teman seperjuangan Kakek Leman dahulu dan memiliki tabiat menyebalkan memicingkan matanya, kesal sekali.
Pak Leman kembali mengayuh becak mengantar Karin ke sekolah.
Setelah melepas kedua cucunya di sekolah, Pak Leman kembali melanjutkan aktivitas mencari penumpang.
Tak jauh dari sekolah Karin, di seberang jalan seorang ibu melambaikan tangan. Pak Leman mendekati.
“Bismillahirahmanirrahim,” becak Pak Leman bergerak membawa ibu tersebut ke tempat tujuan. Memasuki kepadatan kota. Hari yang cerah. Langit yang indah.
Pak Leman memberhentikan becaknya di depan sebuah apotek, tempat di mana Pak Mukram bekerja sebagai satpam. Ibu penumpang turun. Dari arah berlawanan, berlarian Pak Mukram mendekati Pak Leman. “Pak Leman, Pak Hamid meninggal!”
“Innalillahiwainnailahirojiun!” begitu kagetnya Pak Leman mendengar kabar tersebut.
“Kabari Asman!”
“Baik Kram, kita bertemu di rumah duka. Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.”
Bergegas Pak Leman memacu becaknya. Mencari Pak Asman yang biasanya di jam segitu sudah berkeliaran di jalan-jalan. Pak Leman mencarinya di tempat biasa, di perempatan Jalan Pelangi. Pak Asman tak ada. Pak Leman kembali membawa becaknya ke tempat lain. Di Jalan Besar, pun tak nampak. Di pusat kota juga sepi. Di mana Pak Asman kini? Tak mengamenkah ia hari ini?
Dengan gontai Pak Leman mengayuh becaknya tanpa tujuan.
Sambil mengayuh, sesekali Pak Leman menengok ke kanan dan kiri, siapa tahu ada Pak Asman sedang menggesek biolanya atau masih berjalan mencari keramaian untuk tempat pentasnya.
Lima menit, sepuluh menit. Kemanalah Pak Asman? Tak muncul batang hidungnya. Di saat genting semacam ini, di kala orang-orang menanti, dan para sahabat merindu, ke mana ia? Di mana ia kini?
“Pengamen itu, sulit sekali dicari saat dibutuhkan,” gerutu Pak Leman. Tak ada tanda-tanda si pemakai topi flat cap.
Cuaca hampir panas. Pak Leman akhirnya menemukan Pak Asman di dekat Hotel Cirebon.
Dengan penuh semangat, di tengah kerumunan, Pak Asman membawakan Lagu Gugur Bunga. Terdengar pilu. Menyedihkan. Beberapa orang yang lewat bersimpatik dan sebagai atensi, mereka meletakan uang di piring kaleng yang disediakan. Di pertengahan permainan biolanya, seorang gadis remaja mengikuti gerak bunyi, menyanyikan Lagu Gugur Bunga dengan penuh penghayatan. Mendadak hening. Senyap. Sunyi. Mata Pak Asman memerah. Tak sampai menangis, tetapi hatinya mulai gerimis.
Pak Leman memberhentikan becaknya, lalu berdiri di antara kerumunan orang, hatinya terenyuh. Ia teringat kebersamaan dengan Pak Hamid. Seketika, Pak Leman mengangkat tangan memberi hormat. Pak Leman menangis tanpa suara. Air matanya jatuh membasahi pipi, membasahi kenangan. Satu dua orang yang berdiri di depan, menengok ke belakang, melihat heran.
“Gugur bungaku di taman bakti. Di haribaan pertiwi. Harum semerbak menambahkan sari. Tanah air jaya sakti. Telah gugur pahlawanku. Tunai sudah janji bakti. Gugur satu tumbuh seribu. Tanah air jaya sakti. Telah gugur pahlawanku. Tunai sudah janji bakti. Gugur satu tumbuh seribu. Tanah air jaya sakti. Betapa hatiku takkan pilu. Telah gugur pahlawanku. Betapa hatiku tak akan sedih. Hamba ditinggal sendiri.”
Lagu Gugur Bunga selesai dibawakan. Orang-orang satu persatu meninggalkan tempat.
“Saya suka dengan bapak. Bapak jago sekali memainkan biolanya,” puji gadis yang barusan menyanyi, sebelum akhirnya ia melangkah pergi.
“Terima kasih. Suaramu juga bagus nak,” Pak Asman kemudian memunguti uang di dalam piring.
Pak Leman melangkah mendekat, “Asman, Hamid meninggal.”
“Innalillahiwainnailaihirajiun.”