Suasana duka menyelimuti. Di samping jenazah Pak Hamid, istrinya dan Amat menangis tersedu dalam dekapan Ibu Emon.
Di dinding terpajang foto Pak Hamid semasa muda. Seragam cokelat veteran yang membalut serta topi kuning yang dikenakan membuatnya terlihat gagah. Ada semacam kebanggaan yang ingin diutarakan melalui foto itu. Indonesia telah merdeka, akan tetapi bentuk penjajahan secara fisik masih terjadi di beberapa daerah. Berkat perjuangan para veteran jugalah, Indonesia saat itu mampu bertahan hingga kini. Lahirlah anak-anak Indonesia, generasi penerus bangsa, cikal bakal pemimpin berikutnya.
Pak Leman dan Pak Asman berdiri tergugu di pintu. Pak Asman melepaskan topi, lalu menyandarkan biolanya ke dinding. Mereka melangkah mendekati jenazah. Dilewatinya Amat yang mendadak berdiri, bergeser beberapa langkah. Amat menangis. Pak Leman mengelus rambutnya, kemudian memegang bahunya kuat-kuat. Di belakang, Pak Asman memperhatikan iba. Mereka kembali berjalan, lalu duduk di samping jenazah. Di antara para pelayat, di dekat jenazah, ada Pak Didit dan Pak Mukram. Pak Leman mengangguk pelan kepada istri Pak Hamid, pertanda meminta ijin untuk membuka kain penutup wajah almarhum.
Mata Pak Leman memerah. Air mata membendung. Pak Leman berharap bisa melihat wajah Pak Hamid untuk terakhir kalinya. Dibukanya kain. Seketika air mata terjatuh. Pak Leman tak bisa menyembunyikan rasa sedih akan kepergian salah seorang teman seperjuangannya. Nasib mempertemukan mereka di medan perang dahulu dan takdir menginginkan agar mereka tetap bersama menjalani hari-hari yang masih juga dipenuhi dengan perjuangan. Berjuang bertahan hidup.
“Sekarang kamu merdeka dari penyakit yang menjajah tubuhmu. Dulu kita sama-sama berperang mengusir penjajah. Setelah negara merdeka, kita bersama lagi berperang melawan kemelaratan. Sungguh perjuangan yang terus-menerus membutuhkan keikhlasan. Selamat jalan Hamid. Merdeka,” Pak Leman mengepalkan tangan.
Beberapa pelayat menyaksikan heran Pak Leman. Ada pula yang berbisik ke teman di sampingnya. Barangkali mereka baru tahu, bahwa Pak Hamid merupakan salah satu yang pantas disebut pahlawan. Meski hidupnya miskin dan menderita, tetapi ia tetaplah pahlawan kita. Pahlawan yang pernah bertaruh nyawa untuk Indonesia. Kini setelah raga hilang, mereka baru menyadari, jika salah satu tetangganya itu ialah seorang veteran.
Selepas disholati, jenazah Pak Hamid dipindahkan ke keranda yang ditutupi kain hijau dihiasi rangkaian bunga melati. Tiba-tiba Pak Mukram berlari ke dalam rumah, kemudian kembali lagi dengan membawa bendera merah putih yang masih terlipat rapih, lalu membukanya dan ditaruh di atas keranda yang hanya bisa menutupi bagian depannya saja. Keranda diangkat oleh dua bapak di depan, Pak Leman dan Pak Asman ikut memikul di belakang.
Rombongan pengantar jenazah berangkat. Menyisir jalanan g**g. Gaung tahlil. Gaung tahlil.
“Laa ilaaha illallah. Laa ilaaha illallah. Laa ilaaha illallah.”
Rombongan hampir sampai di Taman Makam Pahlawan. Pintu gerbangnya telah menunggu. Menunggu kedatangan alamarhum Pak Hamid yang ternyata hanya melewati. Mengarah ke tempat lain. Ke tempat pemakaman umum.
“Saya kira dimakamkan di sini.”
“Saya kira juga begitu,” ujar dua orang bapak yang berjalan paling belakang rombongan,
Selamat jalan Pak Hamid. Merdeka!
***
Materi pelajaran siang ini di kelas lima ialah sejarah. Meski hari begitu terik dan siswa sudah melepaskan penat di jam istirahat pertama pada pukul 09.00 – 09.30 WIB, namun tetap saja terasa gerah. Satu dua siswa kipas-kipas menggunakan buku tulis yang ia bawa, ada yang menyeka keringat di dahi, juga menggerak-gerakan kerah baju sebagai upaya melonggarkannya agar angin bisa sedikit masuk.
Salya yang duduk rapih masih sesekali tertawa, bercanda bersama Oni dan Ucup. Tak lama, muncul Ibu Fitri. Kelas senyap seketika. Seperti biasa, langkah Ibu Fitri menuju meja guru untuk kemudian menaruh beberapa buku serta alat-alat tulis selalu disertai dengan pertanyaan-pertanyaan mengasyikan. Membuat jalinan ikatan antara guru dan siswa semakin dekat. Tentu hal semacam itulah yang dibutuhkan siswa, sehingga mereka merasa nyaman mengikuti pelajaran. Menganggap guru di hadapan bukan hanya sekadar pengajar, tetapi bisa menjadi teman bicara.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.”
“Sehat semua?”
“Sehat bu.”
“Alhamdulillah. Baiklah kita masuk ke pelajaran.”
Ibu Fitri berdiri mantap di depan kelas. Mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa mengenai sejarah Bangsa Indonesia. Sebagai guru sejarah, tentulah merupakan sebuah kewajiban menanamkan rasa nasionalis dalam diri siswanya, di samping teori-teori umum mengenai sejarah bangsa yang harus disampaikan, perlu pula pemupukan jiwa semangat dan mencontohkannya dengan benar, sehingga teori tersebut pada akhirnya bisa teraplikasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh para siswa.
“Bendera kebangsaan kita adalah?”
“Sangsaka merah putih!” siswa kompak.
“Siapa yang pertama membuat bendera merah putih?”
“Tukang bendera bu!” Oni menjawab lantang. Seluruh siswa tertawa. Ibu Fitri hanya tersenyum.
“Sebelum negara kita merdeka tidak ada bendera itu diperjualbelikan. Untuk mengibarkannya saja, jiwa dan raga taruhan. Yang pertama membuat bendera merah putih adalah Ibu Fatmawati. Kalian tahu Ibu Fatmawati itu siapa?”
“Yang punya rumah sakit di Jakarta bu,” Citro asal menjawab sepengetahuannya saja. Membuat seluruh siswa kembali tertawa. Citro celingukan heran dengan tanggapan teman-temannya.
“Kalian belum pernah ke Jakarta sih! Waktu papah aku kecelakaan di Jakarta dibawanya ke Rumah Sakit Fatmawati!” Citro mengotot menjabarkan.
“Karena beliau seorang pahlawan nama Ibu Fatmawati diabadikan untuk nama rumah sakit umum di Jakarta. Dalam mengenang jasa pahlawan, nama-nama beliau biasanya dipakai untuk, misalnya nama jalan, nama bandara, nama gedung, dan lain sebagainya. Citro, Ibu Fatmawati bukan yang punya rumah sakit tetapi?”
“Istri Bapak Soekarno presiden kita yang pertama!” Salya menjawab dengan yakin sambil mengangkat tangan.
“Betul. Tepatnya Hari Jumat, tanggal 17 Agustus tahun 1945 merupakan detik-detik bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Saat itu sekitar tiga ratus orang datang memenuhi halaman Pegangsaan Timur. Semua hadirin berdiri hikmat mendengarkan Bapak Soekarno mengumandangkan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bendera merah putih dikibarkan. Kainnya melambai-lambai di bawah langit biru. Semua bersimbah air mata, air mata bahagia. Seiring sang pusaka dikibarkan, Lagu Indonesia Raya digemakan. Inilah pertama kali sangsaka merah putih berkibar di bumi pertiwi yang telah merdeka. Merdeka! Merdeka! Merdeka!” Ibu Fitri mengepalkan tangannya kuat-kuat ke atas. Membakar semangat siswa.
“Horeee, kita merdeka!” Ucup berdiri gembira.
“Hidup pahlawan kita!” Oni yang duduk di samping Salya berdiri melanjutkan.
“Hidup Indonesia!” siswa lain ikut berdiri. Kelas riuh oleh sorak-sorai anak-anak. Gembira. Bahagia. Membuat akhir yang indah.
***
Sama halnya dengan Salya, Karin pun tengah mengikuti pelajaran sejarah di dalam kelas. Dengan penuh keseriusan, Karin memperhatikan materi yang diberikan Pak Agus, lalu menjawab pertanyaan yang diajukan gurunya itu.
“Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta tanggal 17 Agustus 1945, tidak semulus seperti yang diharapkan, dikarenakan apa?”
“Karena kehadiran tentara sekutu, yaitu Inggris yang tugas awalnya untuk melucuti tentara Jepang yang kalah perang di Indonesia, malah memboncengi tentara Belanda yang berniat menjajah kembali Indonesia.”