Di Panti Beringin Bhakti, selain anak-anak bisa bersekolah, mereka juga dibekali keterampilan khusus sesuai bakat dan keinginan masing-masing. Sepulang sekolah, beragam kegiatan dilakukan oleh mereka.
Ada yang duduk di bawah pohon sambil membaca buku, ada yang sedang mengobrol menggunakan bahasa isyarat karena mereka tunawicara, dan di salah satu sudut Amat dan Nono sedang duduk. Amat duduk di kursi dan Nono di sampingnya menggunakan kursi roda. Mereka sama-sama tunagrahita.
Tiba-tiba Amat bangun hendak naik ke kursi roda yang sedang diduduki Nono, tetapi Nono menolaknya. Amat memaksa hingga akhirnya adu mulut.
Karin yang sedang membaca buku di dalam kamar putri tersentak kaget manakala mendengar ribut-ribut dari luar. Karin bergegas melihat dari jendela.
“Siapa Rin?” Wati, salah seorang teman sekamar Karin yang sedang bercermin bertanya.
“Amat sama Nono” Karin meletakan bukunya, lalu berlari ke luar.
“Ping gam, pingg ham!” (Pinjam, pinjam) Amat memaksa naik ke kursi roda yang sedang diduduki Nono.
“Jangan ini punya aku!”
“Amat enggak boleh! Nanti Nononya jatuh!” Karin menggenggam tangan Amat, melarang.
“Ping gham! Ibuuu!” Amat menangis. Karin menyerah. Ia berlari ke ruang pengurus panti.
Di dalam ruangan, Bu Emon sedang menanyakan perkembangan Amat kepada Bu Nini.
“Bagaimana Amat sekarang?”
“Alhamdulillah perkembangannya dalam seminggu bagus. Sekarang enggak suka pipis sembarangan, bahkan sudah bisa membuat keramik.”
Karin mengetuk pintu sambil terengah-engah. “Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam. Kenapa Karin?” Bu Nini bertanya kaget.
“Amat dan Nono berebut kursi bu.”
“Kita lihat,” ujar Ibu Emon kepada Bu Nini. Dengan langkah cepat menemui Amat. Dipeganginya tangan Amat, lalu dibawa pergi.
“Kursi itu kaki buat Nono. Tanpa kursi itu Nono enggak bisa jalan. Kursi Amat bukan yang itu. Sudah malam Amat masuk kamar ya.”
***
“Pemberontakan Pangeran Achmad dari Keraton Kanoman terhadap Belanda mengakibatkan beliau dibuang oleh Belanda ke Ambon pada tahun 1866. Namun walaupun beliau sudah dibuang, pemberontakan dan peperangan bukannya mereda justru meluas ke daerah-daerah lain. Perang ini sangat terkenal dengan sebutan Perang Kedondong yang mana banyak tentara Belanda mati terbunuh. Pemberontakan tersebut dipimpin oleh Ki Bagus Rangin dan Ki Bagus Serit. Konon makam Ki Bagus Rangin berada di daerah Jatiwangi, Majalengka, tetapi kini kurang terawat.”
Siswa dengan serius memperhatikan penjelasan Pak Agus.
“Tanggal 21 juli 1947 dimulainya agresi Belanda ke Cirebon, padahal Belanda masih terikat oleh perjanjian Linggarjati. Kota Cirebon diserang dari udara oleh pesawat pemburu dan pembom milik Belanda. Tanggal dan tahun berapa persetujuan Renville ditandatangani dan mengakibatkan apa?
“Tanggal 17 Januari 1948 mengakibatkan pasukan TNI divisi siliwangi ditarik dari Jawa Barat dan harus hijrah ke Yogyakarta, tapi bukan berarti perjuangan kemerdekaan hilang. p*********n terhadap markas serta konvoi tentara Belanda terjadi di mana-mana.”
“Itu dilakukan oleh siapa?”
“Oleh kelompok pejuang yang sengaja tidak ikut hijrah. Pasukan tersebut bersama pasukan tentara pelajar melakukan gerilya di daerah Kota Cirebon dan sekitarnya. Basis perjuangan mereka di Kaligandu, Desa Sampiran, dan Kecamatan Beber.”
“Pintar kamu Karin.”
“Karena dulu kakek ikut dalam perang itu.”
“Nama kakek kamu siapa? Masih ada?”
“Leman. Masih ada pak.”
“Itu loh pak, tukang becak yang suka mengantar Karin sekolah,” Citra berniat meledek.
Semua mata menoleh ke Karin yang tersenyum bangga terhadap kakeknya.
“Baik, bapak lanjutkan. Maret tahun 1948, Abdul kadir kembali dari Jogyakarta dengan rekan-rekan seperjuangannya. Mereka berkumpul di Sunyaragi merumuskan membentuk pasukan untuk kembali bergerilya di Kota Cirebon dan sekitarnya. Apa nama pasukannya tersebut?”
“Pasukan Berani Mati,” Citra asal bunyi.
Wati tertawa. “Itu mah judul film jadul.”
“Pasukan kancil merah,” Karin kembali menjawab.
“Betul. Pada tanggal 27 Desembar 1949, seluruh pasukan kompi Mahmoed Pasha, Batalion Roekman yang dipimpin oleh Kapten Mahmoed Pasha masuk Kota Cirebon membebaskan anggota pasukan kancil merah yang masa gerilya ditawan oleh Belanda. Kompi Mahmoed Pasha merupakan kompi terbaik dalam jajaran divisi siliwangi, makanya sekarang nama Mahmoed Pasha diabadikan untuk nama gedung juang di Cirebon.”
“Opa saya juga dulu ikut dalam pasukan itu. Berati opa saya termasuk pahlawan ya pak?” Citra bangga.
“Iya, pahlawan bertopeng yang ceritanya ada di komik,” celetuk Wati membuat satu kelas tertawa.
“Ini serius jeh!”
***
Di dalam gedung juang masih saja hangat dengan perbincangan-perbincangan.
“Sampai saat ini masih ada beda penafsiran tentang pengertian veteran antara kementerian pertahanan dan kementerian keuangan. Kejadian itu yang menyebabkan persoalan dalam pemberian tunjangan veteran,” Ibu Emon membuka percakapan.
“Jaman perang, harta, jiwa, dan raga dipertaruhkan demi tanah air. Sekarang sudah merdeka masa untuk mengurus SK saja harus bayar,” gerutu Pak Asman.
“Keikhlasan jadi terusik. Kalau diingat malah jadinya sakit hati,” ujar Pak Didit.
“Bukanlah keikhlasan, jika kita masih merasakan sakit hati,” jelas Ibu Emon.
Pak Mitro datang. “Wah, sedang reuni? Pak Leman ke mana? Saya cari ke tempat mangkalnya enggak ada.”
“Masbuloh?” Pak Asman mengejek.
“Apa?”
“Masalah buat loh?”
“Kalau sudah menyangkut hutang piutang jadinya ya masalah. Sekarang daripada yang lain bengong Pak Asman nyanyi deh!”
“Wani piro?”
“Sama teman kok bayar?”
“Sama teman kok nagih? Kok tega?”
“Itu beda masalahnya. Dulu kalau ngumpul begini Pak Asman suka menghibur teman-teman di markas.”
“Jaman perang bisa gratis. Sekarang sudah merdeka enggak ada yang gratis. Orang kencing saja bayar. Sekarang biola ini s*****a saya untuk membela perut.”
“Ayo nyanyi, saya bayar!”
“Wani piro?”
“Enggak usah nyanyi deh. Enggak usah main biola. Pak Asman joget doang, saya bayar.”
“Wani pirooo?” meledek sambil menyembur.
***
Hari terik. Salya berpisah dengan Oni dan Ucup di tengah perjalanan sepulang sekolah. Salya belok ke kiri, sedangkan Oni dan Ucup lurus terus. Tangan mereka beradu. Tos. Besok bertemu lagi di sekolah.
Siang ini Pak Leman tak bisa menjemput, bahkan mungkin dalam beberapa hari ke depan atau bisa sampai hitungan minggu. Entah. Jelasnya, hingga ia mampu melunasi biaya kontrakan. Alhasil Salya mesti berjalan kaki bersama kedua sahabatnya ketika pulang sekolah. Tak jauh memang jarak dari rumah Salya ke sekolah, tetapi tak dekat juga, namun Salya ikhlas.
Keringat membasahi kening. Meluncur mengenai alis. Salya menyekanya. Tas selempang yang dibawa nampak kusam. Seragam sekolah yang digunakan pun tak lagi menampakan warna aslinya. Tidak lusuh. Tidak kotor. Hanya saja terlihat tua sekali. Mungkin karena bertahun-tahun tidak pernah berganti dengan pakaian baru. Itu-itu saja yang digunakan. Senin menggunakan pakaian merah putih pertama. Selasa pakaian merah putih kedua. Rabu pakaian merah putih pertama. Kamis mengenakan pakaian batik. Jumat kembali lagi memakai pakaian merah putih kedua dan Sabtu berpakaian seragam pramuka. Salya hanya memiliki dua setel pakaian seragam merah putih.
Kaos kakinya pun cuma ada beberapa, bahkan sepatu yang selalu ia gunakan ke sekolah sudah rusak dan nyaris jebol. Membuat langkahnya agak kesulitan. Tidak bisa berjalan secepat mungkin. Satu dua kali ia melihat ke bawah, ke kakinya, ke sepatunya. Memastikan bahwa sepatu itu tetap bisa dibawa berjalan.
Ia ingat, baru seminggu lalu ia mengelem sepatunya itu. Namun hanya bertahan sementara.
Ketukan kaki mulai memberat manakala bagian tumit sepatu sedikit menganga. Ia khawatir jika memaksakan diri berjalan cepat malah membuat sepatunya tambah rusak. Ia memelankan langkah. Berharap sepatu itu bisa tetap bersahabat hingga ia sampai di rumah. Syukur-syukur hingga esok, esok, dan dalam hitungan waktu ke depan.
Beberapa meter berhasil ia lalui dengan sedikit risau lantaran tumit sepatunya semakin terbuka. Salya berhenti. Duduk di trotoar. Memeriksa sepatu. Mencopot. Kaki kanannya tanpa sepatu. Ia kembali berjalan dengan tempo seperti biasanya. Agak cepat sambil menenteng sepatu.
Sesampainya di teras rumah, Pak Leman yang sedang duduk tertunduk memijiti tangannya terkejut manakala melihat cucunya yang baru datang menenteng sepatu. Becak Pak Leman terparkir.
Salya mengernyit melihat sang kakek seperti menahan nyeri, kemudian mencium tangannya. “Kok sepatunya enggak dipakai?”
“Rusak lagi.”
“Ini masih bisa diperbaiki. Harus di lem dan dijahit lagi.”
“Lem biru ya kek?”
“Apa itu?”
“Lempar terus beli yang baru.”
“Ya jangan. Kenapa harus dilempar kalau masih bisa diperbaiki. Kalau sudah ada rejeki nanti beli yang baru.”
“Aamiin.”
“Itu di dalam kakek sudah bawakan makan untuk kamu. Kakek barangkat lagi ya.”
“Loh, kakek sudah makan?”
“Sudah.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam. Oh ya kek, nanti sore Oni dan Ucup mau main ke sini.”
“Ya. Jangan ke mana-mana, nanti sore kan mbakmu mau kemari.”
“Iya kek. Hati-hati kek.”