Malam sudah menggantikan siang, suara khasnya mulai mendendangkan lagu tentang dunia mereka, dunia yang gelap penuh dangan misteri bagi yang takut dengan kegelapan.
Sementara di sudut langit tampak sepotong bulan menampakan dirinya, tersenyum menyaksikan nyanyian malam yang menyambut kedatangannya. Begitu anggun sepotong bulan itu membiaskan sinarnya yang sejuk, sambil menyatakan tidak beberapa lama lagi akan membawa seluruh pasukannya menerangi malam. Ya hanya butuh waktu sepekan ke depan bulan itu akan berukuran penuh.
Pada saat yang demikian dua pria duduk bersandarkan dinding daun, tatapan keduanya tertuju lurus pada bangunan paling besar. Di sana beberapa lampu minyak tampak temaram, sesekali dipermainkan angin malam.
"Sudah tiga hari kita di sini, tapi Guru belum juga keluar dari biliknya," ujar seorangnya yang memiliki nama Pragolopati. Ucapannya ditujukan pada teman bicaranya, lelaki paruh baya berpakaian hitam dengan ikat kepala merah yang sering di panggilnya Paman Guru. Orang tersebut bernama Pangger.
"Sudahlah tunggu saja! Hari ini Kakang Ponco menyelesaikan samedinya,'' jawab orang yang bernama Pangger itu.
"Berapa gadis di dalam sana, Paman Guru?''
"Entahlah, tiga atau empat orang mungkin,'' jawab Pangger terdengar asal asalan.
"Kenapa sudah sebulan ini Eyang Guru belum juga datang ke padepokan?'' tanyanya lagi, kali ini tatapannya beralih pada bulan sepotong yang dikejar awan-awan nakal.
"Ah kau ini banyak sekali cakapmu! Lagian harusnya berterima kasih karena Guru belum datang, gadis-gadis yang kau janjikan pada Guru belum sepenuhnya kau dapati!" jawab Pengger, terdengar sinis, "kau pasti mendapatkan hukuman!"
'Kalau saja tidak ada kejadian di pinggir hutan itu, tentunya tiga gadis yang aku janjikan sudah ada,'' ucap Pragolopati disertai dengan desahan. Menggambarkan rasa tidak sukanya.
Ia segera berdiri ketika pintu utama pada bangunan paling besar itu terbuka. Penantian telah usai. Seorang lelaki keluar dari sana menuju ke arahnya dan Pangger.
''Kejadian apa Pragolopati?'' tanya lelaki itu tiba-tiba
Pragolapati menyonsong orang itu dan segera berlutut memberikan penghormatan.
''Kita ke bilik Adi Pangger!'' Ajak lelaki setengah baya ini. Wajahnya berseri, terlihat rahangnya kukuh meski tetap saja uban-uban di kepalanya tidak mampu menutupi usia yang sebenarnya, namun demikian ia memiliki tubuh yang tegap.
''Samedimu sudah selesai, kakang Ponco?'' sapa Pangger sambil mengiringi langkahnya.
''Ada peristiwa apa, Adi Pangger?'' tanyanya kemudian, tanpa menjawab pertanyaan yang sebelumnya dilontarkan adik sepeguruannya itu.
''Sebaiknya Pragolopati saja yang menceritakannya,'' sahut Pangger.
Lelaki paruh baya yang memiliki nama Ponco itu segera mengalihkan pandangannya pada Pragolopati untuk mendapatkan jawaban.
''Maafkan aku Guru, aku belum bisa memenuhi janjiku buat Eyang Guru, karena peristiwa kecil di pinggir hutan Kurawan."
''Ah, tidak perlu basa basi, aku hanya ingin mendengarkan kejadian yang membuat kau gelisahkan sedari tadi!'' ujar Ponco dengan sinis.
Sesampainya di bilik Pangger, Pragolopati kemudian menceritakan kejadian di hutan kecil itu. Dengan saksama dan penuh minat Ponco mendengarkan penuturan. Wajahnya mengguratkan rasa tidak senangnya. Beberapa kali pula matanya menyipit saat mendengar cerita tambahan yang disampaikan Pangger.
''Apa yang kau rasakan di kepalamu saat itu, Adi?''
Untuk beberapa saat Wajah Pangger datar kemudian mengerut dalam usaha mengingat kejutan yang didapatkan di hutan kecil itu.
''Aku merasakan bagian kepalaku menjadi sakit yang luar biasa, darah di kepalaku terasa dingin, tapi selang beberapa saat kemudian panas datang seperti hendak mendidihkan aliran darahku. Setelahnya aku tidak ingat apa- apa lagi.''
Hening beberapa saat.
''Aku yakin orang itu masih di Kurawan!'' kata Pangger dengan geram, "kalau tidak ketemu akan aku bakar pedukuhan itu."
Tiba -tiba Ponco tertawa. Pangger dan Pragolopati mengerutkan dahi atas perubahan sikap lelaki paruh baya itu.
''Apa kau berani mengobrak-abrik pedukuhan itu? Terus kalau orang itu datang kembali bagaimana, yakin dapat menghadapinya? Sebelum melawan kau sudah pingsan di tepi hutan itu. Untung dia tak menghabisi nyawamu!'' jelas Ponco setelah puas dengan tawanya.
''Aku akan meminta bantuan guru!'' jawab Pangger kesal.
''Sudahlah jangan libatkan guru dulu! Besok kita ke sana.'' ujar Ponco.
Pragolopati senang mendengar ucapan Ponco, bersama gurunya ini ia yakin dapat meringkus orang yang bersembunyi di hutan kecil itu. Pragolapati tak mau dianggap lemah oleh warga Kurawan, ia harus tetap menjadi orang yang ditakuti di sana. Dengan begitu, mudah baginya melakukan apa saja dan juga mendapatkan kembali Untari, yang kelak dipersembahkannya untuk orang yang disebut Eyang Guru.
***
Wajah wajah warga pedukuhan Kurawan tampak begitu pucat, mereka dikumpulkan di halaman besar kediaman Ki Buyut, dari remaja sampai yang tua-tua, suara kentong sudah dihentikan, pertanda hampir seluruh penduduk Kurawan sudah berkumpul mungkin hanya bayi-bayi dan ibu menyusui yang tidak diikut sertakan.
Pragolopati tampak berwibawa berdiri di pendhapa kediaman KI Buyut, dengan sinis pemuda itu memandang penduduk yang telah berkumpul.
''Di mana dia? Tunjukan keberadaannya! Jika ada di antara kalian yang berani menyembunyikan maka jangan salahkan aku jika rumah kalian akan kujadikan kuburan untuk kalian sendiri!''
Di tengah keramaian itu muncul seorang lelaki paruh baya, dilihat dari pakainnya yang dikenakan tampak lelaki ini orang berada.
"Pragolopati! Apa yang kau lakukan? Tidak kah kau ingat mereka itu adalah teman-teman sepermainanmu?" katanya dengan suara yang bergetar, "janganlah engkau menjadi penguasa di sini, ada Ki Buyut yang harus kau hormati!"
''Bopo jangan turut campur dengan urusanku!" jawab Pragolopati dengan suara yang lebih keras.
''Perbuatanmu sudah keterlaluan Pragolopati! Bukankah kau lahir dari tanah ini, mereka yang ada di sini sedikit banyak ada membantu kita."
''Cukup Bopo! Aku tak ingin tanganku ini meremukkan kepalamu. Mereka ini orang-orang yang berjiwa kerdil, hanya mementingkan diri sendiri. Padahal kita banyak membantu mereka, memberi makan mereka yang melarat. Tapi apa yang mereka lakukan pada Biyung. Mereka jijik ketemu Biyung dengan alasan penyakit yang menular, bahkan sampai mati tidak ada warga yang melawat.'' Sahut Pragolopati geram.
Lelaki setengah baya itu menunduk lemah, wajahnya penuh penyesalan. Terlihat air menggenang di kelopak mata, tidaklah dia takut akan dibunuh. Melainkan sebuah penyesalan atas sikap anaknya yang sudah jauh dari norma.
''Cepat katakan di mana orang itu!" dengan lebih lantang Pragolopati mengancam. "Jika kalian tetap melindungi orang itu aku bisa buktikan pedukuhan ini akan menjadi arang, dan tak akan aku biarkan satu orang pun yang akan keluar dengan selamat dari pedukuhan ini!''
Pemuda itu kemudian seperti ingin membuktikan ucapannya. Tangannya yang terkepal dihantamkan pada d**a seorang lelaki yang berdiri di depan pendhapa, dengan sekejap orang itu tersungkur tidak sadarkan diri, dadanya biru dari mulutnya keluar darah segar.
Warga menggigil ketakutan, wajah mereka pucat pasi.
"Aku dan guruku masih memberikan kesempatan pada kalian. Tiga hari ke depan saat kami datang orang itu harus sudah ada. Jika tidak, kalian yang akan menanggung akibatnya!'' Lanjut Pragolopati senang melihat warga yang semakin ketakutan.
Setelah berkata demikian Pragolopati segera meninggalkan pendhapa. Tepat di depannya dua lelaki setengah baya mendahului.
Suasana hening, tampak jelas wajah warga Kurawan dalam ketakutan yang teramat dalam. Dapat dibayangkan, tiga hari ke depan rumah-rumah mereka menjadi arang, dan tentu saja jiwa ikut terancam. Warga tahu siapa Pragolopati, terlebih orang-orang yang berada di belakangnya, masih teringat jelas tiga bulan di belakang, keponakan Ki Buyut merenggang nyawa dari tangan Pragolopati dan hari ini dengan tangannya Pragolopati membuat seorang pemuda tersungkur dengan mengucurkan darah segar.
Dalam keheningan itu tiba-tiba saja seorang pemuda berwajah garang berteriak nyaring, "Ki Buyut serahkan orang itu! Kami akan meringkusnya dan memberikannya pada Pragolopati, kami tak ingin rumah-rumah kami dibumi hanguskan oleh orang Sekar Kecubung. Aku baru saja menikah bulan lalu, masih ingin menikmati hidupku."
Hening sesaat, selang berikutnya warga mulai berteriak, ''Iya Ki Buyut serahkan orang itu, kalau tidak kami akan menggeledah rumah Ki Buyut untuk menemukan orang itu!"
''Aku yakin anak muda dan lelaki tua itu biang keroknya. Semenjak mereka datang, pedukuhan kita menjadi tidak tenang,'' teriak pemuda berwajah garang tadi.
''Iya, iya benar!'' sahut yang lain.
''Tapi beliau adalah Gusti Arya Kamandanu!'' sahut lelaki tua yang berdiri di sebelah kanan halaman Ki Buyut.
''Ah, itu sudah lama dan dia bukan lagi panglima Majapahit!'' sahut pemuda yang di tengah
''Serahkan mereka Ki Buyut!'' kata yang lainnya lagi
Gaduhlah sudah halaman Ki Buyut, warga yang lembut tiba-tiba berwajah beringas, mereka maju bersama-sama untuk naik ke pendhapa dan menggeledah pondok Ki Buyut.
Lelaki uzur itu hanya mampu terdiam. Bingung dengan tabiat warganya. Ia hanya dapat menyaksikan dengan ditemani keringat dingin saat warga mengacak-acak isi rumahnya. Ia bisa merasakan amarah warga akibat dalam tekanan yang sebenarnya hasil dari sebuah ketakutan. Bukankah orang yang takut bila mendapat himpitan yang amat besar memunculkan tindakan anarki, melibatkan amarah tidak pada tempatnya.
Setelah puas mengacak-acak pondok Ki Buyut namun tak menemukan yang dicari, kekecewaan dialihkan dengan cara menghardik Ki Buyut. Terlebih setiap pertanyaan yang dilontarkan tak satu pun yang berhasil dijawab dengan baik oleh lelaki tua itu, sebuah pukulan telak mendarat pada tubuh ringkih Ki Buyut. Ia tersungkur menahan sakit, jelas wajahnya tidak hanya menggambar sakit fisik, namun lebih dari itu.
Nyi Buyut yang berada di sudut pendhapa meraung-raung memohon agar mereka menghentikan tindakan biadap tersebut. Namun warga yang beringas sudah lupa daratan. Sepakan dan tamparan bertubi-tubi mendera lelaki malang itu.
Dalam kegaduhan inilah sebuah suara berteriak nyaring, semua orang menoleh. Hening kembali berkuasa. Di sana, di halaman berdiri seorang lelaki bercaping. Hanya kedua matanya saja yang terlihat, seperti berkilat-kilat. Jelas tatapan penuh marah.
''Apa yang kalian lakukan terhadap KI Buyut? Dasar anjing ! Kalian anggap apa Ki Buyut itu, hah? Bukankah kalian sendiri yang memilih dia untuk memimpin pedukuhan ini? Lalu kenapa kalian memperlakukannya seperti binatang?"
Semua warga seperti tersentak oleh ribuan cambuk, dalam keadaan yang demikian masih ada saja yang memaki. Rasanya darah mereka mendidih. Menjalar di sekujur tubuh lalu naik ke ubun-ubun.
''Hei orang aneh, kaulah penyebab dari masalah ini, kedatanganmu dan orang tuamu itu sudah membawa bencana di pedukuhan kami!'' jawab salah seorang di antara mereka tidak kalah nyaringnya. Wajahnya merah padam dengan napas yang tidak beraturan.
''Ayo kita tangkap anak muda dan orang tua itu! Merekalah yang dicari orang-orang Sekar Kecubung, dengan menyerahkan mereka pedukuhan kita dapat selamat dari arang.''
Kesempatan, ya mereka mendapatkan tempat untuk menyalurkan kemarahan yang selama ini tersimpan dan berlindung dari rasa takut. Maka Arya Kamandanu dan Jambu Nada menjadi sasaran empuk untuk melampiaskannya. Keduanya menjadi bulan-bulanan pemuda pedukuhan Kurawan. Dengan beringas menubruk, menendang, dan mendorong ke dua orang itu.
Jambu Nada yang tidak telaten menggeram keras. Ia merasa tidak patut diperlakukan demikian. Dengan menerapkan ajian seipi angin yang telah dipelajari dari romonya, ia melompat surut beberapa tombak. Ia menatap warga dengan tatapan liar. Bila ia melakukan benturan fisik terhadap warga tentu romonya langsung menghentikan tindakannya. Tapi ia harus menunjukan kehebatannya agar warga paham bahwa ia bukanlah orang lemah yang dengan begitu saja menerima perlakuan beiadab mereka.
Sasarannya adalah pohon kelapa yang berada di dekatnya. Dengan kepalan tangan ia hantamkan pada pohon berkulit keras itu. Luar biasa, batang pohon itu berlobang, kemudian dengan goncangan tangannya pohon tersebut tak mampu berdiri lebih lama. Ambruk ke tanah.
Pemuda-pemuda pedukuhan Kurawan seperti tersihir, dengn mata tebelalak mereka menyaksikan anak muda yang dipukul bersama-sama mampu merobohkan pohon kelapa itu dengan kepalan tangan. Bagaimana bila sasarannya adalah tubuh mereka yang lembut, bukan perkara sulit baginya bila ingin membunuh mereka. Pias, wajah pemuda-pemuda yang awalnya beringas mendadak pucat.
''Sepertinya kalian hanya akan mendengarkan orang yang mampu membuat kalian takut," suara milik Arya Kamandanu mengisi di tengah-tengah ketakuatan warga, "dengan kata-kata yang baik kalian tak acuh, bukankah kalian itu adalah orang yang beradab, orang yang mengenal aturan kesopanan?"
Warga yang berdiri di penhapa dan halaman mulai sedikit paham arah perkataan Arya Kamandanu. Wajah mereka tertunduk lesu.
"Di mana letak kesalahan kami pada kalian? Apa kami yang mengambil anak perempuan kalian?" lanjut Arya Kamandanu, "apa aku salah jika tak terima dan berbuat kasar pada orang yang semena-mena mangambil gadis di pedukuhan ini? Yang aku lakukan hanyalah ikut menjaga pedukuhan ini. Kenapa aku dan anakku yang kalian adili?
"Kalian malah menyalurkan kemarahan pada kami, terlebih pada Ki Buyut. Orang yang banyak berjasa bagi pedukuhan ini. Harusnya kalian lampiaskan kemarahan pada Pragolopati dan teman-temannya? Takut? Bukankah dia juga manusia seperti kita? Yang pasti dapat merasa sakit bila di pukul. Aku yakin dengan bersama-sama, kita mampu membuat Pragolopati takut untuk berbuat semena-mena. Bukankah sudah menjadi kewajiban bersama untuk menjaga pedukuhan ini dari orang-orang yang tak bertanggung jawab?"
Bergetar hebat d**a pemuda-pemuda pedukuhan Kurawan. Mereka mencoba menilik diri sendiri, bukanlah orang yang lemah pun mengenal ilmu kanuragan untuk menjaga diri. Buat apa harus takut dengan pedepokan Sekar Kecubung. Benar kata orang yang mereka anggap biang kerok itu, bahwa dengan bersama-sama tentu dapat melawan pedepokan itu. Andai pun binasa bukankah itu mati yang mulia, membela tanah milik sendiri, tempat lahir, tempat besar, tempat bermain. Sudikah membiarkan orang lain begitu saja merusak tanah yang memberikan hidup selama ini?
Kembali suara Arya Kamandanu terdengar di tengah-tengah kegalauan warga Kurawan, ''Aku hanya ingin membela tanah kelahiran nenek moyangku. Di sini romoku dilahirkan, aku pun dibesarkan di sini. Sadarkah kalian sudah membiarkan orang-orang itu berbuat semenamena terhadap tanah kita? Gadis-gadis mereka ambil, adik-adik kita mereka ambil, padi yang kita tanam dengan susah payah bermandikan keringat pun mereka ambil. Apakah kita akan membiarkan hal ini berlanjut terus menerus? Dan kita diam begitu saja?"
''Tidak!'' Jawab salah seorang pemuda, kemudian disahut yang lain, ''tidak, kami tidak akan membiarkan mereka mengambil hak kami, tidak akan kami biarkan mereka berbuat semena-mena pada tanah kami lagi!"
''Ya, tidak!'' Bergemuruh yang lain sahut menyahut seakan terbangun dari tidur yang di dalamnya terdapat mimpi buruk.
Arya Kamandanu tersenyum, ia menarik napas lega. Lalu menatap wajah pemuda-pemuda Kurawan dengan senyuman yang tulus.
Sedangkan Jambu Nada yang berdiri dengan sikap kuda-kuda melengos. Untuk kesekian kalinya ia kecewa. Ia ingin menunjukan beberapa jurus, lalu menjatuhkan beberapa warga. Rasanya geram sekali mempergunakan kanuragan yang sudah dipelajari. Belum sekali pun ia menghadapi manusia sebenarnya, selama ini yang menjadi lawannya adalah benda benda mati; batu, pohon dan sebagainya. Selebihnya pada hewan buruan yang dengan mudah ia tangkap. Lalu untuk apa mempelajari kanuragan bila hanya untuk hal-hal yang remeh temeh seperti itu?