"Nah orang-orang Kurawan, tindakan apa yang akan kita lakukan untuk keduanya ?'' tanya Ki Buyut di sela-sela gemuruh.
Warga kembali mematung atas nama rasa bersalah. Lantaran semena-mena terhadap orang yang seharusnya dihormati, mengayomi dengan tulus. Mendidih hati pemuda-pemuda itu pada Pragolopati dan teman-temannya. Sebab hal ini terjadi lantaran ulah mereka.
''Jawablah orang Kurawan, haruskah menyerahkan keluarga kita ini pada mereka?''
''Tidak ki Buyut!'' jawab orang-orang yang berada di kediamannya itu bersamaan.
''Terus apa yang akan kita lakukan, jika besok lusa mereka datang dengan pedang terhunus?''
"Kita akan melawan, Ki Buyut!" kata pemuda yang berdiri persis di depannya.
"Iya Ki Buyut, kita akan melawan!" sahut yang lainnya.
"Apakah kalian tidak takut jika nanti leher kalian terputus oleh pedang-pedang mereka?''
Dengan penuh semangat pemuda yang berdiri di halaman menjawab, ''Kami tidak takut Ki, kalau pun tewas maka mati itu untuk membela tanah kami sendiri, mempertahankan tanah kelahiran kami.''
"Benar, iya benar!" Sahut yang lain, kembali gemuruh di halaman Ki Buyut.
Ki Buyut mengangguk angguk dengan senyum mengembang. Walaupun badannya perih dan sakit, tapi melihat warganya yang penuh semangat tampak di wajahnya menguratkan senyum bahagia. Bahkan lebih cerah dari hari-hari sebelumnya. Rasa sakit itu terobati oleh perasaan bangga terhadap warganya.
***
Dengan penuh kesadaran pemuda-pemuda padukuhan Kurawan bertekad membela tanah kelahiran mereka dari ancaman Pragolopati dan pedepokan Sekar Kecubung. Semenjak hari itu di bawah bimbingan Jagabaya pedukuhan Kurawan mengadakan latihan-latihan secara serius.
Tidak ketinggalan Arya Kamandanu turut serta memberikan arahan berbagai gelar perang, bagaimana pun juga ia adalah bekas panglima Majapahit. Banyak perang yang dilewati, salah satunya berperang dengan ribuan pasukan negeri Gelang-Gelang Kediri.
Juga ikut terlibat dalam menjaga kedaulatan Majapahit yang baru berdiri di masa itu, di mana peristiwa tersebut sebenarnya bertentangan dengan naluri hatinya, tapi demi kedaulatan Majapahit ia harus menepiskan keraguan. Seperti terpaksa menumpas pemberontakan Rangga Lawe di sungai Tambak Beras dan berselang lima tahun kemudian harus menumpas pemberontakan Lembu sora, orang yang sebelumnya menjadi panutannya selama berada di Kotaraja.
"Kita pusatkan gelar di luar pedukuhan, gerbang pedukuhan dijadikan sebegai benteng terakhir. Sebagian berada di luar, sebagian di atas bukit , kemudian sebagian lagi di dalam yang akan kita jadikan sebagai pasukan cadangan!'' Kamandanu menjelaskan gelar perang yang mereka persiapkan untuk menghadapi pedepokan Sekar Kecubung.
Sebagaimana diketahui pedepokan itu tentu berisi pendekar-pendekar yang mumpuni dalam olah kanuragan. Tentu saja bila harus berhadapan satu lawan satu, atau dengan berhadap-hadapan langsung maka kekelahan telak menjadi milik warga pedukuhan Kurawan. Warga memang tahu sedikit banyak mengenai olah kanuragan, namun hal itu sebatas untuk membela diri bila sewaktu-waktu mendapat ancaman. Berbeda dengan sebuah pedepokan yang berfokus berlatih olah kanuragan.
"Ki Jagabaya memimpin pemuda di luar gerbang, Ki buyut tetap di dalam bersama sebagian pemuda, jika kita perlukan maka Ki Buyut nantinya akan memimpin pemuda untuk membantu pusat pertempuran. Sedangkan di bukit kita percayakan pada putra Ki Buyut untuk memimpin!'' Lanjut Kamandanu menjelaskan.
Ki Buyut bersama warga yang berkumpul tampak mengangguk dan paham dengan gelar perang yang di sampaikan Arya Kamandanu.
''Sebelum terjadi bentrokan, kita usahakan jalan damai. Karena mereka ingin bertemu denganku dan anakku, maka biarlah kami bertemu dengan mereka terlebih dulu, semoga tidak banyak korban yang akan jatuh kelak."
"Baiklah, aku rasa penjelasan Ki Kamandanu sudah dapat dipahami," kata Ki Buyut, "jadi silakan kalian kembali berlatih, semoga apa yang kita lakukan ini mendapat ridhaNya.''
Satu persatu pemuda meninggalkan banjar, beberapa pembantu pedukuhan juga telah meninggalkan banjar untuk kembali berlatih di halaman luas yang sudah dipersiapkan.
***
Di pedepokan Sekar Kecubung, Ki Ponco sudah mendapat kabar bahwa pedukuhan Kurawan bersiap untuk menghadapi mereka, maka dengan itu para murid dan cantrik dipersiapkan untuk dibawa serta. Ia bertekad menghancurkan pedukuhan Kurawan. Ki Ponco merasa bahwa pedukuhan Kurawan tidak lagi menghormati Sekar Kecubung, dengan beraninya secara terang-terangan menentang.
''Apakah kita perlu menghadap Guru, Kakang?'' tanya Pangger.
"Biasanya Guru selalu datang jika kita berada dalam masalah, tapi aku rasa ini hanya masalah kecil,'' jawab Ki Ponco.
Dengan mendengus Ki Ponco menggeram, ''Aku yakin, orang itu berhasil mempengaruhi penduduk, sebelum pedukuhan lainnya ikut melawan, kita harus bergerak cepat. Hari ini juga kita berangkat, bakar pondok-pondok mereka!''
Demikianlah, ratusan cantrik dan murid-murid pedepokan Sekar Kecubung dibawa serta mereka mulai bergerak menuju Kurawan.
Dengan gelora amarah Ki ponco melecut kudanya. Jarak dari padepokan itu menuju pedukuhan Kurawan tidaklah terlalu jauh, sehingga tidak memakan waktu yang terlampau lama, rombongan yang cukup besar itu telah sampai.
Dari jauh mereka dapat melihat cukup banyak warga Kurawan yang membuat suatu barisan di tapal batas, Ki Ponco memacu kudanya semakin cepat hingga kuda yang ditungganginya berhenti dengan kedua kaki depan terangkat lalu berhenti tepat di depan warga Kurawan yang telah menunggu.
Sejenak lelaki paruh baya itu mengedarkan pandangannya, wajahnya mengguratkan kekaguman dengan barisan warga yang tertata rapi, seperti pasukan yang siap di medan tempur. Pandangannya segera berhenti pada sosok pemuda berpakaian aneh yang berada di tengah-tengah barisan warga. Belum pernah ia melihat orang berpakaian tidak biasa itu. Apalagi caping yang dikenakan mengundang rasa penasaran.
"Pragolopati," ujar Ki Ponco pada pemuda yang berada di sampingnya, "lakukan rencana kita!"
Pragolopati mengangguk, perlahan pemuda itu mendekati Jagabaya pedukuhan Kurawan yang ia kenali sudah sejak lama.
"Selamat malam Ki Jagabaya, kenapa begitu banyak pemuda berkumpul di sini?"
"Kami hanya menyambut kedatangan Angger beserta orang-orang padepokan Sekar Kecubung, bukankah Angger juga membawa banyak teman," balas Ki Jagabaya tenang.
Ki Ponco kemudian ikut mendekat ke arah Ki Jagabaya.
Pemimpin Sekar Kecubung itu tertawa lepas sampai tubuhnya terguncang, kemudian ia turun dari kudanya yang berbulu hitam kental, "Terima kasih Ki Jagabaya atas penyambutan ini, bagaimana dengan permintaan kami tiga hari yang lalu?"
Ki Jagabaya tersenyum, ''Ternyata dia sendiri yang ingin bertemu dengan Tuan, dia juga turut membawa kami sebagai kawannya, dan kami dengan senang hati menemani."
Kembali Ki Ponco tertawa, ''Sudahlah Ki Jagabaya, ditemani atau tidak bagi kami sama saja. Sekarang tunjukkan padaku mana orangnya!"
Tatapannya beralih pada lelaki berjubah putih yang menarik perhatiannya "Apakah orang yang berpakain putih itu, Ki Jagabya?"
"Bukan dia, tapi akulah orangnya," sahut Jambu Nada yang sudah geram. Kali ini ia memiliki tekad untuk menunjukan hasil latihan selama ini. Kesempatan ini tidak boleh lewat begitu saja.
Tawa Ki Ponco lebih keras, "Kau terlalu muda untuk menjadi tukang sapu pedepokan kami, kau jangan bercanda. Apalagi dengan penampilan anehmu itu, dasar ingusan."
"Bagaimana kalau Tuan yang aku jadikan tukang sapu di pedukuhan ini?" pelan suara Jambu Nada sembari matanya menatap tajam pada Ki Ponco.
"Guru aku sudah tidak tahan dengan basa basi ini, kalau dia yang berani mengangguku beberapa hari yang lalu, biarlah aku yang menghadapinya, di hutan itu dia hanya berani bermain petak umpet!" sela Pragolopati yang mendadak panas, sebab orang yang mengaku melakukan tindakan pengecut di hutan itu terlihat masih muda, paling tidak sepantaran. Meski ia tak melihat wujud aslinya lantaran caping itu, namun dari suaranya ia memastikan orang berlindung dari caping itu masih sangat muda.
"Bagaimana Pragolopati? Permainan petak umpetku nampaknya membuatmu merasa tidak telaten untuk menemukanku sehingga kau tertidur lelap bersama Tuan yang berpakain hitam dengan ikat kepala merah itu,'' kata Jambu Nada sambil menunjuk Pangger, ''Atau kau ingin tidur lagi Pragolopati? Kelihatannya kau begitu nyenyak saat itu, tak tega aku membangunkanmu."
Panaslah telinga Pragolopati dan Pangger mendengar kata-kata Jambu Nada, hampir saja Pragolopati meloncat untuk menyerang Jambu Nada tapi itu tak terjadi karena segera digamit Ki Ponco.
"Sungguh permainan yang seru anak muda, sayang aku tidak berada di sana, mungkin kau juga akan tidur hingga tak bangun-bangun lagi,'' ujar Ki Ponco sambil menerapkan Ajian Gelap Ngampar tingkat tinggi.
Dengan serangan yang tiba-tiba dan bukan berupa benturan fisik ini menyebabkan pemuda-pemuda Kurawan jatuh bertumbangan, mereka tidak mampu membendung kedahsyatan ajian tersebut. Ki Jagabaya pun hampir jatuh pula, tapi dengan sigap Jambu Nada memegang lengannya mengalirkan tenaga murni pada penanggung jawab kemanan pedukuhan Kurawan itu, membantunya melawan aliran tenaga Ki Ponco lewat Ajian Gelap Ngampar.
Sementara itu Kamandanu yang berada bersama barisan warga Kurawan juga tampak mengerut, bekas petinggi Majapahit itu memang tidak merasakan efek Ajian gelap Ngampar yang di terapkan Ki Ponco, namun ia melihat keanehan pada Ajian yang sering di temuinya itu. Menurut Kamandanu harusnya dengan Ajian Gelap Ngampar yang sekuat itu, bukan hanya dirinya dan warga Kurawan yang merasakan, tentu orang-orang yang datang bersama Ki Ponco juga merasakan akibatnya, namun kenyataannya mereka sama sekali tidak terpangaruh.
Ada dua kemungkinan, pertama orang-orang Sekar Kecubung memilikii tenaga dalam yang luar biasa, paling tidak setara dengan Ki Ponco sehingga tidak merasakan pengaruhnya, kedua Ki Ponco mampu mengendalikan ajian itu dengan mengarahkan pada pihak lawan saja.
Jika yang pertama ini benar, tentu orang-orang yang berada di depannya bukanlah padepokan biasa, ia tidak dapat hanya berdiam diri, akibatnya dapat berpengaruh buruk pada warga Kurawan. Dengan menghela napas, suami Sakawuni itu maju ke depan mendekati Ki Ponco.
"Ternyata Kisanak sudah tidak telaten juga dengan pemuda-pemuda Kurawan yang berkumpul di sini, yang tidak mau pulang dan segera tidur di rumah mereka. Sampai-sampai Kisanak sendiri yang menyanyikan kidung sebagai pengantar tidur. Tapi aku merasa kasihan dengan mereka yang tidur di tanah. Sebaknya mereka tidak tidur sekarang, Kisanak. Sebab mereka harus menemani anak muda ini menemui Kisanak."
Sesaat kemudian Ki Ponco dan orang-orang padepokan Sekar Kecubung terkesiap dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba saja pemuda-pemuda yang pingsan segera siuman dan seperti tak merasakan sesuatu, mereka bangun dan berdiri tegap seperti awal datang. Ki Ponco berdehem, ia memerhatikan Kamandanu dengan saksama, dari ikat kepala yang putih, sampai pakaian Kamandanu yang serba putih.
"Kalau boleh aku tahu, siapa Kisanak ini? Sepertinya bukan penduduk Kurawan. Lalu apa keperluan Kisanak di pedukuhan ini?"
Jambu Nada tersenyum, pemuda itu meyakini bahwa romonya telah menerapkan Ajian Eling untuk menyadarkan orang-orang Kurawan. Kamandanu memang tidak mempelajari Ajian Gelap Ngampar, karena sifat ajian itu yang merusak. Kamandanu memilih menguasai Ajian Eling, sifat yang berlawanan dengan Ajian Gelap Ngampar. Dengan Ajian Eling dapat menahan kekuatan Ajian Gelap Ngampar, bukan hanya pada diri sendiri, tapi juga pada sekelilingnya. Tentu saja untuk menerapkan ajian ini memerlukan tenaga murni yang tidak sedikit.
"Beliau ini adalah Arya Kamandanu, Tuan. Romo dari anak muda yang Tuan sebut ingusan," Ki Jagabayalah yang menjawab pertanyaan Ki Panco sambil menepuk pundak Jambu Nada, "pasti Tuan pernah mendengar nama beliau!"
Wajah Ki Ponco mengerut beberapa saat, pemilik pedepokan Sekar Kecubung itu menatap Kamandanu dengan saksama, sebagai orang yang cukup lama mengenal dunia olah kanuragan dirinya mengetahui bahwa dunia kanuragan pernah digegerkan dengan petinggi Majapahit yang terkenal dengan pedangnya, saat itu pedang Naga Puspa banyak direbutkan oleh berbagai pendekar di bumi Djawadwipa, dan pemilik pedang itu adalah nama yang sama sebagaimana disebutkan Ki Jagabaya.
"Ternyata aku bertemu dengan pembesar Majapahit!" kata Ki Ponco meyakini bahwa orang di depannya itu adalah pendekar yang terkenal itu, "sungguh kehormatan buatku dapat bertemu dengan pendekar pilih tanding, namanya telah menggetarkan bumi Majapahit, dari timur hingga ke barat, bahkan negeri seberang pun mengenal nama Arya Kamandanu, Pendekar Pedang Naga Puspa!"
Kamandanu tersenyum mendengar ucapan Ki Ponco, ''Ah, itu berlebihan Ki sanak, takkah kau lihat aku sudah mendekati uzur, dan aku bukan lagi pembesar Majapahit, aku hanya rakyat biasa sama seperti Kisanak, malahan Kisanak mempunyai pedepokan yang sangat dikenal di daerah ini."
Ki Ponco tertawa lirih, ''Tapi di manakah pedang yang pernah menggegerkan Majapahit itu,Tuan Kamandanu? Pedang yang menjadi dambaan pendekar di masa itu!"
"Pedang itu sudah tidak bersama denganku, Kisanak. Bukankah kita yang sudah tua ini tentunya tak pantas membawa benda-benda seperti itu!" jawab Kamandanu.
''Mohon maaf Guru," tiba-tiba Pragolopati datang menghampiri Ki Ponco, ''aku sudah tidak telaten dengan basa basi ini. Mohon izinkan aku masuk ke pedukuhan untuk mencari Untari, bukankah aku sudah berjanji pada Eyang Guru, dan Untari termasuk salah satu dari syarat itu!"
''Tidak baik membawa gadis berjalan di malam hari seperti ini Pragolopati!" sebuah suara menyela, suara itu berasal dari Jambu Nada.
"Kurang ajar, apa hakmu melarangku? Aku ini orang Kurawan, aku bebas membawa siapa saja di pedukuhan ini!'' balas Pragolopati dengan mengertakan rahangnya menahan marah.
Bersamaan itu pula ia meloncat dan menyerang Jambu Nada. Namun ia hanya mendapatkan ruang kosong. Belum sempat pemuda itu memperbaiki posisinya, tiba-tiba saja tangannya merasa dipelintir. Hal itu terjadi bertepaan saat tangannya hendak menerkam kepala lawannya, dengan gerakan yang tak dapat dilihat mata orang biasa kerikil kecil yang melekat di sela jari kaki lawannya melayang ke atas dan menyentuh tangan Pragolapati.
Jambu Nada tersenyum puas, ia merasa menghadapi Pragolapati tidak ubahnya menangkap babi hutan. Tidak sia-sia juga selama ini mengusir hewan pengerat itu dari kebunnya di lereng Arjuna. Sekarang ia bisa menerapkannya untuk menghadapi lawa secara nyata. Sangat enteng.
''Kau curang j*****m!'' teriak Pragolopati.
''Hei kau yang babi j*****m! Kenapa kau bilang aku curang, memangnya apa yang aku lakukan, hah?'' tanya Jambu Nada dengan senyuman ejekan.
"Sudahlah Pragolopati, kau bukan lawannya terimalah kenyataan itu!'' Ki Ponco berkata lirih, "tapi kau jangan khawatir setelah aku bermain-main dengan bekas pembesar Majapahit ini, aku akan membawanya ke padepokan untuk menjadi tukang sapu di bilikmu."
''Ah, apakah kita yang sudah tua ini masih pantas bermain-main Kisanak?" Sela Kamandanu.
Sejenak Ki Ponco mengumbar tawa, "Jangan begitu Tuan Kamandanu, aku hanya ingin mendapat sedikit keringat di malam yang dingin ini, aku juga ingin mengenal lebih jauh permainan dari pembesar Majapahit yang mengegerkan itu!" matanya tajam menatap Arya Kamandanu.
''Nah Pragolopati, ajaklah Paman Gurumu mencari gadis yang kau inginkan," perintahnya pada Pragolopati.
Wajah orang yang tidak muda lagi itu tiba-tiba menegang, matanya nanar menatap kejadian yang membuat jantungnya berdegup kencang. Hal itu disebabkan sebuah kejadian yang menguras perhatiannya.
Belum sempat muridnya yang bernama Pragolopati mengerahkan orang-orang pedepokan Sekar Kecubung untuk merasuk ke pedukuhan. Tubuhnya mendadak mengginggil, dan jatuh terkulai.
Ki Ponco menyadari bahwa penyebab muridnya jatuh tanpa berbuat sesuatu adalah pemuda belia di depannya, terlihat dari tingkah anak muda itu. Tangan bersedekap, mulutnya berdesis. Matanya berkilat-kilat. Hal ini menyebabkan pemimpin padepokan itu bergidik.