"Ternyata murid mesummu itu doyan tidur!'' Ejek Jambu Nada.
''Tunggulah anak muda! Setelah membinasakan romomu ini, aku akan melayanimu!'' jawab Ki Ponco yang mulai tidak telaten, rupanya usianya yang tidak lagi muda tak mampu mengendalikan darahnya yang sudah mendidih. Amarahnya membumbung tinggi menuju puncak.
"Aku harap kau tidak keletihan karena terlalu banyak berkhayal dapat mengalahkan Romoku," ujar Jambu Nada sengaja memancing kemarahan Ki ponco.
''Serang! '' suara Ki Ponco keras menggema, perintah itu jelas ditujukan pada murid-muridnya yang sudah siap menerima perintah.
Kembali orang-orang Sekar Kecubung yang siap maju itu di kejutkan. Kini suara raungan aneh menggelegar memecah malam yang hampir menuju puncaknya itu.
''Setan alas!'' suara Ki Ponco menggeram.
"Aku ingatkan, bawalah kembali orang-orangmu dan jangan pernah kembali ke pedukuhan Kurawan!" lantang suara Jambu Nada berteriak sambil memandang tajam Ki Ponco.
Ki Ponco semakin menyadari anak muda ini bukanlah pemuda kebanyakan, sebagai orang yang telah lama makan asin-garamnya dunia olah kanuragan, Ki Ponco tidak dapat bermain-main lagi, lelaki paruh baya itu memutuskan menggunakan Ajian andalannya hingga ke puncak.
''Terimalah ini anak muda!'' Ki Ponco melompat dan berteriak, ''Ajian Lebur Seketi!"
Bersamaan dengan itu, bukan hanya Ki Ponco melontarkan ajian andalannya itu. Akan tetapi dua sinar merah menyala mengarah pada Jambu Nada. Ini menandakan serangan tersebut dilakukan lebih dari satu orang. Ternyata Pangger yang sedari tadi menahan diri tidak dapat lagi mengendalikan emosinya yang meledak-ledak, menyepakati Ki Ponco bersama-sama melontarkan ajian pamungkasnya.
Jambu Nada berdiri dengan dua kaki yang terenggang, ia menggaum keras.
Arya Kamandanu terkejut dengan tindakan Jambu Nada. Ia sadar bahwa pengalaman anaknya itu tidaklah banyak. Tentu saja hal ini dapat mengancam keselamatan putranya.
Dua sinar merah itu tiba-tiba saja berbalik, Pangger teramat kaget, parahnya ia kalah cepat dari kejadian yang mengejutkannya itu. Suaranya melengking merasakan kesakitan yang amat hebat, jantungnya berasa dibakar. Seketika itu juga jatuh melayang dan saat mendarat di tanah ia diam selama-lamanya. Ajian lebur seketinya malah berbalik mengahantam tubuhnya sendiri.
Sementara itu tubuh Ki Ponco melayang bebas , namun belum sempat tubuh itu terjatuh ke tanah, sosok bayangan hitam berkelebat dan menangkap tubuh Ki Ponco. Sosok lelaki tegap dengan rambut putih yang berjuntai tanpa diikat melayang lembut. Dengan sigap pula tangan kirinya menarik tubuh Pragolopati yang tidak sadarkan diri. Sosok hitam itu mengambang, pertunjukan ilmu meringan tubuh yang sangat sempurna.
"Adi Kamandanu, tunggulah kedatanganku!" suara sosok hitam itu menggema, kemudian menghilang di kegelapan malam.
''Kakang Dwipangga!'' desis Kamandanu.
Sementara itu Jambu Nada terlihat kepayahan untuk berdiri. Dadanya sesak. Ia terbatuk-batuk beberapa kali. Andai Arya Kamandanu tidak menyelamatkannya pada saat yang kritis tadi, tentu tubuhnya sudah dilumatkan oleh ajian yang sangat mengerikan itu.
Arya Kamandanu masih sempat menerapkan kekuatan Naga Puspa tahap ketiga. Ia menjadi tameng, membenturkan diri dengan ajian lebur seketi milik Ki Ponco dan Pangger. Kekuatan yang dimiliki Kamandanu memang luar biasa, terbukti ajian yang seharusnya menghantam Jambu Nada malah berbalik arah.
Kembali hening. Semunya terpaku, tidak ada yang berani berbicara, bagi pemuda-pemuda pedukuhan Kurawan dan orang-orang pedepokan Sekar Kecubung yang terjadi di depan mereka seperti mimpi, dengan cepat hal itu terjadi dan berlalu. Terlebih suara auman yang ke luar dari mulut Arya Kamandanu, suara yang membuat bulu kuduk mereka berdiri.
Tidak beberapa lama kemudian pemuda-pemuda pedukuhan Kurawan yang berada di bukit segera turun dan menggabungkan diri dengan kelompok yang dipimpin Ki Jagabaya.
Sementara murid dan cantrik pedepokan Sekar Kecubung menunduk. Mereka tidak lagi memiliki nafsu untuk bertarung, pemimpin yang dibanggakan telah pergi meninggalkan mereka, Pangger pun tewas dalam keadaan yang menggenaskan lebih parahnya hal itu terjadi di hadapan mereka sendiri.
Ki Jagabaya menatap murid-murid Sekar Kecubung yang menunduk dalam, kepala keamanan pedukuhan Kurawan itu yakin bahwa orang-orang Sekar Kecubung tidak akan berani bertindak lebih dari ini, tidak ada lagi yang dapat mereka andalkan.
"Apa yang harus kita lakukan terhadap mereka?'' tanya Ki Jagabaya pada Kamandanu.
"Kita bawa saja mereka di halaman pondok Ki Buyut!'' sahut Kamandanu, ''aku yakin sekarang mereka tak akan melakukan hal yang membahayakan."
Ki Jagabaya segera memerintahkan warga mengumpulkan orang-orang sekar kecubung yang telah ditinggal ketua mereka, untuk selanjutnya digiring ke halaman pondok Ki Buyut. Dengan tangan terikat orang-orang pedepokan Sekar kecubung mengikuti perintah pemuda-pemuda Kurawan.
Ki Buyut yang sebelumnya berwajah cemas kini dapat bernapas lega. Terdengar rombongan dari tapal batas bersorak-sorak menyatakan kemenangan.
Pada saat rombongan itu sudah berada di halamannya. Ki Buyut memerintakan para tawanan untuk berbaris. Ia menatap satu persatu wajah murid pedepokan Sekar Kecubung.
''Apakah kalian menyadari kekhilafan kalian, Kisanak?'' tanya Ki Buyut pada orang-orang pedepokan Sekar kecubung.
Belum ada yang berani menjawab, Ki Buyut kembali mengulang pertanyaanya. Tangannya beberapa kali terangkat ke atas saat warganya memaki para tawanan itu.
''Kami menyadarinya Ki buyut,'' jawab seorang lelaki yang memakai ikat kepala berwarna merah, mungkin ia merasa perlu mewakili teman-temannya. ''Sebelum warga pedukuhan menghukum kami, yang hukuman itu pasti akan kami terima. Apa pun itu. Namun izinkanlah kami meminta maaf atas apa yang dilakukan pedepokan kami. Kami juga memohon sudilah kiranya mendengarkan ceritaku tentang pedepokan kami."
''Kita bunuh saja mereka!'' sela seorang warga.
''Iya, bunuh saja!" sahut yang lain.
Dalam gemuruh itu, warga mencabut senjata mereka, dengan wajah beringas maju dengan tujuan menghukum orang-orang pedepokan Sekar Kecubung saat ini juga.
"Tunggu dulu, saudara-saudara!" Arya Kamandanu berdiri menghadang warga yang mulai mendekati para tawanan.
"Kalian tega membunuh mereka dengan tangan yang terikat?"
Tidak ada jawaban, semuanya membisu. Mereka masih mengingat dengan jelas bagaimana kemampuan orang yang berdiri di depan mereka itu.
''Warga Kurarawan, aku tahu apa yang kalian rasakan!" kata Kamandanu kemudian dengan nada yang diturunkan, "aku pun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi kalian, tapi cobalah bertindak dengan menggunakan hati. Bukan dengan mengedepankan rasa marah."
Malam semakin membumbung tinggi. Bahkan telah melewati puncak. Dalam keheningan warga Kurawan tertunduk dalam.
Lanjut Kamandanu berkata, "''Tuhan mengajarkan kepada kita untuk membebaskan diri dari segala bentuk keserakahan. Kita harus memerdekakan diri dari segala bentuk penjajahan hawa nafsu yang merusak dan membebani. Kita buang beban itu dengan cara yang sangat sederhana, yaitu memaafkan. Selain mulia, memaafkan juga bisa mendatangkan kebahagiaan. Sebaliknya, keengganan untuk memaafkan hanya akan melahirkan kesengsaraan, sebab membiarkan diri disakiti terus-menerus oleh diri kita sendiri.
"Untuk itu, maafkanlah orang yang meminta maaf. Maafkan juga orang yang mengajukan pengakuan atas kesalahannya, dan terimalah permintaan maafnya tanpa banyak pertimbangan. Bahkan carikan alasan agar kita bisa memaafkannya. Ada dua cara untuk memaafkan kesalahan orang lain. Pertama, kita menyadari bahwa manusia itu tempatya salah dan lupa. Kita sendiri sebagai pribadi, juga sering berbuat salah, baik kepada Tuhan Yang Maha Kuasa maupun kepada sesama manusia. Jika kita ingin dimaafkan orang lain, tentu orang lain yang telah berbuat salah kepada kita juga ingin dimaafkan oleh kita.
"Jika ada orang yang tidak meminta maaf atas kesalahannya, tak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkan. Cara kedua, meyakini bahwa Tuhan Yang Maha Penyayang itu Maha Pemaaf dan menyukai orang yang meminta maaf. Jika Tuhan Yang Maha Kuasa mudah memberi maaf, mengapa kita pelit memaafkan orang lain? Alangkah angkuhnya kita jika tidak mau memaafkan saudara kita. Padahal, dengan memaafkan, berarti kita menyenangkan hati orang lain, memusnahkan benih kejahatan, menghilangkan kedengkian, dan membantu orang lain untuk bertobat."
Begitu lembut dan penuh wibawa suara Kamandanu mengumandang di halaman itu, terlihat berapa pemuda meneteskan air mata, begitu juga dengan orang-orang pedepokan Sekar Kecubung, malahan di antara mereka ada yang sampai terisak, entah apa yang membuatnya begitu terharu dengan alunan wejangan dari Kamandanu. Semua yang hadir di halaman itu tertunduk, berbicara dengan hati mereka masing-masing.
''Nah apakah kalian akan mengizinkan mereka untuk bercerita saudara-saudaraku?'' tanya Ki Buyut di tengah keheningan penghujung malam itu.
Tidak ada jawaban, hanya anggukan. Perasaan mereka masih dicekam, mereka merasa seperti bercermin di air yang bening, di mana dalam bayangan air bening itu tampaklah mereka yang sebenarnya, tubuh yang berlumpur, wajah yang penuh dengan darah dan kotoran-kotoran.
"Silakan Kisanak, katakanlah apa yang ingin kalian katakan!'' Ki Buyut mempersilakan salah satu tawanan untuk berbicara.
''Terimaksih Ki Buyut, aku tidak tahu kata apa yang pantas untuk aku ucapkan atas kebaikan yang luar biasa kami dapatkan, kebaikan dari orang-orang yang akan kami bunuh dan kami bakar kehidupannya, selayaknya di bumi ini tidak ada tempat yang pantas untuk kami jejaki, karena tubuh kami yang telah penuh dengan nanah kekotoran,'' sambil terseguk dalam tangis orang itu berucap.
Lanjutnya, "Lima tahun yang lalu pedepokan kami adalah pedepokan yang sangat menjunjung norma kehidupan, pedepokan kami tempat berbagi ilmu, baik kedigdayaan, kejiwaan, maupun kebutuhan kehidupan yang fana ini. Beberapa pedukuhan yang dekat dengan pedepokan kami selalu mengirim pemuda-pemudanya untuk belajar di pedepokan kami. Di bawah bimbingan Ki Ajar Tesa pedepokan kami di segani dan di hormati, tapi itulah hidup selalu saja ada yang merasa tidak senang dengan keadaan pedepokan Sekar Kecubung yang telah harum namanya, dan itu datang dari adik kandung Ki Ajar Tesa sendiri, Ki Ponco Tesa dengan bantuan orang yang dipanggil Eyang Guru.
"Ki Ajar Tesa beserta keluarganya tewas, kami sangat marah ingin membalas perbuatan mereka, tapi apa daya, kekuatan kami hanya seujung ireng pun tak sampai di hadapan mereka, kami hanya bisa pasrah dan mengikuti apa pun yang mereka perintahkan. Awalnya sangat sulit, tapi lama kelaman kami pun menikmati jalan hidup seperti mereka. Di sini kami mendapatkan kami kembali, kami yang telah lama hilang, dan hanya rasa syukur yang bisa kami ucapkan."
Sesaat keadaan di halaman itu kembali dalam keheningan, mereka seperti mencermati dan mencerna kisah yang diceritakan lelaki yang masih cukup muda itu, orang yang seharusnya dihukum atas tindakan yang membuat kehidupan warga sengsara.
"Baiklah," Ki Buyut mengambil alih, "aku putuskan untuk sementara kalian tinggal di pedukuhan ini. Kalian boleh membuka hutan kecil di utara pedukuhan Kurawan ini untuk dijadikan tempat tinggal dan membuka lahan pertanian dalam mencukupi kebutuhan kalian sehari-hari. Kami para warga dengan senang hati membantu jika kalian membutuhkan bantuan, jika kelak kalian tidak betah dan ingin kembali ke tempat asal kalian kami pun akan izinkan tapi tentunya dengan melihat sikap kalian selama tinggal di pedukuhan ini. Bila kalian kembali melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan maka kami tidak akan segan-segan pada kalian.'' ujar Ki Buyut lembut namun mengandung ketegasan.