Kehidupan Kurawan kembali berjalan sebagaimana mestinya. Petani mulai memanen padi-padi yang sudah menguning, pedagang mulai menggelar lapak dari mulai munculnya matahari hingga tenggelam di langit barat. Begitu pula dengan kegiatan warga yang lainnya.
Di sela waktu istirahat, atau pun saat bersantai di kedai-kedai mereka masih membicarakan kejadian yang menimpa pedukuhan mereka ini. Ada yang berkisah kehebatan Ponco yang memiliki ajian yang sangat mengerikan. Pun membicarakan bagaimana orang yang mereka kini hormati mampu bersikap tenang saat menghadapi Ponco.
Nama Arya Kamandanu kini mendapat tempat di hati pemuda-pemuda Kurawan. Malahan beberapa pemuda itu berniat berguru dengan bekas petinggi Majapahit itu. Mereka yakin bila menjadi muridnya, maka mampu melindungi pedukuhannya ini bila sewaktu-waktu kejadian yang tak menyenangkan datang kembali.
"Ada sesuatu yang masih janggal dalam pikiranku," ujar seorang pemuda yang duduk bersandar. Ia menaikkan kainnya untuk dapat menutup tubuhnya hingga ke leher. Malam yang mulai turun memang mengundang udara lembab bertambah dingin.
"Aku rasa kita memiliki pemikiran yang sama," salah seorang di antara mereka menanggapi ucapan lelaki yang bergulung dengan kainnya, "tentang putra Ki Kamandanu, bukan?"
"Kalau ngomong ya jangan keras keras, gitu. Kalau dia dengar habis kalian," sahut Mbok penjaga kedai sambil menempelkan jari di bibirnya.
Mereka sepakat dengan teguran penjaga kedai. Beberapa di antaranya celingukan mengawasi sekitar kedai. Mereka dapat bernapas lega, sebab di kedai itu hanya berisikan mereka-mereka saja. Sedangkan kedai yang berada di sampingnya juga orang-orang yang sudah sering dijumpai.
"Kau pernah melihatnya melepaskan caping atau melihat wajahnya yang sebenarnya?" tanya lelaki yang melilit tubuhnya dengan kain. Suaranya direndahkan, hampir berbisik.
Temannya itu menggeleng, "Bahkan aku tak pernah melihatnya melepaskan pakaian seperti kita ini. Sakin penasarannya kutunggu sore-sore di kali barangkali dia mandi. Namun kabar yang kudengar dia mandi kalau sudah tengah malam begini."
"Apa mungkin dia itu bukan manusia?" letup salah seorangnya lagi.
"Nah itu, jangan jangan anak itu ...?"
"Anak siluman, maksudmu?"
Beberapa wajah warga yang merumpi itu terlihat tegang, sebagian lagi merapatkan diri. Malam-malam begini membicarakan hal seperti ini memang tabu.
"Ada kemungkinan nggak, kalau anak itu peliharaan Ki Kamandanu?"
"Maksudmu?"
"Kalian juga melihatkan saat anak itu mengaum keras. Matanya berkilat-kilat, hampir sama yang dilakukan oleh Ki Kamandanu. Bisa jadi anak itulah sumber kekuatan Ki Kamandanu."
"Huss," ujar Pemilik Kedai, membuyarkan keseriusan warga, "tidak baik berburuk sangka begitu. Kalau kalian penasaran kenapa tidak tanya langsung dengan beliau. Apa pun itu beliaulah yang menyelamatkan pedukuhan kita ini."
Berapa saat warga diam membisu. Saling berbicara dengan benak masing-masing.
"Sudah-sudah pulang sana," kata Pemilik Kedai lagi," aku sudah mau tutup, kalau mau ngobrol cari tempat lain saja."
Warga tak lagi ingin berkomentar, mereka meloloskan diri dari kursi panjang yang berada tepat di depan meja penjaga kedai. Sisanya segera menuntaskan minuman. Lalu satu satu persatu meninggalkan kedai.
***
"Jambu Nada, dari mana saja kau tengah malam begini?" tanya Kamandanu saat putra semata wayangnya itu membuka pintu kamar yang disediakan Ki Junkar.
Lelaki muda tak langsung menjawab, ia meneguk minuman pada sulungan bambu yang terletak di samping bungkusan kainnya.
"Romo, kapan kita akan meninggalkan pedukuhan ini?" Ia bersandar pada sebuah tiang di dalam bilik itu, "bukankah tujuan kita ke Penampihan?"
Arya Kamandanu kemudian bangun dari posisinya semula yang berbaring. Lalu memosisikan diri di samping Jambu Nada. Ia menatap putranya itu, dapat dirasakan bahwa pernapasan anaknya itu tidak beraturan, bila sudah demikian berarti suasana hati putranya ini sedang tidak nyaman.
"Kau tidak betah di sini, Nada?"
Tidak ada jawaban. Hening.
"Di kamar ini pun kau tak ingin membuka capingmu?"
"Bagaimana kalau ada yang mengintip?" tanya Jambu Nada tidak senang, "apa Romo sengaja membuatku malu?"
Kamandanu menarik napas, dalam sekali. Ia sendiri tak mampu menemukan jawaban yang tepat atas situasi yang menimpa putranya ini. Sebuah kutukankah dari masa lalu? Atau sebuah takdir yang memang harus ditanggung putranya. Bila boleh meminta, biarlah kemalangan yang terjadi pada putranya berpindah.
Bekas petinggi Majapahit itu paham tidak mudah bagi anak lelakinya ini menerima keadaan. Jambu Nada masih muda, perjalanan hidupnya masih panjang. Namun bila ia terus mengerdilkan sikap atas kekurangannya ini bagaimana kelak ia mampu menghadapi kejamnya dunia luar sana?
Sebagai orang yang menuju masa ringkih, tentu ia tak dapat secara terus menerus mendampinginya. Terlebih mengendalikan emosi putranya yang sering meledak-ledak.
Belasan tahun lamanya Kamandanu menepi di lereng Arjuna. Dan hanya sesekali ia membawa putranya itu ke dunia luar, itu pun sebatas perjalanan menuju Penampihan. Selebihnya berkutat dengan kesepian.
Bukannya ia tak mau melepaskan putranya bergaul dengan pedukuhan-pedukuhan yang terletak di bawah lereng Arjuna. Namun beberapa alasanlah yang membuatnya tak dapat melakukan seperti romo-romo kebanyakan. Membiarkan anak-anaknya bermain, menikmati masa kanak-kanak.
Kamandanu masih mengingat dengan jelas beberapa kejadian, tepatnya saat Jambu Nada berusia lima tahun. Ia membawa putranya itu ke sebuah pedukuhan untuk menukar hasil hutan demi keperluan dapur mereka. Namun sebuah kejadian tak terduga membuat Kamandanu harus berpikir ulang bila mengajak putranya di tengah-tengah keramaian.
Ia tak sampai hati menolak saat Jambu Nada kukuh ikut ke pedukuhan. Kamandanu kemudian membaluti tubuh putranya yang masih belia saat itu dengan banyak kain. Serta membuatkan sebuah caping untuk menutup mukanya.
Awalnya baik-baik saja, bahkan Jambu Nada dengan riang mengikuti romonya dari belakang. Sampai kemudian ia melihat sebuah kali. Di mana ramai sekali anak-anak seusianya mandi di kali itu sambil bermain sembunyi batu.
Kamandanu yang sibuk menukarkan hasil hutan dan kebunnya tak sadar bahwa putranya tidak lagi berada di sampingnya. Ia disadarkan oleh sebuah kerumunan di mana warga terlihat kepanikan. Beberapa dari mereka berteriak meminta pertolongan. Maka gaduhlah pedukuhan yang sebelumnya damai itu.
"Hantu itu yang memukul anakku," teriak histeris seorang wanita sambil mengguncang tubuh anaknya yang berlumuran darah.
Warga segera berkumpul ke arah suara itu. Sebuah pemandangan yang tidak mengenakan. Sebab beberapa anak yang sebelumnya terlihat sehat-sehat kini terbaring lemah, bahkan ada yang terluka parah. Kepalanya banyak mengeluarkan darah.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya lelaki bertubuh tegap, ia adalah Jagabaya pedukuhan itu.
"Hantu itu!" tunjuk wanita tadi masih sambil berusaha menyadarkan anaknya.
Semua mata tertuju pada seorang anak yang berdiri di atas batu. Ia menyeringai, berdesis-desis. Matanya tajam menatap penduduk yang melihatnya dengan pandangan marah.
"Anak siluman, anak siluman!" teriak yang yang lainnya saat melihat bocah itu.
Beberapa mata terbelalak sampai tidak percaya. Bagaimana bocah tersebut mampu membuat anak-anak ini terluka dengan keadaan yang mengerikan.
Bila dibandingkan dari posturnya, tidak jauh berbeda. Apalagi kalau bukan anak siluman penunggu hutan di sekiar pedukuhan. Terlebih keadaan fisik anak itu yang mengerikan sekaligus menjijikan. Seluruh tubuhnya terdapat totolan-totolan berwarna hitam. Bahkan totolan itu seperti menutupi wajahnya, ditambah lagi panas yang terik membuat totolan itu berkilat-kilat seperti sisik ular. Sedangkan matanya mampu membuat warga bergidik bila bertatap langsung.
"Tangkap siluman itu!" teriak Jagabaya.
Maka perintah itu kemudian segera diterjemahkan oleh lelaki-lelaki yang yang ikut berkumpul. Secara serentak mereka menuju di mana bocah itu berdiri.
Seorang lelaki terjengkal ke belakang, kepalanya membentur batu di kali itu. Hal ini terjadi saat orang itu meloncat mendaratkan pukulannya. Namun yang terjadi malah sebaliknya, bocah itu bergerak lebih cepat dan terlebih dahulu mendaratkan lututnya pada wajah lelaki tersebut.
Geram dengan salah seorang temannya terluka, yang lain merangsak maju.
Betapa tercengang warga yang menyaksikan penangkapan itu. Satu persatu lelaki dewasa itu terpental, dan dengan beringas bocah itu mampu membuat orang-orang yang bertubuh dua kali lipat darinya terjungkal dengan tubuh babak belur.
Arya Kamandanu yang baru saja sampai di kerumuni kaget bukan kepalang. Terlebih terhadap pelaku keoanaran ini. Ia segera menerapkan ajian seipi angin. Sebuah olah kanuragan yang dapat membuat tubuh penggunanya seringan kapas.
Kamandanu melenting beberapa kali di udara, lalu mendaratkan kakinya pada batu tempat bocah aneh itu berdiri. Dengan kecepatan yang tak mampu diikuti bocah itu, ia melumpuhkan persendiannya. Berikutnya membopong tubuh bocah itu yang mendelik menahan sakit.
Hening. Warga takjub. Kejadian itu seperti api yang membakar gabah kering. Begitu cepat, bahkan ada yang tak percaya bahwa pelakunya adalah manusia.
Lereng gunung Arjuna diselimuti kabut. Malam merangkak seperti bayi yang baru belajar. Perlahan, sunyi mencekam.
Bocah menggeliat di bawah selimut, dengan diterangi lampu minyak ia memerhatikan sekitarnya. Ia dapat melihat seorang lelaki duduk bersila dengan mata terpejam.
"Romo," ucapnya lirih.
Arya Kamandanu membuka matanya, lalu menyodorkan sulungan bambu, "Minumlah, wedang jahe ini untuk meghangatkan tubuhmu!"
Bocah itu menerima sulungan lalu menegak habis minuman yang berada di dalamnya. Lalu kembali menarik kainnya untuk menutupi tubuh.
"Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak jauh-jauh dari Romo?" tanya Kamandanu.
"Aku hanya ingin mandi dan bermain bersama mereka, Romo," kilah bocah itu, "tapi mereka malah mengejekku, mangatakan aku ini anak siluman. Saat aku mau pergi mereka malah melempariku dengan batu."
"Bukankah kau bisa mandi tanpa harus membuka pakaianmu?"
"Ah mana enak mandi dengan pakaian," sahut bocah itu.
Ia mendengus lalu memerhatikan wajah Kamandanu, "Romo, apa benar aku ini anak siluman?"
Seketika itu juga berubah warna muka Kamandanu. Lalu ia menarik tubuh anak lelakinya dalam pelukan. Lama sekali, dengan lembut ia membusai rambut panjang putranya.
"Maafkan Romomu ini, Ngger." Ucap Kamandanu lirih.
Dalam keheningan malam itu Kamandanu terus memeluk tubuh anak lelakinya. Ia tak pernah menduga bahwa perbedaan fisik anaknya ini membawa dampak yang buruk. Tidak ada yang pasti, apa penyebab kulit anaknya ini terlihat mengerikan. Apakah ini kutukan sebab mempelajari olah kanuraga langka. Atau sebuah takdir dari Tuhan. Ia tak pernah tahu jawaban yang pasti.
"Kau adalah putra Romo, Ngger!" ucap Kamandanu lagi sambil terus membelai rambut anak semata wayangnya itu, "kau putra kandung dari Arya Kamandanu dan Sakawuni. Hal ini tidak akan terbantahkan."
"Romo tidak malu memiliki anak sepertiku?" tanya bocah itu sambil mendongakan wajah menatap romonya.
"Tentu tidak, Nada," jawab Kamandanu mengendurkan pelukan, "aku bangga memiliki putra sepertimu."
"Andai Biyung masih hidup apa dia juga menyanyangiku?"
"Nada," kata Kamandanu, "tidak baik berpikir yang aneh-aneh. Mana ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Apa pun keadaan anaknya pasti orang tua menyayangi. Sebab lahir dari darah daging mereka sendiri. Kau paham?"
Malam itu, dalam pelukan kabut yang mengitari bukit Arjuna keduanya terlelap sambil berpelukan. Menikmati setiap jengkal perasaan damai. Apalagi hal yang membuat nyaman selain berkumpul bersama orang yang kita sayangi. Sebuah perasaan yang tentu dapat dirasakan manusia di muka bumi ini.
***
Kamandanu tersadar dari lamunannya lalu kembali menatap Jambu Nada, "Besok kita akan berpamitan dengan Ki Buyut. Sebenarnya beberapa hari ini Romo menunggu kedatangan seseorang. Tapi dia tak muncul muncul."
"Siapa yang Romo maksudkan?" Jambu Nada tertarik dengan ucapan Kamandanu. Selama ini romonya itu tak pernah menunggu kedatangan seseorang.
"Kau masih ingat orang yang tiba-tiba datang menyelamatkan Ki Ponco?"
Jambu Nada masih dapat mengingatnya dengan baik. Tapi kenapa orang itu begitu penting bagi romonya.
"Dia adalah uwakmu, Nada." Jelas Kamandanu.
"Maksud Romo, Uwak Arya Dwipangga?" tanya Jambu Nada. Ia tak dapat menyembunyikan kekagetannya. Kamandanu memang tidak bercerita banyak, namun ia masih megingat dengan jelas saat romonya itu menceritakan saudara kandungnya.
Kamandanu mengangguk dengan mantap.
"Bukankah dia masih menyimpan dendam dengan Romo? Lalu buat apa berurusan dengan orang seperti itu!"
"Entahlah Nada, Romo tidak tahu. Karena dalamnya samudera dapat diukur, tapi dalamnya hati seseorang kita tidak tahu. Romo hanya ingin bertemu dengannya, bagaimana pun juga dia adalah satu-satunya saudara Romo."
Kamandanu masih ingat dengan jelas kejadian puluhan tahun yang lalu yang menjadi pertemuan terakhir mereka pula. Di bekas reruntuhan rumah boponya, Mpu Hanggareksa. Kedua saudara kandung itu beradu kekuatan. Saat itu Arya Dwipangga mengakui kekalahannya, namun tampak ketidak ikhlasan dari hati kakangnya dengan kenyataan tersebut.
Atas peristiwa itu pula Kamandanu kehilangan buah hati yang didamba-dambakan bersama mendiang istrinya, Sakawuni. Istrinya yang waktu itu hamil muda terpaksa mengalami pendarahan karena kelicikan Arya Dwipangga. Tapi untunglah Sakawuni tidak mendapatkan luka yang lebih parah. Pada akhirnya mereka kembali dipercayai Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memperoleh seorang putra. Anak lelaki yang kini telah beranjak dewasa, seorang pemuda yang kini berada di sampingnya.
Kamandanu mendehem kembali menatap putranya, "Romo juga masih memikirkan orang-orang Sekar Kecubung itu. Tapi setelah menilik dari tindak-tanduk mereka terlihat sudah bisa berdaptasi dengan warga Kurawan, dan orang kurawan juga sudah menerima mereka. Jadi Romo pikir masalah di Kurawan ini sudah tidak mengkhwatirkan."
Jambu Nada menarik napas. Baginya masalah yang seperti itu bukan kepentingan untuknya. Yang paling penting secepatnya meninggalkan pedukuhan ini, lalu segera menuju Penampihan menemui eyang putrinya.
Ia sama sekali tidak betah di Kurawan. Terlebih sikap orang-orang yang memandangnya dengan tatapan aneh. Menurutnya orang-orang Kurawan itu tidak pandai berterima kasih, kalau saja ia dan romonya tidak berada di sini maka pedukuhan ini dipastikan tetap berada dalam cengkraman Sekar Kecubung. Dasar manusia-manusia berhati babi.