Ki Buyut mendengarkan perkataan Kamandanu. Beberapa kali ia mengelus jenggot. Di sampingnya, Ki Junkar dan Jagabaya ikut mendengarkan dengan saksama.
"Jadi, Aki dan Angger berketetapan untuk tidak akan tinggal di Kurawan?'" tanya Ki Buyut dengan raut kecewa, terpancar dari kerutan wajah tuanya.
"Mereka sebenarnya hanya ingin berkunjung saja ke pedukuhan ini, Ki," timpal Ki Junkar melepaskan rasa yang sejatinya sama dirasakan Ki Buyut, "bukan kenyaman yang didapatkan. Malah situasi yang yang harus melibatkan mereka pula."
Dengan tersenyum Kamandanu memandang Ki Buyut dan Ki Junkar bergantian.
"Aku sudah lama tinggal di gunung Ki, terpisah dari kehidupan orang banyak. Di sisa hidupku ini aku ingin menemani anakku melihat-lihat bumi Majapahit."
"Ah, Ki Kamandanu belumlah menjadi orang sudah tua, jika Hyang Widhi mengizinkan dua puluh tahun lagi Ki Kamandanu pun tidak akan kelihatan ringkih," kata Ki Buyut sembari membalas senyum.
Kamandanu tertawa lirih, tampaklah ketampanannya yang masih membekas. Gigi-gigi putih di sela tawa menunjukan rahangnya yang kukuh, matanya selalu memancarkan keteduhan, dapat membuat kikuk lawan bicaranya.
Demikianlah, ketika matahari mulai naik, Kamandanu bersiap meninggalkan Kurawan, pedukuhan tempat ia lahir dan menikmati masa mudanya sebelum mengabdikan diri ke Majapahit.
Warga dan tidak ketinggalan orang-orang bekas padepokan Sekar Kecubung dengan rasa haru melepaskan Kamandanu dan Jambu Nada. Bahkan tidak sedikit di antara warga meneteskan air mata. Bagi mereka, Kamandanu layak menjadi panutan, sosok yang selalu menjunjung norma kearifan. Berat rasanya melepaskan kedua orang itu, tapi mereka pun sadar bahwa tidak harus selalu mengikatkan diri pada satu atau dua orang saja, mereka harus mandiri dan belajar untuk menjalankan kehidupan mereka sendiri.
"Dari muda sampai sekarang, sifatnya tak pernah berubah bahkan lebih matang, kepentingan orang banyak selalu dikedepankannya. Menilik dari jasanya pada bumi Majapahit ini pantasnya sekarang dia menjadi mahapatih, atau paling tidak hidup berkecukupan dengan jabatan yang tinggi di Kotaraja." ujar Ki Buyut lirih, seakan berbicara pada dirinya sendiri, hanya Ki Junkar yang mendengarkan ucapan Ki Buyut. Lelaki paruh baya itu pun mengangguk menyatakan kebenaran kata-kata pemimpinnya itu.
***
"Kita akan melewati bukit itu! Romo akan menunjukkan sesuatu padamu," kata Kamandanu saat keduanya keluar dari gerbang perbatasan pedukuhan Kurawan.
Jambu Nada menatap sebuah bukit yang melingkar, matanya tak menemukan apa-apa di sana, "Ada apa di bukit itu, Romo?"
Sambil tersenyum Kamandanu menjawab, "Nanti setelah sampai di sana kamu akan mengetahuinya, Nada!"
Dengan penuh penasaran Jambu Nada mengikuti langkah Kamandanu yang semakin cepat. Keduanya kemudian sepakat menggunakan Aji Seipi Angin, tubuh Kamandanu dan Jambu Nada melesat dengan cepat, loncatan-loncatannya berasa seringan kapas. Meski masih terlihat perbedaan kecepatan antara keduanya. Kamandanu tentu terlihat lebih matang. Mereka terus menyusuri jalan setapak ke arah bukit.
"Nah inilah yang ingin Romo perlihatkan, Nada," tunjuk Kamandanu ketika keduanya berdiri di depan gundukan semak.
"Hanya semak-semak ini, Romo?"
"Ikuti Romo!" Ajak Kamandanu.
Belum sempat Kamandanu menyibak semak tersebut, sosok bayangan bulat besar melesat dengan ringan kemudian menyerang Jambu Nada dengan cepat.
Jambu Nada cukup kaget mendapatkan serangan yang tiba-tiba itu, oleh karena tubuhnya yang telah terlatih, dengan gesit ia jumpalitan menghindar. Tapi Sosok bayangan itu tidak berhenti ketika serangannya menemui ruang kosong, terus memburu lawannya.
Bayangan bulat besar itu menekan dan melesatkan serangannya ke titik serangan; mata, perut , ketiak, leher, pundak, dan juga bagian bawah pusat.
Jambu Nada yakin orang yang menyerangnya itu bertubuh gemuk. Ia cukup kagum sebab tidak terlihat orang itu terganggu dengan berat badannya. Ilmu meringankan badannya cukup hebat.
Setelah sekian lama tak jua mampu menyentuh Jambu Nada, bayangkan bulat besar itu melompat mundur kemudian bertengger di atas ujung daun ilalang yang lebat. Ia terkekeh saat memandang Arya Kamandanu.
"Wah sudah tua kau rupanya, kenapa tubuhmu tak berubah sedikit pun, tetap ceking. Apa selama ini kau tak pernah makan daging yang empuk?"
"Siapa kau orang gendut, kenapa kau menyerangku?" Jambu Nada menyela.
Kembali orang bulat besar itu tertawa, rambutnya yang panjang putih menutupi wajah. Hanya matanya saja yang tampak di sela-sela rambutnya yang acak-acakan.
"Kau ini tidak pandai berburu adik kecil, lihat orang tua itu ceking tidak berisi. Ayo sana carikan orang itu daging kijang yang besar! Lagian tubuhmu juga seperti tidak ada isi, sungguh menyedihkan sekali. Apa sekarang orang-orang di dunia ini sudah tak mau makan lagi?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Jambu Nada, orang bulat besar itu mengoceh terus tentang makanan.
Kamandanu tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya pada Jambu Nada, "Nada tangkaplah seekor kijang di ujung sana! Romo akan menyiapkan kayunya." Ia kemudian dengan tenang sambil mengumpulkan ranting kayu kering yang berserakan di sekitar tempat itu.
"Hei, mana boleh orang mengambil kijang di sini! Aku saja masih kurang," orang bulat besar itu mendelik tak senang.
Jambu Nada heran dengan sikap romonya, seperti tidak menghiraukan celotehan orang itu. Belum sempat ia berpikir lagi, orang bulat besar itu sudah menyerangnya kembali.
"Hei! Kenapa kau menyerangku lagi?" Jambu Nada berkelit menghindari serangan-serangan orang bulat besar itu.
"Kau akan mengambil jatahku!" katanya tanpa menghentikan serangan.
Kembali pertarungan itu berlanjut, walaupun tubuhnya bulat besar sama sekali tak berpengaruh, gerakannya terlihat luwes. Namun lawannya juga memiliki ilmu peringan tubuh, maka pertarungan berjalan seimbang. Tiba-tiba orang bulat besar menghentikan serangan. Ia mendengus-dengus, hidungnya beringsut mencium sesuatu, matanya bergerak-gerak mencari sumber.
Lalu tatapannya berhenti pada Kamandanu yang terlihat dengan santai di depan perapian, "Hei, kenapa kau mengambil kijangku?"
"Aku ingin besar juga, nanti kalau sudah kan bisa melawanmu," jawab Kamandanu, tanpa memandang orang itu.
"Wah-wah mana boleh begitu, tadi aku yang menangkapnya. Kijang itu untuk makan siangku!" Ujarnya, kemudian melompat dan berjongkok di depan Kamandanu.
"Bagaimana dengan goa itu, Paman? Sudah diperbaiki? Lalu mengenai lempengan itu apa Paman sudah paham maksudnya?" Cerca Kamandanu dengan pertanyaan tanpa menjawab ocehan orang bulat besar itu.
Jambu Nada mulai paham, bahwa romonyanya mengenali orang itu. Perlahan ia mendekati keduanya.
"Hei, kenapa kau ke sini? Pasti menginginkan kijang ini juga! Kau tak boleh mengambilnya, ini bagianku! Aku yang susah payah mendapatkan kijang ini," katanya pada Jambu Nada yang sudah berdiri di samping Kamandanu.
"Biarlah dia makan sedikit, apa Paman tidak kasihan melihat tubuhnya yang jauh kecil dari tubuh Paman?" Kamandanulah yang menjawab sambil menyodorkan paha kijang yang sudah matang pada orang yang bertubuh bulat besar.
Dengan sigap ia menyambar, kemudian dengan wajah girang mulai melahap daging itu. Terlihat ia begitu menikmati daging kijang tersebut.
"Duduklah Nada, ini makanlah!'' Kamandanu menyodorkan satu tusukan daging pada Jambu Nada.
Orang yang bertubuh bulat nan besar itu besandawa, dengan enaknya ia membaringkan tubuhnya di atas lempengan batu berukuran besar.
''Kenapa tidak menjawab pertanyaanku tadi, Paman?'' tanya Kamandanu pada orang bulat besar itu.
''Huh dasar, dengan seenaknya merusak tempat tidurku, kemudian pergi tanpa sepengetahuanku, sekarang datang menanyakan lempengan itu lagi, apa kau masih memerlukannya, hah?''
Kamandanu tersenyum, ''Ini putraku, Paman, namanya Jambu Nada. Ayo Nada sampaikan salam hormatmu pada eyang pamanmu."
Sebelum Jambu Nada menghampirinya, orang bulat besar itu telah duduk dan bersungut-sungut, ''Huh enak saja memanggil aku eyang, memangnya aku terlihat tua? Aku ini hanya tua sedikit darimu! Rupanya anak muda ini putramu. Lalu mana istrimu yang awalnya kau bilang sebatas teman itu?"
Kamandanu tersenyum dengan celotehan orang bulat besar itu, ''Aku tidak berbohong, Paman. Ketika kami bertemu dengan Paman saat itu, kami memang sebatas teman saja. Berkat restu Hyang Widhi akhirnya Sakawuni menjadi istriku, apakah Paman tidak senang?''
''Tentu saja aku senang, cuma kau ini tidak mau mengatakan padaku bahwa gadis manja itu kekasihmu,'' celoteh orang bulat besar itu lagi, tapi kini senyumnya mengembang pada Jambu Nada.
''Sudah aku katakan saat itu Sakawuni belum menjadi kekasihku, Paman. Dia sahabat dan juga rekan untuk melaksanakan tugas dari Gusti Prabu." Kamandanu membela diri.
Sambil mendeham orang bulat besar itu mengerling pada Kamandanu, "Ah, apa pun alasanmu tetap saja kau mendapatkan anak darinya."
''Ayo Nada haturkan salamu pada ..." Kamandanu kebingungan sebutan yang pantas untuk putranya pada lelaki bertubuh gemuk itu.
''Paman Eyang!" jawab orang bulat besar itu dengan cepat, tanggap atas kebingungan Kamandanu.
''Ya, Paman Eyang. Nah salam hormatlah pada Paman Eyangmu," kata Kamandanu sambil tersenyum.
Jambu Nada mendekati orang bulat besar itu lalu menunduk hormat, ''Salam hormatku, Paman Eyang,'' kata Jambu Nada gugup, bercampur heran dengan panggilan aneh itu.
Lelaki tua bertubuh gemuk itu tersenyum sambil mengelus rambut Jambu Nada, ''Kasihan kau Ngger, pasti kau tidak diberinya makanan yang enak!"
"Apa Paman Eyang tidak takut atau merasa aneh dengan cara berpakaianku ini?" tanya Jambu Nada. Ia mulai merasa nyaman saat di dekat lelaki tua bertubuh besar itu.
Orang tua tersebut terkekeh, sambil menepuk-nepuk pundak Jambu Nada ia berkata, "Apalah arti penampilan, ia hanya kulit yang dapat diganti kapan saja. Coba kau lihat kulit kacang tanah, apa dipakai orang? Tidak, isinyalah yang orang ambil lalu dimakan.
"Yang terpenting di dalam sini, Ngger. Percuma kalau wajahmu tampan, berpakaian bagus tapi tabiat tak ubah setan jalanan."
''Beliau ini adalah Paman Wirot, Nada. Kakak seperguruan Romo. Dulu kami bersama-sama berguru dengan seseorang yang bernama Mpu Ranubaya."
Jambu Nada menganggukkan kepalanya berulang kali. Ia senang bertemu lelaki gendut ini. Apalagi orang ini sama sekali tidak keberatan dengan penampilannya. Tidak seperti orang lain yang bila berpapasan pasti menatap seakan ia adalah orang yang gila.
''Aku pernah bertemu dengan Paman Mpu Lunggah, beliau kemudian menceritakan bahwa kau sudah mampu menguasai Jurus Naga Puspa tahap yang ketiga sesuai dengan lempengan yang kita temukan dulu. Tapi setelah itu aku tak pernah mendengar kabar beliau, lagian aku juga tidak pernah ke mana-mana, aku selau di sini menjaga tempat guru ini," ujar lelaki bertubuh bulat besar yang memiliki nama Wirot itu.
''Paman Mpu Lunggah sudah tiada, puluhan tahun yang lalu beliaulah yang menyelamatkanku.''
''Jadi maksudmu Paman Mpu Lunggah mati lantaran di bunuh orang? Siapa?'' tanya Wirot memburu dengan wajah kagetnya, ia mengibaskan rambut panjangnya yang selalu menutupi wajah.
Kamandanu menggeleng, "Bukan dibunuh orang, lebih tepatnya menyelamatkanku! Wong Agung hanya ingin membunuhku tanpa melibatkan orang lain, tapi ternyata Hyang Widhi menghendaki lain."
Wirot mengangguk pelan berusaha memahami penjelasan dari Kamandanu.
''Sekarang kau mau ke mana?''
''Aku dan anakku dalam perjalana ke Penampihan, menemui Dewi Tanjung Biru, Ibunda mendiang istriku, Sakawuni," jawab Kamandanu.
Wirot kembali memeperlihatkan kekagetannya, ''Ah ternyata aku memang orang bukit, tidak banyak tahu ceritera di luar sana. Banyak orang hebat yang telah tiada, orang yang muda pun telah lebih dahulu menghadapi Hyang Widhi,'' kata Wirot dengan wajah sedih saat mendengar Kamandanu menyebut istrinya dengan kata mendiang.
"Ada keperluan apa yang membuatmu turun gunung dan menemui Dewi Tanjung Biru ?''
Kamandanu melepas senyum, ''Tidak ada hal yang mengkhawatirkan, hanya ingin berkunjung! Sudah lama Jambu Nada tidak bertemu Eyang Putrinya, sekalian aku singgah di sini untuk memperkenalkan Jambu Nada dengan Paman."
''Hei kau sengaja menemuiku di sini, kenapa kau berpikir aku masih hidup? Bagaimana jika aku telah lama mati? Atau aku sudah tidak tinggal di sini?" Cerca Wirot.
Kamandanu tertawa renyah, ''Aku tahu Paman tidak akan ke mana-mana, Paman tentu setia menunggui tempat Guru ini. Kan Paman banyak makan, mana mungkin Paman mati cepat, dan lihatlah tubuh Paman semakin lama malah tambah bulat dan besar!"
Wirot tertawa lepas sampai tubuhnya terguncang-guncang.
''Nah sudah saatnya kami melanjutkan perjalanan, tampaknya Paman sudah tahu ada orang yang datang menemui Paman, sehingga Paman menyediakan kijang yang besar untuk kami,'' ujar Kamandanu sambil berdiri dan tersenyum pada Wirot.
''Enak saja kau bilang kijang itu untukmu, kalau saja kalian tidak datang tentu aku dapat lebih lama berpesta," jawab Wirot dengan tawanya yang terkekeh, ''Kau tidak ingin bermalam di tempat ini Kamandanu? Tidur di atas bambu-bambu?"
Untuk ucapannya yang terakhir ini mengingatkan Wirot saat melatih diri menguasai ajian seipi angin. Ia bersama Kamandanu semalam suntuk tak dapat tidur, sebab gurunya memerintahkan tidur berpelukan dengan sebatang pohon bambu.
''Terima kasih Paman, jika Hyang Widhi mengizinkan mungkin di lain kesempatan aku atau anakku singgah kembali di sini,'' jawab Kamandanu.
Wirot tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ''Baiklah, semoga perjalanan kalian selalu dalam lindungan Hyang Widhi."
''Aku mohon diri Paman, semoga Paman selalu diberi kesehatan,'' kata Kamandanu.
"Aku juga mohon diri Paman Eyang Wirot, terima kasih kijangnya! Sungguh membuat perutku kembung, lain kali aku akan makan yang banyak sehingga mengalahkan tubuh Paman Eyang Wirot,'' kata Jambu Nada menunduk memberi hormat.
Wirot tertawa dengan terkekeh, "Iya Ngger, lain kali tidak hanya kijang, tapi rusa pun akan akan aku tangkapkan untukmu, mana boleh ponakanku terlihat kurus dan ceking!"
Wirot kemudian mengantarkan Kamandanu dan Jambu Nada sampai ke sebuah tikungan jalan. Ia memandang kedua orang itu hingga lenyap dari pandangan. Kemudian ia berjumpalitan ke udara menggapai sebuah pohon untuk selanjutnya bergerak dari pohon satu ke pohon yang lain. Baginya, bukit ini adalah wilayah kekuasaannya.