''Kenapa kita tidak langsung naik ke bukit saja, Romo?" tanya Jambu Nada ketika mereka duduk di depan perapian luar candi yang berada di bawah bukit Penampihan, "sudah tak jauh lagi, kita bisa tidur nyaman di pondok Eyang Putri."
Sementara purnama penuh menerangi sejuknya dunia malam, jangkrik bersuka cita dengan kehadiran dewi malam yang tersenyum mengerahkan kekuatannya menerangi bumi yang semakin lama semakin tua.
''Malam ini kita tidur di sini dulu, Nada," jawab kamandanu sambil melahap makanannya. "Kasihan orang-orang bukit Penampihan kalau malam-malam begini kita datang, istirahat mereka terganggu. Besok, setelah matahari agak terang baru kita naik.''
''Romo, kita tidur di dalam atau di luar sini saja?'' tanya Jambu Nada lagi.
"Kau sudah mengantuk?''
Anggukan dan uapan saja yang menjadi jawaban Jambu Nada.
''Masuklah ke dalam, sebentar lagi Romo menyusul.''
Setelah beberapa saat, Kamandanu mematikan api, ia pun beranjak ke dalam candi, duduk di samping Jambu Nada yang sudah terlelap dalam mimpi.
Dengan saksama Kamandanu memerhatikan wajah anaknya yang melepaskan capingnya. Di wajah putranya itu terdapat alis tebal milik mendiang istrinya; Sakawuni, juga hidung bangir itu. Andai totol hitam itu tidak menutupi kulit putranya, wajah Jambu Nada tidaklah jelek-jelek amat.
Angannya kembali seolah membaca rekaman ingatannya. Puluhan tahun silam, ketika ia dan Sakawuni menginap di candi ini. Beberapa kali ia dan Sakawuni menginap di tempat ini sebelum naik ke bukit Penampihan, termasuk pertama kalinya. Saat itu Kamandanu terluka parah setelah terkena Ajian Tapak Wisa milik Dewi Sambi. Sakawuni-lah yang merawat Kamandanu dengan telaten, kemudian membawanya ke Bukit Penampihan menemui biyungnya untuk mendapatkan bunga Tunjung Biru sebagai obat penawar dari racun Tapak Wisa.
''Romo, aku mendengar ada gerakan yang mendekat ke sini," ujar Jambu Nada memecahkan lamunan Kamandanu.
Walaupun sedang tertidur nyenyak tapi karena tingkat ilmu kepekaan yang hampir sempurna mampu membuat Jambu Nada mendengar setiap gesekan melebihi kemampuan orang kebanyakan. Ilmu kepekaan ini sebenarnya dapat dikuasi banyak orang. Tingkatannya saja yang berbeda-berbeda. Jambu Nada sendiri sering melatih kepekaannya ini saat berburu binatang. Telinganya pun sudah akrab dengan suara angin, gesekan daun atau pun suara-suara alam lainnya.
Kamandanu mengangguk pelan, kemudian berdiri dan melangkah keluar. Jambu Nada mengikutinya dari belakang.
''Ternyata kau benar-benar orang yang pilih tanding, semakin lama semakin matanglah ilmu kedigjayaanmu, Adi,'' ucap sosok bayangan saat melihat kehadiran Kamandanu dan Jambu Nada. Keduanya berdiri di mulut candi.
''Ah, Kakang Dwipangga rupanya yang malam-malam begini datang menemuiku,'' jawab Kamandanu pada sosok yang berdiri tegap dengan rambut putih sebahu tanpa diikat.
"Jambu Nada, sampaikanlah salam pada Uwakmu. Kau pasti ingin berkenalan dan bertemu dengan saudara Romo satu-satunya ini. Berbahgialah kau Nada, karena kita tak perlu ke Pasuruan untuk mengunjungi Uwakmu. Lihatlah Uwakmu berkenan untuk datang menemui kita."
Sosok tubuh tegap dengan memakai jubah hitam bersulam emas, rambut panjang terurai tersisir rapi semakin menampakan perbedaan bahwa sosok ini bukan dari kalangan rakyat biasa dan orang itu tak lain tak bukan, Arya Dwipangga yang dulu juga disebut Pendekar Syair Berdarah.
Seorang pendekar bertangan panas behati dingin karena siapa pun yang bertemu dengannya pasti akan mati. Tak peduli orang itu kompolotan hitam atau putih. Namun itu dulu, ketika ia masih muda, tapi entahlah sekarang. Sepengetahuan Kamandanu, Mpu Lunggah telah menggunakan Ajian Rajut Busana untuk merontokkan kekuatan Arya Dwipangga bahkan matanya menjadi buta, sehingga saat itu ia tak lagi bisa menggunakan Ajian Kidung Pamungkas atau Pedang Bulan Sabitnya.
Menilik dari gerak dan aliran napasnya saat ini tentunya ia mempunyai tenaga dalam yang sangat besar, juga terlihat matanya yang tidak lagi tampak buta, ditambah kejadian di gerbang pedukuhan Kurawan, dengan cekatan ia menangkap tubuh Ki Ponco kemudian tak dapat dilihat dengan mata orang kebanyakan ia pun menarik tubuh Pragolopati ke dalam pelukannya, dan dengan mudah pula membopong kedua tubuh itu menembus kegelapan seperti tidak membawa beban berat.
Jambu Nada tersenyum kecut melihat kehadiran saudara kandung romonya ini. Namun ia tak memiliki pilihan lain, sebagaimana perintah dari romonya. Pemuda itu harus menyembunyikan perasaan sebenarnya. Lalu membungkuk memberi hormat.
''Bangunlah Nada, aku terima salammu," jawab Arya Dwipangga sambil matanya memandang bulan purnama yang bulat penuh, "Aku sudah lama meninggalkan Pasuruan, semenjak Mie Shin atau Nyai Pariwicara meninggal belasan tahun yang lalu."
Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Jambu Nada. Sebenarnya ia merasa heran dengan cara berpakaian Jambu Nada. Terlebih caping itu yang terlihat menutupi diri. Namun ia merasa tak enak hati bila bertanya langsung. Baginya sekarang adalah menjaga hubungan baik dengan Arya Kamandanu.
Kamandanu mendekati Arya Dwipangga,''Jadi Mei shin sudah tiada, Kakang?''
''Iya Adi, entah penyakit apa yang menyerangnya, hampir setiap penduduk di sebuah pedukuhan mengidap penyakit itu. Dan dia berusaha mengobati, sampai-sampai ia sengaja menularkan penyakit itu pada diri sendiri, agar mudah menguji ramuannya, penduduk dapat selamat! Tapi tidak dengannya, karena keterbatasan bahan ramuan,'' jawab Arya Dwipangga.
"Semoga kedamaian selalu didapatkannya di sisi Hyang Widhi,'' kata Kamandanu lirih.
Arya Dwipangga kemudian memerhatikan adik kandungnya itu, ''Adi, ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu, kau masih ingat dengan Wong Agung?''
Dahi Kamandanu mengerut, "''Bukankah beliau telah tiada, Kakang?"
''Kau benar Adi!" Arya DwiPangga kemudian bergeser dan berdiri di tepi bekas perapian Kamandanu, entah bagaimana ia melakukannya, tiba-tiba api itu kembali menyala. Sebuah pertunjukan ilmu kanuragan yang sangat mengagumkan.
Kamandanu teringat saat ia adu tanding dengan Wong Agung, dari tubuh Wong Agung keluar hawa panas yang sangat dahsyat, tapi untunglah Kamandanu telah tuntas menguasai Naga Puspa tahap ketiga sehingga tubuhnya tidak terbakar, sampai akhirnya Wong Agung melarikan diri lantaran tidak sanggup lagi melawan kekuatan Naga Puspa Krisna. Saat itu Kamandanu telah gelap mata melihat Mpu Lunggah teluka parah akibat benturan dengan Ajian Segoro Geni milik Wong Agung.
"Sepertinya Kakang Arya Dwipangga telah menyerap ilmu dari perguruan lain, itu tidak seperti ajian Kidung Pamungkas, hanya dengan bernapas dia dapat membuat api, sebuah pengendalian yang sangat sempurna,'' kata Kamandanu pada dirinya sendiri.
''Adi! Wong agung mempunyai seorang Guru bernama Resi Winggala," Arya Dwipangga melanjutkan penuturannya yang sempat terhenti, "Resi itu mempunyi dua murid; yang pertama bernama Ranjasa yang lebih kau kenal dengan sebutan Wong Agung!
"Wong Agung adalah murid kesayangan, sehingga beliau mengambilnya menjadi menantu, menikahkan putrinya yang bernama Sartini Wiratika. Nah dari pernikahan mereka lahirnya seorang putra bernama Jasa Wirat, yang usianya jauh lebih muda dari kita. Dialah yang kemudian menjadi murid kedua dari Resi Winggala. Selain sebagai murid beliau, Jasa Wirat juga cucunya, sehingga apa yang ada padanya ditumpahkan pada Jasa Wirat. Bahkan meminta bantuan sahabatnya, Ki Panumerta untuk melatih cucunya itu.
"Dapat kau bayangkan bahwa kekuatan pada Jasa Wirat jauh melebihi romonya sendiri, malahan melebihi Resi Winggala. Selain masih muda dan terus berkembang dia juga menyerap ilmu dari Ki Panumerta, apa yang ada dalam dirinya bagaikan perwujudan Dewa Agni."
Sebelum Arya Dwipangga kembali melanjutkan kisahnya, lelaki yang tidak lagi muda itu melepaskan napas beratnya.
"Sekarang Jasa wirat adalah adalah seorang Rakryan Temenggung di Kadipaten Sadeng, dia memimpin prajurit yang berjumlah ribuan, dia tahu bahwa orang yang telah membakar padepokan romonya dan membunuh salah satu murid romonya adalah kau, Adi. Selama ini dia terus mencarimu, sampai akhirnya dia menemukanku, lalu menjadikan aku sebagai muridnya. Walaupun dia lebih muda dariku tapi aku tak malu untuk menjadi muridnya, dan dia mengutusku untuk mencarimu, Adi!"
Kamandanu terdiam, hanyut dengan cerita yang diuraikan Arya Dwipangga, ia tak menyangka dendam dapat berlarut-larut seperti ini.
''Tapi kakang, ada kesalahpahaman di sini, aku tidak pernah membakar pedepokan Romonya. Kalau mengenai murid Romonya yang bernama Mpu Tong Bajil, itu adalah tugas dari Gusti Sri Baginda Sengramawijaya. Perbuatannya murid romonya itu meresahkan Bumi Majapahit, maka aku mendapatkan tugas untuk menghentikan tindak lakunya!'' ujar Kamandanu mencoba membela diri.
''Itu bukan urusanku, Adi. Aku hanya datang mencarimu dan menyampaikan pesan guruku, orang yang telah membantu dan menolongku, selayaknyalah aku melakukan apa pun yang dia inginkan. Murid harus mematuhi segala perintah dan petunjuk gurunya,'' kata Arya Dwipangga sambil memandang api yang menyala di depannya.
"Aku terlunta-lunta di jalanan, menggais nasi sisa, orang-orang melecehkanku," lanjut Arya Dwipangga mengenang nasib buruknya, dan dengan geram ia mendengus. "Jangankan menghargaiku, memandang pun mungkin mereka tak sudi. Aku tergagap berjalan tanpa tahu malam atau siang. Orang yang selama ini menganggap aku kakangnya dengan enaknya menikmati Kotaraja Majapahit, kemudian dengan tenang menyepi di gunung tanpa pernah mengenang dan menghiraukan nasibku. Hingga akhirnya aku bertemu dengannya, mengambil aku dari sampah, dan mengangkatku menjad orang yang dihormat di Kadipaten Sedang."
''Maafkan aku Kakang, aku pikir Kakang sudah nyaman tinggal bersama Mei Shin di Pasuruan."
Arya Dwipangga kembali mendengus, melepaskan perasaan tidak nyaman yang sempat hinggap. Ia berusaha tersenyum.
"Datanglah ke Sadeng Adi! Guruku bukanlah seperti Wong Agung. Dia tak ingin berperang tanding denganmu mengobarkan dendam yang tak berujung pangkal. Dia mengundangmu sekaligus menawar sesuatu yang menarik untukmu, Adi. Sedangkan aku sendiri juga mengharapkan kedatanganmu di sana,'' kata Arya Dwipangga kali ini dengan suara yang terdengar bersahabat.
''Apa maksudmu Kakang, bukankah dia mendendam padaku, tentunya dia akan membunuhku, atau akan menggunakan kekuatan prajuritnya menangkapku?''
Arya Dwipangga tersenyum, kemudian duduk di depan perapian, "Marilah Adi, marilah Ngger! Kita duduk di perapian ini. Lebih hangat disini!"
Kamandanu berjalan mendekati perapian, kemudian di susul Jambu Nada, mereka duduk di depan Arya Dwipangga.
Arya Dwipangga memandangi Kamandanu dan Jambu Nada bergantian, ''Datanglah Adi, dan kau juga Nngger! Jasa Wirat adalah orang yang mengayomi rakyat kecil, budi pekertinya sangat halus dan disenangi orang banyak.''
''Apa yang menjadi alasanmu sebenarnya mencariku, Kakang? Bukankah tadi Kakang tahu bahwa aku telah di tuduh membakar padepokan romonya, dan membunuh murid romonya. Kalau bukan untuk membunuhku terus apa alasannya mengundangku ke sana?''
''Jika sudah berada di sana kau akan tahu Adi! Tapi yang jelas bukan untuk membunuh atau menangkapmu. Lagian kau adalah pendekar pilih tanding, tak mungkin kau dapat tertangkap dengan mudah, apalagi di bunuh,'' jawab Arya Dwipangga, ''mungkin kau tidak akan percaya Adi, tapi setelah kau datang dan melihatnya sendiri kau pasti akan percaya dengan kata-kataku!"
"Aku tidak dapat berjanji akan datang, Kakang! Aku mempunyai seorang putra yang harus kubimbing. Karena itu aku tidak dapat memastikannya,'' kata Kamandanu tegas.
Wajah Arya Dwipangga sedikit mengerut, tegang, tapi tidak lama kemudian kembali tersenyum, walaupun bagi Kamandanu senyuman itu terlihat aneh.
"Kami akan sabar menunggumu, Adi! Banyak hal yang akan kau ketahui di sana, selama ini kau telah dibuai oleh dinginnya gunung Arjuna, sehingga tidak kau hiraukan langit yang telah menjadi mendung,'' kata Arya Dwipangga.
Lanjutnya sambil berdiri dan mengepas jubahnya, ''Nah sudah waktunya aku pergi. Masih banyak hal yang harus aku lakukan! Aku bukan seperti dulu lagi, Adi. Yang dapat pergi ke mana saja yang aku suka, sekarang aku terikat dengan tugas, dan salah satu tugasku untuk mencari dan mengundangmu telah aku lakukan. Aku tak bisa menemani kalian lebih lama lagi disini, ingat aku dan guruku, Jasa Wirat, akan terus menunggumu!'' Kata Arya Dwipangga kemudian tubuhnya segera berkelebat dan menghilang di balik pohon besar di tepi candi itu. Untuk selanjutnya ditelan kegelapan malam.
Kamandanu dan Jambu Nada termangu-mangu di depan perapian, banyak hal yang berkecamuk di dalam kepala mereka, tapi mereka paham saat ini jawaban itu masih terlalu jauh untuk digapai.
''Romo akan ke sana?'' tanya Jambu Nada melihat Kamandanu yang masih terpaku di depan perapian.
''Entahlah, Nada. Romo belum bisa memutuskannya sekarang."
''Romo percaya dengan perkataan Uwak Dwipangga?''
Kamandanu tersenyum, ''Pada saatnya kita akan mengetahuinya. Sekarang sebaiknya kita masuk ke dalam. Masih ada waktu untuk memejam mata sejenak!''
Arya kamandanu kemudian berdiri sambil memadamkan perapian. Lalu kembali masuk ke dalam candi untuk meneruskan tidurnya yang sempat terganggu.