Kamandanu dan Jambu Nada bersiap-siap naik ke bukit Penampihan. Matahari mulai menampakan diri, menciptakan suasana terang di tepi candi. Embun yang tadi malam membasahi dedaunan mulai mengering, kembali terhisap oleh sinar matahari yang masuk di sela-sela lebatnya dedaunan.
Pertama kali Jambu Nada bertemu dengan eyang putrinya ketika berumur lima tahun. Setelah itu setiap penghujung tahun ia bersama Kamandanu selalu ke Penampihan. Memenuhi permintaan eyang putrinya itu. Sebagai cucu semata wayang, menyebabkan ia sangat dimanjakan. Inilah yang membuat Jambu Nada bersemangat bila diajak ke bukit Penampihan
Namun beberapa tahun belakangan ini ia tak sempat lagi ke Penampihan, waktunya lebih banyak bersama Kamandanu di lereng Arjuna mendalami berbagai ilmu kanuragan. Tentu eyang putrinya itu sudah sangat merindukannya, seperti apa yang ia rasakan pula.
Kamandanu sendiri pun senang bila berkunjung ke bukit Penampihan. Dengan adanya biyung istrinya itu, ia berharap putranya tidak kehilangan sosok perempuan yang memberikan kasih sayang dengan naluri keibuan, walaupun ia sendiri berusaha mendidik Jambu Nada dengan kelembutan, tetap saja ia seoranglaki-laki yang tentu berbeda dengan sentuhan wanita.
"Itu Bibi Dewi Tanjung Kuning, Romo!" Jambu Nada menunjuk ke regol dengan semangat. Ini pertanda bahwa tak lama lagi ia akan bertemu dengan eyangnya.
Seorang wanita berpakaian serba kuning keluar dari regol, ia berdiri dengan sedikit kebingungan, "Tuan Kamandanu?''
"Kau belumlah menjadi tua, Dewi Tanjung Kuning! Kau lupa denganku?''
"Oh!" dengan senyuman Dewi Tunjung Kuning menunduk hormat, "maafkan aku Tuan, selamat datang di Penampihan.”
“Kenapa Bibi terlihat semakin cantik ya?” Jambu Nada menggoda wanita yang dulu sering diajaknya bermain itu.
“Ah, Angger. Mana mungkin begitu yang ada semakin kusut,” jawabnya dengan tersenyum.
Pada saat yang demikianlah, seorang gadis belia berjalan pelan dari atas. Kedua tangannya membawa nampan yang berisi penuh dengan makanan. Ia tampak berkonsentrasi pada barang bawaannya, terlihat berhati-hati sekali. Takut tersenggol akar-akar pohon yang menjuntai sepanjang jalan. Ia sampai tak menyadari bahwa di regol itu Dewi Tanjung Kuning tidak sendirian.
Langkahnya terhenti ketika Jambu Nada memutarinya. Ia berdiri terpaku dengan mulut sedikit terbuka.
“Angger jangan berbuat usil begitu,” tegur Dewi Tanjung Kuning, “ke sinilah Latta Manjari, apa yang kau bawa itu?''
Dengan ragu-ragu gadis muda itu maju menghampiri Dewi Tanjung Kuning. Kembali jalannya dihalangi Jambu Nada. Ia tak tahu siapa itu Jambu Nada. Ia mengira Jambu Nada tak ubahnya pengunjung yang setiap harinya selalu datang ke Penampihan. Tapi kenapa tamu ini berani berperilaku tidak sopan.
“Hei, apa yang kau lakukan?” tanya Latta Manjari tak senang.
"Siapa orang ini, Bibi?'' tanya Jambu Nada pada Dewi Tanjung Kuning, seingatnya terakhir kali datang ke Penampihan tidak ada gadis di depannya itu.
"Hei, kau yang siapa?” tanya Latta Manjari dengan ketus, “dan kenapa kau menghalangi jalanku?”
"Sudahlah Nada!" Kamandanu memecahkan kebingungan di regol pertama bukit Penampihan itu. “Ayo kita naik ke atas.” Lalu mengalihkan pandangannya pada Dewi Tanjung Kuning, "Ibunda Dewi Tanjung Biru ada di pondok?"
"Ada Tuan, silakan naik Tuan! Aku akan mengantarkan Tuan naik ke atas.”
"Ah tak perlu kau ikut naik Dewi Tanjung Kuning, bukankah kau bertugas menjaga regol sekarang?"
“Kalau begitu naiklah bersama Latta Manjari,” balas Dewi Tanjung Kuning, “sini Manjari berikan nampan itu padaku.”
Jambu Nada tidak lagi menghalangi gadis itu, ia hanya menatap punggung gadis tersebut yang berjalan pelan memberikan nampan.
“Kenapa kau yang antar, di mana Kangmbok Tanjung Putih?'' tanya Dewi Tanjung Kuning sambil menerima nampan yang dibawa gadis muda itu.
''Bibi Tanjung Putih sedang menghadap Eyang Putri!"
“Oh, ya sudah. Kau antarkan Tuan Kamandanu ke pondok Guru,” balas Dewi Tanjung Kuning.
Gadis itu hanya mengangguk kemudian mempersilakan Kamandanu mendahului.
''Ayo Nada, kita naik sekarang!'' ajak Kamandanu kemudian melangkahkan kakinya mulai menaiki bukit Penampihan.
Jambu Nada pun kemudian mengikuti lalu disusul gadis belia di belakangnya. Beberapa jeda kemudian ia berhenti dan menoleh ke belakang.
''Hei, gadis kecil kenapa kau di belakangku, sana kau dulu di depan!''
Gadis itu menghentikan langkah dengan wajah yang memerah, ''Aku bukan gadis kecil, bukankah aku mengantarkanmu? Jadi aku harus di belakang!" kata gadis itu tidak senang.
''Kenapa kau harus di belakang? Nanti kalau ada babi hutan menyerangmu bagaimana?”
Jambu Nada terkejut, bukan jawaban yang ia dapatkan, tapi serangan yang mendadak. Gadis itu hendak menampar wajahnya. Dengan sigap pemuda itu memalingkan wajah. Lalu dengan gerakan cepat ia menangkap lengan gadis itu.
''Lepaskan!'' teriak gadis itu sambil menendang-nendangkan kakinya ke arah Jambu Nada.
''Apa yang kau lakukan, Nada?'' tanya Kamandanu saat mendengarkan teriakan.
Jambu Nada tidak menjawab. Untuk beberapa saat ia terdiam di hadapan gadis muda itu. Dadanya berdesir menatap wajah gadis itu, ini pertama kalinya ia memandang seorang gadis dengan jarak yang sangat dekat. Wajah itu tampak putih, dengan alis tipis meliuk di atas kelopak matanya, hidung gadis itu mungil sesuai dengan wajahnya yang panjang, dan bulu mata yang basah begitu lentik saat kedua matanya tertutup dan terbuka, serta dua mata itu yang bulat memancarkan keanehan bagi Jambu Nada. Begitu lama ia terkesima, ia baru sadar ketika Kamandanu menepuk pundaknya.
“Ada apa denganmu, Nada?" kata Kamandanu dengan suara yang agak keras.
Jambu Nada terkejut lalu melepaskan pegangan, gadis itu menangis kemudian berlari dengan cepat menaiki bukit.
“Maaf Romo! tadi anu ... dia ...'' kata Jambu Nada terbata-bata.
''Sudahlah, kita naik sekarang, kasihan gadis itu kau buat menangis. Kau harus minta maaf padanya!'' Kamandanu kembali melangkahkan menuju pondok utama di kawasan bukit Penampihan.
Sementara itu gadis muda tadi berlari dengan cepat, sekencang-kencangnya menaiki bukit. Terus menangis, ia mengusap air matanya dengan selendang, tapi kembali air itu membasahi pipi.
“Ada apa denganmu, Latta Manjari?'' tanya wanita paruh baya yang dikenali dengan nama Dewi Tanjung Biru. Pemilik pedepokan Penampihan itu baru saja menerima kedatangan muridnya, Dewi Tanjung Putih.
Gadis belia yang bernama Latta Manjari hanya menoleh sedikit tanpa menjawab kemudian dengan bergegas masuk ke bilik.
Dewi Tanjung Biru hendak menyusul, tapi langkahnya terhenti ketika Dewi Tanjung Ungu masuk ke ruang dalam dan menunduk hormat.
''Kita kedatangan keluarga kecil, Guru!'' lapornya pada Dewi Tanjung Biru.
Keluarga kecil sebutan bagi Kamandanu dan Jambu Nada oleh orang-orang di bukit penampihan. Mendengar hal itu wanita yang sudah tua itu terlihat sumringah.
''Benarkah? Cucuku datang?'' tanya Dewi Tanjung Biru dengan mata yang berbinar, wajahnya yang sudah mulai berkerut tampak cerah mendengar kabar ini.
"Dewi Tanjung Putih,” Ucap Dewi Tanjung Biru sedikit terburu-buru, “kau temui Latta Manjari! Tadi aku lihat dia menangis, kau hibur dia dan katakan padanya nanti aku akan menemuinya.''
Lepas berkata wanita itu kemudian bergegas menuju regol pondok utama.
''Terimalah salam hormatku, Ibunda,'' kata Kamandanu ketika melihat kehadiran Dewi Tanjung Biru di mulut regol.
''Sebuah anugerah di pagi-pagi begini aku kedatanganmu, Kamandanu!" ujar Dewi Tanjung Biru dengan senyuman menghiasi bibir pucatnya, "sebenarnyalah tadi aku memanggil Dewi Tanjung Putih membicarakan tentang kau dan cucuku, rasa rinduku sudah tidak tertahan lagi. Aku berniat menemuimu di lereng gunung Arjuna. Lalu di manakah Si bandel itu Kamandanu? Sedari tadi aku tidak meliahatnya!''
''Aku sudah besar Eyang Putri, jadi jangan panggil aku dengan sebutan itu,” Jambu Nada mengejutkan Dewi Tanjung Biru dari belakang, rupanya ia sengaja memberi kejutan pada eyang putrinya itu.
Begitu senangnya wanita tua itu melihat kehadiran Jambu Nada. Meneteslah air mata bahagianya, lalu memeluk Jambu Nada mencium pemuda itu berkali-kali, tak peduli kalau saat ini Jambu Nada bukanlah bocah lagi.
Jambu Nada pun tidak tahan menahan matanya yang terasa panas, butir airnya jatuh juga tidak mampu lagi menggenang. Kerinduannya pada eyang putrinya itu begitu besar.
Suasana sepi, hanya isakan yang terdengar saat kedua nenek-cucu itu melepaskan kerinduan yang sangat dalam, para murid Dewi Tanjung Biru yang kebetulan berada di regol pun menangis, ikut terharu. Mereka juga sudah mengenal lama siapa itu Jambu Nada yang kini tumbuh menjadi seorang pemuda.
Menyebarlah kabar kedatangan Kamandanu dan Jambu Nada di bukit Penampihan, penghuni berduyun-duyun datang ke pondok Dewi Tanjung Biru hanya untuk melihat 'keluarga kecil' mereka secara dekat. Bagi yang tak sempat bertemu maka mendengarkan cerita dari yang datang, rata-rata menceritakan Jambu Nada yang dulu dikenal bocah usil kini sudah tumbuh menjadi seorang pemuda.
Di antara yang senang dengan kedatangan 'keluarga kecil', hanya Latta Manjari yang tidak nyaman dengan kehadiran Jambu Nada, entah berapa kali penghuni bukit Penampihan menjelaskn peristiwa di lereng bukit bukan sebuah kekasaran atau pelecehan, tapi tetap saja ia tidak terima.
***
Dewi Tanjung Biru duduk anggun di antara kedua kerabat dekatanya ini. Di ruang dalam tempat kediamannya itu hanya di isi mereka saja. Yang seorang adalah mantunya dari putrinya yang sudah lama meninggal. Lalu yang duduk bersila bersandarkan sebuah tiang adalah satu-satunya cucu yang ia miliki.
“Kamandanu,” katanya pada mantunya, “aku akan memperkenalkan kau pada seseorang.”
Kamandanu menatap mertuanya, menunggu jawaban.
Dewi Tanjung Biru bergeser sedikit lebih dekat ke pada muka pintu. Di sana ia dapat melihat beberapa muridnya melakukan berbagai aktivitas di halaman. Lalu tangannya melambai kepada seorang di antara mereka yang kebetulan melihat ke arahnya.
Wanita dengan pakaian serba putih tanggap, ia pun segera mendekat.
"Tolong kau panggilkan Puya dan Latta Manjari di ruang dalam ini!'' katanya pada wanita itu.
Wanita berpakaian serba putih yang juga dikenal dengan nama Dewi Tanjung Putih mengangguk pertanda memahami perintah gurunya. Ia pun meninggalkan tempat itu untuk selanjutnya mencari dua orang yang dimaksud gurunya.
"Siapa Puya, Ibu?'' Tanya Kamandanu setelah Dewi Tanjung Putih meninggalkan ruangan dalam.
"Nanti aku akan minta Puya menceritakan dirinya, juga tentang Latta Manjari," sahut Dewi Tanjung Biru. "Sebelumnya aku ingin menceritakan tentang bukit penampihan ini.”
Sejenak wanita berpakaian serba biru itu mengehela napas. Ia memandang mantu dan cucunya sambil menguraikan senyum. Wanita yang ketika muda memiliki nama Ayu Pupuh itu kemudian mulai bercerita.
“Banyak peristiwa yang terjadi di sini Kamandanu. Seperti yang kau ketahui dulu tempat ini aku bangun untuk wanita atau gadis yang patah hati, sebagai tempat mereka menyepi untuk merenungi kesalahan sehingga hubungan mereka berjumpa dengan kegagalan.
“Lalu perubahan ikut serta berbicara dengan bukit Penampihan. Seperti yang kau lihat sekarang bukit Penampihan ini semakin banyak penghuninya. Sekarang banyak muridku yang menikah dan membina keluarga mereka di sini. Walaupun tetap menerapkan berbagai peraturan.
“Tempat ini kubagi-bagi, yang sudah menikah tinggal di sebelah timur dan barat bukit ini. Sedangkan bagian utama bukit Penampihan ini hanya wanita saja yang boleh tinggal tanpa berkeluarga. Sekarang bukit ini banyak dijadikan tempat pertemuan jodoh, hingga lebih dikenal bukit ini dengan sebutan bukit cinta, entah siapa yang awalnya memberi nama itu."