Pada kunjungan berikutnya yang diatur petugas, Audrey dan Abian tiba di ruang inkubator. Abian mendorong kursi roda perlahan dan berhenti setiap kali Audrey memintanya. Diandra dan Satria tetap menunggu di kamar sesuai permintaan Audrey. Dari balik kaca, Audrey melihat bayi mereka terbaring kecil dengan selimut rumah sakit. Ia mengangkat tangan, menempelkannya ke kaca, lalu menghela napas yang sejak tadi tertahan.
“Drey datang lagi,” bisiknya. “Bie juga di sini.”
Abian berdiri sedikit menjauh agar Audrey memiliki ruang. “Kamu ingin aku bicara kepadanya?”
“Nanti. Drey ingin diam dulu.”
Mereka tetap berada di sana selama waktu kunjungan yang diizinkan. Audrey tidak meminta bayi dikeluarkan dari inkubator. Ia hanya memperhatikan gerak kecil di balik kaca, lalu bertanya sendiri kepada petugas kapan kunjungan berikutnya dapat dilakukan. Setelah kunjungan selesai, Audrey meminta mereka mengantarnya ke kamar.
Dalam perjalanan kembali, ia menarik napas lebih teratur. Kunjungan singkat itu membuat tubuhnya lelah, tetapi bayangan wajah kecil tersebut tetap tinggal di pikirannya. Abian mendorong kursi rodanya perlahan, sementara Satria membuka pintu kamar ketika mereka kembali.
“Drey ingin istirahat atau duduk sebentar?” tanya Abian.
“Drey ingin duduk. Tapi jangan lama-lama.”
“Baik. Kamu yang menentukan.”
Satria membantu mengatur sandaran kursi. Setelah nyaman, Audrey memandang halaman rumah sakit yang lengang dari jendela. Ia memikirkan cara Felix akan menjalankan tanggung jawab sebagai ayah, lalu mengembuskan napas.
“Kak Felix tidak datang lagi?” tanyanya.
“Dia masih di ruang tunggu,” jawab Satria. “Tapi tidak akan mendekat sebelum kamu mengizinkan.”
Audrey memandang Abian. “Drey belum siap bicara lagi dengannya.”
“Kita tidak perlu mengundangnya,” kata Abian. “Keputusanmu tidak harus dibuat hari ini.”
Diandra merapikan selimut Audrey. “Kalau kamu ingin bertemu Mawar atau Saskia, kita juga bisa menundanya. Mereka sudah meminta izin lewat Papa.”
“Mereka tahu tentang gugatan itu?”
“Devina bilang akan menjelaskan sendiri kepada mereka,” jawab Satria. “Aku tidak akan membiarkan mereka datang tanpa persetujuanmu.”
Audrey memejamkan mata sebentar. Ia ingin percaya bahwa kali ini orang-orang akan mendengar batasnya, tetapi rasa takut tidak hilang hanya karena seseorang berjanji. “Kalau mereka datang, Drey ingin bertemu satu-satu. Tidak di depan Kak Felix.”
“Akan kusampaikan,” kata Satria.
Ketukan pelan terdengar dari pintu. Satria membuka sedikit. Seorang perawat memberi tahu bahwa Mawar dan Saskia sudah tiba di lobi, tetapi meminta menunggu sampai Audrey memberi jawaban. Satria kembali menatap Audrey.
“Kamu mau menerima mereka?”
Audrey diam cukup lama. Abian tidak memberi saran. Diandra hanya menunggu. Akhirnya Audrey menarik napas.
“Mawar dulu. Saskia nanti. Drey ingin Bie tetap di sini, tapi jangan menjawab untuk Drey.”
“Aku akan mendengarkan,” kata Abian.
Satria mengirim izin. Beberapa menit kemudian Mawar masuk seorang diri. Ia berhenti di dekat pintu dan tidak maju sampai Audrey memberi isyarat kecil. Wajahnya tampak lelah. Kedua tangannya saling menggenggam.
“Audrey, terima kasih sudah bersedia menemuiku,” katanya. “Aku tidak akan lama kalau kamu tidak kuat.”
“Drey ingin tahu kenapa Mawar percaya gugatan itu.”
Mawar menunduk. “Karena aku telah membiarkan prasangka dari video palsu menentukan sikapku, lalu membawa lagi dokumen yang belum kupastikan. Aku membiarkan rasa takut membuatku tidak bertanya kepadamu. Aku bahkan menekanmu untuk menerima keadaan yang tidak kamu pilih. Itu salahku.”
“Bibi Mawar pernah menuduh anak Drey bukan anak Kak Felix dan mempermalukan Drey di depan orang lain.”
“Aku mengatakan hal yang kejam. Aku belum tahu seluruh kebenaran, tapi aku tetap memilih menyalahkanmu. Seharusnya aku mendengarkan kamu lebih dulu.” Mawar mengangkat wajahnya. “Aku minta maaf. Aku tidak mengharapkan kamu memaafkanku sekarang.”
Audrey mengamati perempuan itu. Ia tidak menemukan pembelaan atau alasan yang bisa menghapus kata-kata sebelumnya. “Drey tidak bisa langsung percaya lagi.”
“Aku mengerti.”
“Kalau Bibi Mawar ingin tetap menjadi bagian keluarga bayi ini, jangan pakai itu untuk meminta Drey memaafkan Kak Felix atau Devina. Jangan datang tanpa izin. Dan jangan bicarakan hak asuh di depan Drey.”
“Aku akan mengikuti batas itu,” jawab Mawar. “Kalau suatu hari kamu mengizinkan aku bertemu anakmu, aku akan datang sesuai aturanmu.”
Audrey menoleh kepada Abian. Ia tidak meminta Abian menguatkan jawabannya. “Untuk sekarang, Drey hanya ingin Mawar menjelaskan kebenaran kepada keluarga. Jangan biarkan orang lain menyalahkan Drey karena cerita yang keliru.”
“Aku akan melakukannya.”
“Drey belum memaafkan Mawar.”
“Kamu tidak berutang maaf kepadaku,” kata Mawar. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia tidak mendekat. “Aku akan menunggu kalau kamu mengizinkan.”
Audrey mengangguk tipis. “Drey sudah lelah.”
Mawar langsung berdiri. “Aku pamit. Terima kasih sudah mendengarkan.”
Ia keluar tanpa mencoba memeluk Audrey. Setelah pintu tertutup, ruangan kembali sunyi. Diandra bertanya apakah Audrey ingin berbaring. Audrey menggeleng dan meminta waktu sebentar.
***
Keesokan harinya, Saskia datang kembali sesuai waktu yang telah disepakati. Ia menunggu di ambang pintu sampai Audrey mempersilakannya masuk. Abian duduk di kursi dekat ranjang, sementara Diandra dan Satria berada di sisi lain ruangan. Audrey ingin mereka tetap tinggal.
“Ibu boleh duduk di sana,” kata Audrey, menunjuk kursi yang agak jauh.
Saskia duduk tanpa mendekat. “Terima kasih sudah memberi kesempatan. Aku akan bicara singkat.”
“Drey ingin dengar dari Ibu sendiri. Kenapa kemarin ikut menuduh Drey?”
Saskia mengusap telapak tangannya. “Aku percaya cerita Devina dan ikut mendengar ucapan Mawar. Aku percaya tuduhan perselingkuhan dari video itu sampai mengusirmu dan menolak mengakui bayi sebagai cucuku. Aku tidak pernah memastikan apa pun kepadamu. Aku seharusnya bertanya, bukan ikut menambah bebanmu.”
“Ibu pernah ikut menuduh dan mengusir Drey dari rumah.”
“Aku ingat.” Suara Saskia bergetar, tetapi ia tetap menatap Audrey. “Aku minta maaf. Ucapanku itu tidak adil. Kamu tidak bertanggung jawab atas pilihan orang lain, dan kamu tidak wajib menjelaskan hidupmu supaya aku berhenti menghakimi.”
Audrey memandangnya lama. “Sekarang Ibu tahu Devina memalsukan dokumen?”
“Tahu. Devina sudah menghubungi kami dan mengakui semuanya. Aku menerima penjelasan bahwa surat-surat itu dibuat tanpa persetujuan orang yang namanya dicantumkan. Aku tidak akan membela dia.”
“Drey tidak mau kamu datang bersama Mawar atau Kak Felix.”
“Aku akan datang sendiri kalau kamu mengizinkan.”
“Dan jangan tanya kapan Drey memaafkan kalian.”
“Aku tidak akan bertanya.”
Saskia menunduk. “Aku tidak berharap kita langsung dekat lagi. Aku hanya ingin mengakui bahwa aku ikut menyakitimu. Kalau ada hal yang perlu kusampaikan kepada keluarga, aku akan menyampaikan kebenaran.”
Audrey menarik napas perlahan. “Drey belum bisa memaafkan. Tapi Drey mendengar permintaan maaf Ibu.”
“Itu sudah lebih dari yang pantas kuterima.”
Audrey menggeleng kecil. “Jangan bilang begitu supaya Drey merasa harus menenangkan Ibu. Drey sedang belajar menjaga dirinya sendiri.”
Saskia terdiam, lalu mengangguk. “Kamu benar. Maaf. Aku tidak akan meminta kamu mengurus perasaanku.”
Pertemuan itu berakhir setelah beberapa menit. Saskia berpamitan kepada semua orang, lalu keluar tanpa menyentuh Audrey. Satria mengantarnya sampai lorong. Tak lama kemudian, ia kembali dengan kabar bahwa Mawar dan Saskia akan membetulkan cerita yang telah mereka sebarkan kepada keluarga.
“Mereka juga bertanya apakah boleh melihat bayi,” katanya. “Aku bilang keputusan itu milikmu.”
“Belum,” jawab Audrey. “Nanti Drey yang bilang kalau sudah siap.”
Satria mengangguk. “Begitu yang akan kusampaikan.”
Audrey memandang Abian. “Bie tidak kecewa Drey belum memberi izin?”
“Tidak. Bayi kita tidak menjadi alasan untuk mengabaikan kesiapanmu. Kita ikuti arahan dokter, dan kamu boleh menentukan siapa yang hadir saat waktunya tiba.”
Kata-kata itu membuat Audrey menunduk. Ia tahu Abian juga menunggu banyak hal darinya, tetapi lelaki itu tidak menjadikan penantian sebagai utang. Ia menunggu Audrey memilih, bukan meminta Audrey membayar kesabarannya.
“Drey ingin bertemu bayi lagi,” katanya. “Kalau dokter mengizinkan.”
“Aku akan tanya perawat,” jawab Diandra.
Setelah dokter memastikan Audrey cukup kuat untuk kunjungan singkat, mereka menuju inkubator. Kali ini Audrey meminta Satria berjalan di depan dan Abian di samping kursi rodanya. Ia ingin Diandra tetap dekat, tetapi meminta tidak ada orang lain menyusul.
Di depan kaca, Audrey memandang bayi mereka. Jemarinya bergerak di pangkuan, seolah ingin menyentuh pipi kecil yang belum bisa ia gendong. Dokter menjelaskan bahwa bayi masih membutuhkan pemantauan, tetapi kondisinya bertambah stabil. Audrey bertanya apa yang harus dilakukan keluarga agar bayi bisa pulang dengan aman.
“Kami akan menilai perkembangannya dari hari ke hari,” jawab dokter. “Untuk sekarang, ikuti jadwal kunjungan dan jangan menyalahkan diri sendiri kalau tubuh Ibu masih perlu waktu untuk pulih.”
Audrey mengangguk. Ia tidak ingin membuat janji tentang tanggal kepulangan. Yang ia inginkan hanya bisa berada dekat bayi tanpa merasa harus memilih di antara orang-orang dewasa yang berselisih.
Abian berdiri di sampingnya. “Kamu ingin aku bicara kepadanya?”
“Bie boleh.”
Abian menunduk menghadap kaca. “Bie di sini. Mama juga. Kami menunggu kamu kuat, pelan-pelan saja.”
Audrey menoleh kepadanya. “Jangan bilang Drey harus cepat sembuh supaya bisa pulang.”
“Aku tidak akan mengatakan itu. Kita tidak perlu terburu-buru.”