Tiga minggu kemudian, setelah kondisi bayi dinilai cukup stabil, dokter mengizinkan bayi pulang. Audrey telah diizinkan pulang lebih dulu sambil tetap datang ke rumah sakit untuk perawatan dan kunjungan yang dijadwalkan. Hari ini ia kembali untuk membawa bayi pulang. Tubuhnya masih mudah lelah, tetapi ia dapat duduk lebih lama tanpa pusing. Di kamar rumah sakit, ia memeriksa selimut bayi yang telah dilipat Diandra.
“Drey takut nanti tidak tahu harus melakukan apa,” katanya.
Diandra tersenyum lembut. “Kamu akan belajar. Tidak harus tahu semuanya hari ini.”
Abian berdiri dekat pintu sambil memegang tas kecil. “Kita bisa minta bantuan kalau perlu. Yang penting, kamu dan bayi pulang dengan tenang.”
“Drey tidak mau banyak orang menunggu di rumah.”
“Sudah kusampaikan kepada Papa. Hanya keluarga yang kamu setujui.”
***
Audrey menatapnya. “Felix?”
“Dia tidak datang. Satria sudah menyampaikan bahwa kamu belum siap. Dia menghormati keputusan itu.”
Audrey menunduk memandang bayi di pelukannya. Ia belum ingin bertemu Felix. Cara Felix menjalankan tanggung jawab sebagai ayah akan dibicarakan lebih lanjut, tetapi hari ini bukan waktunya. Hari ini, yang dibutuhkan bayi adalah pulang dengan aman, dan yang dibutuhkan Audrey adalah ruang untuk menjadi ibu tanpa tekanan.
Satria mengurus kepulangan sesuai arahan dokter. Diandra memeriksa perlengkapan bayi sekali lagi, sedangkan Abian menunggu Audrey memberi tanda sebelum membantu berdiri. Ketika ia mengulurkan tangan, Audrey menyambutnya.
“Pelan-pelan,” kata Abian.
“Drey tahu. Jangan jauh-jauh.”
“Aku di sampingmu.”
Mereka meninggalkan rumah sakit tanpa keramaian. Satria mengemudikan mobil, Diandra duduk di belakang bersama Audrey dan bayi. Abian berada di sisi lain, memastikan Audrey nyaman. Tidak ada yang meminta Audrey bicara atau tersenyum. Perjalanan itu terasa panjang, tetapi setiap kali kendaraan berhenti, Abian bertanya apakah ia perlu mengubah posisi duduk.
***
Rumah Satria telah disiapkan sederhana. Tidak ada tamu berkumpul di ruang depan. Tempat tidur bayi telah disiapkan di kamar Audrey. Ia memeriksa ruangan itu, lalu memandang Satria.
“Papa tidak mengundang siapa-siapa?”
“Tidak. Kamu bilang ingin rumah tenang. Aku menghormatinya.”
Audrey mengangguk. “Terima kasih.”
Satria melihat pesan masuk dan meminta izin Audrey membacanya. Arga menanyakan waktu kunjungan pada hari berikutnya dan menyatakan akan datang sendiri tanpa Roseana atau Bianca. Audrey terdiam sejenak, lalu mengingat batas yang ia tetapkan sendiri.
“Drey mau bicara dengannya di ruang tengah. Bayi tetap bersama Diandra dulu.”
“Aku akan mengaturnya,” kata Satria.
Keesokan harinya, pada waktu yang telah disepakati, Arga menunggu di teras sampai Audrey siap. Ia tidak masuk sendiri. Ketika Diandra membawa bayi ke kamar, Arga berdiri di dekat pintu ruang tengah dan baru duduk setelah Audrey mempersilakannya.
“Terima kasih sudah datang sendiri,” kata Audrey.
“Aku berjanji akan menghormati keputusanmu.”
Audrey menatapnya. “Drey masih ingat apa yang Ayah bilang di rumah sakit. Drey belum bisa memaafkan semua yang terjadi.”
“Aku tahu. Aku datang untuk melihat keadaanmu, bukan meminta pengampunan.”
Audrey membiarkan percakapan itu berhenti sejenak. Lalu ia bertanya apakah Arga ingin melihat bayi. Ia menegaskan bahwa ia belum mengizinkan tamu yang datang untuk menggendongnya. Arga menerima batas itu dan melihat cucunya dari sisi buaian, tanpa mendekat lebih jauh.
“Dia kecil sekali,” katanya lirih.
“Tapi dia sudah berjuang banyak.”
Arga mengangguk. “Seperti ibunya.”
Audrey tidak menjawab dengan janji berdamai. Ia hanya mengizinkan Arga duduk beberapa menit lagi. Ketika tubuhnya mulai lelah, Arga pamit tanpa meminta kesempatan tambahan. Ia pergi sendiri, seperti saat datang.
Sesudah Arga berpamitan, Audrey duduk di kursi dekat tempat tidur bayi. Tubuhnya lelah, tetapi hatinya dipenuhi rasa tak percaya bahwa mereka benar-benar sudah pulang. Abian tidak mengambil alih bayi tanpa izin. Ia menunggu sampai Audrey bertanya.
“Bie mau menggendongnya?”
“Kalau kamu mengizinkan.”
“Drey akan duduk di sini. Bie bisa menggendong sebentar.”
Abian mengangkat bayi dengan hati-hati. Ia menatap wajah mungil itu, lalu tersenyum kecil. “Selamat datang di rumah. Kami akan belajar menjagamu bersama.”
***
Audrey memandang mereka. Selama ini ia mengira cinta harus menjawab semua luka sekaligus: masa lalu bersama Felix, akad tergesa bersama Abian, ketakutan kehilangan bayi, dan pengkhianatan orang yang ia percaya. Kini ia mulai mengerti bahwa satu hati dapat menyimpan lebih dari satu kasih tanpa harus menyerahkan keputusan kepada orang lain. Kasihnya kepada bayi tidak menghapus kenangan tentang Felix. Namun, kenangan itu juga tidak menentukan siapa yang ia pilih untuk berjalan bersama.
Pada sore berikutnya, setelah Audrey beristirahat, Satria mengantar Abian ke taman belakang. Rumah pohon kecil yang dulu dijanjikan telah selesai dibangun. Tangga dan pagarnya kokoh, tetapi Satria memastikan Audrey tidak perlu menaikinya sebelum pulih. Di sepanjang taman, lampu-lampu kecil dipasang di antara tanaman. Saat senja turun, cahaya itu berkelip seperti kunang-kunang.
“Kamu menyelesaikannya,” kata Abian.
“Kami menyelesaikannya pelan-pelan. Rumah pohon ini bukan untuk memaksanya naik. Ia bisa melihat taman dari bangku itu.” Satria menunjuk kursi taman yang lebar. “Aku ingin dia tahu masih ada tempat yang dibuat untuknya, tanpa tuntutan apa pun.”
Abian mengangguk. “Terima kasih sudah menjaga ruang untuk Audrey.”
“Jaga dia dengan cara yang sama. Tanyakan apa yang dia mau. Jangan anggap diamnya sebagai persetujuan.”
“Aku tahu, Pa.”
Audrey muncul di pintu belakang beberapa saat kemudian, didampingi Diandra. Ia mengenakan selendang dan berjalan perlahan. Abian segera bergerak menghampiri, tetapi berhenti sebelum menyentuhnya.
“Kamu ingin dibantu?” tanyanya.
“Drey mau berjalan sedikit. Bie bisa di samping Drey.”
Abian berjalan sesuai langkah Audrey. Ketika mereka tiba di bangku, ia menunggu sampai Audrey duduk. Lampu-lampu di taman mulai menyala. Audrey memandang rumah pohon, lalu menoleh kepada Abian.
“Sekarang Drey bisa melihat hasilnya dari dekat,” kata Audrey. “Bie dan keluarga menyelesaikannya.”
“Aku ingin menepati janji. Tapi kamu tidak harus membalasnya dengan perasaan tertentu.”
Audrey menatapnya lama. “Drey tahu. Justru karena Bie tidak memaksa, Drey bisa mendengar hatinya sendiri.”
Abian tidak menyela.
“Drey pernah mencintai Kak Felix,” lanjutnya. “Ada bagian dari hidup Drey yang akan selalu mengingatnya, terutama karena dia ayah biologis bayi kita. Tapi Drey tidak ingin kembali menjadi pasangan Kak Felix. Drey ingin membangun rumah tangga dengan Bie kelak, sesudah proses yang harus diselesaikan benar-benar tuntas.”
Abian menarik napas tertahan. Ia tidak meraih tangan Audrey. “Kamu yakin dengan pilihanmu?”
“Iya. Drey mencintai Bie. Bukan karena Bie menolong Drey, bukan karena Drey berutang apa pun. Drey mencintai Bie karena Drey ingin berjalan bersama Bie.”
Mata Abian berkaca-kaca. “Aku juga mencintaimu. Aku akan tetap bertanya dan mendengarkan, bahkan saat kamu takut atau berubah pikiran.”
Audrey mengulurkan tangan. Abian menggenggamnya setelah ia memberi isyarat. Di dalam rumah, bayi mereka tertidur bersama suara lembut Diandra. Satria berdiri agak jauh, memberi mereka ruang.
Felix menerima kabar kepulangan bayi melalui Satria atas persetujuan Audrey. Ia tidak datang ke pagar atau mengamati keluarga dari luar. Ia membalas singkat bahwa ia akan mengikuti waktu komunikasi yang disepakati melalui pendamping. Menghormati pilihan Audrey berarti menjaga batas itu sekalipun tidak ada yang melihat.
Di taman, Audrey memandang cahaya kecil yang berkelip di antara dedaunan. Hatinya tidak menghapus masa lalu, tetapi ia tidak lagi membiarkan masa lalu memilihkan masa depannya. Bayi mereka telah pulang. Abian berada di sisinya karena ia menginginkannya. Dan cinta yang ia pilih tumbuh tanpa paksaan, setenang cahaya yang menjaga taman malam itu.
Enam bulan kemudian, Audrey membuka map yang dahulu membuatnya gemetar. Isinya kini berbeda: salinan keputusan dan dokumen yang telah diperiksa bersama pendamping. Proses perceraian dengan Felix telah selesai melalui pengadilan. Mereka menerima penjelasan mengenai akibatnya dan mencatat pengaturan tanggung jawab anak secara terpisah dari hubungan pasangan. Surat palsu Devina tidak pernah mereka pakai sebagai bukti bahwa perkawinan berakhir.
Audrey tidak menandatangani kesepakatan pengasuhan karena takut atau supaya salah satu pria merasa menang. Kebutuhan kesehatan bayi, tempat tinggal, biaya dan cara berhubungan dengan Felix dibicarakan dengan pendamping. Pertemuan mulai dilakukan pada waktu yang sesuai keadaan anak, di tempat yang membuat Audrey aman. Felix datang tepat waktu dan pulang sesuai kesepakatan. Ia memberikan dukungan yang telah disepakati, tanpa menggunakannya untuk menuntut Audrey kembali. Nama ayah biologis anak tidak diganti untuk menyenangkan Abian.
Pada kunjungan pertama yang ia setujui, Audrey meminta Diandra tetap dekat. Felix duduk dengan jarak yang ditunjukkan. Ia melihat anaknya lebih lama daripada saat berada di balik kaca rumah sakit, tetapi tidak meminta tambahan waktu ketika bayi mulai lelah. Audrey tidak harus mengucapkan maaf untuk membiarkan tanggung jawab itu berjalan. Sesudah Felix pulang, ia dapat mengakui bahwa pertemuan tersebut sulit sekaligus penting. Abian mendengarkan tanpa menganggapnya sebagai ancaman.
Urusan akad tergesa pun telah mempunyai penetapan tersendiri. Sebelum merencanakan pernikahan baru, Audrey dan Abian membawa berkas mereka kepada pihak perkawinan yang berwenang. Status perceraian, pembatalan akad lama, kelahiran anak dan ketentuan waktu tunggu diperiksa; mereka mengikuti penjelasan serta syarat yang diminta. Tidak ada yang mengatakan akad lama tiba-tiba berlaku kembali karena Felix setuju melepaskan. Mereka menunggu sampai proses dan pemeriksaan itu selesai.
Pada hari akad baru, Audrey datang dengan keputusan yang telah ia pikirkan ketika tinggal terpisah dan tidak berada di bawah ancaman. Ia mengenakan pakaian sederhana pilihannya sendiri. Abian menanyakan sekali lagi apakah ia masih ingin melanjutkan, lalu menerima jawaban Audrey tanpa pidato tentang jasa atau pengorbanan. Keluarga menyaksikan pernikahan yang kali ini dipersiapkan melalui proses yang semestinya. Pencatatannya diurus dan salinannya disimpan bersama dokumen Audrey.
“Aku memilihmu hari ini,” kata Audrey sesudah acara, “dan aku ingin kita terus berbicara saat ada yang berubah.”
“Aku akan mendengarkan,” jawab Abian. “Kalau aku salah, aku harus memperbaikinya. Bukan memintamu diam karena kita telah menikah.”
Diandra membawa bayi mendekat ketika Audrey memintanya. Abian menerima anak itu dari tangan Audrey dengan hati-hati. Ia tidak memperkenalkan diri sebagai pengganti yang menghapus Felix. Ia menjadi orang dewasa lain yang bertanggung jawab dalam hidup anak itu, sambil menjalani pernikahannya dengan Audrey. Mereka belajar membagi pengasuhan, meminta bantuan dan berhenti ketika lelah.
Perkara Nicho tidak dihentikan demi perayaan keluarga. Audrey telah memberikan keterangan tentang ancaman di rumah sakit, serangan mobil dan kekerasan yang berkaitan dengan penjualan rumah. Bukti serta keterangan lain diperiksa oleh petugas, terpisah dari apa yang dapat disaksikan keluarga. Laporan mengenai dokumen dan video yang diakui Devina juga terus ditangani melalui pendamping; pengakuan di lorong bukan akhir pemeriksaan. Audrey menerima kabar tertulis tanpa dipaksa menemui orang yang telah melukainya. Ia tidak menjanjikan perdamaian yang belum ia rasakan.
Rumah Bandung tetap berdiri. Dengan pendampingan, pihak yang berhak telah memeriksa peninggalan Ayara serta penggunaan hasil aset lain yang dahulu dijual. Rencana penjualan yang memakai tanda tangan paksaan tidak diteruskan. Pengaturan mengenai hak dan pengelolaan rumah kemudian dicatat dengan persetujuan yang diberikan sesudah penjelasan, tanpa ancaman. Audrey menyimpan salinan dan tetap dapat mengajukan keberatan atas hal yang belum dipahami. Ia tidak memperoleh seluruh rumah hanya karena pernah menjadi korban; ia juga tidak melepaskan hak karena keluarganya menyuruh mengalah.
Arga mulai menunjukkan perubahan dengan mematuhi waktu kunjungan dan jalur komunikasi. Ia memberikan keterangan mengenai kekerasan yang pernah dilakukannya, tanpa meminta Audrey mencabut cerita atau menenangkan perasaannya. Hubungan mereka tetap berjarak. Audrey kadang belum ingin bertemu, dan Arga belajar menerima jawaban itu. Roseana serta Bianca tidak lagi dapat mendatanginya untuk meminta tanda tangan; komunikasi mengenai harta dilakukan lewat pendamping.
Faya tetap bersekolah dan meneruskan pendampingannya. Ia telah meminta maaf kepada Bik Ningsih, mulai mengembalikan uang kepada Satria dan meluruskan tuduhan kepada orang yang menerimanya. Keterangannya tentang penyusup dan Syakira disampaikan melalui proses yang memperhatikan usianya. Orang tuanya tetap membimbing tanpa menjadikan Audrey pengawasnya. Sekolah juga melanjutkan pendampingan setelah menangani perundungan yang pernah dialami Faya. Menjadi korban tidak membenarkan perbuatannya kepada Audrey, dan bertanggung jawab tidak berarti ia kehilangan kesempatan tumbuh.
Audrey mulai kembali menulis untuk redaksinya dengan jadwal yang dibicarakan menurut keadaan kesehatan serta pengasuhan. Kartu pers yang dahulu ia sembunyikan kini berada di meja. Abian tidak lagi menyebut larangan bekerja sebagai bentuk perlindungan. Ketika jadwal tugasnya berubah, ia memberi kabar dan ikut mencari bantuan yang disepakati. Pada hari Audrey menyelesaikan tulisan pertamanya, ia meminta Abian membaca, lalu mengoreksi bagian yang menurutnya kurang tepat. Mereka dapat berbeda pendapat tanpa menghentikan suara Audrey.
Malam itu mereka duduk di bangku taman. Cahaya lampu tetap berkelip di antara tanaman; sesekali serangga kecil melintas tanpa ditangkap. Rumah pohon dapat dipakai ketika keadaan memungkinkan, tetapi Audrey tidak harus menaikinya untuk membuktikan bahagia. Bayi tertidur setelah diasuh bergantian. Audrey menggenggam tangan Abian dan melihat rumah yang kini ia masuki dengan pilihan yang jelas.
Kenangan cintanya kepada Felix tidak lagi menjadi perintah untuk kembali. Kasih kepada anaknya tidak mengharuskannya menerima ancaman. Dan cintanya kepada Abian tidak menghapus haknya untuk berbicara. Satu hati itu akhirnya dapat menyimpan dua cinta tanpa kehilangan dirinya sendiri: kasih yang tumbuh untuk anaknya dan cinta pasangan yang ia pilih dengan sadar.
TAMAT