Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Lampu tidur kecil di sisi ranjang hanya menyisakan cahaya kekuningan yang lemah, cukup untuk membuat bayangan kedua penghuni kamar terlihat samar di dinding. Savira berbaring miring ke arah jendela, selimut ditarik hingga ke d**a. Matanya terbuka di kegelapan, menatap gorden yang sesekali bergerak oleh angin malam yang menyelinap lewat celah jendela. Ia sudah mencoba menutup mata sejak sejam yang lalu, namun tidur tidak kunjung datang.
Di belakangnya, jarak hanya beberapa langkah, Arkan berbaring di sofa. Napasnya terdengar jelas dalam keheningan—dalam, teratur, namun belum sepenuhnya tenang. Savira bisa membedakan kapan pria itu benar-benar tertidur dan kapan ia hanya berpura-pura. Malam ini, Arkan belum tidur.
Satu kamar.
Dua napas.
Dan terlalu banyak kesadaran yang tidak seharusnya ada.
Savira menggeser tubuhnya pelan, mencoba mencari posisi yang lebih nyaman. Pegas ranjang berbunyi samar. Instant, napas di sofa berubah. Menjadi lebih pendek sejenak, lalu kembali dalam. Arkan sadar. Ia selalu sadar.
“Tidak bisa tidur?” suara Arkan tiba-tiba terdengar, rendah dan serak karena jarang dipakai di malam hari.
Savira terdiam sejenak sebelum menjawab. “Renovasi masih berisik di kepala saya.”
“Mereka sudah berhenti sejak jam sembilan.”
“Saya tahu.”
Keheningan kembali turun. Hanya ada dua napas yang sekarang saling menyadari keberadaan satu sama lain. Savira menatap langit-langit yang gelap. Ia membenci fakta bahwa ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri, dan lebih membenci lagi fakta bahwa ia juga bisa mendengar napas Arkan dengan begitu jelas.
“Kamu bisa memakai ranjang,” kata Arkan setelah beberapa saat. “Sofa ini cukup untuk saya.”
“Sudah saya bilang kemarin. Tidak perlu.”
“Saya tidak menawarkan karena belas kasihan.”
“Saya juga tidak menolak karena gengsi.”
Arkan terdiam. Savira bisa membayangkan ekspresinya datar, terkendali, namun ada sesuatu yang bergerak di balik itu. Ia mendengar bunyi kain ketika pria itu berubah posisi. Sofa berderit pelan.
“Delapan minggu,” ucap Arkan tiba-tiba. “Mungkin sepuluh. Mandor bilang cuaca buruk bisa memperlambat perkuatan struktur.”
Savira menutup mata. “Saya sudah menghitungnya.”
“Kalau begitu, kita perlu membuat aturan yang lebih jelas.”
Ia membuka mata lagi. “Aturan?”
“Ya.” Arkan terdengar menegakkan tubuh, bersandar di sandaran sofa. “Jam berapa lampu dimatikan. Siapa yang mandi duluan di pagi hari. Bagaimana kita membagi ruang kerja di meja kecil itu. Hal-hal kecil. Supaya tidak ada kesalahpahaman.”
Savira hampir tertawa sinis, namun hanya keluar sebagai hembusan napas. “Kamu selalu ingin mengendalikan segalanya, bahkan cara kita bernapas di kamar yang sama.”
“Lebih baik dikendalikan daripada dibiarkan kacau.”
Kalimat itu menggantung. Savira membalikkan tubuh, sekarang menghadap ke arah sofa. Dalam cahaya redup, ia bisa melihat siluet Arkan yang duduk, lutut ditekuk, satu tangan di tepi sofa. Kaos oblong hitamnya membuat tubuhnya menyatu dengan kegelapan, namun garis rahangnya masih terlihat jelas.
“Ada aturan yang tidak bisa kamu kendalikan, Arkan” kata Savira pelan. “Termasuk fakta bahwa kita terpaksa berada di sini.”
Arkan menoleh ke arahnya. Mata mereka bertemu di tengah gelap. Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Hanya dua pasang mata yang saling mengukur, dan dua napas yang tiba-tiba terasa terlalu keras di telinga masing-masing.
“Saya sadar,” jawab Arkan akhirnya. Suaranya lebih rendah. “Saya hanya tidak ingin situasi ini menjadi lebih rumit dari yang sudah ada.”
Savira menelan ludah. “Kalau begitu, jangan buat aturan yang terlalu kaku. Saya bukan karyawanmu di sini.”
“Saya tahu.”
Keheningan yang menyusul terasa berbeda. Lebih padat. Savira sadar bahwa sejak mereka mulai berbicara, jarak yang biasanya ia rasakan sebagai pelindung kini terasa seperti sesuatu yang bisa dilalui hanya dengan satu gerakan. Ia bisa berdiri, berjalan tiga langkah, dan berada tepat di depan sofa. Pikiran itu muncul tanpa diminta, lalu segera ia usir.
Arkan adalah orang pertama yang memalingkan wajah. Ia berbaring kembali, membelakangi ranjang. “Tidurlah. Besok ada rapat pagi dengan tim struktur.”
Savira tidak menjawab. Ia juga membalikkan tubuh, kembali menghadap jendela. Namun sekarang ia lebih sadar daripada sebelumnya. Setiap kali Arkan menarik napas, ia mendengarnya. Setiap kali pria itu menggeser kaki, bunyinya terdengar jelas. Dan setiap kali ia sendiri menarik napas, ia tahu Arkan juga mendengarnya.
Satu kamar.
Dua napas yang berusaha tidak saling mengganggu.
Namun gagal.
Waktu berlalu pelan. Hujan gerimis kembali turun di luar, mengetuk kaca jendela dengan irama yang monoton. Savira mencoba menghitung detik, lalu menghitung napas Arkan, lalu menghentikan keduanya karena sadar betapa berbahayanya kebiasaan itu.
Pikirannya berputar ke percakapan dengan Ibu Ratnawati, pesan Chalista, retakan di lantai dua, dan kini ke fakta sederhana bahwa dalam gelap seperti ini, status ipar terasa semakin tipis. Mereka hanyalah dua orang dewasa yang terjebak dalam ruang sempit, dipaksa mendengarkan keberadaan satu sama lain tanpa bisa melarikan diri.
Tiba-tiba sofa berderit lagi. Arkan duduk. Savira menahan napas tanpa sadar.
“Saya keluar sebentar,” katanya. “Ada panggilan dari mandor.”
Pintu dibuka dan ditutup pelan. Langkah kaki menjauh di koridor. Savira tetap berbaring, sekarang mendengar hanya napasnya sendiri. Ruangan terasa lebih besar tanpa kehadiran Arkan, namun juga lebih kosong. Ia membenci perasaan lega yang muncul, karena lega itu berarti sebelumnya ia merasa sesak oleh kehadiran pria itu.
Lima belas menit berlalu. Lalu dua puluh.
Ketika pintu akhirnya terbuka lagi, Arkan masuk dengan langkah pelan. Ia tidak menyalakan lampu. Hanya berjalan menuju sofa dan duduk. Savira mendengar bunyi ponsel yang diletakkan dimeja kecil, lalu hembusan napas panjang dari pria itu.
“Masalah di lantai dua lebih parah dari perkiraan,” ucap Arkan tiba-tiba, seolah tahu bahwa Savira masih terjaga. “Mereka menemukan kerusakan di balok utama. Estimasi bisa mundur sampai tiga bulan.”
Tiga bulan.
Savira merasakan sesuatu yang dingin merayap di perutnya. “Kamu sudah memberitahu Pak Gumilar?”
“Besok pagi.”
Ia terdiam. Tiga bulan berarti sembilan puluh malam seperti ini. Sembilan puluh malam mendengar napas yang sama, menyadari gerakan yang sama, dan berusaha keras untuk tidak memikirkan apa pun selain batasan yang harus dijaga.
“Arkan,” panggil Savira pelan.
“Ya.”
“Kalau situasinya terus seperti ini… kita harus lebih hati-hati.”
Arkan tidak langsung menjawab. Ketika suaranya akhirnya terdengar, nadanya lebih serak dari sebelumnya. “Saya selalu hati-hati, Savira.”
“Saya tahu. Tapi hati-hati saja mungkin tidak cukup.”
Ia mendengar Arkan menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. “Tidurlah. Kita bicarakan besok.”
Savira menutup mata. Kali ini ia memaksa dirinya untuk tidak menghitung napas pria di sofa. Namun di tengah usahanya, ia tetap mendengarnya dalam, stabil, dan terlalu dekat.
Di luar, hujan semakin deras. Terpal renovasi di lantai dua berkepak-kepak diterpa angin, terdengar seperti peringatan yang berulang.
Di dalam kamar, dua napas terus mengalun dalam gelap.
Berdekatan.
Terlalu berdekatan.
Dan keduanya tahu, semakin lama mereka berada di ruang yang sama, semakin sulit membedakan mana napas yang menjadi milik sendiri, dan mana yang mulai terasa seperti bagian dari bahaya yang sama.