Malam itu sunyi dalam cara yang tidak wajar.
Hujan sudah berhenti sejak magrib, meninggalkan udara lembap yang menempel di kulit. Lampu-lampu taman di luar rumah Wiratama menyala redup, namun tidak ada satu pun yang berhasil menembus gorden tebal kamar belakang. Di dalam, hanya ada satu lampu tidur kecil yang sengaja dibiarkan menyala di sisi ranjang cahayanya lemah, seolah ikut menahan diri agar tidak terlalu banyak memperlihatkan apa yang tidak seharusnya terlihat.
Savira berbaring telentang, kedua tangan di atas perut, menatap langit-langit yang gelap. Ia sudah mematikan ponsel sejak sejam yang lalu. Tidak ada pesan yang perlu dibalas. Tidak ada alasan untuk tetap terjaga. Namun matanya tetap terbuka.
Di sofa, Arkan juga belum tidur. Savira mengetahuinya dari napas yang belum sepenuhnya dalam. Pria itu berbaring miring menghadap dinding, punggungnya membentuk garis tegang di bawah kain kaos hitam. Jarak antara ranjang dan sofa hanya sekitar dua meter, namun malam ini jarak itu terasa jauh lebih pendek.
Mereka hampir tidak berbicara sejak makan malam. Percakapan di meja makan berlangsung formal, diisi oleh Ibu Ratnawati yang membahas jadwal tukang dan Pak Gumilar yang sesekali menyinggung dokumen warisan. Setelah itu, Arkan menghilang ke ruang kerja kecil di lantai bawah selama hampir dua jam. Ketika ia kembali ke kamar, Savira sudah selesai mandi dan duduk di tepi ranjang dengan rambut masih basah.
Arkan hanya mengangguk singkat, mengambil handuk, lalu masuk ke kamar mandi tanpa berkata apa-apa. Ketika ia keluar, rambutnya agak berantakan dan bau sabun menyebar samar di udara. Ia langsung menuju sofa, mematikan lampu meja, dan berbaring.
Sejak saat itu, sunyi.
Bukan sunyi yang damai. Melainkan sunyi yang penuh kesadaran. Setiap gerakan kecil terdengar terlalu jelas. Gesekan selimut ketika Savira mengubah posisi. Derit pelan sofa ketika Arkan menggerakkan kaki. Dan yang paling sulit diabaikan: suara napas masing-masing yang mengalun dalam gelap.
Savira memejamkan mata, mencoba memaksa tidur datang. Namun pikirannya justru semakin jernih. Ia teringat betapa dulu kamar ini terasa biasa saja ketika ia masih menikah. Sekarang, setiap sudutnya terasa asing dan terlalu intim. Lemari yang mereka bagi. Meja kecil yang menampung barang-barang keduanya. Bahkan aroma ruangan sudah mulai bercampur—parfum mahal Arkan yang samar dengan wangi sabun tubuhnya sendiri.
Ia membuka mata lagi.
Di sofa, Arkan bergerak. Bukan gerakan besar. Hanya pergeseran bahu, seolah ia juga kesulitan menemukan posisi yang nyaman. Napasnya terdengar lebih dalam sejenak, lalu kembali ke ritme semula. Savira bertanya-tanya apakah pria itu sedang memikirkan hal yang sama: betapa mustahilnya berpura-pura bahwa situasi ini biasa.
Tiga bulan.
Angka itu kembali menghantui. Tiga bulan berarti sembilan puluh malam seperti ini. Sembilan puluh malam di mana mereka harus berbagi keheningan yang sama, mendengarkan keberadaan satu sama lain, dan berpura-pura bahwa status ipar cukup kuat untuk menjaga segala sesuatu tetap di tempatnya.
Savira menggeser tubuh ke sisi ranjang yang lebih jauh dari sofa, membelakangi Arkan. Selimut ia tarik hingga ke bahu. Ia mencoba menghitung napasnya sendiri, teknik yang biasa ia pakai ketika stres. Satu… dua… tiga…
Namun di hitungan keempat, ia mendengar Arkan menarik napas. Ritme mereka hampir sama.
Kesadaran itu membuat dadanya terasa sesak. Ia menghentikan hitungan.
“Savira.”
Suara Arkan tiba-tiba terdengar, rendah dan pelan, seolah tidak ingin merusak keheningan terlalu kasar.
Savira menahan napas sejenak sebelum menjawab. “Ya?”
“Kalau lampu terlalu terang, matikan saja.”
“Tidak mengganggu.”
“Baik.”
Percakapan itu berhenti di situ. Tidak ada lanjutan. Tidak ada pertanyaan basa-basi. Hanya dua kata yang saling melewati gelap, lalu kembali sunyi. Namun justru kesunyian setelahnya terasa lebih berat. Seolah dengan berbicara, mereka telah mengakui bahwa keduanya sama-sama terjaga, sama-sama sadar, dan sama-sama tidak mampu berpura-pura tidur dengan sempurna.
Savira mendengar bunyi kain lagi. Arkan berubah posisi, sekarang telentang ia bisa menebak dari cara napasnya terdengar lebih terbuka. Beberapa detik kemudian, pria itu berbicara lagi, masih dengan volume yang sama pelannya.
“Mandor akan datang lebih pagi besok. Saya mungkin sudah keluar sebelum kamu bangun.”
“Hmm.”
“Ada dokumen di meja yang perlu kamu lihat. Tentang pembagian sementara aset non-properti.”
“Nanti saya baca.”
Lagi-lagi, percakapan mati.
Savira menggigit bibir bagian dalam. Ia ingin meminta Arkan berhenti berbicara soal dokumen dan renovasi. Ia ingin bilang bahwa malam ini sudah cukup penuh tanpa tambahan urusan keluarga. Namun ia menahan diri. Membuka topik lain berarti membuka kemungkinan percakapan yang lebih panjang. Dan percakapan yang lebih panjang di gelap seperti ini terasa berbahaya.
Angin malam menekan gorden hingga bergeser sedikit. Cahaya bulan yang samar menyelinap masuk, cukup untuk membuat kontur sofa terlihat lebih jelas. Savira bisa melihat lengan Arkan yang terlipat di belakang kepala, garis rahang yang menegang, dan d**a yang naik-turun dengan ritme stabil.
Ia segera memalingkan wajah ke bantal.
Di dalam d**a, sesuatu yang tidak ia inginkan mulai bergerak. Bukan hasrat yang jelas. Lebih seperti kesadaran yang terlalu tajam akan keberadaan pria di seberang ruangan. Kesadaran bahwa tubuh Arkan ada di sana, hangat, hidup, dan terpisah darinya hanya oleh udara malam yang dingin. Kesadaran bahwa jika ia mengulurkan tangan, jaraknya tidaklah mustahil.
Pikiran itu membuatnya mengerutkan jari-jari di bawah selimut.
“Tidurlah,” kata Arkan tiba-tiba, seolah ia bisa mendengar isi kepala Savira. Suaranya lebih serak. “Besok hari akan panjang.”
Savira tidak menjawab. Ia hanya menutup mata lebih rapat, memaksa otot-otot wajahnya rileks. Beberapa menit berlalu dalam sunyi yang hampir sempurna. Napas Arkan akhirnya mulai terdengar lebih dalam dan teratur. Kali ini ia benar-benar menuju tidur.
Namun Savira tetap terjaga.
Ia mendengarkan ritme napas itu—stabil, terkendali, bahkan dalam tidur. Persis seperti cara Arkan menjalani hidupnya. Tidak berantakan. Tidak membiarkan emosi mengambil alih. Sementara dirinya sendiri berbaring dengan pikiran yang berputar-putar, mencoba memahami mengapa malam pertama yang seharusnya biasa ini terasa begitu sunyi sekaligus begitu penuh.
Di luar, seekor burung hantu berbunyi jauh di kebun belakang. Terpal renovasi di lantai dua sesekali berkepak tertiup angin, menimbulkan bunyi plastik yang monoton. Rumah besar itu terasa kosong di lantai atas, dan terlalu penuh di kamar belakang.
Savira membuka mata sekali lagi. Ia menatap gelap di depan wajahnya, lalu pelan-pelan membalikkan tubuh hingga menghadap ke arah sofa. Dalam cahaya bulan yang sangat samar, siluet Arkan terlihat tenang. Satu tangan masih di belakang kepala, kaki lurus, napas naik-turun teratur.
Malam pertama yang sunyi.
Namun di balik kesunyian itu, ada dua orang yang sama-sama tidak bisa sepenuhnya menjadi diri sendiri. Ada jarak yang dijaga mati-matian. Ada kesadaran yang semakin tajam. Dan ada sesuatu yang tidak disebutkan, namun sudah mulai tumbuh di antara napas yang saling berdekatan.
Savira menutup mata untuk terakhir kalinya malam itu.
Ia tidak tahu kapan akhirnya tertidur. Yang ia tahu, ketika kesadaran mulai pudar, napas Arkan masih terdengar jelas di telinganya menjadi irama terakhir yang mengantarnya ke dalam tidur yang dangkal dan penuh kewaspadaan.
Dan di suatu titik antara sadar dan mimpi, ia merasa bahwa kesunyian malam ini bukanlah tanda bahwa semuanya aman.
Melainkan tanda bahwa bahaya sedang belajar untuk tetap diam.