Keesokan harinya. Dara yang tahu bila Nyonya rumah sedang tidak ada, kini merasa bebas bernapas. Setelah sarapan paginya ia habiskan, Dara segera berlari ke halaman belakang dan melihat taman kecil yang sudah Garda siapkan untuknya. Sinar matahari pagi yang hangat jatuh menyentuh hamparan rumput hijau di halaman belakang, namun pandangan Dara langsung tertambat pada sudut kanan taman yang tampak berbeda dari biasanya. Di sana, di samping rumpun melati yang rapi, terdapat sebidang tanah kosong berukuran sekitar tiga kali tiga meter yang telah digemburkan dengan apik.
Di sisi tanah itu, berjejer rapi beberapa karung kecil pupuk organik, sebuah sekop mini dengan gagang kayu yang halus, serta deretan pot-pot semai yang berisi berbagai macam bibit. Ada label-label kecil yang menyembul dari plastik bening itu yang bertuliskan, bibit mawar, bunga matahari, lavender, hingga benih sayuran hijau.
Dara terpaku sejenak, matanya berbinar tak percaya. Dengan langkah ringan yang hampir menyerupai tarian kecil, ia menghampiri bidang tanah itu. Ia berlutut tanpa peduli dress katunnya akan kotor terkena tanah. Jemarinya yang lentur menyentuh permukaan tanah yang lembap dan gembur dan merasakan sensasi yang sudah sangat lama ia rindukan sejak meninggalkan rumah yang ia tinggali.
"Terima kasih, Tuan..." bisiknya lirih, meski Garda tidak ada di sana.
Antusiasme yang meluap membuat Dara segera beraksi. Ia mulai mencampur tanah tersebut dengan pupuk menggunakan sekop kecilnya. Gerakannya begitu terampil dan ia bahkan tidak tampak seperti wanita kota yang takut kotor, melainkan seperti seorang ahli botani yang sedang meracik kehidupan. Sesekali, ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, meninggalkan coretan tanah tipis di kulit wajahnya yang putih, namun senyumnya tidak luntur sedikit pun.
Ia mulai melubangi tanah satu per satu untuk menanam bibit mawar. Dengan sangat hati-hati, ia memindahkan bibit itu dari plastik semai, memastikan akarnya tidak rusak, lalu menutupnya kembali dengan tanah sambil menepuk-nepuknya lembut seolah sedang menidurkan seorang bayi.
"Tumbuh yang subur ya, Sayang," gumamnya ceria.
Tawa kecil sesekali lolos dari bibirnya saat seekor kupu-kupu hinggap di dekat tangannya. Di bawah langit pagi yang cerah, Dara terlihat begitu hidup. Rona merah di pipinya bukan lagi karena rasa malu atau takut, melainkan karena energi murni dari kegembiraan yang sederhana. Baginya, sebidang tanah ini bukan sekadar taman, tetapi ini adalah ruang napas, sepotong kebebasan yang diberikan Garda di tengah kesunyian rumah yang megah namun dingin ini.
Dara kemudian beralih ke bibit lavender. Ia menatanya di pinggir agar nanti aromanya bisa tercium hingga ke teras. Ia bekerja dengan ritme yang stabil, bersenandung pelan sebuah lagu pengantar tidur yang dulu sering dinyanyikan ibunya, seolah sedang menyalurkan seluruh kasih sayangnya ke dalam akar-akar tanaman yang baru saja menemukan rumah barunya tersebut. Di sudut taman itu, Dara bukan lagi sekadar "wanita sewaan", ia adalah penguasa atas kebahagiaannya sendiri.
Sementara itu, Garda berdiri mematung di balik pintu kaca balkon kamarnya yang sedikit terbuka. Niat awalnya untuk mengambil berkas yang tertinggal di meja kerja lantai atas, sebelum akhirnya teralihkan sepenuhnya oleh sebuah suara yang asing di telinganya, suara senandung yang jernih dan penuh kehidupan.
Ia melangkah perlahan ke tepi balkon, menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik pilar agar tidak terlihat dari bawah. Dari ketinggian itu, ia melihat pemandangan yang membuat dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sulit didefinisikan.
Dara, gadis yang selama ini hanya ia lihat menunduk ketakutan atau diam membisu, kini tampak seperti orang yang berbeda. Gadis itu sedang berjongkok di atas tanah, kedua tangannya berlumuran lumpur cokelat, namun wajahnya bersinar terang disiram cahaya matahari pagi. Senyumnya lebar dan tulus saat ia menatap bibit-bibit kecil yang baru saja ia tanami ini.
Garda memperhatikan bagaimana jemari Dara bergerak dengan begitu telaten, merapikan tanah dan sesekali mengajak bicara tanaman-tanaman itu dengan bisikan halus yang diselingi tawa kecil. Senandung yang keluar dari bibir Dara adalah melodi sederhana, namun terdengar begitu damai hingga mampu meredam kebisingan pikiran Garda yang kacau sejak semalam.
'Seberapa besar beban yang ia pikul sampai-sampai sebidang tanah dan pupuk bisa membuatnya sebahagia ini?' batin Garda.
Ia jadi teringat Rissa. Istrinya itu hanya akan tersenyum lebar jika mendapatkan tas baru atau perhiasan mahal. Kebahagiaan di rumah ini selalu diukur dengan angka dan status. Namun di bawah sana, Dara menunjukkan padanya bahwa kebahagiaan bisa tumbuh dari sesuatu yang serendah tanah di bawah kaki.
Tanpa sadar, sudut bibir Garda terangkat tipis. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya melihat pemandangan itu. Rasa iba yang ia rasakan semalam perlahan mulai bergeser menjadi rasa kagum akan ketabahan gadis itu. Ia terus berdiri di sana, mengabaikan jam dinding yang menunjukkan jadwal briefing kantornya sudah dekat, hanya demi mencuri waktu lebih lama untuk melihat sisi manusiawi Dara yang selama ini tersembunyi di balik statusnya sebagai "penerus garis keturunan".
Garda tahu, ia seharusnya tidak boleh menatap terlalu lama. Ia tidak boleh peduli. Namun, melihat Dara yang begitu bebas dan riang di taman kecil buatannya, Garda merasa bahwa untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah ini benar-benar terasa memiliki 'nyawa'.
Garda baru tersadar dari lamunannya saat ponsel di saku celananya bergetar hebat. Nama asisten pribadinya berkedip di layar, mengingatkannya pada briefing pagi yang seharusnya ia pimpin tiga puluh menit lagi. Dengan helaan napas berat, ia merapikan jasnya dan lantas berusaha mengembalikan raut wajah dingin dan otoriter yang menjadi topeng hariannya.
Namun, sebelum benar-benar beranjak, Garda melakukan sesuatu yang di luar kebiasaannya. Ia memanggil kepala pelayan melalui interkom kamar.
"Bi Sumi," ucap Garda saat sambungan terhubung. "Siapkan minuman dingin dan camilan untuk Dara di taman. Pastikan dia tidak terlalu lama di bawah terik matahari. Dan... jangan katakan itu perintah dariku. Bilang saja itu inisiatif Bibi sendiri."
"Baik, Tuan," sahut Bi Sumi di seberang sana dengan nada heran yang tertahan.
Garda memutus sambungan, lalu melangkah keluar kamar. Saat melewati ruang tengah yang sunyi, ia sempat melirik ke arah foto pernikahannya dengan Rissa yang terpajang besar di dinding. Mata Rissa yang ambisius seolah sedang mengawasinya, mengingatkannya pada kesepakatan dingin yang mereka buat. Tapi tidak Garda indahkan karena ia yang sudah terlambat untuk pergi ke kantornya.
Sementara itu di taman, Dara baru saja selesai menyiram barisan bibit mawar, saat Bi Sumi datang membawa nampan berisi segelas jus jeruk segar dan beberapa potongan kue tradisional.
"Non Dara, istirahat dulu sebentar. Ini Bibi bawakan minuman," ujar Bi Sumi ramah.
Dara mendongak, matanya berkedip heran. "Eh, Bibi kok repot-repot banget. Padahal Dara baru mau cuci tangan," ujar Dara.
"Nggak repot kok, Non. Sayang kulitnya kalau kelamaan kena panas, nanti pusing," imbuh Bi Sumi sambil meletakkan nampan di kursi taman terdekat.
Dara tersenyum manis, senyum yang begitu tulus hingga membuat Bi Sumi merasa sedikit iba sebab tahu juga untuk apa gadis polos ini berada di rumah ini. "Terima kasih banyak ya, Bi. Rasanya seneng banget bisa pegang tanah lagi. Di sini udaranya jadi terasa lebih segar nanti."
Dara meminum jus jeruk itu dengan nikmat. Rasa dingin yang menjalar di tenggorokannya terasa sangat mewah baginya. Ia tidak tahu bahwa dari kejauhan, sebelum masuk ke dalam mobilnya, Garda sempat berhenti sejenak di balik jendela kaca mobil yang gelap, hanya untuk memastikan bahwa gadis itu meminum pemberiannya.
Begitu mobil Garda meluncur keluar dari gerbang rumah Jayanegara, suasana kembali sunyi. Dara kembali pada kesibukannya, yang kini beralih menanam benih sayuran di sudut lain. Ia merasa hari ini adalah hari terbaiknya sejak menginjakkan kaki di rumah ini.
Namun, di tengah keriangannya, sebuah ingatan pahit melintas. Ia menatap perutnya yang masih rata. Kalimat Rissa pagi tadi kembali terngiang-ngiang di dalam benaknya lagi.
'Aku harap dia bisa segera hamil dan melahirkan anak untuk kita.'
Seketika, sekop di tangan Dara terhenti. Kegembiraan di matanya meredup, digantikan oleh awan yang kelabu. Ia sadar, kebebasan di taman ini hanyalah jeda singkat. Pada akhirnya, ia tetaplah sebuah "wadah" yang nasibnya ditentukan oleh hasil tes kehamilan di masa depan. Jika tugasnya selesai, apakah ia masih diizinkan merawat tanaman-tanaman ini? Ataukah ia akan dicabut paksa seperti gulma yang tak lagi dibutuhkan?
Dara menghela napas panjang, mencoba mengusir pikiran buruk itu. Ia memaksakan diri untuk kembali fokus pada tanah di hadapannya. Ia tidak ingin merusak momen langka ini dengan kesedihan yang sudah menjadi "makanan" sehari-harinya.
"Nggak apa-apa, Dara. Seenggaknya hari ini kamu bahagia," gumamnya untuk menyemangati dirinya sendiri.
Tanpa ia sadari, waktu berlalu begitu cepat. Matahari kini tepat berada di atas kepala, menyengat kulit pundaknya yang hanya tertutup kain tipis. Saat itulah, ia mendengar suara mesin mobil memasuki gerbang. Dara tersentak, mengira Garda pulang lebih awal karena ada yang tertinggal. Jantungnya berdegup kencang dengan setengah berharap, setengah takut.
Namun, yang turun dari mobil bukan Garda. Itu adalah asisten pribadi Rissa yang datang untuk mengambil beberapa barang milik nyonyanya yang tertinggal untuk dibawa ke Surabaya. Asisten itu, seorang wanita bernama Maya, dia berjalan melewati koridor kaca yang menghadap langsung ke taman belakang.
Langkah Maya terhenti. Ia melihat Dara yang kotor dengan tanah, tampak begitu asyik dengan dunianya sendiri. Maya segera mengeluarkan ponselnya, memotret pemandangan itu secara diam-diam, lalu mengirimkannya kepada Rissa dengan pesan singkat.
[Nyonya, sepertinya selama Anda pergi, dia merasa rumah ini adalah miliknya. Dia bahkan mengubah sudut taman belakang tanpa izin Anda] -Maya.