Di Surabaya, Rissa yang baru saja tiba di hotel mewah itupun sedang duduk di depan cermin besar. Ponselnya berdenting. Begitu melihat foto yang dikirimkan Maya, rahangnya tiba-tiba saja mengeras. Matanya yang tajam menatap gambar Dara yang tampak tersenyum riang di antara pot-pot bunga. Sungguh pemandangan yang membuat matanya terasa sakit. Dan tentu saja, Rissa tidak menyukai itu. Baginya, Dara hanyalah sebuah instrumen, sebuah alat yang seharusnya tetap berada di dalam kotak sampai dibutuhkan. Melihat Dara tampak "bahagia" dan "berkuasa" di rumahnya sendiri menimbulkan rasa terancam yang tidak masuk akal.
"Berani-beraninya dia bersikap seolah dia nyonya di sana," gumam Rissa.
Ia segera melakukan panggilan pasa nomor telepon rumah. Saat Bi Sumi yang mengangkat, suara Rissa terdengar sangat dingin dan menusuk.
"Bi Sumi, siapa yang mengizinkan perempuan itu mengacak-acak taman belakang?" tanya Rissa tanpa basa-basi.
Bi Sumi tergapuk, "E-itu... Tadi Tuan Garda yang meminta pelayan menyiapkan..."
Kalimat itu terputus karena Rissa langsung menutup telepon dengan kasar. Napasnya memburu. 'Garda? Garda yang memesannya?' Pria yang biasanya tidak peduli pada detail rumah tangga, kini memberikan perhatian khusus pada "gadis sewaan" itu?
Rissa menatap pantulan dirinya sendiri pada cermin. Rasa was-was yang ia rasakan tadi pagi kini berubah menjadi kecemburuan yang membakar. Ia mengambil lipstik merah menyalanya, memoleskannya dengan gerakan kasar.
"Aku harus memastikan dia tahu posisinya sebelum dia lupa diri," gumam Rissa dengan senyum miring yang penuh rencana. "Garda tidak boleh kasihan padanya, apa lagi sampai tertarik!" cetus Rissa sambil menggenggam erat lipstik berwarna merah itu.
Sementara itu, Dara yang tidak mengetahui badai yang tengah mengintai dari Surabaya, baru saja selesai membersihkan peralatan berkebunnya. Ia berdiri sejenak, memandangi hasil kerjanya dengan perasaan bangga. Barisan tanah yang tadinya gersang kini telah terisi kehidupan baru yang tertata rapi.
Namun, ketenangan itu terusik saat Bi Sumi menghampirinya dengan wajah pucat pasi. "Non Dara... sebaiknya Non masuk ke dalam sekarang," bisik Bi Sumi dengan suara gemetar.
"Ada apa, Bi? Apa ada masalah?" tanya Dara, seketika rasa riangnya menguap melihat raut wajah wanita tua itu.
"Nyonya Rissa baru saja menelepon. Beliau... beliau sepertinya sangat marah karena tahu Non ada di taman," jawab Bi Sumi sambil melirik cemas ke arah ponsel rumah yang baru saja ia letakkan.
Dara merasakan seolah seluruh darahnya turun ke kaki. Rasa dingin menjalar di punggungnya. Baru beberapa jam ia merasakan sedikit kebahagiaan, kenyataan pahit kembali menamparnya. "Tapi... Tuan Garda yang mengizinkan saya, Bi."
"Saya tahu, Non. Tapi di rumah ini, amarah Nyonya Rissa nggak main-main, Non," sahut Bi Sumi iba. "Masuk ayo masuk, bersihkan diri Non sebelum Tuan Garda pulang. Jangan sampai ada jejak tanah yang berceceran di lantai."
Dara segera berlari masuk ke kamarnya dengan perasaan was-was yang luar biasa. Di bawah pancuran air, ia menggosok tangannya yang kotor dengan terburu-buru, namun aroma tanah dan pupuk seolah masih melekat, mengingatkannya pada momen indah yang baru saja dihancurkan oleh ketakutan.
Sore harinya, Garda pulang dengan wajah yang tampak lebih lelah dari biasanya. Briefing di kantor tadi sangat menguras energinya, namun anehnya, ada secercah keinginan di sudut hatinya untuk segera sampai di rumah dan melihat kembali taman kecil itu.
Begitu ia melangkah masuk ke ruang utama, suasana terasa sangat sunyi, lebih mencekam daripada biasanya. Garda menghentikan langkahnya saat melihat Bi Sumi berdiri kaku di dekat meja makan.
"Dimana Dara?" tanya Garda pendek.
"Non Dara ada di kamarnya, Tuan. Dia tidak keluar sejak siang tadi," jawab Bi Sumi ragu-ragu. "Tuan... tadi Nyonya Rissa menelepon. Beliau menanyakan soal taman itu."
Garda mengernyitkan dahi. Rahangnya menegang seketika. Ia bisa langsung membayangkan bagaimana reaksi Rissa. Tanpa membalas ucapan Bi Sumi, Garda melangkah lebar menuju kamar Dara. Ia tidak mengetuk, melainkan langsung membuka pintu.
Di dalam, ia menemukan Dara sedang duduk di tepi ranjang dengan mata yang sembab. Gadis itu terlonjak kaget saat melihat Garda.
"Tuan... maafkan saya. Saya seharusnya nggak lancang di taman itu," ucap Dara dengan suara parau, kepalanya tertunduk dalam.
Garda berdiri di ambang pintu, menatap gadis yang kini kembali tampak rapuh itu. Amarahnya memuncak, bukan kepada Dara, melainkan kepada tekanan tak kasat mata yang diberikan istrinya dari jarak jauh. Ia mendekat, lalu berdiri tepat di depan Dara.
"Kenapa kamu harus minta maaf?" suara Garda berat dan dalam. "Aku yang memerintahkannya. Di rumah ini, aku yang berkuasa, bukan orang lain yang sedang tidak ada di sini."
Garda kemudian meraih dagu Dara, memaksanya untuk menatap mata tajamnya. "Jangan biarkan siapapun mencuri kebahagiaan kecilmu, Dara. Termasuk Rissa."
Sentuhan Garda terasa panas di kulit Dara, namun kata-katanya memberikan perlindungan yang selama ini tak pernah ia bayangkan akan datang dari pria "dingin" ini. Di tengah ketegangan itu, Garda menyadari sesuatu. Ia baru saja menyatakan perang terbuka terhadap aturan yang dibuat oleh istrinya sendiri, demi seorang wanita yang seharusnya hanya menjadi alat baginya.
Dara terpaku, napasnya tertahan di kerongkongan. Ibu jari Garda yang kasar namun hangat masih bertumpu di dagunya, memaksa netranya untuk tenggelam dalam tatapan pria itu yang sekeras karang namun menyimpan riak emosi yang tak terbaca.
"T-tapi Tuan... Nyonya Rissa marah banget. Saya nggak mau menjadi penyebab keributan di antara kalian," bisik Dara, suaranya nyaris hilang.
Garda melepaskan cengkeramannya, lalu berbalik memunggungi Dara. Ia berjalan menuju jendela kamar yang menghadap langsung ke arah taman yang baru saja dikerjakan Dara. Dari sini, di bawah temaram lampu taman yang mulai menyala, ia bisa melihat gundukan tanah yang tertata rapi. Sebuah bukti kerja keras dan harapan yang sederhana dari seorang gadis biasa.
"Keributan itu sudah ada jauh sebelum kamu datang, Dara," ujar Garda dingin, matanya menatap tajam ke luar. "Rissa hanya takut kehilangan kendali. Dan dia menggunakanmu sebagai pengingat bahwa dia masih memegang kendali itu."
Garda terdiam sejenak, lalu ia berbalik kembali menatap Dara. "Mulai besok, teruskan saja kegiatanmu di taman. Jika pelayan atau siapapun bertanya, katakan itu adalah perintah langsung dariku. Jika Rissa meneleponmu, jangan diangkat. Biar aku yang mengurusnya."
Dara merasakan sebuah beban berat terangkat dari pundaknya, namun digantikan oleh rasa cemas yang baru. Keberanian Garda melindunginya terasa seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, ia merasa aman, namun di sisi lain, ia tahu bahwa semakin Garda membelanya, semakin besar api cemburu yang akan membakar Rissa nantinya.
"Tuan... kenapa Anda melakukan ini?" tanya Dara tiba-tiba. Keberanian itu muncul entah dari mana. "Bukankah saya hanya 'alat' untuk memberikan ahli waris? Kenapa Tuan peduli kepada saya?"